<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Semesta dalam Kata-kata &#187; Wawancara</title>
	<atom:link href="http://www.semestanet.com/category/wawancara/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.semestanet.com</link>
	<description>mengangkat fenomena</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Jun 2009 04:25:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dia Berlutut di samping Diriku</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2008/08/05/dia-berlutut-di-samping-diriku/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2008/08/05/dia-berlutut-di-samping-diriku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 14:34:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Biasa yang Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Chairil Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[puisi klasik]]></category>
		<category><![CDATA[Senja di Pelabuhan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Ajati]]></category>
		<category><![CDATA[video wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/2008/08/05/dia-berlutut-di-samping-diriku/</guid>
		<description><![CDATA[Buat penggemar berat Chairil Anwar, sajak berjudul &#8220;Senja di Pelabuhan Kecil&#8221; tentu tidak asing lagi. Nama &#8220;Sri Ajati&#8221; ditulis Chairil sebagai pihak yang diperuntukkan bagi puisi itu. Kemolekan Sri Ajati begitu terekam di benak sang Pujangga sampai-sampai Chairil berlutut di sampingnya.
Sri Ajati adalah tokoh nyata. Tahun lalu bersama Jayadi, saya membuat video wawancara dengan Sri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buat penggemar berat Chairil Anwar, sajak berjudul &#8220;Senja di Pelabuhan Kecil&#8221; tentu tidak asing lagi. Nama &#8220;Sri Ajati&#8221; ditulis Chairil sebagai pihak yang diperuntukkan bagi puisi itu. Kemolekan Sri Ajati begitu terekam di benak sang Pujangga sampai-sampai Chairil berlutut di sampingnya.</p>
<p>Sri Ajati adalah tokoh nyata. Tahun lalu bersama Jayadi, saya membuat video wawancara dengan Sri Ajati. Jayadi, kawan saya yang penggila berat Chairil Anwar ini, menjadi pewawancara, sedangkan saya kamerawan sekaligus penyuntingnya. Maka untuk merayakan hari kemerdekaan Republik yang ke-63, saya muat video ini di Semesta dalam Kata-kata untuk Anda. Ya, kisah cinta Chairil Anwar dengan gadis cantik yang kini renta mempunyai konteks sejarah yang menarik. Selamat menikmati.</p>
<p><object width="425" height="349"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/6Y7XnBIPWko&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;rel=0&#038;border=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/6Y7XnBIPWko&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;rel=0&#038;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" width="425" height="349"></embed></object></p>
<p><span id="more-66"></span><strong>Senja di Pelabuhan Kecil</strong></p>
<p>buat Sri Ajati</p>
<p>Ini kali tidak ada yang mencari cinta<br />
di antara gudang, rumah tua, pada cerita<br />
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut<br />
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.</p>
<p>Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang<br />
menyinggung muram, desir hari lari berenang<br />
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak<br />
dan kini tanah air tidur hilang ombak.<br />
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan<br />
menyisir semenanjung, masih pengap harap<br />
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan<br />
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap</p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=66&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2008/08/05/dia-berlutut-di-samping-diriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berita Tak Sesuai Keinginan Bos Besar? Tewaslah Saya&#8230;</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/11/15/berita-tak-sesuai-keinginan-bos-besar-tewaslah-saya/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2007/11/15/berita-tak-sesuai-keinginan-bos-besar-tewaslah-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Nov 2007 22:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masalah Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Politik, Sosial, Budaya, Jurnalisme dan Media]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Seorang produser berita sebuah stasiun televisi membeberkan rahasia dapur produksinya. Saya tanyakan, apakah perbincangan ini boleh saya muat di Semesta dalam Kata-kata, dia mengajukan syarat. Dia minta, jati diri, lembaga, dan beberapa nama disamarkan.

Sang produser berita kita sebenarnya punya idealisme kerja sebagai wartawan profesional. Tapi, sering dia dipaksa berlutut kepada struktur politik-ekonomi di atasnya. Boleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang produser berita sebuah stasiun televisi membeberkan rahasia dapur produksinya. Saya tanyakan, apakah perbincangan ini boleh saya muat di<em> </em><strong>Semesta dalam Kata-kata,</strong> dia mengajukan syarat. Dia minta, jati diri, lembaga, dan beberapa nama disamarkan.<br />
<span id="more-33"></span><br />
Sang produser berita kita sebenarnya punya idealisme kerja sebagai wartawan profesional. Tapi, sering dia dipaksa berlutut kepada struktur politik-ekonomi di atasnya. Boleh dibilang, betapapun terhormatnya praktisi media penyiaran, dia hanyalah buruh yang mengikuti keinginan sang majikan.</p>
<p>Jadi, sebutlah tokoh kita bernama X, usia 30-an. Jabatan produser berita di stasiun televisi Y.</p>
<p><strong>Bagaimana prosedur pemberitaan di stasiun televisi Anda?</strong></p>
<p>Setelah siaran (berita), kami rapat evaluasi untuk (menentukan) liputan besok. Produser-produser mengusulkan isu tertentu. (Isu) bisa bermacam-macam. Koordinator liputan membagi isu-isu itu ke tim liputan masing-masing. Tim A, misalnya, ke istana negara. Tim B ke Departemen Sosial. Kurang lebih (prosedur) di stasiun (televisi) lain sama.</p>
<p>(Setiap) pagi teman-teman (melakukan) liputan yang jadualnya tertempel (di papan pengumuman). Satu tim terdiri dari reporter, kamerawan, dan sopir. Koordinator liputan mengarahkan liputan mereka. Kalau ada perkembangan (peristiwa yang menarik), koordinator liputan mengarahkan.</p>
<p>Jadi, koordinator liputan itu (titik) sentral. Misalkan ada perkembangan di Pangandaraan: ada korban belum dievakuasi. Koordinator liputan (lantas) memerintahkan tim bertanya kepada Mensos (Meteri Sosial). Setelah dapat liputan, mereka lapor korlip (koordinator liputan).  &#8220;Aku ke mana lagi nih?&#8221; Korlip menyuruh lagi, &#8220;<em>Lo gese</em>r deh ke Balaikota, atau Menteng.&#8221; Setelah selesai, mereka kembali ke kantor sekitar jam 4.</p>
<p>Reporter mengetik berita. Produser menunggui. Produser mengedit akurasi, kelengkapan data, (dan mempertimbangkan) <em>angle</em> berita yang lebih menarik. Tugas utama produser memberikan arah, program (berita) ini mau diarahkan ke mana.</p>
<p>(Sementara itu,) kamerawan menunggu dulu. Gambar menunggu dulu. Naskah itu di-<em>dubbing</em>. (Kemudian,) gambar dipadukan dengan narasi.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan editor gambar menentukan gambar mana yang layak atau taklayak ditayangkan, apakah ada kriteria tersendiri?</strong></p>
<p>(Editor) punya kriteria dan kode etik juga. Standar KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) ‘kan <em>nggak</em> boleh (ada) gambar-gambar kekerasan. Korban tewas (misalnya), harus diblur. Itu standar.</p>
<p><strong>Lalu, bagaimana penerapan kode etik penayangan gambar itu?</strong></p>
<p>Editor ‘kan juga ada koordinatornya. Biasanya koordinator mengawasi kerja mereka. (Sering gambar yang taklayak tayang justru) ketahuan pada saat ditayangkan. &#8220;Ini kenapa <em>nggak</em> diblur?&#8221;</p>
<p>Itulah <em>miss</em>, karena sudah buru-buru, kaset (hasil rekaman berita) datang <em>mepet</em> (dengan tenggat). Teori normal (kaset harus) datang jam 4. Kadang-kadang kami tayang jam 8, (tapi kaset) jam 7 baru sampai (di studio). Padahal proses (penyuntingan) itu masih harus berjalan.</p>
<p><strong>Tetap ada pertimbangan gambar ini punya nilai jual atau tidak?</strong></p>
<p>Iya, <em>nggak</em> semua berita yang dibawa teman-teman itu bisa naik (tayang). Karena <em>space</em> (jatah slot lama tayang) kami ‘kan sedikit.</p>
<p><strong>Apa saja kriteria sebuah berita dapat diangkat?</strong></p>
<p>Kita berbicara televisi, bicara audio visual. <em>Nonsens</em> sebuah berita bisa menarik kalau gambarnya <em>nggak</em> kuat. Jadi, intinya ada yang menarik dan ada yang penting. Kalau yang menarik ya secara visual kayak kerusuhan, bentrokan. Tapi, ‘kan ada juga isu yang penting seperti pengumuman kenaikan BBM (bahan bakar minyak).Secara visual <em>nggak</em> menarik. Tapi, itu penting, itu perlu juga kami sampaikan.</p>
<p>Selama teman-teman (menjalani) proses liputan, produser, koordinator liputan dan (koordinator liputan) daerah (melakukan) <em>meeting</em>. Apa isi berita (&#8212;&#8211;)? Nah, nanti produser minta masukan dari koordinator liputan. &#8220;Anak buah <em>lo</em> belanjanya hari ini apa saja?&#8221;</p>
<p>(Titik) sentralnya di rapat itu. Kami ‘kan punya durasi 30 menit. (Setelah) dipotong iklan durasinya (menjadi) 21 menit.</p>
<p><strong>Bagaimana seorang editor gambar menyelaraskan kebutuhan gambar yang layak jual dengan kode etik?</strong></p>
<p>Mereka punya standar ‘kan. Itu termasuk (syarat) kualifikasi seleksi mereka juga. Mereka harus tahu mana yang boleh dan nggak boleh.</p>
<p><strong>Tapi siapa yang paling bertanggung jawab terhadap hasil keseluruhan penayangan berita?</strong></p>
<p>Produser. Kesalahan apapun larinya ke produser. Dia penanggung jawab program ‘kan.</p>
<p><strong>Apakah keberadaan KPI, mengganggu atau menghambat kerja praktisi media? Sejauhmana pedoman perilaku penyiaran itu bisa memberikan ruang bagi para praktisi penyiaran memberitakan peristiwa?</strong></p>
<p>Latar belakang pendirian KPI ‘kan berangkat dari kegelisahan masyarakat terhadap tayangan TV. Saya setuju (tayangan) itu harus dibatasi (kode etik).</p>
<p>Misalnya, ketika <em>Indosiar</em> bikin &#8220;Patroli,&#8221; Semua (stasiun televisi) membuat tayangan kriminal. Semua<em> jor-joran</em> menjual adegan-adegan kekerasan. Itu harus dibatasi. Nah, semangat (kami) sama (dengan KPI).</p>
<p>Saya (pribadi) mendukung. Dari hasil diskusi dengan teman-teman (sejawat di perusaaan penyiaran lain terungkap bahwa) mereka setuju. Mereka <em>sih</em> <em>nggak</em> merasa dibatasi. Cuma (sayangnya) KPI menjadi tukang <em>semprit</em> saja, menjadi wasit saja. Padahal, kami ingin KPI (berperan) lebih jauh daripada itu. (Misalnya) KPI mengedukasi (kami) tentang standar yang baik dan tidak. Tapi, sampai sekarang belum.</p>
<p><strong>Apakah ada kecenderungan para praktisi media penyiaran menganggap bahwa tayangan-tayangan semacam (kekerasan) itu justru menjual?</strong></p>
<p>(Dulu kami) berlomba-lomba menjual penggeberekan, misalnya (program berita) kriminal. (Atau,) kalau ada berita bentrokan. Tapi, ke sini (semakin lama semakin) ada perkembangan. Tahun 2004, misalnya, orang-orang mulai jenuh. Itu bisa kelihatan (kalau) yang menjadi parameter para praktisi TV adalah rating dan <em>share</em> program.</p>
<p><strong>Jadi, ukuran keberhasilannya itu ya?</strong></p>
<p>Sejauh ini secara kuantitatif ukuran keberhasilannya itu. Tapi, ada juga ukuran kualitatifnya. Misalnya <em>SCTV</em>. Secara rating dia lebih rendah daripada <em>RCTI</em>. &#8220;Liputan 6 Petang&#8221; dan &#8220;Seputar Indonesia&#8221; jam tayangnya sama, (yaitu pukul) setengah enam. (Rating) &#8220;Seputar Indonesia&#8221; bisa 3,5; &#8220;Liputan 6&#8243; 2,9. Tapi yang mempengaruhi opini publik adalah &#8220;Liputan 6.&#8221; Yang lebih punya akses ke penentu kebijakan adalah &#8220;Liputan 6&#8243; alih-alih &#8220;Seputar Indonesia.&#8221;</p>
<p>Makanya, kalau kita bicara aspek kuantitatif larinya ke urusan iklan. Urusannya <em>sales</em>, <em>marketing</em>, penjualan iklan dan segala macam. Nah, itu yang disayangkan. Parameter satu-satunya yang dipakai para pemasang iklan ya cuma rating. Analisis mereka sederhana saja. &#8220;Program ini banyak ditonton orang, jadi saya pasang iklan di sini saja.&#8221;</p>
<p><strong>Terbaca tidak, rating suatu berita meningkat, misalnya, ketika produser menayangkan berita-berita tertentu atau jenis-jenis tertentu. Apakah selalu berita kekerasan ratingnya lebih tinggi?</strong></p>
<p><em>Nggak</em> harus kekeraan. Bergantung kepada tingkat keingintahuan publik. Program (&#8212;&#8211;) kami biasanya ratingnya cuma 1. Tapi, pekan ini 1,4. Kami menganalisis karena gempa Pangandaraan dan kami <em>live</em> dari sana. Jadi, semua informasi diikuti penonton terus-menerus. (Pukul) setengah enam (orang) ‘nonton Liputan 6, mungkin jam 6 ‘nonton Metro. Itu bisa dianalisis.</p>
<p><strong>Untuk menunjukkan aspek nilai berita, <em>magnitude</em>, atau daya tarik, apakah selalu kamerawan punya pertimbangan-pertimbangan tertentu? Misalnya pada kasus gempa.</strong></p>
<p>Itu lebih (merupakan pekerjaan) produser. Contoh. Teman-teman reporter dan kamerawan (melakukan) liputan. Reporter (kemudian) menulis naskah seperti ini. (Naskah) itu sering sekali dirombak habis, diambil <em>angle</em> lain. Misalnya berita <em>statement</em> SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) bahwa penanggulangan korban sudah berjalan. Produser bisa jadi <em>nggak</em> mau (<em>angle</em>) itu. Dia ingin mencari <em>statement</em> yang bisa lebih menjual menurut dia. Dan itu <em>nggak</em> seragam (di antara) saya dan produser yang lain. (Titik) sentralnya rapat proyeksi itu. Kami berdebat, mengapa (liputan) ini harus tayang.</p>
<p><em>Magnitude</em>, <em>proximity</em> itu penting juga. Jadi, lagi-lagi karena urusan bisnis. Larinya ke rating lagi. Karena rating Nielsen (mengambil) respondennya 67 persen lebih &#8212; kalau saya <em>nggak</em> salah &#8212; di Jakarta dan sekitarnya, otomatis kami mencari berita yang <em>magnitudenya</em> kuat di sini. Tapi, (bisa juga), misalnya, Gempa Pangandaraan. Meskipun jauh (dari Jakarta), pengaruhnya kuat.</p>
<p><strong>Kembali ke soal rapat redaksi. Apakah pernah dalam rapat redaksi, sebuah usulan tidak dapat diterima meskipun sudah mencapai mufakat. Misalnya karena faktor nonredaksional semacam tekanan dari pemilik modal?</strong></p>
<p>Kami, misalnya, dilarang memberitakan demo-demo berhubungan dengan mantan-mantan penguasa. Atau, bahkan ada agenda titipan dari korporat. Misalnya kemarin (grup media kami) bekerja sama dengan Badan Metereologi dan Geofisika tentang informasi gempa. Informasi itu ‘kan <em>nggak</em> menarik, terlalu lokal, terlalu berbau bisnis. Secara nilai berita <em>nggak</em> menarik. Tapi, karena ada instruksi dari bos&#8230;.</p>
<p><strong>Jalur tekanan itu dari mana atau melalui siapa? Apakah disuarakan dalam rapat redaksi secara terbuka, atau tertutup dari garis komando tertentu?</strong></p>
<p>Jadi, peserta rapat redaksi (adalah) produser, koordinator liputan, koordinator daerah, dan produser eksekutif, serta asisten produser. Tekanan-tekanan itu datangnya dari informasi. Biasanya produser eksekutif ditelepon oleh pemimpin redaksi. &#8220;Tolong berita (grup media) kita ditayangkan,&#8221; atau &#8220;tolong berita tentang (&#8212;&#8211;*) ditayangkan.&#8221;</p>
<p>(*<em>Narasumber menyebut nama salah satu unit usaha kelompok konglomerasi nasional yang bergerak dalam bidang telekomunikasi</em>).</p>
<p>Saya yakin itu bukan dari dia (pemimpin redaksi). Dia juga pasti ditelepon <em>board of directors.</em></p>
<p><strong>Jadi di atasnya pemimpin redaksi  itu adalah direktur. Mereka yang mempunyai saham.</strong></p>
<p>Kurang lebih begitu.</p>
<p><strong>Berita-berita apa yang dilarang tayang?</strong></p>
<p>Demo anti-Suharto&#8230;</p>
<p>Sebuah stasiun televisi, misalnya, punya rekaman lengkap kejadian TNI memukuli Farid Fakih. Cuma  karena Karni Ilyas ditelepon langsung Syafrie Samsudin&#8230;.  Hal-hal semacam ini sudah biasa terjadi (jika media berhadap-hadapan dengan) penguasa dan militer.</p>
<p><strong>Apakah ada kecenderungan penayangan berita itu dirahkan untuk mendelegitimasi lawan bisnis pemilik modal?</strong></p>
<p><em>(Narsumber mengisahkan contoh, bos besar pemilik grup media tempat dia bernaung pernah terjegal isu skandal).</em></p>
<p>Tapi repot juga, dilematis. Memberitakan tidak sesuai dengan keinginan ini&#8230; ya tewas&#8230;</p>
<p><strong>Apakah ada keinginan melawan?</strong></p>
<p>Bukan melawan, tapi menyiasati. Oke itu agenda titipan. Tapi, (tujuan) pesan kami (adalah) tetap mengedukasi masyarakat, bahwa permasalahannya begini. Kami tetap (memberikan) dua versi. Versi lawan ditayangkan juga. Biar publik menilai. Walaupun pada beberapa kasus pernah (kami) disetir juga kali ya, diarahkan seperti ini (agar memberitakan dengan kemasan pesan tertentu). Contoh (lain), supaya tersosialisasi, teks berjalan ditayangkan berulang-ulang di semua program bahwa direktur utama (&#8212;&#8211;)  tidak terlibat dalam kasus ini.</p>
<p><strong>Bagaimana menyiasatinya supaya pengemasannya bisa terlihat wajar?</strong></p>
<p>Agak sulit, terutama untuk penonton yang<em> well-informed</em>. Tapi kalau publik umum mereka <em>nggak</em> mengerti apa-apa. Itu bukan berita yang menarik sebenarnya. Itu hanya kewajiban (dari perusahaan kami) saja. Kami punya keyakinan bahwa berita-berita semacam itu tidak akan ditonton orang.</p>
<p>Musuh pengelola televisi cuma satu: <em>remote control</em>. Orang ‘nonton, tapi <em>nggak</em> (ada acara) menarik, tinggal balik (ke acara lain). Kekuasaan penonton besar ‘kan.</p>
<p><strong>Jadi kembali ke pesan sponsor tadi, apakah pesan itu dikemas dengan standar jurnalistik?</strong></p>
<p>Iya dong, <em>cover both side</em>, masalahnya apa.</p>
<p><strong>Jika ada tayangan berita atau apapun yang tidak menyenangkan pihak direksi, pemilik modal, apakah ada sanksi yang menimbulkan efek jera?</strong></p>
<p>Yaaa dikeluarkan&#8230;.</p>
<p><strong>Pertanyaan terakhir, apakah kekuasaan pemilik modal sangat dominan?</strong></p>
<p>Sangat dominan.</p>
<p><strong>Seberapa dominan?</strong></p>
<p>Relatif. Kalau menurut saya sangat dominan. Kami harus mereduksi idealisme kami. Kami ‘kan punya standar, secara visual yang bagus itu seperti ini. Berita yang bagus itu begini. Tapi karena pertimbangan pemilik modal tadi, (berita itu) <em>nggak</em> bisa ditayangkan.</p>
<p>Tapi item berita ‘kan banyak. Bisa kami siasati bagian-bagian lain. Banyak orang, misalnya, mengkritik, kami menjual tangisan. Tapi, dengan (cara) itu kami ingin menunjukkan kepada publik ini <em>lho</em> penderitaan korban-korban gempa yang sampai dia menangis belum mendapat bantuan apa-apa. Dengan begitu kami berharap mucnul gelombang simpati dengan pengumpulan dana. Solidaritas, dan segala macam (tanggapan).</p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=33&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2007/11/15/berita-tak-sesuai-keinginan-bos-besar-tewaslah-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
