Okt
3
Laskar Pelangi Film Terbaik Tahun Ini
Filed Under Politik, Sosial, Budaya, Jurnalisme dan Media, Ulasan Film
Apa Anda sudah menonton Laskar Pelangi versi layar lebar?
Setelah menyaksikan penampilan Andre Hirata dalam Kick Andy, membeli novelnya secara terhubung di internet, dan akhirnya membaca buku ini dalam sehari, saya menjadi salah seorang di antara ratusan ribu penggemar yang menantikan Laskar Pelangi diangkat ke layar lebar. Saya menontonnya kemarin dan sangat menikmatinya.
Laskar Pelangi adalah novel karya Andre Hirata yang menyentuh sekaligus jenaka, membangkitkan semangat melawan pelbagai bentuk batasan struktur, dan menunjukkan bahwa kejayaan bisa diraih oleh siapapun, jika mau berusaha.
Saya larut dalam setiap kalimat yang ia tulis dengan gaya Melayu Belitong, yang berpadu dengan ungkapan dengan kata-kata serapan bahasa asing, sedikit pengaruh bahasa percakapan anak muda langgam Jakarta, serta kesalahan penulisan menurut baku “ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.” Namun lebih daripada itu, kekuatan sang penulis mengungkapkan dan memilih kata, serta penuturan yang diasosiasikan dengan pelbagai cabang ilmu pengetahuan membuat pikiran saya mengembara ke mana-mana. Saya kagum dengan wawasan sang penulis yang begitu luas. Jelas bahwa Andre Hirata seorang jenius.
Saya menyukai lakon tokoh-tokohnya yang manusiawi. Betapa anak-anak Melayu Belitong yang terlupakan, hidup serbakurang, apa adanya, lugu, jujur, polos di pulau terpencil yang belum terlalu tercemar oleh gaya hidup duniawi yang kebarat-kebaratan sebagaimana di kota-kota metropolitan. Ada kesetiakawanan, kebersamaan, keakraban, kehangatan, dan banyak perjuangan dan pengorbanan.
Kisahnya mungkin tidak bersitegang dengan nilai-nilai yang mapan sebagaimana Larung karya Ayu Utami yang, misalnya, menantang, bahkan mendelegitimasi agama dan sakralitas seksualitas. Meskipun begitu, Laskar Pelangi tetap kritis terhadap ketimpangan struktur, yang kala itu berlaku pada era awal Orde Baru (dan berlanjut sampai sekarang).
Bahkan sebaliknya, tanpa rangkaian kalimat yang meledak-ledak, pembaca akan ikut hanyut dalam kemarahan, kesedihan, ketidakadilan, keputusasaan, di samping juga kesabaran, kegembiraan, perlawanan, dan perjuangan yang diilhami oleh nilai-nilai tradisional Islam.
Jadi, ketika film ini diluncurkan di hadapan masyarakat akhir September lalu, saya bertanya-tanya, ingin tahu, penasaran, apakah – atau sampai sejauh mana – Riri Reza dan Mira Lesmana akan mensekularisasi, mengurangi muatan islami novel Laskar Pelangi agar tetap setia pada ideologi mereka yang liberal?
Ternyata di tangan mereka Laskar Pelangi versi layar lebar tidak terlalu kehilangan nuansa islaminya. Islam justru digambarkan dengan pemahaman sejagat. Versi layar lebar berhasil, umpamanya, mewujudkan gambaran benak saya tentang hasrat sepuluh anak yang belajar dalam keterbatasan, dan semangat jihad seorang guru muda Bu Muslimah ke alam visual. Tapi, sang ibu guru (yang diperankan Cut Mini) lebih cantik daripada yang saya bayangkan.
Adegan-adegan di awal film yang memperlihatkan akad Bu Mus yang pada awal tahun ajaran membuka kelas baru, yang dengan sabar bersiteguh menanti murid kesepuluh, mampu membuat penonton seketika bersimpati dengan Bu Mus.
Atau ketika berapa kali Sahara – sang gadis cilik berkerudung yang berkepribadian keras – mengucap nasihat agama kepada kawan-kawannya, penggambarannya sama sekali tidak berkesan dibuat-buat atau menggurui (walau dalam versi novel, tidak jarang Andre mengutip kitab suci).
Saya juga terkesima dengan keberhasilan sang sutradara menghidupkan langgam bahasa percakapan Melayu Belitong. Buat mereka yang jenuh mendengar bahasa gaul muda-mudi Jakarta sehari-hari yang dikampanyekan televisi-televisi Jakarta yang mengklaim diri sebagai TV nasional atau film-film layar lebar tentang gaya hidup muda-mudi metropolitan sehingga meminggirkan keistimewaan budaya daerah – ini terasa menyejukkan. Saya merasa seolah benar-benar berada di Belitong kala itu. Boleh dibilang, mereka benar-benar menggarap film ini secara rinci, hati-hati, dan menjadikannya bermutu.
Malah latar belakang Pulau Belitong pada pertengahan dasawarsa 70-an ditampilkan dengan apik. Ada cuplikan pantai bernyiur hijau yang melambai dan perahu-perahu para nelayan, ada celah bebatuan besar di pantai tempat para Laskar Pelangi biasa berlari-lari, ada seekor buaya yang biasa melintas dan menghentikan perjalanan Lintang ke sekolah. Ada juga jalan-jalan perintis yang kiri dan kanannya pepohonan menghijau, serta pusat kota yang berkegiatan.
Kesenjangan terhadap saluran ekonomi dan pendidikan antara anak-anak keluarga kaya yang memegang jabatan penting di PN Timah dan rakyat jelata seperti Ikal dan kawan-kawannya pun berjaya ditampilkan secara tepat guna. Sekali waktu ada pelajaran matematika di kelas. Anak-anak SD Muhammadiyah berhitung dengan seikat batang lidi, sedangkan para pelajar SD PN Timah dengan segenggam mesin hitung yang diberikan secara cuma-cuma. Kamera juga meneropong anak-anak SD PN Timah berlatih menabuh genderang dalam kelompok yang berbaris rapi, mempersiapkan diri menghadapi pesta rakyat, atau bermain sepatu roda, disaksikan anak-anak miskin yang terkagum-kagum itu dari balik pagar.
Puncak cerita adalah cerdas cermat. Anak-anak Muhammadiyah yang hanya berjumlah sepuluh orang berjuang mempersiapkan diri dibimbing Bu Mus. Ketegangan muncul pada hari H, ketika Lintang, sang jenius, benar-benar tertahan oleh buaya untuk waktu yang lebih lama dari biasanya, lantaran si buaya kali ini berbaring di tengah jalan. Lintang berhasil lewat setelah seorang pria kurus paruh baya berbaju hitam yang misterius menyingkirkan buaya itu.
Adegan cerdas cermat – meskipun berbeda dengan alur cerita dalam buku – disunting dengan baik dan menghasilkan kesan perungan sengit (sampai-sampai seorang remaja di samping saya yang menyaksikannya gelisah, berkali-kali ia mengerakkan badan karena tegang). Akhirnya SD Muhammadiyah menang. Tapi keesokan harinya, Lintang yang sangat cerdas taklagi dapat bersekolah. Ayahnya menghilang setelah melaut dan ia mau tidak mau harus menggantikan peran sang ayah bagi adik-adiknya yang masih kecil. Lintang menyampaikan perpisahan kepada kawan-kawannya.
Lantas film mulai berangsur-angsur menuju akhir, diawali dengan adegan pertemuan Ikal dan Lintang belasan tahun kemudian, tahun 1999. Lintang mengajak Ikal pergi melihat anaknya dari balik jendela kelas. Sang anak terlihat menonjol di kelas. “Itu anakku,” katanya dengan bangga.
Bagaimanapun, Laskar Pelangi tetaplah film pengejar laba yang mendramatisasi jalan cerita di buku dalam adegan-adegannya. Tentu saja agar penonton tidak lekas bosan. Ketika adegan Kepala Sekolah Pak Harfan yang sakit-sakitan dipertontonkan, saya berpikir, jika ini film Hollywood, Pak Harfan akan diwafatkan. Saya sempat bertanya, apakah Riri Reza akan mewafatkan tokoh ini? Ternyata dia mematikan tokoh Pak Harfan walau tidak ada penuturan rinci tentang kematian Pak Harfan dalam buku.
Adegan selanjutnya, Bu Mus yang tidak masuk di kelas selama lima hari karena berduka. Sekolah terancam bubar karena Bu Mus satu-satunya guru yang tersisa.
Karakter Bu Mus yang kelihatan kokoh menjadi rapuh. Atau bisa jadi sang sutradara ingin memanusiawikan lakon Bu Mus dan ingin membangkitkan hawa keputusasaan, kegetiran perjuangan Bu Mus di kalangan penonton. Meskipun begitu, khalayak juga larut dalam hasrat kuat anak-anak Laskar Pelangi untuk belajar secara mandiri.
Adegan berikutnya, Bu Mus menyaksikan anak-anak didiknya terus belajar sendiri meski tanpa kehadirannya. Bu Mus yang berkaca-kaca masuk di depan kelas. Sahara menjerit girang. Ia lantas dipeluk oleh semua anak didiknya.
Peralihan gambar terasa cepat tidak membosankan. Buat orang yang daya tangkap visualnya lebih bagus daripada daya tangkap aksaranya, tentu tidak masalah. Tapi di sisi lain kadang-kadang menurut saya ada beberapa tayangan yang berganti terlalu cepat untuk dapat ditafsirkan awam. Tapi saya paham, film ingin mewujudkan realitas dalam buku sebanyak-banyaknya. Ada banyak karakter dan penggambaran dalam buku, tapi di film Ikal menjadi tokoh utama yang penampilannya “bersaing” dengan tokoh-tokoh lainnya.
Film ini memang sedikit menggubah atau menafsirkan ulang versi bukunya. Namun, sang penulis skenario berhasil mengangkat banyak adegan dari buku yang memang patut diangkat di samping menciptakan adegan baru yang berbeda yang tidak keluar dari nalar cerita aslinya.
Para pemeran anak-anak Laskar Pelangi di sini mencerminkan anak-anak Indonesia kebanyakan. Mereka lusuh, dekil, berbicara dan berpikir secara alami sebagaimana usia mereka. Kita seperti menyaksikan kehidupuan anak-anak Indonesia yang sesungguhnya, bukan anak-anak dari kelas tertentu saja.
Saran saya, bacalah bukunya sebelum menonton buku ini agar bisa mengikuti jalan cerita. Sebab memang, pemunculan tokoh pria misterius yang menolong Lintang melewati buaya, sebagai contoh, akan membingungkan jika kita tidak membaca asal-usulnya di versi novelnya.
Film ini sangat saya anjurkan untuk ditonton. Anda akan tertawa dan menangis pada saat yang sama. Ayat-ayat Cinta boleh jadi film paling tenar tahun ini, tapi Laskar Pelangi adalah film terbaik tahun ini dari segi alur cerita, penokohan, pengambilan gambar, latar belakang tempat, dan penyuntingan. Film ini layak dipertontonkan pada setiap hari pendidikan nasional, atau bahkan dijadikan propaganda pendidikan UNICEF bagi anak-anak dunia. Ajaklah anak-anak Anda menontonnya bersama-sama agar mereka menghargai setiap bentuk kemudahan yang mereka peroleh agar belajar lebih giat dan tetap semangat menggapai asa.
Satu lagi, yang membuat saya senang kemarin, tidak ada satupun film asing tayang di bioskop tempat saya menonton. Semua film Indonesia. Ini takkan pernah terbayangkan pada sepuluh sampai tujuh belas tahun silam yang kala itu film-film Hollywood merajai gedung bioskop di tanah air. Film Indonesia sepertinya sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jayalah film Indonesia!
(Silahkan nikmati lagu tema film Laskar Pelangi dari Nidjie di bawah)
Popularity: 68% [?]
Comments
40 Responses to “Laskar Pelangi Film Terbaik Tahun Ini”
Leave a Reply
setuju…….salam buat si gondrong…
kenapa ibu trapani tidak dimunculkan? kecewaaaaaaaaaa…
——-
Mungkin karena terlalu banyak tokoh yang harus diangkat?
wahh… jadi makin penasaran pengen nonton
MustafaKamal.biz
——-
Tonton saja Mas, nggak rugi.
Film Laskar Pelangi scr umum hampir mendekati isi bukunya. Cukup menyentuh hati, berhasil menguras air mata, dan pesan moral yg ingin disampaikan tercapai, walau tdk sepenuhnya mewakili harapan. Mungkin karena durasinya yang terbatas, jadi penggambarannya tdk bisa detil sesuai isi buku. Tapi, bukunya tetap juara. Tiga buku yg sudah edar di pasaran cukup mampu membuat imajinasi pembaca melayang tanpa batas. Sedih, terharu, kagum, tawa, dan suasana mencekam jadi satu. Bravo utk Andrea Hirata yg telah menciptakan kisah semenakjubkan itu.
——-
Andri Hirata yang membebaskan Riri Reza dalam bercipta, mengaku takjub dengan hasilnya.
Pengen banget nonton XD
Baca novelnya aja udah bikin terharu
——-
Ya, betul sekali.
Benar, film ini merupakan film yang baik, mungkin terbaik tahun ini.
Dari sisi “duit”, kayaknya film ini juga akan mengalahkan AAC.
Saya buat polling di blog saya untuk memastikan apakah film ini memang terbaik menurut pembaca blog saya [bukan terbaik menurut pemerhati film atau penonton film]
Soalnya, ada kawan saya yang tidak sanggup membaca Laskar PElangi sampa habis. Dia hanya tahan separuh buku, karena [menurut dia] buku LP terlalu banyak bunga [kata], sehingga tidak nyampe’2.
Salam
——-
Mungkin karena kemampuan teknisnya lebih menonjol dari kreatifnya? Ada orang yang otak kirinya terlalu dominan.
saya sungguh kecewa menyaksikan film ini….
sebuah kegagalan bila menyaksikan film diharuskan membaca bukunya terlebih dulu. bagi saya, film dan buku adalah dua karya yang berbeda. dan ketika sebuah buku diangkat menjadi sebuah karya film, semestinya seluruh perangkat tim sudah harus menampilkan sesuatu yang baru. riri harusnya lebih komunikatif lagi dan tidak menjejali dialog dengan pelajaran-pelajaran. menonton film ini rasanya tak beda dengan menonton sangaji si bocah pintar dalam Rumah Masa Depan
——-
Ya, memang semua orang punya penafsiran masing-masing sih ya…
Lagu yang dinyanyiin Nidji buat soundtrack film ini mirip sama lagunya Slank yah. Cuma beda kalimatnya doang.
——-
Oh ya, lagu Slank yang mana ya?
iyah benar banget…
seperti itu jalan ceritanya menarik..
oia ndak mesti yg udah baca novelnya baru bisa ngikuti..
teman sy yg blum baca aja sudah merasakan feelnya LP ini.
sy aja hanay baca 1/4nya hanya mengetahui karakter 10 anak, bus mus sama pak har itu aja menikmatinya luar biasa
——-
Wah, teman Anda punya daya kekhayalan yang luar biasa.
terserah apa kata penontonnya (karena mereka adalah sang raja di dalam gedung pertunjukan), tapi saya pribadi mengacungkan jempol.
kalau bisa bikin film bermutu begini, ngapain mesti bikin film horor tak jelas juntrungnya.
saatnya film indonesia seperti ini menjadi tuan di negara sendiri. salam…
——-
Mudah-mudahan disusul film-film bagus yang lain tahun depan.
Saya blm lht film-nya,tp sudah bc sampe Novel Edensor. Ada 2 tokoh yg ingin saya tahu, saya lihat, dan saya temui, yaitu Lintang dan Arai… Kisah mereka adlh inspirasi dlm hidup saya.
——-
Kabarnya mereka masih hidup di Belitong. Mungkin kapan-kapan Anda berminat berlibur ke sana sekaligus napak tilas?
Saat kita bisa membuat film yang bisa dilihat untuk seluruh anggota keluarga (untuk segala umur).
http://iwanmalik.wordpress.com
——-
Betul, Pak.
woo….
baca plus nontonin video2nya di postingan ini mungkin lamanya ga beda jauh dg filmnya
thanks for sharing
——-
Oh ya??? Terima kasih telah berkunjung.
Setuju, bung. Meskipun saya belum menonton filmnya, dari resensi di media massa (koran dan TV) saya sudah yakin film seperti inilah yang sesungguhnya perlu disuguhkan kepada generasi muda bangsa ini.
Pesan-pesan moral yang disampaikan sangat menyentuh, namun apa adanya. Ini sekaligus kritik kepada Departemen Pendidikan Nasional dan Pemda khususnya, yang sepertinya tidak atau belum memiliki konsep yang utuh dan komprehensif untuk memajukan pendidikan nasional.
Merdeka!
——-
Akur, Bung.
Er…kurang lebih anda salah. Kabarnya profit Laskar Pelangi the Movie akan disumbangkan untuk pendidikan di P. Belitong. Itu yang saya dengar.
——–
Seluruhnya? Terima kasih infonya, Bung.
——-
Meski Laskar Pelangi itu maestro dan numero uno, tetapi kurang greget. Dan hanya itu saja bagi saya. Sisanya adalah cerita yang menggugah mimpi – mimpi, ditambah dengan sinematografi yang apik.
——-
Terima kasih pendapatnya
rajin juga ngupdate blog ente jun… back to the topic laskar pelangi memang film yang bagus walau saya sempat kecewa karena beberapa bagian cerita novel yang saya anggap penting tdk muncul di dalam film ini. Overall ini film yang bagus kok… salut buat komunitas film indonesia.
——-
Penting itu relatif?
blom nonton hiks hiks
takut kaya AAC (sinetron banget)
tapi setelah liat preview nya dsn kayanya jadi d nontonnya
thx infonya
——-
Selamat menonton ya.
Laskar Pelangi, RECOMMENDED to watch. It inspires everyone.
——-
Akur, Boz.
Jika dibuat perbandingan antara film AAC dengan Laskar Pelangi, ada kritik yang menarik dapat kita ambil. Pertama, bagi saya laskar pelangi lebih realistis dibandingkan fim AAC yang cenderung melankolis.
Kedua, backgroun yang ditampilkan yakni latar pulau belitong lebih masuk akal dibandingkan latar mesir pada AAC,
Ketiga pemeran dalam film laskar pelangi lebih hidup dibandingkan AAC yang cenderung dipaksakan. Lihat saja peran ibu mus yang berbanding terbalik dengan pemeran Aisyah atau Maria dalam film AAC.
Jadi film laskar pelangi bagi saya lebih bagus dibandingkan AAC
——-
Setuju Mas.
Tadi malem mau nonton tapi kehabisan tempat. Padahal mainnya masih sejam lagi. Hiks…
——-
Saya juga Mas, saya ke bioskop dua kali. Yang pertama tidak jadi karena jam tayangnya jam 9 malam. Yang kedua akhirnya bisa nonton juga, cuma saya harus menunggu tigajam sebelumnya.
Menurut saya film LP bagus banget,saya nonton bersama keluarga.Saya udah baca bukunya walaupun juga belum tamat,tapi tetap saya bisa menikmati film itu secara keseluruhan..pesan moralnya kena,pemandangannya bagus..lagu2 untuk soundtracknya juga keren..anak-anak saya bahkan sangat menikmati.Mereka bilang.. seru..dan berkali-kali minta nonton ulang…
——-
Ya, saya juga setuju.
entahlah,..yang pasti mulai perdana tayang ampe sekarang sya dah 6 kali nonton,..dan besok mungkin saya harus desak-desakan lagi untuk mendapatkan 7 sampe delapan tiket sekaligus agar bisa lebih dekat lagi ama mahar,lintang dan bu mus..tokoh idola seumur hidup saya,.( setidaknya untuk saat ini),menurut saya sutradara yang masih percaya takhayul mungkin harus belajar banyak ama anak-anak kampung,..biar ga’ terlalu lama menjadi benalu bagi perkembangan film di negeri kita. mestinya film disamping menghibur juga memiliki yaa semacam pesan yang nyata gitu dech,..bukan nakut-nakuti orang,..
oyap,..untuk LP menurut saya sangat jauh bila dibandingkan dengan AAC,..
——-
Tujuh kali? Mantap.
tidak salah lagi,
LASKAR PELANGI novel sekaligus film terbaik sepanjang awal milenium hingga tahun 2008,,,
silahkan kunjung blog saya (meski masih seumur jagung),,,
tinggalkan komentar yaa,,,
^_^
——-
Salam kenal dan terima kasih atas kunjugannya Bung.
Setuju dengan pendapat mas Jun. Saya sampai bela-belain beli tiket yang jam setengah 10 malam, soalnya tinggal itu. Ternyata, sungguh luar biasa, mengesankan…!!
Salam kenal
——-
Beli karcis untuk jam 10 malam? Wow….
Salam kenal juga BUng Kahar.
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN
mohon Maaf Lahir dan Batin
——-
Selamat lebaran juga Bung Indra
aku nonton baru dua kali dan itu adalah film yg kedua yg selalu mebuat aku harus sabar mendapat tiket filmnya di bioskop XXI setelah AAC. keduanya sama dalam volume waktu mengantrinya. jam 12 siang aku antri dan jam delapan malam baru dapat tiketnya.
Hebat film ini,mba,
LASKAR PELANGI memang film MIRA banget.
aku tunggu film yg barunya ya,yg katanya di bintangi oleh dian ya? moga aja aku dapat tiket gratisannya saat peluncuran film tersebut.hehehe…. MET LEBARAN dan salam hangat selalu
——-
Salam juga Bung
laskar pelangi jelas interpretasi novel yg jauh lebih baik dbandingkan AAC..
pemeran anak”nya brilian!!!
yang mengecewakan justru aktor”seperti lukman sardi dan tora sudiro..jadi nya nanggung gtu..
——-
Saya setuju. Peran Tora Sudiro jadi aneh di situ.
Saya harus merelakan air mata saya berulang-ulang…terlebih pada bagian2 Lintang.
Bagi saya (sebagai seorang guru) terenyuh sekali menyaksikan film ini. Dan kalimat yang akan selalu saya ingat adalah “Memberi sebanyak-banyaknya bukan meminta sebanyak-banyaknya….”
Jika dibandingkan dengan novel, 22nya punya sisi kekuatan yang memang berbeda. Namun 22nya mempunyai kekuatan yang luar biasa.
Jika di A2C kita disuguhkan aroma Mesir yang agak sedikit aneh….di LP kita disuguhkan aroma Belitong yang warna lokalnya luar biasa.
Dan yang saya suka dari Mira Lesmana dan Riri Reza adalah mereka benar-benar melibatkan Andrea Hirata di film ini,berbeda dengan Kang Abik di A2Cnya bersama Hanung dan MD Entertainment.
Apabila Riri Reza tlah berdamai dengan Panitia FFI, dan mengikutkan film ini ke FFI 2008, saya yakin Riri Reza akan menjadi sutradara terbaik (Riri belum pernah mendapatkannya:termasuk di film Gie), film terbaik, penulisan skenario adaptasi terbaik, aktris terbaik (Cut Mini), dan aktor terbaik (Mahar, Lintang atau Ikal), diantara merekan begitu natural dan kental di karakter)…penata musik terbaik dan kategori2 lainnya.
Oh, ya! untuk OST….benar-benar luar biasa
1. Nidji “Laskar Pelangi” sesuai sekali juga liriknya dalem.
2. Sherina “Kubahagia” luar biasa lirik dan musik etniknya, Bravo untuk Sherina yang benar-benar total di setiap pembuatan musik untuk film termasuk di A2C dengan etnik Timur tengahnya yang cukup kental.
3. Gita Gutawa “Tak Perlu Keliling Dunia”, lirik yang dalem dan musik etnik yang juga sesuai untuk film ini.
Dan untuk Wong Aksan dan Titi Sjuman, awalnya saya ragu. Namun saat saya dengar musik kalian mengiringi film ini. Saya tak perlu ragu, buaian musik Melayu, musik Tionghoa, sangat sesuai….Salut!
Akhirnya,…. Saya bangga memiliki orang2 hebat di dunia Film.
Dan satu yang perlu diingat, tak perlu membuat film dengan unsur pornografi (adegan2 tak mutu), ….di setiap film. Karena Nagabonar Jadi 2, Laskar Pelangi membuktikan hal tersebut. Laris,…disukai, dan bermutu.
laskar Pelangi!
Kami tunggu kalian di Festival Film Indonesia 2008…Buktikan jika film ini mampu untuk mendobrak film2 sampah membuangnya ke tempat sampah…. dan meninggalkan A2C yang telah begitu komersilnya dibuat dan terlalu berdarah-darah agar simpati masyarakat muncul.!!!
Kita tunggu Sang Pemimpi!! juga Ketika Cinta Bertasbih….
——-
Terima kasih atas pendapat Anda yang sangat mendalam ini.
Saya membawa anak saya untuk menonton film LP ini, dan bagi saya film ini luar biasa, betul-betul film yang dirindukan oleh bangsa Indonesia, karena masih kental sekali budaya asli dari kampung tersebut,tidak sok kebarat-baratan, dan juga menginspirasi anak saya untuk berman bebas di alam tidak hanya bermain Play Station saja, Huebat Laskar Pelangi!!!!!!
——-
Setuju. Anak-anak Indonesia besar dalam tradisi kebarat-baratan yang justru dipromosikan segelintir kelompok orang tertentu saja yang menguasai media.
Anda ini rusuh sekali, bah.. (pakai logat medan).
Semua komentar miring dari pengunjung anda reduksi dengan komentar balik atau dengan pertanyaan. Sebaliknya, komen2 yang selaras dengan pandangan anda menerima apreasi, walau hanya dengan kata: setuju atau terima kasih.
Partisipatif sedikit lah
Di atas semua itu ulasan di atas anda dalam juga. Mantap!!
:Laskar Pelangi?!
Terima kasih, Andrea
Terima kasih, Bu Mus
——-
What do you expect? Kadang memang pendapat para pengunjung di sini adalah ungkapan perasaan, tidak perlu tanggapan lebih jauh, Bung.
Just one word, LP is the best film ever!
Menurut saya Mira & Riri ngga perlu capek2 mendaftarkan film LP ke FFI’08. Paling2 sebentar lagi film ini juga sudah didaftarkan pihak panitia FFI’08 sendiri. Coba bayangkan, sangat2lah tidak layak diadakan kalo FFI tahun ini sebagai satu-satunya festival film yang menjadi tolok ukur penilaian kualitas film di Indonesia tidak menyertakan LP.
Bisa kita lihat aktor2 & aktris2 pendukung sangat kuat, penyutradaraan sangat baik, begitu juga skenario, sinematografi, penataan musik, sinematografi, artistik, editing (penyuntingan), penataan suara digarap sangat2 cantik. Wah, hampir semua yang pendukung film ini layak menjadi nominasi kuat.
Kalo boleh sombong, film ini layak koq masuk Academy Award!!!
Sudah saatnya film Indonesia bersaing dengan Hollywood!
——-
Hmmm. Persoalannya apa Riri Reza bersedia ikut Festifal Film Indonesia? Kali terakhir, dia bersitegang dengan panitianya.
19.
Alhamdulillah saya berhasil ngantri tiket LP di Megamal Pontianak setelah tayang 2 minggu, itupun hampir kehabisan kalau saja saya terlambat setengah jam saja untuk pertunjukan terakhir jam 9 malam. Memang animo masyarakat begitu luar biasa untuk menonton meskipun sudah dibuka 3 studio.Dari segi cerita, film ini memang sangat menarik meskipun agak berbeda dari novelnya. Saya paling takut sama cerita di novel yang menceritakan laskar pelangi bermain hujan, lalu ada yang berpura2 mati. Waktu membacanya saya sempat berpikir inikah akhir cerita LP. Tapi sayang, di filmnya nggak ada…
Dari segi penokohan masih kurang maksimal, tidak seperti di novel yang luar biasa. Karakter Ikal pun tidak terlalu dalem. Saya hanya suka karakter si Mahar yang natural dan kocak. Si Lintang pun tidak begitu tergambarkan kejeniusannya. Jadi hampir semua tokoh LP tidak terlalu nampak penokohannya seperti di novelnya. Yang cukup bagus saya kira hanya di permainan kata-kata dan dialog yang begitu menggugah.
Dari segi casting, anggota LP begitu luar biasa, apalagi si Lintang dan Mahar. Natural!!yang cukup mengganggu adalah Tora yang jadu guru PN. Pas pertama muncul di layar kirain nonton Extravaganza. Bener2 lucu and nggak cocok jadi guru. Bu Mus, lumayanlah, tapi saya benar2 nggak dapat spirit gurunya seperti di buku. Mungkin cocoknya diperankan oleh Inneke, neno Warisman atau Anneke Putri, atau Astri Ivo, atau malah orang yang ndak dikenal. Pak Harfan oleh Ikranegera, keren..!! Yang lain2 so far nggak berpengaruh kalau diperankan mereka.
Ya, begitulah sangat susah untuk mencapai kesempurnaan. Tapi karya besar Riri dan Miles sangat patut kita hargai karena budaya kita sangat pelit untuk memberi pujian.
Semoga LP menjadi film terbaik sepanjang
lega akhirnya baru bisa nonton laskar pelangi.
saya adalah putra asli belitong yang tinggal di bandung,tanggal 20 september saya terpaksa plg ke belitong dengan hati yang sangat sedih teramat sangat,di karenakan disana ga ada bioskop untuk nonton LP. sesampainya di belitong orang sana hampir seluruhnya malah ga tau kalo ada film belitong yang akan tayang di bioskop.beberapa saluran TV sebagai sarana hibuaran satu- satunya yang ada di belitong tidak nampak iklan tentang LP, berbeda jauh saat AAC dulu muncul dengan jumlah promosi yang sangat intens waktu itu, sedikit kecewa juga jadinya, terbersit dalam hati jangan2 ga laku tuh filmya atau paling juga hanya tayang 2 minggu doank pikirku. tanggl 16 oktober barulah aku kembali di bandung dan akhirnya aku nonton bareng tetangga sebelah, katanya cuman dia yang belum nonton sedangan keluarganya sudah nonton seminggu yang lalu. eh bener aja capek angtri bos mana dapat tempat duduknya nomer 2 dari depan.tapi terbayarkan semua setelah nonton.jadi….. menurut gue ga perlu pasang iklan untuk laku, seperti para politikus yang doyang pamer diri di televisi untuk jadi presiden. “yang penting isinya bung”
bikin yang banyak aja film-film sejenis laskar pelangi atau denias, karena memang mendidik. sukses untuk laskar pelangi
Asslm.. haloo apa kabar ! Setuju banget To’.. gw juga penggemar Laskar Pelangi the Movie.. kunjungan balik yaaah ! ;p
Salut ….
.
dan kalau bs dibuat film semua
…
BRAVO buat “Laskar Pelangi”
Rangkaian karya tetralogi yang sgt menakjubkan, dan sangat menyentuh. Banyak nilai2 yg bs diambil n mendorong kita u/ bisa saling memberi, berbagi n menghargai plus sangat mendidik:-),
Kita harus mempunyai mimpi (cita2) dan berusaha u/ hidupkan mimpi itu
Ok … saya tidak sabar baca Maryamah Karpov (kapan yach diterbitkan
Laskar pelangi udah jarang di bioskop semarang.Ganti Quantum Of Salace.Tapi tetep Go Laskar Pelangi !!!
ag denger and dpt cerita dari temen2 di luar kota aq jadi penasaran….asal sohib2 tahu aja di kotaq kota reyog gak da bioskop yang muter laskar pelangi,….muter nya film takhayul terus… akhirnya aq nekat ke malang 2kali mgantre di depan bioskopnya MATOS gak dapat tiket …. baru hari hari ketiga aq dapat tiket nonton LP ITUPUN harus beli di calo di depan bioskop malang plaza…. tapi begitu proyektor dinyalakan dan film dimulai rasa lelah dan kecewa akibat antre tiket berhari-hari terbaryakan,…apalagi bissa nonton bareng dengan doiiii… yang masih kullll tuh liat kuliah yang bener jangan sering bolosss
tahks 4 riri, anak-anak belitong
bravo bu mus pak harfan……
semangatmu inspirasi bagiku
lintang,ikal, acai ka,u patut dicontoh buat pelajar2 indo yang males 7gak punya semangat 4 belajar…..
g’luck LASKAR PELANGI
KAPAN BISA DIPUTER DI PONOROGO…………
waah….filmx bgs bgt…
q sampai terharu…
kapan filem ini akan ditayangkan di malaysia?