<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Semesta dalam Kata-kata &#187; Refleksi</title>
	<atom:link href="http://www.semestanet.com/category/refleksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.semestanet.com</link>
	<description>mengangkat fenomena</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Jun 2009 04:25:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sukarno, Suharto, dan Sejarah Kita</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2008/01/22/sukarno-dan-suharto-adalah-sejarah-kita/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2008/01/22/sukarno-dan-suharto-adalah-sejarah-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jan 2008 23:36:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik, Sosial, Budaya, Jurnalisme dan Media]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/2008/01/22/sukarno-dan-suharto-adalah-sejarah-kita/</guid>
		<description><![CDATA[
Sukarno, Suharto. Dua pemimpin yang menggores catatan sejarah. Mungkin mereka memang harus hadir tatkala zaman membutuhkan mereka. Jika Sukarno memandu rakyat menuju kemerdekaan, Suharto meletakkan dasar-dasar ekonomi modern.

Sukarno menjadikan Indonesia kekuatan regional yang dihormati, Suharto menjadikan Indonesia negara yang dipandang secara ekonomi. Sukarno mengajak negara-negara terjajah menggalang kekuatan perlawanan. Suharto meredakan ketegangan Asia Tenggara yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2309/2200074463_f3cdfe329e_o.jpg" alt="Sukarno-Suharto" /></p>
<p>Sukarno, Suharto. Dua pemimpin yang menggores catatan sejarah. Mungkin mereka memang harus hadir tatkala zaman membutuhkan mereka. Jika Sukarno memandu rakyat menuju kemerdekaan, Suharto meletakkan dasar-dasar ekonomi modern.<br />
<span id="more-40"></span><br />
Sukarno menjadikan Indonesia kekuatan regional yang dihormati, Suharto menjadikan Indonesia negara yang dipandang secara ekonomi. Sukarno mengajak negara-negara terjajah menggalang kekuatan perlawanan. Suharto meredakan ketegangan Asia Tenggara yang saling bertikai menjadi akur dalam ASEAN.</p>
<p>Ada keberhasilan, ada kegagalan. Ada perbedaan, tapi ada juga kemiripan sejarah.</p>
<p>Karir politik Sukarno, umpamanya, berawal dari kegerahan dirinya menyaksikan imperialisme Hindia Belanda. Sukarno berjuang secara intelektual dan akhirnya dipenjarakan. Dia semakin popular pada saat Pemerintahan Fasis Jepang memanfaatkan kepiawaiannya berpidato sebagai propagandis yang mengkampanyekan Asia Raya. Sukarno berjaya membangun konsep keindonesiaan yang pada era Hindia Belanda kedengaran absurd, dan berhasil mengejawantahkannya pada saat-saat terakhir pendudukan Jepang.</p>
<p>Adapun karir Suharto berawal di militer. Suharto bergabung dengan barisan laskar PETA (Pembela Tanah Air), terlibat dalam serangkaian operasi militer penting melawan agresi Belanda dan perebutan Irian Barat (sekarang Papua). Suharto menceburkan diri ke dunia politik dengan bermodalkan pengetahuan militernya. Dengan bekal itu, ia mampu menempatkan diri sebagai pemimpin yang pragmatis, tapi dengan kebijakan populis.</p>
<blockquote><p>Sukarno kecewa dengan demokrasi liberal yang menguatkan ego partisan. Baginya, ego partisan adalah ancaman bagi revolusi. Lantas, ia membubarkan Dewan Konstitiuante  dan menunjuk dirinya sebagai sang pemandu &#8220;demokrasi yang bergotong-royong,&#8221; meskipun faktanya sistem yang ia ciptakan adalah sebuah kediktakturan. Dia, misalnya, meminggirkan faksi-faksi yang menentangnya, dan menempatkan orang-orang yang meyokongnya di parlemen.</p></blockquote>
<p>Sebaliknya, pada saat kekuasaan Sukarno melemah, giliran Suharto membersihkan parlemen dari para pendukung Sukarno. Suharto juga melenyapkan unsur-unsur perbedaan yang berpotensi menimbulkan konflik dengan garis politiknya. Dengan begitu, Suharto berjaya mengekalkan dirinya sebagai penafsir tunggal &#8220;demokrasi Pancasila&#8221; secara legal. Tidak jarang perannya bak dewa, sedangkan perkataanya adalah sabda politik yang tegas dan keras. Perbedaan berarti pembangkangan.</p>
<p>Sukarno &#8212; ketika membubarkan Dewan Konstituante pada tahun 1959 &#8212; beranggapan &#8220;revolusi belum usai.&#8221; Maka, Sukarno mengidentifikasi musuh-musuh yang ia sebut sebagai kelompok &#8220;kontrarevolusi,&#8221; &#8220;nekolim,&#8221; (kolonialis dan imperialis baru), &#8220;antek asing,&#8221; &#8220;subversif.&#8221; Adapun Indonesia adalah &#8220;pemimpin negara-negara baru melawan para musuh itu.&#8221;<img src="http://farm3.static.flickr.com/2102/2200932786_9abf468971_o.jpg" alt="Sukarno" align="left" /></p>
<p>Untuk menunjukkan supremasi Indonesia, Sukarno membangun persenjataan militer yang tangguh, memerangi Belanda di Irian Barat, dan melakukan konfrontasi dengan Malaysia. Sukarno juga memerintahkan pembangunan Simpang Susun Semanggi, Stadion Senayan, TVRI, dan Monumen Nasional. Lantas diselenggarakanlah Pesta Olahraga Negara-negara Kekuatan Baru (<em>Games for New Emerging</em> <em>Forces</em>) sebagai tandingan Olimpiade. Semua dilakukan ketika ekonomi nasional morat-marit, sedangkan infrastruktur rusak berat.</p>
<p>Meskipun begitu, garis politik mercusuar ini berhasil memasukkan Irian Barat dalam peta nasional dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara kuat secara militer di Asia Timur. Sampai-sampai Federasi Malaysia dan Singapura yang cemas menjalin kerja sama pertahanan dengan Selandia Baru,  Australia, dan Inggris (<em>Five Power Defense Agreement</em>).</p>
<blockquote><p>Sebaliknya, Suharto yang cara berpikirnya strategis-realis melihat retorika Sukarno tidak membumi, tidak seusai dengan kondisi nyata rakyat yang melarat. Suharto memilih bekerja sama dengan kaum teknokrat yang berorientasi kapitalistis. Lantas ia meminta bantuan keuangan kepada negara-negara yang dalam pandangan Sukarno &#8220;imperialis-kolonialis baru.&#8221;</p></blockquote>
<p>Slogan-slogan pada era Suharto adalah &#8220;pembangunan&#8221; &#8220;lepas landas,&#8221; &#8220;SDM&#8221; sedangkan musuh baru yang diciptakan Suharto untuk mengidentifikasi elemen-elemen pembangkangan adalah &#8220;organisasi tanpa bentuk,&#8221; &#8220;Gerakan Pengacau Keamanan,&#8221; &#8220;subversi,&#8221; &#8220;<em>mbalelo</em>,&#8221; &#8220;kiri baru.&#8221; Melalui kendali terhadap media massa yang ketat, slogan-slogan ini berhasil meredam simpati massa terhadap gerakan-gerakan kritis, kedaerahan, atau sektarian.</p>
<p>Modal asing pun mengalir deras dengan nyaman pada era Suharto. Meskipun eksploitatif dan memberikan keuntungan luar biasa kepada segelintir kroni (kapitalisme kroni), perbaikan ekonomi berlangsung. Kelas menengah baru tumbuh dan berkembang pada awal era ini seiring dengan tampilnya konglomerasi yang dekat dengan Istana.<img src="http://farm3.static.flickr.com/2387/2200146485_170d4c6cfd_o.jpg" align="right" /></p>
<p>Sukarno ingin mengelola kemajemukan secara ideologis. Ia mecoba merangkul golongan politik dominan saat itu &#8212; Nasionalis, Agama, dan Komunis &#8212; di bawah kendalinya secara bulat. Tapi, di sisi lain, Sukarno juga membubarkan Partai Murba, Partai Sosialis Indonesia yang dianggap membahayakan arah politiknya. Alasan Sukarno &#8220;melemahkan revolusi.&#8221;</p>
<p>Suharto mengoreksi konsep pemerintahan Sukarno dengan model demokrasi semu dengan sedikit keleluasaan. Belajar dari pengalaman masa silam bahwa sumber kekacauan adalah pluralisme politik takterkendali, Suharto memperkenalkan asas tunggal, dan melebur puluhan partai politik menjadi dua. Partai-partai politik sengaja dilemahkan, dikerdilkan, sedangkan Golkar dibesarkan, tapi terkendali sebagai perpanjangan resmi pemerintah. Dengan begini, Suharto mampu mempraktikkan kebijakan-kebijakan ekonomi pragmatisnya secara efektif.</p>
<p>Kelemahan Sukarno secara politik adalah ia tidak mengendalikan militer secara penuh. Faksi militer yang menang dalam perebutan kekuasaan bukanlah kelompok yang setia kepadanya sehingga tergulinglah dia. Sebaliknya, Suharto berhasil menyingkirkan lawan-lawannya di tubuh angkatan bersenjata dan menguasai kepolisian. Dengan demikian, Suharto mampu mengendalikan aparat yang mampu mengatasi semua bentuk penolakan dan mengukuhkan kedudukannya sebagai penguasa tertinggi.</p>
<p>Dengan mengendalikan militer secara opresif Suharto berjaya menciptakan periode stabilitas sosial-ekonomi-politik yang panjang. Sebuah kondisi yang tidak berhasil dicapai Sukarno dalam masa tujuh tahun kekuasaannya yang singkat (1959-1966). Namun, Suharto bertanggung jawab atas kebrutalan aparat terhadap simpatisan Sukarno pada awal kekuasannya. Juga terhadap tokoh-tokoh kritis dan pembungkaman keras terhadap aksi ketidakpuasan warga di pelbagai pelosok negeri.</p>
<blockquote><p>Sukarno akhirnya jatuh karena kemelaratan rakyat yang kurang pangan, sandang, papan.  Suharto jatuh karena harga-harga kebutuhan pokok membumbung tinggi takterkendali. Sukarno terjungkal oleh orang-orang yang ia percaya. Suharto dijatuhkan oleh kelas menengah yang dibangunnya.</p></blockquote>
<p>Sukarno wafat dalam tahanan rumah tanpa perawatan memadai. Suharto menjelang ajal dengan terkucil di rumah sendiri. Kedua-duanya dipuji, tapi juga dicaci-maki. Mereka tidak sempurna, memang. Akan tetapi, mereka sangat berjasa bagi eksistensi bangsa Indonesia sampai saat ini dan perjalanan selanjutnya. Sukarno, Suharto &#8212; suka atau tidak &#8212; adalah bagian sejarah kita.</p>
<p><strong>Baca Juga</strong><br />
<a href="http://www.semestanet.com/2007/10/19/mengapa-indonesia-lebih-berjaya-daripada-malaysia-bagian-13-indonesia-sebenar-benar-asia-yang-multikultur-yang-demokratis/">Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 1/3: Indonesia Sebenar-benar Asia yang Multikultur dan Demokratis)</a><br />
<a href="http://www.semestanet.com/2007/11/09/sengketa-ambalat-di-mata-media/">Sengketa Ambalat di Mata Media</a></p>
<p><strong><br />
Lihat Juga</strong><br />
<a href="http://www.semestanet.com/koleksi-semesta/">Koleksi Perangko Soekarno </a><br />
<a href="http://www.amazon.com/gp/search?ie=UTF8&amp;keywords=Soekarno&amp;tag=semestanet-20&amp;index=books&amp;linkCode=ur2&amp;camp=1789&amp;creative=9325">Buku-buku tentang Soekarno</a><img src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=semestanet-20&amp;l=ur2&amp;o=1" style="border: medium none  ! important; margin: 0px ! important" border="0" height="1" width="1" /></p>
<p><script type="text/javascript"><!-- shoppingads_ad_client = "1228751a8629d6dd9967"; shoppingads_ad_campaign = "default"; shoppingads_ad_width = "336"; shoppingads_ad_height = "280"; shoppingads_ad_kw =  "soekarno;malaysia;indonesia"; shoppingads_color_border =  "FFFFFF"; shoppingads_color_bg =  "FFFFFF"; shoppingads_color_heading =  "00A0E2"; shoppingads_color_text =  "000000"; shoppingads_color_link =  "008000"; shoppingads_attitude = "true"; shoppingads_options =  "n"; --></script><br />
<script src="http://ads.shoppingads.com/pagead/show_sa_ads.js" type="text/javascript"> </script></p>
<p><script type="text/javascript"><!--   amazon_ad_tag = "semesdalamkat-20";  amazon_ad_width = "468";  amazon_ad_height = "60";  amazon_ad_discount = "remove";//--></script><br />
<script src="http://www.assoc-amazon.com/s/ads.js" type="text/javascript"></script></p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=40&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2008/01/22/sukarno-dan-suharto-adalah-sejarah-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjuangan Menjadi Muslim Amerika: Islam Substansial atau Islam Arab?</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/12/26/islam-substansial-atau-islam-arab/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2007/12/26/islam-substansial-atau-islam-arab/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 04:50:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Baca Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Politik, Sosial, Budaya, Jurnalisme dan Media]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad (40 tahun) menangis terisak-isak. Hatinya hancur. Imigran asal Aljazair itu bercerita bahwa puteranya yang baru beranjak dewasa memilih menjadi ateis ketimbang Muslim. Sementara itu, para jemaat masjid yang lain hanya bisa termangu pasrah, mendengar bagaimana budaya sekular Amerika mempertunjukkan keperkasaannya.

Itu hanyalah sepenggal di antara banyak kisah sedih keluarga Muslim yang gagal meninggalkan jejak Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Muhammad (40 tahun) menangis terisak-isak. Hatinya hancur. Imigran asal Aljazair itu bercerita bahwa puteranya yang baru beranjak dewasa memilih menjadi ateis ketimbang Muslim. Sementara itu, para jemaat masjid yang lain hanya bisa termangu pasrah, mendengar bagaimana budaya sekular Amerika mempertunjukkan keperkasaannya.<br />
<span id="more-41"></span></p>
<p>Itu hanyalah sepenggal di antara banyak kisah sedih keluarga Muslim yang gagal meninggalkan jejak Islam di negara baru mereka. Sebagian besar putera-puteri mereka melakukan konformitas budaya, mengikuti gaya hidup yang materialistis dan sekular, yang secara dominan dipraktikkan di Amerika Serikat.</p>
<p>Jeffrey Lang seorang mualaf kulit putih Anglo-Saxon Amerika Serikat. Dalam sebagian besar kandungan buku <em>Even Angles Ask: A Journey Islam in Amerika</em>, Lang menuturkan betapa konflik budaya, konflik pemikiran, yang menghadang generasi muda Muslim maupun mualaf (pemeluk baru), merupakan persoalan dalam perkembangan Islam di Amerika Serikat.</p>
<p>Ada beberapa kelompok masyarakat di Amerika yang sukar menerima Islam sebagai bagian budaya Amerika. Pertama, generasi muda Muslim yang lahir dan besar di negara itu dan cenderung ingin menjadi “orang Amerika” ketimbang “orang Arab.” Kedua<em>, </em>para mualaf kulit putih Amerika yang terbiasa dengan rasionalitas, yang akhirnya murtad karena tidak bisa menerima kedangkalan berpikir komunitas Muslim yang terdominasi budaya Arab. Ketiga<em>, </em>masyarakat Amerika yang mempunyai stereotip bahwa menjadi Muslim berarti menjadi orang Arab.</p>
<p>Lang mengakui, sukar memang membantah stereotip, atau stigma tersebut. Sebab, “Ketika muncul dalam berita, para Muslilm Amerika selalu berpakaian dalam jubah Timur Tengah,” tulis Lang mengambil contoh (h.132). Selain itu, tambah Lang, simbol-simbol seperti pakaian Timur Tengah, ucapan-ucapan Arab, atau berjanggut, meneguhkan semua anggapan itu, sampai-sampai para mualaf dan sahabat Lang berkomentar kepadanya bahwa kaum Muslim mungkin mengira bahwa Tuhan “hanya mengerti bahasa Arab.”</p>
<blockquote><p>Tidak heran, warga setempat yang masuk Islam mengalami krisis identitas dan konflik budaya. Di satu sisi mereka ditolak komunitas mereka sendiri, didiskrimnasi lantaran dianggap melakukan pengkhianatan budaya. Tapi, di sisi lain, mereka pun tidak diterima komunitas Muslim sepenuhnya, karena sukar mengadaptasikan budaya Amerika yang sudah tertanam semenjak kecil, dengan budaya Arab yang asing.</p></blockquote>
<p>Ketika mengkritik praktik dan pandangan yang bercorak Arab tradisional, sebagai contoh, sering malah mereka dituding kebarat-baratan dan dicap “tidak islami.” Apalagi, jika seorang Muslim mempertanyakan hukum Islam klasik atau kebiasaan yang mapan, ia dibungkam dengan tuduhan “hendak mengubah agama” (h.142).</p>
<p>Seorang Muslim justru dianggap saleh jika semakin menampilkan kebiasaan lahiriah yang tidak penting semisal mengenakan sorban, gamis, memanjangkan janggut, dan mengucapkan idiom-idiom Arab. Disebabkan oleh pemahaman yang remah ini, sebagian mualaf kulit putih berupaya keras menjadi “orang Arab” agar dapat diterima komunitas Muslim. Hal-hal seperti ini lagi-lagi semakin memperkuat stereotip warga Amerika bahwa Islam identik dengan Arab.</p>
<p>“Saya teringat suatu ceramah yang saya hadiri di sebuah universitas sewaktu pertama kali saya tertarik dengan Islam. Pembicaranya — seorang mualaf Amerika yang mengenakan busana mirip pakaian Saudi Arabia — terus-menerus menyisipkan dalam presentasinya istilah-istilah Arab yang diucapkan dengan buruk, seolah-olah segenap khalayaknya akrab dengan istilah-istilah itu. Suasana seperti itu menciptakan begitu banyak kesenjangan dalam pemahaman saya sehingga pembicaraannya, bagi saya, secara praktis tidak bisa dipahami. Saya tinggalkan ceramah itu dengan perasaan bahwa untuk menjadi seorang Muslim seseorang harus menjadi seorang Arab,” tulis Lang (h.31).</p>
<blockquote><p>Lang hendak mengungkapkan bahwa konflik yang terjadi sesungguhnya bukan antara Islam dengan Amerika, melainkan antara “budaya Arab yang kolot dan konservatif” dengan “budaya yang rasional dan modern.”</p></blockquote>
<p>Misalnya, pandangan orang Arab mengenai peran gender membuat tidak sedikit wanita kulit putih Amerika mengundurkan diri dari niat mempelajari Islam. Lang pernah menyaksikan, sebagai contoh, seorang wanita kulit putih Amerika memutuskan tidak jadi memeluk Islam karena gerah mendengar pertengkaran para jemaat Masjid tentang boleh tidaknya seorang perempuan hadir di masjid itu.</p>
<p>Sewaktu Lang dan keluarga tinggal di Dahran, Arab Saudi, ketiga putrinya ia masukkan ke sebuah sekolah Islam khusus untuk anak-anak perempuan. Pada hari pertama belajar, kepala sekolah mengutip hadis yang mengatakan bahwa intelegensi kaum wanita berada di bawah kaum pria (h.148) walaupun menurut Lang tak ada ayat Quran yang mendukung hadis ini. Namun, sayangnya, di Amerika justru pandangan-pandangan tradisional seperti ini seringkali dilontarkan penceramah Muslim dalam kuliah-kuliah umum tentang Islam di universitas-universitas sehingga membuat orang Amerika salah paham tentang Islam.</p>
<blockquote><p>Generasi muda Muslim yang lahir dan tumbuh dalam budaya Amerika tidak nyaman dengan praktik-praktik dan pandangan-pandangan semacam ini, sehingga mereka enggan disebut sebagai seorang Muslim kendati mewarisi “nama Arab.” Jika ditanya, &#8220;Apakah kamu Muslim?&#8221; Mereka akan menjawab, &#8220;Orang tua sayalah yang Muslim.&#8221;</p></blockquote>
<p>Oleh karena itulah, Lang menyimpulkan bahwa kaum Muslim di Amerika sangat membutuhkan ulama-ulama asli Amerika yang dapat memecahkan problem budaya tersebut. Ulama-ulama itu mengerti budaya Amerika dan mampu membimbing generasi baru Muslim Amerika — baik generasi muda Muslim maupun para mualaf — untuk hidup menurut ajaran Islam yang sebenarnya. Mereka menguasai ilmu-ilmu klasik, tapi siap mengkaji secara kritis karya-karya ulama di masa lalu. Dengan begitu Islam dapat ditafsirkan dengan konteks masyarakat Amerika kontemporer. Di sini Lang ragu bahwa komunitas Islam Amerika bisa bertenggang rasa dengan kajian Islam klasik yang ada saat ini. Pendeknya, Lang mendambakan terciptanya masyarakat Muslim yang bergaya Amerika moden (h.297-298).</p>
<p>Nama Jeffrey Lang dapat disejajarkan dengan para mualaf Barat lain seumpama Leopold Weiss, Murad Hofmann, Roger Garaudy, atau Maryam Jameelah yang menyumbangkan perspektif alternatif dalam menafsirkan universalitas Islam. Keinginan Lang menampilkan citra diri sebagai Muslim Amerika, misalnya, ia ejawantahkan dengan mempertahankan nama Amerikanya, memilih mengucapkan “<em>thank&#8217;s God</em>” alih-alih “alhamdulillah,” dan tetap berbusana ala Barat, karena baginya simbol-simbol bukan persoalan substansial.</p>
<p>Selama beberapa tahun menjadi Muslim yang “bukan merupakan rencana hidupnya” itu, Jeffrey Lang — yang juga seorang guru besar matematika — menyaksikan bagaimana komunitas Muslim saling mendengki, menggunjing, menjelekkan jemaat Muslim di luar kelompok mereka, enggan menerima kritik, bahkan mengkafirkan satu sama lain.</p>
<blockquote><p>Banyak mualaf kulit putih yang keluar dari Islam lantaran kecewa, tapi Lang bersiteguh. &#8220;Saya memeluk Islam bukan karena komunitas Muslim, melainkan lantaran kebenaran Qur&#8217;an!&#8221; katanya kepada sahabat kulit putihnya yang akhirnya murtad.</p></blockquote>
<p>Buku ini sebenarnya dipersembahkan Lang kepada puteri-puterinya agar mengenal Islam. Selan itu, buku ini juga ditujukan sebagai penuntun bagi para mualaf kulit putih Amerika yang pada umumnya mengalami tahap-tahap perjalanan spiritual keislaman serupa.</p>
<p>Sebagian besar isi buku ini mengandung pergulatan intelektual dan spiritual Lang dalam memahami Islam, tapi bab dua secara khusus memuat penafsiran Lang mengenai prinsip-prinsip dasar Islam yang menjadi argumen keberislamannya.</p>
<p>Meskipun di Amerika menemukan relevansinya, gagasan dalam buku ini — bagi kita di Indonesia — mungkin kedengaran usang, karena perdebatan semacam ini pernah dipopularkan Nurcholish Madjid sekitar dua-tiga dekade silam. Namun demikian, buku ini memberikan kesadaran bahwa sebagaimana malaikat yang berani mempertanyakan penciptaan manusia kepada Tuhan, kita pun seharusnya berani menggugat pengamalan Islam yang secara umum kita pahami sekarang. Islam substansial, atau Islam Arab?</p>
<p><strong>Judul Buku: Bahkan Malaikat Pun Bertanya: Membangun Sikap Berislam yang Kritis; Judul Asli: Even Angels Ask: A Journey to Islam in Amerika; Penulis: Jeffrey Lang; Penerjemah: Abdullah Ali; Penyunting: M.S. Nasrulloh; Pengantar: Murad Hoffman (edisi Amerika Serikat), Jalaluddin Rakhmat (Indonesia). Tebal: xvi + 302 halaman; Penerbit: Serambi. Tahun 2001.</strong></p>
<p><strong> Baca Juga</strong><br />
<a href="http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/"> Salat Id, Perbedaan, dan Kasih Tuhan</a><br />
<a href="http://www.semestanet.com/2007/09/23/main-petasan-cekikikan-saat-tarawih-dan-spiritualitas-ramadan/#more-56"> Main Petasan, Cekikikan Saat Tarawih, dan Spiritualitas Ramadan</a><br />
<a href="http://www.semestanet.com/2007/06/08/hati-rasio-dan-ketenangan-jiwa/"> Hati, Rasio, dan Ketenangan Jiwa</a></p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=41&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2007/12/26/islam-substansial-atau-islam-arab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Musuh Bersama</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/26/satu-nusa-satu-bangsa-satu-musuh-bersama/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2007/10/26/satu-nusa-satu-bangsa-satu-musuh-bersama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Oct 2007 16:20:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi, boleh jadi ada sekelompok orang di antara kita yang tengah merasakan kenaikan pendapatan beberapa kali lipat jika dibanding dengan beberapa tahun sebelumnya.

Kemungkinan besar, kelompok ini dekat dengan penguasa dan menikmati aliran modal asing yang ramai masuk. Mereka kosmopolit, berpendidian tinggi, mempunyai jaringan global yang luas, dan banyak berinteraksi dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi, boleh jadi ada sekelompok orang di antara kita yang tengah merasakan kenaikan pendapatan beberapa kali lipat jika dibanding dengan beberapa tahun sebelumnya.<br />
<span id="more-29"></span></p>
<p>Kemungkinan besar, kelompok ini dekat dengan penguasa dan menikmati aliran modal asing yang ramai masuk. Mereka kosmopolit, berpendidian tinggi, mempunyai jaringan global yang luas, dan banyak berinteraksi dengan para pengambil kebijakan. Bahkan mungkin sebagian mereka menentukan atau mempengaruhi kebijakan itu sendiri. Bisa juga mereka pekerja kerah putih di perusahaan-perusahaan asing atau perusahaan-perusahaan lokal yang bermitra dengan perusahaan asing yang padat modal. <o></o>Dari tahun ke tahun mereka semakin makmur seiring dengan pemulihan dan pertumbuhan ekonomi. Mereka memiliki banyak uang untuk modal usaha, tabungan, dan investasi. Tiada hambatan keuangan buat berwisata di pelosok negeri, atau berkali-kali ke negara-negara rantau setiap musim liburan. Mereka juga mampu menyekolahkan putra-putri mereka ke luar negeri. <st1 w:st="on"></st1><st1 w:st="on">Baku</st1> mutu hidup mereka tinggi.<o></o></p>
<p>Kelompok kedua adalah masyarakat yang berpenghasilan menengah, melebihi ambang angka inflasi tahunan. Paling tidak, ada kenaikan pendapatan barang sepuluh sampai dua puluh persen. Selama bijak mengelola keuangan, mereka bisa hidup cukup dan mampu menabung, meskipun kadang-kadang tabungan habis tersisih untuk rumah, pendidikan anak, hari raya, atau wisata rohani.<o></o></p>
<p>Mereka bekerja sebagai pegawai pemerintah, pegawai swasta perusahaan lokal, atau pengusaha kecil-menengah. Mereka mengeluh jika pemerintah menaikkan harga bahan bakar, tarif listrik, air, jalan tol, dan kebutuhan umum lain. Tapi, <em>toh</em> pada akhirnya mereka menerima juga.<o></o></p>
<p>Kelompok ketiga adalah masyarakat berpenghasilan rendah yang takmampu mengejar angka inflasi. Setiap rupiah kenaikan harga mencekik leher mereka. Setiap hari mereka pusing memikirkan bagaimana cara mendapatkan tambahan uang agar asap dapur terus mengepul, agar si bayi dapat minum susu bergizi, agar anak-anak mereka bisa tetap bersekolah di tengah semakin mahalnya biaya pendidikan. Takjarang mereka meminta si sulung yang baru lulus sekolah menengah supaya langsung bekerja. Takjarang pula sang anak putus sekolah tatkala berada di bangku sekolah dasar. Tapi sang anak sendiri sulit memperoleh kerja di tengah jutaan pengangguran yang bertambah ratusan ribu setiap tahun.<o></o></p>
<p>Gali lubang tutup lubang terpaksa mereka lakukan. Mereka bisa bernapas sedikit lega jika menerima tunjangan hari raya. Mereka pekerja yang mengandalkan kemampuan fisik. Bisa buruh pabrik, bisa juga petani. Setiap mendengar pengumuman kenaikan harga, muka mereka merah padam, lantaran merasa tertipu janji-janji kampanye. “Kalau harga terus-menerus naik, kami akan berbuat rusuh,” kata mereka, memendam amarah. <o></o></p>
<p><script type="text/javascript"><!--
shoppingads_ad_client = "1228751a8629d6dd9967";
shoppingads_ad_campaign = "default";
shoppingads_ad_width = "336";
shoppingads_ad_height = "280";
shoppingads_ad_kw =  "most popular";
shoppingads_color_border =  "FFFFFF";
shoppingads_color_bg =  "FFFFFF";
shoppingads_color_heading =  "00A0E2";
shoppingads_color_text =  "000000";
shoppingads_color_link =  "008000";
shoppingads_attitude = "false";
shoppingads_options =  "n";
--></script><br />
<script type="text/javascript" src="http://ads.shoppingads.com/pagead/show_sa_ads.js">
</script></p>
<p>Kelompok keempat adalah kelompok miskin. Sehari mereka makan, besok kelaparan. Tidak punya tempat tinggal, ataupun kalau ada, itu taklayak disebut sebagai rumah. Hidup bersempit-sempitan dengan beberapa anggota keluarga, kerabat atau kawan, di rumah tripleks yang sempit tanpa air bersih. Mandi, cuci, dan buang air mereka kerjakan di sungai yang kotor, bau, dan berlimbah. Lantaran sanitasi buruk, pelbagai penyakit seperti radang paru-paru, tuberkolosis, tifus, disentri, diare, menjadi bagian hidup sehari-hari. Namun, mereka taksanggup berobat, karena rumah-rumah sakit taksudi melayani mereka. <o></o></p>
<p>Di antara mereka mati dini dengan menyedihkan. Anak-anak mereka kurus kering karena kurang gizi. Sebagian bayi-bayi atau anak balita mereka terkena busung lapar menangis, merengek minta susu, sedangkan sang ibu sudah kehabisan air mata untuk bersedih. Jangankan bersekolah, anak-anak mereka yang pucat karena kurang darah, dan terbakar akibat terik matahari terpaksa mereka suruh meminta-minta. Di <st1 w:st="on">kota</st1> mereka kelompok terusir, dianggap sampah masyarakat atau merusak keindahan <st1 w:st="on"></st1><st1 w:st="on">kota</st1>. Tapi mereka takmampu lagi pulang kampung, karena takpunya uang….<o></o></p>
<p><span style="font-family: Arial"></span><span style="font-family: Arial"></span><span style="font-family: Arial"> </span><span style="font-family: Arial"></span><span style="font-family: Arial"></span><span style="font-family: Arial"></span><span style="font-family: Arial"></span><span style="font-family: Arial"></span></p>
<blockquote><p>Dua kelompok terakhir adalah kelompok yang paling semakin menderita dengan kebijakan pemerintah yang pro-pasar bebas. Pertumbuhan dikejar, angka-angka ekonomi makro memukau, tapi pemerataan tertinggal. Orang kaya semakin sejahtera, orang miskin semakin sengasara.</p></blockquote>
<blockquote><p>Bayangkanlah sebuah piramida. Kelompok ketiga dan keempat berjumlah lebih dari separuh penduduk negeri dan menempati struktur paling bawah. Kelompok makmur berada di puncak, sedangkan kelas menengah di antaranya. Di negara yang ekonominya mapan, kelas menengah dominan karena kekayaan negara menyebar merata.</p></blockquote>
<p align="center">* * *</p>
<p>Pada tahun 1928, para pemuda dari pelosok negeri berkumpul mengimajinasikan sebuah masyarakat Hindia Timur di masa depan yang mempunyai bahasa, dan wilayah, serta penduduk yang bernama &#8220;Indonesia.&#8221;</p>
<p>Boleh dibilang gagasan &#8220;Indonesia&#8221; adalah gambaran tentang sebuah kompromi karena setiap suku atau golongan, mengorbankan posisi masing-masing. Konsep &#8220;Indonesia,&#8221; misalnya, memilih bahasa Melayu, bukan bahasa Jawa yang jumlah penuturnya mayoritas. Konsep ini pula mengandung konsekuensi bahwa suku yang mendiami daerah subur dan kaya sumber daya alam berbagi dengan daerah yang gersang dan miskin. Suku atau pemeluk agama yang sebelumnya mayoritas di daerah tertentu, misalnya, serta-merta menjadi minoritas dalam konsep wilayah &#8220;Indonesia.&#8221;</p>
<p>Jadi, generasi muda saat itu mengatasi kepentingan daerah, suku, kelompok atau golongan masing-masing. Mungkin mereka bersatu lantaran identifikasi terhadap Pemerintah Hindia Belanda sebagai musuh bersama. Tapi, setidaknya, pengorbanan demi kebangsaan itu berbuah. Lihatlah sekarang. Sedikit banyak, imajinasi para pemuda pada 79 tahun silam itu telah menjadi kenyataan.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Saat ini musuh bersama rakyat adalah segala macam yang merusak gambaran Indonesia yang makmur dan beradab. Orde Baru memang memberikan penghidupan yang baik, tapi mereka memasung kebebasan. Pada tahun 1999, rakyat memutuskan mengambil jalan kebebasan, karena yakin, kebebasan bakal menggiring mereka pada kemakmuran. Demokrasi yang mapan kelak menghasilkan sebuah struktur yang produktif dan efisien.</p>
<p>Penyelewengan, penyalahgunaan kekuasaan, perlakuan semena-mena oleh aparat kekuasaan, egoisme golongan, pembedaan rasial, ketimpangan sosial, mengacaukan gambaran ideal tentang Indonesia di masa depan. Tetapi, sesungguhnya saat ini sudah terdapat banyak saluran tersedia buat meluruskannya. Semua bergantung kepada sampai sejauh mana kita ingin berperan, atau berkorban.</p>
<p>Paling tidak, mulailah dengan membantu menyokong &#8212; mungkin ada kerabat terdekat kita sendiri, misalnya, yang masih semaput karena bergelut dengan kemelaratan?</p>
<p><span style="font-family: Arial"><br />
</span></p>
<p><span style="font-family: Arial"></span><span style="font-family: Arial"><strong>Baca Juga</strong><br />
<a href="http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/">Ya, Ekonomi Indonesia Makin Cerah!</a></span><br />
<a href="http://www.semestanet.com/2007/10/19/mengapa-indonesia-lebih-berjaya-daripada-malaysia-bagian-13-indonesia-sebenar-benar-asia-yang-multikultur-yang-demokratis/"> Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 1/3): Indonesia Sebenar-benar Asia yang Multikultur dan Demokratis</a></p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=29&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2007/10/26/satu-nusa-satu-bangsa-satu-musuh-bersama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salat Id, Perbedaan, dan Kasih Tuhan</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Oct 2007 10:59:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masalah Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Politik, Sosial, Budaya, Jurnalisme dan Media]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Din Syamsuddin kelihatan gusar. Ketua Muhammadiyah itu menganggap pemerintah terlalu memaksakan penetapan 1 Syawal 1428 kepada masyarakat. Tekanan pemerintah terlalu kuat sampai-sampai di beberapa daerah warga Muhammadiyah mendapat perlakuan diskriminatif. Di Majene, Sulawesi Barat, umpamanya, pemerintah kabupaten setempat melarang warga Muhammadiyah menggunakan Lapangan Prsammnya sebagai tempat pelaksanaan salat Id.

&#8220;Pemerintah terlalu ikut campur,&#8221; ujar Din. Permintaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Din Syamsuddin kelihatan gusar. Ketua Muhammadiyah itu menganggap pemerintah terlalu memaksakan penetapan 1 Syawal 1428 kepada masyarakat. Tekanan pemerintah terlalu kuat sampai-sampai di beberapa daerah warga Muhammadiyah mendapat perlakuan diskriminatif. Di Majene, Sulawesi Barat, umpamanya, pemerintah kabupaten setempat melarang warga Muhammadiyah menggunakan Lapangan Prsammnya sebagai tempat pelaksanaan salat Id.<br />
<span id="more-24"></span></p>
<p>&#8220;Pemerintah terlalu ikut campur,&#8221; ujar Din. Permintaan Menteri Agama Maftuh Basyuni kepada warga yang mengakhiri puasa mereka pada Kamis petang untuk salat Id pada hari Sabtu, &#8220;Sama sekali tidak ada dasarnya dalam Quran dan Hadis,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Maftuh Basyuni juga mengecam Jemaah An Nadzir &#8212; sebuah komunitas sekte minoritas Muslim di Sulawesi  Selatan &#8212; yang salat Id pada hari Kamis. &#8220;Kalau mereka bermaksud mengacau, mereka akan berurusan dengan polisi!&#8221; tukasnya.</p>
<p>Sebelumnya, pada hari Rabu, Majelis Ulama Indonesia melalui media massa mengingatkan masyarakat akan fatwa No.2 tahun 2004 yang mewajibkan umat menaati ketetapan pemerintah tentang 1 Syawal.</p>
<p>Hari <em>gini</em>, masih ada penyeragaman? <em>Caaape</em> deh&#8230;.</p>
<p>Saya memutuskan mengakhiri puasa saya Kamis petang. Saya salat Id Sabtunya karena pada hari Jumat tiada satupun penyelenggaraan salat Id terdekat di lingkungan saya.</p>
<p>Saya pikir, kalau astronomi modern mampu memperhitungkan kedatangan komet yang memasuki tatasurya dan mendekati bumi secara tepat dalam hal jarak dan waktu, semestinya penetapan 1 Syawal takkan berpolemik.</p>
<p>Dengan metode hilal, seandainya ada meteor yang bergerak menuju Jakarta, mungkin kota ini keburu luluh lantak sebelum para penduduknya diungsikan lantaran kehabisan waktu. Betapa tidak, keputusan baru diambil dengan keharusan mendapatkan fakta empiris terlebih dahulu.</p>
<p>Hanya guyon, jangan tersinggung.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Jangan salah sangka. Saya bukan jemaah Muhammadiyah. Tapi bukan pula Nadhatul Ulama. Bukan Sunni, juga bukan Syiah. Saya seorang Muslim, yang bersedia menerima tafsiran teks-teks Islam dari aliran manapun, selama itu mengumandangkan prinsip-prinsip universalia.</p>
<p>Saya salat Tarawih 11 rakaat, tapi bertahlil juga buat kawan dan kerabat yang wafat, pernah mengikuti kursus Islam yang diselenggarakan komunitas Syiah, ataupun pernah mempraktikkan Doa Kumail, dan terkadang menjamak salat.</p>
<p>Butir pentingnya, hendaknya kita tidak mengungkung praktik keberislaman kita pada satu cara pandang saja karena itu mempersempit batasan cakrawala kita tentang realitas. Cakrawala yang sempit menihilkan ruang dialog dan pada akhirnya menimbulkan fanatisme sektarian. Lebih parah lagi: konflik fisik. Lihat saja Irak dan Pakistan. Kelompok Sunni dan Syiah di kedua negara itu saling menebarkan dendam yang takberkesudahan dengan hancur-menghancurkan satu sama lain.</p>
<p>Di tengah serangan politik, budaya, dan militer oleh pihak asing secara intensif, egosentris sektarianisme semacam itu teramat menyedihkan. Bukankah lebih baik umat Muslim berpikir bagaimana bersama-sama membangun peradaban Islam yang baru, majemuk dan modern, serta menerima perbedaan-perbedaan remeh sebagai kenyataan?</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Mendapatkan limpahan rahmat Tuhan selama Ramadan dan kesucian pada Idul Fitri memang bukan perkara gampang kalau tanpa kesungguhan. Tapi juga tidak sulit, karena terdapat banyak jalan mengarah ke sana.</p>
<p>Seorang sufi yang wafat mendatangi kawannya dalam mimpi.</p>
<p>Kawan itu berkata, &#8220;Wah, kamu kelihatan hidup senang di surga. Itu pasti lantaran amalmu, dan sumbangsih pemikiranmu yang luar biasa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan, bukan karena itu. Aku dimasukkan ke surga karena aku pernah tak mengusik seekor lalat yang hinggap di batang penaku, dan membiarkannya menghisap cairan tinta sepuasnya,&#8221; jawab sufi itu.</p>
<p>Seorang pekerja seks komersial dimasukkan ke surga karena memberikan minuman kepada seekor anjing yang kehausan dengan tulus dan penuh cinta.</p>
<p>Bukan amal-amal kita yang menyebabkan kita menginjak surga. Amal-amal manusia, jika dibanding dengan ganjaran surga, teralu kecil, taksepadan. Keberadaan manusia di jagat raya dibanding milyaran galaksi &#8212; yang tiap-tiapnya terdiri atas ratusan juta bintang &#8212; secara matematika bisa diabaikan karena mendekati nol, alias nihil, tidak ada.</p>
<p>Tapi Tuhan melipatgandakan amal-amal kita jutaan kali &#8212; atau mungkin jauh lebih besar daripada itu &#8212; karena Dia sangat menghargai kemanusiaan kita, keberadaan kita.</p>
<p>Itulah bentuk syukur Tuhan kepada manusia yang taat asas menebarkan kebaikan.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Ressa, keponakan saya itu masih usia sekolah dasar. Dia tengah berada di puncak semangat belajar main gitar. Ayahnya membelikannya sebuah gitar klasik mini yang cocok dengan ukuran tubuhnya yang kecil.</p>
<p>Suatu hari Ressa menelpon saya.</p>
<p>&#8220;Om To, aku nggak bisa menyetel senar gitarku&#8230;,&#8221; katanya dengan lirih. Memelas.</p>
<p>Trenyuh hati saya mendengar suara yang polos dan mengiba itu. Saya pun pergi ke rumahnya yang berjarak dua jam perjalanan dari tempat tinggal saya. Yang saya lihat, ada seorang anak kecil lugu ingin belajar segala hal dengan sungguh-sungguh. Hampir tidak mungkin saya lakukan perkara remeh-temeh ini kepada orang dewasa.</p>
<p>Kepolosan, keluguan, kelucuan anak kecil muncul karena mereka makhluk tanpa dosa, sehingga membangkitkan kasih sayang kita setiap kali kita memandang mereka.</p>
<p>Dengan pandangan kasih sayang semacam itu Tuhan melihat kita pada Idul Fitri ini setelah kerja keras kita mendekati-Nya selama Ramadan. Pandangan penuh cinta ini bertahan selama kita berupaya terus menghadirkan Tuhan dalam keseharian kita, dalam kegiatan-kegiatan kita.</p>
<p>Ketika bangun pagi, katakan bahwa kita bermaksud mengambil rezeki-Nya untuk memuliakan-Nya dan umat manusia. Sampaikan cita-cita duniawi dan surgawi kita.</p>
<p>Jika kita melihat keindahan, pujilah Dia. &#8220;Puji bagi-Mu Tuhan, yang menjadikan ciptaan-Mu ini nikmat dipandang.&#8221;</p>
<p>Bahkan ketika kita hendak bercinta, &#8220;Terima kasih Tuhan, Engkau memberikan rasa cinta  yang memuaskan dan membahagiakan.&#8221;</p>
<p>Intinya, bicaralah kepada Tuhan kapan saja kita melakukan atau menanggapi sesuatu. Dengan demikian, Tuhan bakal selalu hadir bersama kita.</p>
<p>Mudah-mudahan berkah Tuhan menyertai kita selama bulan-bulan mendatang. Selamat Idul Fitri, maaf lahir batin. <em>God bless you all.</em></p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=24&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Main Petasan, Cekikikan Saat Tarawih, dan Spiritualitas Ramadan</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/09/23/main-petasan-cekikikan-saat-tarawih-dan-spiritualitas-ramadan/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2007/09/23/main-petasan-cekikikan-saat-tarawih-dan-spiritualitas-ramadan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Sep 2007 10:22:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Mengenang Ramadan semasa kecil membuat saya tersenyum. Buat anak kecil usia sekolah dasar seperti saya, itulah saat yang paling mengasyikkan dalam setahun.

Pada bulan ini banyak penjual petasan yang lewat di lingkungan perumahan kami. Mereka menjual beragam jenis petasan.
Saya ingat, ada petasan yang berbentuk bola putih kecil, kira-kira sebesar bola tetikus &#8212; atau mungkin lebih besar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengenang Ramadan semasa kecil membuat saya tersenyum. Buat anak kecil usia sekolah dasar seperti saya, itulah saat yang paling mengasyikkan dalam setahun.<br />
<span id="more-23"></span><br />
Pada bulan ini banyak penjual petasan yang lewat di lingkungan perumahan kami. Mereka menjual beragam jenis petasan.</p>
<p>Saya ingat, ada petasan yang berbentuk bola putih kecil, kira-kira sebesar bola tetikus &#8212; atau mungkin lebih besar sedikit &#8212; dan jika dibanting ke tanah, dia akan meledak keras, serta menyebarkan asap dan bau mesiu. Kami menyebutnya &#8220;petasan banting.&#8221; Semakin besar diameter petasan banting, semakin kuat ledakannya. Tidak seru rasanya bulan puasa tanpa lempar-melempar petasan banting. Tujuannya, tentu saja buat mengejutkan &#8216;lawan.&#8217; Dan jika lawan membalas, terdengarlah bunyi ledakan yang bersambut-sambutan dan asap pun mengepul di mana-mana. Mirip perang sungguhan. <em>Keren</em>!</p>
<p>Ada juga petasan silinder merah yang besarnya kira-kira seukuran baterei AA.  Jika diselipkan sehelai lidi pada tepinya, kemudian dibakar sumbunya, jadilah dia roket mini yang secepat kilat meluncur terbang dan  kemudian meledak keras di angkasa. Kami menyebutnya &#8220;Janwe.&#8221;</p>
<p>Janwe adalah petasan favorit saya, karena ia membantu saya mengejawantahkan imajinasi saya tentang roket luar angkasa, ataupun keganasan mesin perang. Kekuatannya luar biasa. Dengan ledakan yang berulang-ulang, ia mampu membelah sebilah bambu yang kokoh dan panjang. Dan jika dipendam di tanah, ia bisa menyisakan lubang kecil akibat ledakan. Kadang kami &#8216;beruji coba&#8217; dengan menamam lebih banyak Janwe buat mendapatkan lubang yang lebih besar. Seru.</p>
<p>(Baru sekarang saya menyadari, yang kami lakukan dulu itu teramat-sangat berbahaya. Saya dengar, ada seorang anak yang salah satu jarinya putus karena ceroboh. <em>Thank God</em>, Engkau melindungiku!).</p>
<p>Malamnya, salat tarawih menjadi ajang <em>kongkow</em> anak-anak seusia kami. Seusai salat isya berjamaah, berbondong-bondong kami keluar dari masjid karena malas mendengarkan ceramah. Kami bisa bermain petak umat, benteng, atau permainan anak-anak lainnya, sampai panggilan memulai salat tarawih terdengar.</p>
<p>Yah, namanya juga anak kecil. Salat tarawih kami lakukan dengan senda gurau. Jika ada kawan yang kelihatan salat dengan sungguh-sungguh, kami berusaha membuat konsentrasinya buyar. Ada banyak cara untuk usil seperti meledek dengan muka lucu, ataupun menggelitik punuk teman dengan bulu kemocang. Teman yang berusaha tegar itu akhirnya cekikikan juga lantaran taktahan kegelian.</p>
<p>Nah, kalau sudah begini, orang dewasa turun tangan dan memarahi kami. &#8220;Jangan bercanda, mengangu orang yang salat!&#8221; kata mereka sambil mendelik gusar.</p>
<p>Kami pun diam sesaat, untuk selanjutnya bertindak konyol lagi.</p>
<p>Itulah gambaran pemaknaan Ramadan buat kami sewaktu kecil. Ramadan tidak lebih dari sebuah penyeragaman ritual ketimbang pengalaman spiritual. Akan tetapi, jika sampai saat ini kita menjalani Ramadan dengan kekosongan, berarti kita belum beranjak dari mental kekanak-kanakan kita.</p>
<p>Memang sukar kita melepaskan diri dari arus popular yang menjadikan Ramadan sebagai &#8220;tradisi pantangan massal ini.&#8221; Pengusaha justru melihat Ramadan sebagai peluang komodifikasi buat melipatgandakan laba dan mendorong masyarakat berperilaku semakin konsumtif. Mereka bilang, minumlah multivitamin ini supaya badan tidak gampang sakit. Berbukalah dengan mi cepat saji ini. Minum minuman berenergi ini. Jangan lupa teguk obat mag sebelum dan sesudah sahur. Saksikan sinetron Ramadan ini (meskipun temanya takjauh-jauh dari kisah cinta muda-mudi). Tonton komedi ini menjelang sahur dan berbuka. Saksikan pentas musik Ramadan oleh kelompok band atau penyanyi anu. Acara wartapelipur (<em>infotainment</em>), ataupun sinetron yang alurnya sengaja dilur-ulur dan dikelok-kelok pun (agar mengeruk keuntungan iklan lebih banyak dan lebih lama) sampai-sampai disesuaikan dengan &#8220;semangat Ramadan.&#8221;</p>
<p>Beramai-ramai orang membeli pakaian baru, buka puasa dengan kerabat, teman, atau rekan kerja di mal-mal, restoran-restoran mahal ataupun di hotel-hotel mewah menjadi ritus tahunan karena para pengusaha membuat maklumat di media massa bahwa ada potongan harga khusus &#8220;hanya Ramadan ini.&#8221;</p>
<p>Fenomena itu terjadi karena kebanyakan manusia beranggapan bahwa materi adalah realitas mutlak, dan oleh sebab itu ia kebenaran final. Prestasi atau pencapaian tertinggi seseorang diukur dari seberapa jauh segala unsur kebendaan yang ia kuasai.</p>
<p>Lantas orang bergegas mencari harta sebanyak-banyaknya. Kepuasan adalah kepuasan badani, sedangkan keindahan adalah keindahan pancainderawi.</p>
<p>Orang berusaha mencapai standar gaya hidup materialisme yang tinggi dengan upaya mengkonsumsi barang dan layanan terbaik. Mereka mendatangi pusat kebugaran atau perawatan tubuh supaya dapat mempertontonkan kualitas badani dan kapital mereka, dan berupaya tampil sebagai &#8220;sang pemenang.&#8221; Bersenang-senang, melampiaskan segala hasrat dengan makan, minum, pesta, dansa, cinta, ataupun hubungan badan. Kebanggaan, harga diri memuncak jika mereka mampu memperlihatkan pakaian yang bagus, ponsel terkini, mobil mewah, apartemen, atau rumah yang megah. Sebagian orang sangat menderita jika takmampu mencapai hal ini.</p>
<p>Cara pandang sebelas bulan itulah yang mendominasi pikiran kita selama ini. Di sinilah Ramadan datang untuk membalikkan paradigma kita, bahwa yang esensi bukanlah materi, tapi jiwa. Sebab, badan tidak kekal, karena entropi selalu bertambah seiring mengalirnya waktu: materi berproses menuju  kekacauan, ketidakberturan. Segala benda bakal lapuk. Tubuh terus menua. Kekuatan dan kegagahan anak muda akan berganti dengan kelemahan dan kebergantungan semasa uzur. Alam semesta kelak hancur.</p>
<p>Sebaliknya terjadi pada jiwa. Jiwa adalah fungsi dari proses pembelajaran dari tahun ke tahun. Dia semakin dewasa, matang, dan bijak dan berevolusi menuju kesempurnaan. Dia tidak lekang waktu karena dia melampaui ruang dan waktu: dia sudah ada jauh sebelum badan ini ada. Jiwa dan badan bak kerja sama antara pengemudi dan kendaraan mencapai tempat tujuan. Badan mengantarkan jiwa, tapi jiwalah yang menentukan arahnya. Boleh dibilang, badan adalah wadah jiwa yang tengah berproses menuju kesempurnaan. Kelak, jiwa kembali menyatu dengan Tuhan secara layak</p>
<p>Ali Syariati mengatakan, jiwa mempunyai sifat-sifat malaikat, dia mengajak kita menuju langit. Badan mengandung unusr-unsur tanah, dia mendorong kita ke dasar bumi. Langit adalah tempat yang mulia, sedangkan tanah; hina. Penyabar, pemaaf, penyantun, penolong, penderma, dan adil adalah perilaku penghuni langit. Pemarah, pendendam, penindas, kikir, tamak, dan lalim adalah perangai badani. Oleh sebab itu, jangan sampai badan justru memperhamba jiwa. Lepaskan sedikit demi sedikit jiwa kita dari kebergantungan terhadap badan.</p>
<p>Salat, misalnya, merupakan salah satu usaha melepaskan jiwa dari kergantungan terhadap benda. Kita berkata dalam doa kita, &#8220;Tuhan, hidup dan matiku hanya untuk Engkau!&#8221; Hakikatnya, kita menyangkal dunia.</p>
<p>Zikir pun bentuk penyangkalan terhadap keduniaan. Ketika kita berkata, &#8220;Segala pujian hanya milik Tuhan,&#8221; pada dasarnya kita bersaksi, bahwa puji-pujian duniawi tidaklah hakiki. Semu.</p>
<p>Begitu juga puasa. Dengan menahan lapar dan dahaga, jiwa kita melepaskan diri dari kebergantungan terhadap badan. Dominasi, dan kekuasaan badan selama sebelas bulan kita lemahkan di bawah kendali jiwa.</p>
<p>Meskipun begitu, sekali lagi, berbuka puasa adalah bentuk pengakuan bahwa dalam proses menuju kesempurnaan jiwa, kita membutuhkan energi, badan yang sehat agar mampu mengantarkan jiwa menuju perbaikan yang berkelanjutan, karena kita manusia, bukan malaikat.</p>
<p>Akan tetapi, Ramadan juga mengajarkan kita membantu orang lain agar mereka ikut merasakan proses pembelajaran jiwa sebagaimana kita alami. Agar proses pembelajaran jiwa kita beresonansi dengan jiwa orang lain.</p>
<p>Zakat dan sedekah adalah contohnya. Dengan zakat dan sedekah kita berusaha mengkondisikan fisik mereka agar mampu menjadi medium bagi perbaikan jiwa mereka. Namun, di sisi lain, pada saat yang bersamaan, zakat dan sedekah juga merupakan tindakan memerdekakan jiwa kita sendiri dari kebendaan. Di sini kitalah yang menentukan sampai sejauhmana materi itu kita eksploitasi untuk kepentingan diri kita sendiri, sehingga kita bisa melepaskannya tanpa khawatir atau merasa kehilangan. Kita tuan bagi diri kita sendiri.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Seorang sahabat berkata, &#8220;<em>Gue kepingin</em> mati di Mekkah,&#8221; katanya.</p>
<p>Buat penganut paham kebendaan, tentu itu keinginan bodoh. Itu hanya mungkin berlaku pada orang yang frustasi karena terpinggirkan dalam kompetisi dunia.</p>
<p>Semakin sukar dipahami bila yang mengucapkan itu orang yang tengah berjaya, saat dunia berada di genggamannya. Dia rela meninggalkan kekayaan, anak dan istrinya karena ingin segera menuju Tuhan (tentu dengan bertanggung jawab).</p>
<p>Justru manusia semacam ini berhasil mengatasi kesemuan materi dan mencapai esensi. Hasrat menuju langit semacam ini takkan bisa dimengerti apalagi dirasakan oleh kebanyakan orang yang berorientasi pada kebendaan. Dia bahkan tidak berminat menukar cakrawalanya (totalitas pengetahuan dan kesadarannya) dengan seluruh kekayaan Bill Gates (ataupun orang termakmur di dunia saat ini).</p>
<p>Itulah hakikat spiritualitas Ramadan. Tentu saja, kita tidak perlu berlaku seekkstrim itu, terutama kalau belum siap. Yang terang, Ramadan mengajak kita memperkokoh jiwa, dan menjadikan kita seorang sufi, paling tidak satu bulan ini saja. Mampukah kita menangkap semangat itu? Setelah itu, sah saja kita berkompetisi mencapai puncak kebendaan tertinggi dengan catatan bahwa kebendaan itu kita jadikan modal bagi penyempurnaan jiwa kita dan jiwa orang lain.</p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=23&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2007/09/23/main-petasan-cekikikan-saat-tarawih-dan-spiritualitas-ramadan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasien-pasien Kamar 762</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/07/04/pasien-pasien-kamar-762/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2007/07/04/pasien-pasien-kamar-762/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2007 15:59:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Pengalaman saya masuk rumah sakit sungguh menggugah sekaligus mengubah kesadaran saya tentang banyak hal. Pertengahan Juli 2005, sekitar magrib, saya terpaksa dirawat inap karena demam tinggi akibat tifus yang pada gilirannya menganggu fungsi hati. Tetapi, bukan itu intinya. Saya ingin berbagi kisah, betapa manusia bisa terbaring lemah, takberdaya lantaran pelbagai penyakit gawat.

Duduk di kursi roda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengalaman saya masuk rumah sakit sungguh menggugah sekaligus mengubah kesadaran saya tentang banyak hal. Pertengahan Juli 2005, sekitar magrib, saya terpaksa dirawat inap karena demam tinggi akibat tifus yang pada gilirannya menganggu fungsi hati. Tetapi, bukan itu intinya. Saya ingin berbagi kisah, betapa manusia bisa terbaring lemah, takberdaya lantaran pelbagai penyakit gawat.<br />
<span id="more-18"></span></p>
<p>Duduk di kursi roda yang didorong oleh seorang perawat, masuk ke kamar rawat inap untuk kali pertama, saya merasa terguncang. Ada seorang pasien yang bahkan untuk buang air kecil pun sengsara bukan main. Saya tidak melihat wajahnya karena ada tirai yang membatasi kami. Namun, saya bisa mendengar dan menafsirkan gerak-geriknya. Setiap beberapa menit ia harus buang air kecil melalui pispot dibantu oleh seorang pria penunggu yang sepertinya anggota keluarga intinya.</p>
<p>Kira-kira waktu itu pukul 9 malam. Beberapa kali seorang perawat, atau mungkin seorang petugas kebersihan, datang, dan dengan nada yang terdengar tidak sabar memberikan panduan kepada Pak Ali—demikian nama pasien itu— buang air kecil dengan &#8220;cara yang benar&#8221; sehingga tidak membasahi seprai berulang kali.</p>
<p>Saya tidak tahu persis apa penyakit Pak Ali, yang dari suaranya seperti berusia akhir 50-an, atau mungkin 60-an. Tapi, dari pembicaraannya dengan perawat, saya menangkap bahwa Pak Ali bakal menghadapi operasi yang serius besok: ginjal. Sebelum jam besuk berakhir, ia dikunjungi beberapa kerabatnya. Saya sempat mendengar, seorang perempuan di antara mereka, terisak-isak, tak tega menyaksikan keadaan Pak Ali. Perempuan itu meminta Pak Ali memikirkan kesembuhannya saja alih-alih keluarga yang ia tinggalkan.</p>
<p>Ketika saatnya pasien tidur, kegiatan Pak Ali yang buang air kecil berkali-kali dan gerakan pertolongan sang penunggunya itu menyebabkan saya tidak bisa tidur. Saya pun menekan bel, memanggil seorang perawat dan memintanya dengan berbisik agar memindahkan saya ke kamar lain yang tenang. Sambil membopong infus, saya bergerak pindah ke kamar 762 dipandu perawat itu. Namun, ingatan saya tentang penyakit Ali membuat saya merinding. Seandainya saya yang mengalaminya, apa saya sanggup menanggungnya?</p>
<p>Pagi harinya, saya baru tahu bahwa beberapa pasien di kamar itu pun sakit parah.</p>
<p>Seorang bapak tua bersuku Sunda—saya lupa namanya—yang sudah bercucu dan bercicit menderita tumor di paru, sehingga terbatuk terus-menerus sambil mengeluarkan darah. Terus terang, itu mengganggu kenyamanan istirahat saya walaupun saya prihatin dengan penyakitnya. Istrinya yang juga sudah uzur, menungguinya dengan penuh kasih dan sabar, tapi tiga malam ini dia tidak bisa tidur karena penyejuk udara terlalu dingin baginya. Padahal, dengan usia setua itu, dia pun bisa jatuh sakit lantaran kurang istirahat. Ketika saya matikan pendingin udara, esok malamnya, akhirnya ibu tua itu bisa tidur nyenyak.</p>
<p>Pak Tua itu—sekitar tujuh puluhan—menikah pada usia muda. Kini dia memiliki keluarga besar multisuku yang silih berganti menjenguknya, sehingga kamar 762 ini pada setiap jam besuk meriah dengan cerita-cerita tentang pengalaman para anggota keluarga besar mereka dalam logat Jawa, Sunda, dan Betawi. Kedengarannya lucu. Kehadiran mereka itu ditujukan buat menghibahkan dukungan moril bagi Pak Tua agar tabah menjalani endoskopi esok hari. Setelah endoskopi keluarga besar itu bersikeras kepada dokter agar Pak Tua diizinkan pulang dan berobat jalan saja. Keinginan mereka terkabul. Sehari kemudian Pak Tua pulang.</p>
<p>Ada seorang pemuda belasan akhir atau awal 20 tahunan berbaring di dipan seberang tempat tidur saya. Dia menderita demam berdarah, penyakit yang menewaskan ribuan penduduk negeri ini setiap tahun. Dari logatnya, jelas dia bukan orang Jakarta. Dari penunggunya saya maklum dia berasal dari sebuah kota di Jawa Tengah. Dia yang termuda di antara kami, para pasien di kamar 762. Empat hari sudah ia menginap di kamar ini. Dia pula yang kelihatan paling pulih. Ketika dokter melakukan kunjungan harian dan membicarakan penyakitnya, pemuda itu mengutarakan kecemasan hatinya kepada orang yang tidak tepat itu, &#8220;Saya tidak akan mampu membayar ini semua.&#8221;</p>
<p>Sepertinya, bagi pemuda itu, ruangan berpendingin udara serta layanan makanan pokok tiga kali sehari dengan menu yang beraneka dan bergizi, variasi buah, ditambah makanan dan minuman di antara saat makan, juga senyuman ramah para perawat muda akhir belasan tahun yang sebagian besar imut-imut, adalah fasilitas mewah. Padahal, ini cuma ruangan rawat inap kelas tiga.</p>
<p>Akan tetapi, sepertinya rumah sakit ini berpengalaman menangani situasi semacam ini. Taklama kemudian, sekitar siang menjelang petang, anak itu dan penunggunya berkemas pulang dengan mengisi sebuah formulir. Mungkin surat keterangan tidak mampu. Empat hari untuk demam berdarah, rasanya terlalu pendek untuk pemulihan, meskipun memang dia taklagi diinjeksi selang infus dan kelihatan sehat. Setelah dipannya kosong ditinggalkan, saya minta perawat memindahkan saya ke sana karena suasananya terasa lebih privat.</p>
<p>Dua hari kemudian, seorang pasien baru asal Palembang, menempati bekas dipan Pak Tua yang terletak tepat di samping jendela. Dia tidak terlihat seperti pesakit, karena untuk usianya yang 60-an, dia terlihat kokoh dan gagah, meskipun saya menangkap pembicaraan dari kejauhan, dia harus menjalani kemoterapi yang efeknya menyakitkan untuk beberapa waktu sesudahnya.</p>
<p>Seorang lagi, pria 60 tahunan, yang tergolek di seberangnya dan juga menyebelahi jendela, ditemani istrinya yang setia. Sebenarnya mereka sudah ada di kamar 762 semenjak saya masuk ruangan ini. Trombosit pria itu menurun, dan tampaknya ada masalah serius pada paru-parunya. Dia pensiunan Pertamina yang pada masa mudanya gemar berolah raga, sehingga dia masih kelihatan bugar dan sepuluh tahun lebih muda. Selain itu, dia gemar sekali bergurau, dan becakap-cakap dengan pasien lain. Karakternya bertentangan sekali dengan saya yang lebih suka diam, formal, dan individualis, sehingga kadang-kadang saya terganggu dengan tawa dan suara keras obrolan mereka. Bisa jadi, ia bermaksud menghilangkan perasaan tertekan pada dirinya dan pasien lain.</p>
<p>Pasien asal Palembang hanya menginap dua hari, sesudah kemoterapi dia pulang. Pak Marzuki, pasien baru yang menempati bekas dipan saya, kini memindahkan pembaringannya ke dekat jendela. Usianya 57 tahun, tapi terlihat seperti 65 tahunan. Dia menderita kanker getah bening. Dia tidak tampak tertekan, tidak juga terlihat takut.</p>
<p>Saya bercakap-cakap dengan Pak Marzuki setelah selang infus saya dicabut dan keadaan saya lebih baik. Dia bilang, dia pasrah dengan penyakit akibat tubuh menuanya ini. Dia ikhlas. Dia kini sekadar menunggu kematian dengan memperbanyak ibadah dan berbuat baik.</p>
<p>Pak Marzuki berasal dari Langsa, sebuah kota di Aceh yang perekonomiannya bergantung kepada Sumatera Utara. Dia berbicara tentang situasi Aceh, penyebab seperatisme Aceh, Gerakan Aceh Merdeka, Hasan Tiro, dan perundingan Helsinki. Dia memberikan cakrawala baru tentang Aceh dan orang Aceh.</p>
<p>Saya suka berbicara dengan Pak Marzuki, lantaran pemahamannya tentang spritualisme selaras dengan jiwa saya. &#8220;Zikir bukan hanya berarti menyebut-nyebut nama Tuhan,&#8221; katanya. Mengatasi ego kita dengan berkorban melapangkan kesulitan orang lain secara ikhlas, juga suatu bentuk zikir, tambahnya. Selain itu, orang sakit yang berzikir di pembaringan karena keterbatasan dengan tulus, lebih baik tingkatannya di mata Tuhan daripada orang sehat yang lalu lalang di jalan, tapi melalaikan salat, katanya lagi.</p>
<p>Akan tetapi, yang menyedihkan, ada seorang pasien yang divonis takkan lama bertahan hidup oleh dokter internis. Dia Pak Jati, usia saya perkirakan akhir 39 tahunan atau awal 40 tahunan. Pak Jati mengisi pembaringan kosong di samping dipan saya di hari ketujuh saya di rumah sakit ini. Dia tampak kokoh dan gagah. Namun, siapa sangka pria itu bisa terkena kanker hati, penyakit yang menyengsarakan dan amat-sangat serius. Kata dokter, biaya operasi sangat mahal, dan belum tentu berhasil, apakah dilakukan di Indonesia ataupun di luar negeri. Pak Jati kelihatan sangat tertekan dan menderita. Dia sukar makan ataupun minum, karena cairan kanker dari hatinya mendorong makanan apapun yang ditelannya keluar. Jadi, dia bergantung kepada cairan infus yang mahal itu untuk memperoleh energi.</p>
<p>Malam itu setelah vonis dokter, dalam tirai biru yang membatasi kami, istrinya datang menghampiri saya, menangis tersedu-sedu, sambil meminta maaf karena mengganggu ketenangan saya. Dia menangis untuk suaminya yang sakit parah dan biaya rumah sakit yang mahal. Untuk memperpanjang hidup, Pak Jati harus menjalani sedot cairan yang setiap hari. Biayanya Rp350.000 per hari. Belum lagi operasi kanker yang harus dilakukannya. Bayangkan, bisa puluhan juta rupiah, mungkin malah ratusan, untuk usaha penyembuhan yang belum tentu berhasil itu.</p>
<p>Di sini saya bersyukur, Tuhan memberikan saya kemudahan: saya tidak mengeluarkan uang sepeser pun lantaran biaya rawat inap ditanggung sebuah perusahaan asuransi yang dilanggan perusahaan tempat saya bekerja. Saya juga bersyukur, meskipun memang cukup serius, penyakit saya tidaklah separah yang lain. Saya masih punya—atau setidaknya Tuhan masih menganugerahkan—kesempatan hidup lebih panjang dan kesehatan yang lebih baik.</p>
<p>Curahan hati istri Pak Jati itu membuat saya ikut berduka. Namun, apa daya? Meskipun begitu, saya sesungguhnya menemukan keberuntungan yang ada pada Pak Jati: dia memiliki istri penolong, dan anak-anak berbudi. Mereka semua menyayanginya, merawatnya dengan sepenuh hati, dengan sabar dan cinta.</p>
<p>Pengalaman saya yang dekat dengan liang kubur itu menginsafkan saya bahwa pada dasarnya manusia makhluk yang rapuh. Betapa berada, berpengaruh, ataupun gagahnya seseorang, bila penyakit-penyakit mengerikan ini menimpa, kekayaan, pengaruh, ketampanan, dan kegagahan menjadi tak berharga. Artinya, kesehatan memang amat-sangat mahal, melampaui apa pun.</p>
<p>Pada dasarnya tiada apapun dari ego manusia yang bisa dibanggakan, dipertahankan mati-matian, apalagi diangkuhkan. Kegagahan, kekuatan, dan kesehatan sewaktu muda pasti akan berangsur-angsur digantikan dengan kerapuhan dan segepak penyakit menjelang tua. Kepintaran, kecendekiaan, boleh jadi lenyap sekejap ketika, misalnya, tiba-tiba saja kita terkena <em>stroke</em>. Kekayaan pun takkan dibawa mati. Ia bisa musnah lantaran sebab-sebab apa pun yang bisa saja muncul tanpa disangka-sangka.</p>
<p>Begitu kondisi saya membaik, saya megerjakan salat normal pertama pascarawat inap dengan penuh syukur di samping pembaringan. Saya merasa dilahirkan kembali. Saya berjanji berusaha mengisi hidup dengan lebih baik dan mudah-mudahan bisa mengakhirinya dengan baik.</p>
<p>Mungkin kutipan syair nasyid Raihan berikut bisa menggambarkan keadaan manusia sebenarnya.</p>
<p><em>Demi masa sesungguhnya manusia (mengalami) kerugian<br />
Melainkan (orang) yang beriman dan beramal saleh<br />
Demi masa sesungguhnya manusia (mengalami) kerugian<br />
Melainkan nasehat kepada kebenaran dan kesabaran</em></p>
<p><em>Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal<br />
Masa usia kita jangan disiakan karena ia takkan kembali</em></p>
<p><em>Ingat lima perkara sebelum lima perkara<br />
Sehat sebelum sakit<br />
Muda sebelum tua<br />
Kaya sebelum miskin<br />
Lapang sebelum sempit<br />
Hidup sebelum mati</em></p>
<p align="right">&nbsp;</p>
<p align="right">&nbsp;</p>
<p align="right">&nbsp;</p>
<p align="right">Catatan: Pak Jati wafat pada bulan Ramadan tahun itu juga, setelah berjuang melawan penyakitnya. Mudah-mudahan Allah menerima segala perbuatan baiknya dan mengampuni semua dosanya.</p>
<p align="right">&nbsp;</p>
<p align="right"><strong><a href="http://junarto.wordpress.com" title="Ke Halaman Muka">Ke Halaman Muka</a></strong></p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=18&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2007/07/04/pasien-pasien-kamar-762/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hati, Rasio dan Ketenangan Jiwa</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/06/08/hati-rasio-dan-ketenangan-jiwa/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2007/06/08/hati-rasio-dan-ketenangan-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jun 2007 23:55:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari setelah lebaran, seorang adik kelas, mengirim email kepada saya:
Mohon maaf lahir batin. Minal aidzin wal faidzin. Apa kabar, Jun? Sekarang saya berada di Bukittinggi, kampung saya dan keluarga. Kesempatan ini saya manfaatkan buat menyegarkan kembali diri saya yang tercemar oleh Jakarta. Mencari ketenangan alam. Tetapi, kenapa ya, saya tidak juga merasa tenang? Padahal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><a href="http://junarto.files.wordpress.com/2007/06/earth-in-void-of-space.jpg" title="earth-in-void-of-space.jpg"></a>Beberapa hari setelah lebaran, seorang adik kelas, mengirim email kepada saya:</p>
<p><em>Mohon maaf lahir batin. Minal aidzin wal faidzin. Apa kabar, Jun? Sekarang saya berada di Bukittinggi, kampung saya dan keluarga. Kesempatan ini saya manfaatkan buat menyegarkan kembali diri saya yang tercemar oleh Jakarta. Mencari ketenangan alam. Tetapi, kenapa ya, saya tidak juga merasa tenang? Padahal saya sudah salat, puasa, dan membaca Quran. Bersenang-senang pun tidak bisa. Hati saya tidak tenang. Terbayang oleh saya bagaimana nanti seandainya saya bekerja, di mana, berapa gaji saya… dan sebagainya.</em><span id="more-9"></span></p>
<p><em>Saya tengah mengalami krisis jatidiri menjelang usia ke-22 tahun ini. Apakah kamu bisa membantu, Jun? Saya mencoba kembali kepada agama. Namun, agama hanya menawarkan janji-janji surga dan neraka. Saya malah ketakutan. Pikiran saya tak dapat rileks. Dapatkah kamu memberikan jalan keluar, Jun? Please Jun, I really need your help. </em></p>
<p>Surat elektronik itu sejenak membuat saya tertegun, karena sebenarnya apa yang menggelisahkannya pun menggundahkan pikiran saya. Saya bahkan lebih tua beberapa tahun daripadanya, namun belum dapat lepas dari persoalan-persoalan itu. Pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan menggugah kesadaran saya. Seakan-akan Allah tengah memerintahkan saya agar menemukan sendiri bagaimana memecahkan persoalan yang juga tengah saya hadapi itu.</p>
<p>Setelah merenung sejenak, saya mencoba membalas email teman saya itu, dan mulai menulis.</p>
<p>“Teman saya yang baik, sebenarnya kita menghadapi persoalan yang sama. Saya sendiri memikirkannya sedari dulu, sekarang, dan mungkin juga kelak. Dari perbincangan dengan seorang sahabat saya menyimpulkan bahwa ketenangan sebenarnya merupakan persoalan bagaimana rasio kita mempengaruhi, atau mengendalikan hati. Menurut saya, rasio cenderung berpikir rasional, logis, dan mempertimbangkan faktor-faktor, atau variabel-variabel yang kita punyai atau yang ada di sekitar kita, guna menjelaskan fenomena-fenomena masa lampau dan sekarang serta memprediksikan fenomena-fenomena yang akan akan terjadi pada masa mendatang.</p>
<p>“Adapun hati, ia melampaui dimensi ruang dan waktu, seringkali hati bersikap irasional, namun kerapkali pula ia terbukti benar jika kita melakukannya. Kebanyakan orang Barat cenderung menafikan hati karena mereka beranggapan kebenarannya tidak dapat diverifikasi. Agama-agama Timur seperti Budha dan Hindu sebaliknya, mengajarkan pemeluk-pemeluknya mengutamakan penguatan hati melalui meditasi, yoga, dan sejenisnya. Mereka percaya hati yang bersih dan sensitif dapat menyatukan manusia dengan alam. Bahkan mereka beranggapan alam adalah perwujudan Tuhan itu sendiri—sehingga dengan hati yang bersih mereka dapat bertindak dengan harmoni dengan alam, atau mengikuti keinginan Tuhan. ‘Aku adalah Tuhan,’ kata seorang sufi yang merasa dirinya telah menyatu dengan Tuhan—terlepas dari perdebatan mengenai hal ini.</p>
<p><a href="http://junarto.files.wordpress.com/2007/06/earth-in-void-of-space.jpg" title="earth-in-void-of-space.jpg"><img src="http://junarto.files.wordpress.com/2007/06/earth-in-void-of-space.thumbnail.jpg" alt="earth-in-void-of-space.jpg" align="right" /></a></p>
<p><a href="http://junarto.files.wordpress.com/2007/06/bumi2.jpg" title="Hati melampaui dimensi ruang dan waktu…"></a></p>
<p>“Sedangkan Islam menyeimbangkan rasio dan hati. Kita diperintahkan bertindak rasional, tapi sekaligus diingatkan agar mengasah hati kita. Banyak ayat dalam Quran menyuruh kita ‘berpikir,’ misalnya. Atau, ‘bertebaran mencari rezeki.’ Tapi ada pula ayat yang meminta kita ‘mengerjakan salat dan membaca Quran di penghujung malam,’ atau mengingatkan kita agar ‘menjadikan sabar dan salat sebagai penolong.’ Dua kutipan terakhir mungkin kedengaran lucu bagi orang Barat yang didominasi paradigma positivisme. Tapi, memang begitulah cara Islam menekan sekaligus menyeimbangkan dominasi rasio terhadap hati.</p>
<p>“Persoalan yang kamu—dan saya juga—hadapi adalah, rasio masih mendominasi hati. Kamu sangat rasional, sehingga pertimbangan-pertimbangan faktual yang kamu tengah pikirkan mengkhawatirkan kemampuanmu sendiri. Rasiomu yang rasional-logis tidak yakin bahwa kamu dapat bertahan di tengah persaingan kerja.</p>
<p>“Saya akui, saya sendiri belum bisa melepaskan dominasi rasio, karena saya kadang-kadang khawatir seandainya hati mendominasi jiwa, saya tak akan mempunyai punya daya juang mencari peluang, berkreasi, dan berpikir.</p>
<p>“Hanya saja, ketika rasio &#8212; dengan pertimbangan-pertimangan rasional dan logisnya—menyimpulkan bahwa kita TIDAK MUNGKIN bertahan, atau MUSTAHIL mencapai apa yang kita inginkan, bisa jadi itu akan membuat jiwa kita lelah, lemas, putus asa, dan menyesali hidup. Kita mungkin menyesali dilahirkan sebagai kita. ‘Seandainya aku terlahir kembali, aku ingin menjadi &#8230;.,’ khayal kita sambil mengingat-ingat seorang tokoh idola, atau orang yang kita anggap sukses secara sosial, ekonomis, atau genetis—menurut ukuran positivisme. Meskipun, tentu saja, kalau kita terlahir kembali dengan ‘aku’ yang kita inginkan, kita akan mempunyai ribuan persoalan baru yang berbeda dengan ‘aku’ yang dulu, yang juga akan membuat kita gelisah.</p>
<p>“Sebagian muda-mudi Jepang yang merasa bahwa mereka telah gagal, dan akan selamanya gagal, memutuskan harakiri. Begitu pula dengan orang-orang lain yang juga positivistik (walaupun mungkin mereka tak menyadari bahwa mereka positivistik) mengakhiri hidup mereka dengan tragis karena rasio mereka berkata, ‘Tak ada peluang bagimu. Impossible. Peluangmu 0%.’ Maka, mereka pun menyerah pada nasib.</p>
<p>“Di sinilah Islam mengisi ketidakberdayaan rasio. Islam menyuruh kita mengasah hati agar kita bersedia, rela, ikhlas, dan mampu mengembalikan kekuatan maksimum rasio yang pada akhirnya tak berdaya kepada Tuhan, karena hanya hatilah yang mampu melihat hal-hal yang tidak dapat dibaca rasio. Menurut Islam, hati yang bersih memang dapat berkomunikasi dengan Tuhan. Hati yang bersih dapat membuat Tuhan ‘lebih dekat daripada urat nadi di leher kita.’ Cara hati bekerja adalah MEMPERCAYAI, dan MEYAKINI, sedangkan rasio bekerja dengan MEMBUKTIKAN. Kepercayaan dan keyakinan diasah melalui apa yang telah sudah kamu kerjakan—salat, puasa, qiro`ah. Hati yang terasah dengan baik akan menghasilkan kepasrahan dan keyakinan bahwa Tuhan tidak akan berdusta akan janji-janji-Nya, semumpama ‘berdoalah, pasti akan Aku kabulkan,’ sehingga manusia tidak putus asa meskipun 99 kali mengalami kegagalan. Karena, ia terus berharap bahwa keberhasilan pada akhirnya akan ia capai—mungkin pada kali yang ke-100, 1000 atau bahkan 10.000! Intinya adalah pasrah, tawakal, but never stop hopping, jangan berhenti berharap.</p>
<p>“Sebaliknya, dengan hati yang terasah pula, kalaupun rasio meyakini bahwa probabilitas keberhasilan kita adalah 99%, kita tidak akan menjadi terlalu percaya diri, atau angkuh, karena hati kita akan memperingatkan bahwa yang 1% tetap merupakan peluang yang mungkin terjadi. Dan seandainya terjadi, hati tetap tabah lantaran meyakini bahwa terdapat peluang-peluang lain yang lebih baik yang belum terlihat secara kasat mata, atau ditangkap rasio. Firman Allah, ‘Yang terbaik menurut rasiomu, belum tentu baik buat dirimu.’</p>
<p>“So my friend, saran saya, cobalah kamu mengalir seperti air, mengikuti suara alam dan menyatu dengannya, dan jangan menentangnya. Seimbangkanlah rasio dengan hatimu. Saat salat, dan puasa, dan qiro`ah adalah waktu yang tepat buat mengasah sensitivitas hati. Saat yang tepat buat mengikis dominasi rasio—itu yang membuatmu tidak tenang dan seolah salat dan puasamu tak berpengaruh apa-apa buatmu selama ini. Caranya ya dengan itu tadi: pasrah, tawakal, but never stop hopping.</p>
<p><a href="http://junarto.files.wordpress.com/2007/06/bumi1.jpg" title="Semesta"></a></p>
<p>“Maanfatkan kesempatan berlibur di Bukittinggi yang sejuk dan indah itu. Cobalah duduk bersandar pada sebuah pohon yang rindang di tempat yang tinggi sembari menyaksikan keindahan pemandangan kota Bukittinggi sementara angin bertiup sepoi-sepoi. Tariklah napas dalam-dalam. Rilekskan dan pasrahkan dirimu dengan melemaskan seluruh otot-otot persendian. Matikan rasio sejenak saja. Katakan pada dirimu, ‘Saya pasrah kepada Allah, saya pasrah kepada Allah.…’ Ucapkan itu berkali-kali sampai badan benar-benar lemas, pasrah, dan rileks. Insya Allah jiwamu akan menjadi lebih tenang.</p>
<p>“Saya akui, saya pun tengah berusaha melakukan semua yang saya utarakan di sini. Agak sulit, tapi mungkin akan lebih mudah jika ada teman berbagi. So let&#8217;s do it together, brother!</p>
<p>“Teman saya, ketakutanmu terhadap agama itu disebabkan oleh bayanganmu bahwa Tuhan itu mengerikan: Allah yang Maha Pengazab, Allah Yang Maha Penyiksa. Sebaiknya kamu mengingat pula bahwa Allah itu Maha Pemaaf, Mana Pengampun, Maha Penyayang, Mahalembut, Mahakasih, Maha Mengabulkan Doa, Maha&#8230;, Maha… dan seterusnya yang positif, atau setidaknya netral. Bagi saya, Tuhan itu juga Maha Humoris, karena menciptakan banyak kelucuan di dunia.</p>
<p>“Insya Allah, dengan mengingat sifat-sifat itu kamu akan mempunyai bayangan yang lebih positif, atau menyenangkan mengenai Tuhan. Surga dan neraka adalah konsekuensi logis atas perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Tapi, saya sependapat dengan sufiwati Rabiah al Alawiyah bahwa tujuan hakiki kita bukan surga, tapi Allah.</p>
<p>“Ingatkah kamu doa Rabiah mengenai surga dan neraka? Rabiah justru meminta Tuhan agar menjauhkannya dari surga, jika ia beribadah lantaran hanya menginginkan surga. Karena, yang ia inginkan hanyalah Allah das ding an sich. Pendek kata, jika kamu ingin kembali ke fitrah, kembalilah, bukan karena takut neraka, tapi kembalilah kepada tempat jiwa kita berasal, yaitu Allah.</p>
<p>“Saudara saya yang saya cintai, pertanyaanmu amat menggugah, sehingga sekaligus merupakan jawaban bagi kegelisahan saya sendiri. Well, semoga kamu terus bertanya-tanya sehingga semua kegundahan kita terungkapkan dan terjawabkan.”</p>
<p>Saya membaca email saya sekali lagi, kemudian saya mengklik ikon ‘Send’ sambil mengucapkan bismillah. Semoga jawaban saya bisa memberikan pencerahan bagi adik kelas saya yang tengah gelisah itu</p>
<p align="right">Jakarta, 8 Januari 2002</p>
<p align="right">&nbsp;</p>
<p align="right"><strong><a href="http://junarto.wordpress.com" title="Ke Halaman Muka"><strong><br />
</strong></a></strong></p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=9&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2007/06/08/hati-rasio-dan-ketenangan-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
