Semesta dalam Kata-kata

mengangkat fenomena

Sukarno, Suharto, dan Sejarah Kita

Sukarno, Suharto. Dua pemimpin yang menggores catatan sejarah. Mungkin mereka memang harus hadir tatkala zaman membutuhkan mereka. Jika Sukarno memandu rakyat menuju kemerdekaan, Suharto meletakkan dasar-dasar ekonomi modern.

Perjuangan Menjadi Muslim Amerika: Islam Substansial atau Islam Arab?

Muhammad (40 tahun) menangis terisak-isak. Hatinya hancur. Imigran asal Aljazair itu bercerita bahwa puteranya yang baru beranjak dewasa memilih menjadi ateis ketimbang Muslim. Sementara itu, para jemaat masjid yang lain hanya bisa termangu pasrah, mendengar bagaimana budaya sekular Amerika mempertunjukkan keperkasaannya.

Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Musuh Bersama

Disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi, boleh jadi ada sekelompok orang di antara kita yang tengah merasakan kenaikan pendapatan beberapa kali lipat jika dibanding dengan beberapa tahun sebelumnya.

Salat Id, Perbedaan, dan Kasih Tuhan

Din Syamsuddin kelihatan gusar. Ketua Muhammadiyah itu menganggap pemerintah terlalu memaksakan penetapan 1 Syawal 1428 kepada masyarakat. Tekanan pemerintah terlalu kuat sampai-sampai di beberapa daerah warga Muhammadiyah mendapat perlakuan diskriminatif. Di Majene, Sulawesi Barat, umpamanya, pemerintah kabupaten setempat melarang warga Muhammadiyah menggunakan Lapangan Prsammnya sebagai tempat pelaksanaan salat Id.

Main Petasan, Cekikikan Saat Tarawih, dan Spiritualitas Ramadan

Mengenang Ramadan semasa kecil membuat saya tersenyum. Buat anak kecil usia sekolah dasar seperti saya, itulah saat yang paling mengasyikkan dalam setahun.

Pasien-pasien Kamar 762

Pengalaman saya masuk rumah sakit sungguh menggugah sekaligus mengubah kesadaran saya tentang banyak hal. Pertengahan Juli 2005, sekitar magrib, saya terpaksa dirawat inap karena demam tinggi akibat tifus yang pada gilirannya menganggu fungsi hati. Tetapi, bukan itu intinya. Saya ingin berbagi kisah, betapa manusia bisa terbaring lemah, takberdaya lantaran pelbagai penyakit gawat.

Hati, Rasio dan Ketenangan Jiwa

Beberapa hari setelah lebaran, seorang adik kelas, mengirim email kepada saya: Mohon maaf lahir batin. Minal aidzin wal faidzin. Apa kabar, Jun? Sekarang saya berada di Bukittinggi, kampung saya dan keluarga. Kesempatan ini saya manfaatkan buat menyegarkan kembali diri saya yang tercemar oleh Jakarta. Mencari ketenangan alam. Tetapi, kenapa ya, saya tidak juga merasa tenang? [...]

  •  
  • Arsip

  • RSS Semesta Pariwara

  • Tag