<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Semesta dalam Kata-kata &#187; Ekonomi</title>
	<atom:link href="http://www.semestanet.com/category/ekonomi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.semestanet.com</link>
	<description>mengangkat fenomena</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Jun 2009 04:25:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Musuh Bersama</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/26/satu-nusa-satu-bangsa-satu-musuh-bersama/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2007/10/26/satu-nusa-satu-bangsa-satu-musuh-bersama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Oct 2007 16:20:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi, boleh jadi ada sekelompok orang di antara kita yang tengah merasakan kenaikan pendapatan beberapa kali lipat jika dibanding dengan beberapa tahun sebelumnya.

Kemungkinan besar, kelompok ini dekat dengan penguasa dan menikmati aliran modal asing yang ramai masuk. Mereka kosmopolit, berpendidian tinggi, mempunyai jaringan global yang luas, dan banyak berinteraksi dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi, boleh jadi ada sekelompok orang di antara kita yang tengah merasakan kenaikan pendapatan beberapa kali lipat jika dibanding dengan beberapa tahun sebelumnya.<br />
<span id="more-29"></span></p>
<p>Kemungkinan besar, kelompok ini dekat dengan penguasa dan menikmati aliran modal asing yang ramai masuk. Mereka kosmopolit, berpendidian tinggi, mempunyai jaringan global yang luas, dan banyak berinteraksi dengan para pengambil kebijakan. Bahkan mungkin sebagian mereka menentukan atau mempengaruhi kebijakan itu sendiri. Bisa juga mereka pekerja kerah putih di perusahaan-perusahaan asing atau perusahaan-perusahaan lokal yang bermitra dengan perusahaan asing yang padat modal. <o></o>Dari tahun ke tahun mereka semakin makmur seiring dengan pemulihan dan pertumbuhan ekonomi. Mereka memiliki banyak uang untuk modal usaha, tabungan, dan investasi. Tiada hambatan keuangan buat berwisata di pelosok negeri, atau berkali-kali ke negara-negara rantau setiap musim liburan. Mereka juga mampu menyekolahkan putra-putri mereka ke luar negeri. <st1 w:st="on"></st1><st1 w:st="on">Baku</st1> mutu hidup mereka tinggi.<o></o></p>
<p>Kelompok kedua adalah masyarakat yang berpenghasilan menengah, melebihi ambang angka inflasi tahunan. Paling tidak, ada kenaikan pendapatan barang sepuluh sampai dua puluh persen. Selama bijak mengelola keuangan, mereka bisa hidup cukup dan mampu menabung, meskipun kadang-kadang tabungan habis tersisih untuk rumah, pendidikan anak, hari raya, atau wisata rohani.<o></o></p>
<p>Mereka bekerja sebagai pegawai pemerintah, pegawai swasta perusahaan lokal, atau pengusaha kecil-menengah. Mereka mengeluh jika pemerintah menaikkan harga bahan bakar, tarif listrik, air, jalan tol, dan kebutuhan umum lain. Tapi, <em>toh</em> pada akhirnya mereka menerima juga.<o></o></p>
<p>Kelompok ketiga adalah masyarakat berpenghasilan rendah yang takmampu mengejar angka inflasi. Setiap rupiah kenaikan harga mencekik leher mereka. Setiap hari mereka pusing memikirkan bagaimana cara mendapatkan tambahan uang agar asap dapur terus mengepul, agar si bayi dapat minum susu bergizi, agar anak-anak mereka bisa tetap bersekolah di tengah semakin mahalnya biaya pendidikan. Takjarang mereka meminta si sulung yang baru lulus sekolah menengah supaya langsung bekerja. Takjarang pula sang anak putus sekolah tatkala berada di bangku sekolah dasar. Tapi sang anak sendiri sulit memperoleh kerja di tengah jutaan pengangguran yang bertambah ratusan ribu setiap tahun.<o></o></p>
<p>Gali lubang tutup lubang terpaksa mereka lakukan. Mereka bisa bernapas sedikit lega jika menerima tunjangan hari raya. Mereka pekerja yang mengandalkan kemampuan fisik. Bisa buruh pabrik, bisa juga petani. Setiap mendengar pengumuman kenaikan harga, muka mereka merah padam, lantaran merasa tertipu janji-janji kampanye. “Kalau harga terus-menerus naik, kami akan berbuat rusuh,” kata mereka, memendam amarah. <o></o></p>
<p><script type="text/javascript"><!--
shoppingads_ad_client = "1228751a8629d6dd9967";
shoppingads_ad_campaign = "default";
shoppingads_ad_width = "336";
shoppingads_ad_height = "280";
shoppingads_ad_kw =  "most popular";
shoppingads_color_border =  "FFFFFF";
shoppingads_color_bg =  "FFFFFF";
shoppingads_color_heading =  "00A0E2";
shoppingads_color_text =  "000000";
shoppingads_color_link =  "008000";
shoppingads_attitude = "false";
shoppingads_options =  "n";
--></script><br />
<script type="text/javascript" src="http://ads.shoppingads.com/pagead/show_sa_ads.js">
</script></p>
<p>Kelompok keempat adalah kelompok miskin. Sehari mereka makan, besok kelaparan. Tidak punya tempat tinggal, ataupun kalau ada, itu taklayak disebut sebagai rumah. Hidup bersempit-sempitan dengan beberapa anggota keluarga, kerabat atau kawan, di rumah tripleks yang sempit tanpa air bersih. Mandi, cuci, dan buang air mereka kerjakan di sungai yang kotor, bau, dan berlimbah. Lantaran sanitasi buruk, pelbagai penyakit seperti radang paru-paru, tuberkolosis, tifus, disentri, diare, menjadi bagian hidup sehari-hari. Namun, mereka taksanggup berobat, karena rumah-rumah sakit taksudi melayani mereka. <o></o></p>
<p>Di antara mereka mati dini dengan menyedihkan. Anak-anak mereka kurus kering karena kurang gizi. Sebagian bayi-bayi atau anak balita mereka terkena busung lapar menangis, merengek minta susu, sedangkan sang ibu sudah kehabisan air mata untuk bersedih. Jangankan bersekolah, anak-anak mereka yang pucat karena kurang darah, dan terbakar akibat terik matahari terpaksa mereka suruh meminta-minta. Di <st1 w:st="on">kota</st1> mereka kelompok terusir, dianggap sampah masyarakat atau merusak keindahan <st1 w:st="on"></st1><st1 w:st="on">kota</st1>. Tapi mereka takmampu lagi pulang kampung, karena takpunya uang….<o></o></p>
<p><span style="font-family: Arial"></span><span style="font-family: Arial"></span><span style="font-family: Arial"> </span><span style="font-family: Arial"></span><span style="font-family: Arial"></span><span style="font-family: Arial"></span><span style="font-family: Arial"></span><span style="font-family: Arial"></span></p>
<blockquote><p>Dua kelompok terakhir adalah kelompok yang paling semakin menderita dengan kebijakan pemerintah yang pro-pasar bebas. Pertumbuhan dikejar, angka-angka ekonomi makro memukau, tapi pemerataan tertinggal. Orang kaya semakin sejahtera, orang miskin semakin sengasara.</p></blockquote>
<blockquote><p>Bayangkanlah sebuah piramida. Kelompok ketiga dan keempat berjumlah lebih dari separuh penduduk negeri dan menempati struktur paling bawah. Kelompok makmur berada di puncak, sedangkan kelas menengah di antaranya. Di negara yang ekonominya mapan, kelas menengah dominan karena kekayaan negara menyebar merata.</p></blockquote>
<p align="center">* * *</p>
<p>Pada tahun 1928, para pemuda dari pelosok negeri berkumpul mengimajinasikan sebuah masyarakat Hindia Timur di masa depan yang mempunyai bahasa, dan wilayah, serta penduduk yang bernama &#8220;Indonesia.&#8221;</p>
<p>Boleh dibilang gagasan &#8220;Indonesia&#8221; adalah gambaran tentang sebuah kompromi karena setiap suku atau golongan, mengorbankan posisi masing-masing. Konsep &#8220;Indonesia,&#8221; misalnya, memilih bahasa Melayu, bukan bahasa Jawa yang jumlah penuturnya mayoritas. Konsep ini pula mengandung konsekuensi bahwa suku yang mendiami daerah subur dan kaya sumber daya alam berbagi dengan daerah yang gersang dan miskin. Suku atau pemeluk agama yang sebelumnya mayoritas di daerah tertentu, misalnya, serta-merta menjadi minoritas dalam konsep wilayah &#8220;Indonesia.&#8221;</p>
<p>Jadi, generasi muda saat itu mengatasi kepentingan daerah, suku, kelompok atau golongan masing-masing. Mungkin mereka bersatu lantaran identifikasi terhadap Pemerintah Hindia Belanda sebagai musuh bersama. Tapi, setidaknya, pengorbanan demi kebangsaan itu berbuah. Lihatlah sekarang. Sedikit banyak, imajinasi para pemuda pada 79 tahun silam itu telah menjadi kenyataan.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Saat ini musuh bersama rakyat adalah segala macam yang merusak gambaran Indonesia yang makmur dan beradab. Orde Baru memang memberikan penghidupan yang baik, tapi mereka memasung kebebasan. Pada tahun 1999, rakyat memutuskan mengambil jalan kebebasan, karena yakin, kebebasan bakal menggiring mereka pada kemakmuran. Demokrasi yang mapan kelak menghasilkan sebuah struktur yang produktif dan efisien.</p>
<p>Penyelewengan, penyalahgunaan kekuasaan, perlakuan semena-mena oleh aparat kekuasaan, egoisme golongan, pembedaan rasial, ketimpangan sosial, mengacaukan gambaran ideal tentang Indonesia di masa depan. Tetapi, sesungguhnya saat ini sudah terdapat banyak saluran tersedia buat meluruskannya. Semua bergantung kepada sampai sejauh mana kita ingin berperan, atau berkorban.</p>
<p>Paling tidak, mulailah dengan membantu menyokong &#8212; mungkin ada kerabat terdekat kita sendiri, misalnya, yang masih semaput karena bergelut dengan kemelaratan?</p>
<p><span style="font-family: Arial"><br />
</span></p>
<p><span style="font-family: Arial"></span><span style="font-family: Arial"><strong>Baca Juga</strong><br />
<a href="http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/">Ya, Ekonomi Indonesia Makin Cerah!</a></span><br />
<a href="http://www.semestanet.com/2007/10/19/mengapa-indonesia-lebih-berjaya-daripada-malaysia-bagian-13-indonesia-sebenar-benar-asia-yang-multikultur-yang-demokratis/"> Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 1/3): Indonesia Sebenar-benar Asia yang Multikultur dan Demokratis</a></p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=29&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2007/10/26/satu-nusa-satu-bangsa-satu-musuh-bersama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ya, Ekonomi Indonesia Makin Cerah!</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/</link>
		<comments>http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2007 12:23:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Politik, Sosial, Budaya, Jurnalisme dan Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Artikel saya bertajuk &#8220;Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia&#8221; sama sekali tidak menggunakan pendekatan ekonomi. Namun, jika kita merujuk beberapa anlisis ekonomi, orang Indonesia bisa dengan yakin berkata, &#8220;Ya, masa depan ekonomi Indonesia cerah!&#8221;

Purbaya Yudhi Sadewa, misalnya, mengatakan bahwa ekonomi nasional memang melambat pasca kenaikan harga bahan bakar minyak pada bulan Oktober 2005. Namun, ekonomi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel saya bertajuk &#8220;<a href="http://www.semestanet.com/2007/10/19/mengapa-indonesia-lebih-berjaya-daripada-malaysia-bagian-13-indonesia-sebenar-benar-asia-yang-multikultur-yang-demokratis/">Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia</a>&#8221; sama sekali tidak menggunakan pendekatan ekonomi. Namun, jika kita merujuk beberapa anlisis ekonomi, orang Indonesia bisa dengan yakin berkata, &#8220;Ya, masa depan ekonomi Indonesia cerah!&#8221;<br />
<span id="more-28"></span><br />
Purbaya Yudhi Sadewa, misalnya, mengatakan bahwa ekonomi nasional memang melambat pasca kenaikan harga bahan bakar minyak pada bulan Oktober 2005. Namun, ekonomi membaik semenjak April 2006. &#8220;Angka Coincident Economic Index (CEI) meningkat sejak April 2006,&#8221; <a href="http://www.wartaekonomi.com/detail.asp?aid=8001&amp;cid=24">tulisnya</a>.</p>
<p>CEI adalah indeks yang disusun Danareksa Research Institute (DRI) untuk mendedah, menangkap keadaan ekonomi secara menyeluruh. Indikator indeks adalah data penjualan mobil, konsumsi semen, penjualan ritel, impor, dan laju pertumbuhan uang riil.</p>
<p>Pemulihan ekonomi, tambah Purbaya, terlihat dari angka Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) &#8212; juga disusun DRI &#8212; yang terus meningkat. Nilai IKK secara tidak langsung berhubungan dengan kemampuan belanja rumah tangga. Peningkatan belanja rumah tangga yang ditandai nilai IKK, &#8220;Mendorong perusahaan-perusahaan menggalakkan kegiatan produksi dan investasi,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Bahkan menurut Dana Moneter Internasional (IMF), <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/04/26/brk,20070426-98830,id.html">Indonesia masuk dalam pasar yang bertumbuh</a>  dengan pesat (<em>emerging marke</em>t) di Asia setelah Tiongkok (10 persen), India (8,4 persen) dan Vietnam (8 persen). Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2007 adalah 6 persen, atau melaju dibanding tahun 2006 (5,5 persen). Tahun 2008, menurut IMF, Indonesia akan bertumbuh 6,3 persen.</p>
<p><a href="http://www.imf.org/external/pubs/ft/survey/so/2007/CAR0914A.htm">Laporan IMF yang ditulis oleh Christopher Crowe</a> menyimpulkan bahwa:</p>
<blockquote><p>Kerentanan Indonesia terhadap krisis keuangan lain yang boleh jadi muncul sewaktu-waktu telah berkurang.</p></blockquote>
<blockquote><p>Kebijakan-kebijakan yang kuat telah memampukan Indonesia mengatasi badai ekonomi apapun.</p></blockquote>
<p>Menurut Crowe, secara umum Indonesia berhasil mengurangi kerawanan keuangan dan makroekonomi mulai tahun kesepuluh tahun semenjak krisis. Crowe juga menyebutkan bahwa terdapat aliran modal yang cukup besar masuk Indonesia sampai bulan Mei tahun 2007. Meskipun bulan-bulan berikutnya modal mengalir keluar disebabkan oleh guncangan pasar global, program reformasi keuangan dan makroekonomi Indonesia berhasil mengatasinya.</p>
<p>Ketua Yayasan Indonesia Forum, Chairul Tanjung, <a href="http://72.14.235.104/search?q=cache:msghsD3eDTIJ:www.energiportal.com/mod.php%3Fmod%3Dpublisher%26op%3Dviewarticle%26cid%3D8%26artid%3D219+ekonomi+indonesia+akan+cerah&amp;hl=id&amp;ct=clnk&amp;cd=9&amp;gl=id">mengatakan </a>bahwa saat ini Indonesia berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah ke bawah. Posisi ini akan bertahan hingga tahun 2015. Namun, dalam proses industrialisasi, tambahnya, Indonesia bisa menjadi negara berpenghasilan besar.</p>
<p>Menurut Chairul, jika per tahun pertumbuhan ekonomi riil rata-rata 7,62 persen, laju inflasi 4,95 persen, sedangkan pertumbuhan penduduk 1,12 persen, pada tahun 2030, dengan jumlah penduduk 285 juta jiwa, pendapatan domestik kotor Indonesia bisa mencapai US$5,1 triliun. Dengan tingkat per kapita US$18.000 per tahun,  ujarnya, &#8220;Pada kala itu Indonesia akan berada pada posisi kelima ekonomi terbesar setelah Tiongkok, India, Amerika Serikat dan Uni Eropa.&#8221;</p>
<p><strong>Baca Juga</strong><br />
<a href="http://semestanet.com/2007/10/26/satu-nusa-satu-bangsa-satu-musuh-bersama/" title="Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Musuh Bersama">Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Musuh Bersama</a></p>
<img src="http://www.semestanet.com/?ak_action=api_record_view&id=28&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
