Siapa sangka Dede Yusuf yang pernah diremehkan justru menang. Dede bahkan dipandang sebelah mata oleh politisi partainya sendiri. Tokoh gaek Amin Rais dan ketua Majelis Permusyawaratan Partai Amanat Nasional (PAN) Jawa Barat Amir Mafhud secara terbuka pernah menyatakan Dede Yusuf tidak pantas memimpin Jawa Barat.

Tapi pencalonan Dede dengan setia didukung Ketua PAN Soetrisno Bachir. Dan akhirnya ia bisa memperoleh surat keputusan persetujuan dari Dewan Pemimpin Pusat PAN sebagai kandidat resmi partai ini.

Tantangan Dede yang lain, tidak ada calon gubernur dari kubu lain yang bersedia meminangnya sebagai pasangan mereka. Danny Setiawan, Agum Gumelar, ataupun Ahmad Heryawan sama sekali tidak memperhitungkan posisinya. Biang keladinya adalah pendapat lembaga survai bahwa nama Dede Yusuf takkan menjual secara politik.

Akan tetapi, di saat-saat terakhir, pilihan kubu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengusung Ahmad Heryawan akhirnya jatuh kepada Dede setelah kandidat mereka ditolak pihak Danny. Kedudukan tawar untuk menjadi orang nomor satu antara Dede dan Ahmad sebenarnya seimbang. Tapi Soetrisno Bachir memutuskan agar yang maju sebagai kandidat gubernur adalah Ahmad Heryawan yang lebih tua tiga bulan daripada Dede Yusuf.

Ahmad Heryawan dikenal di kalangan aktivis PKS sebagai seorang ustad, seorang da’i. Ia sering dijadikan rujukan media komunitas partai ini atau pembicara dalam acara atau kegiatan Islam.

Di kalangan yang lebih luas, Dede Yusuf lebih tenar daripada Ahamad Heryawan. Pada akhir 1980-an Dede membintangi film-film layar lebar bertema remaja. Dan pada awal 1990-an masyarakat mengenalnya sebagai pemeran sinetron Jendela Rumah Kita yang tayang di satu-satunya stasiun televisi Indonesia saat itu: TVRI. Lantas, pada masa bermekaran stasiun televisi swasta, Dede membintangi sinteron-sinetron laga. Semenjak awal masa reformasi ia bergabung sebagai penggiat PAN dan menjadi anggota DPR dari partai itu.

Kembali ke pemilihan gubernur Jawa Barat. Lembaga-lembaga survei pra-pilkada jika bukan salah memilih sampel, mungkin memang telah benar-benar menerapkan metode ilmiah. Tapi, jika demikian, telah terjadi distorsi penyebaran sampel yang signifikan, lantaran pada kenyataannya para responden hanya bersuara untuk lembar kuesioner, bukan untuk kertas suara itu sendiri. Mereka ternyata cenderung golput pada saat pemilihan. Di sinilah letak titik lemah yang tidak ditangkap lembaga survai.

Mereka mungkin bisa mengantisipasinya dengan pertanyaan saringan di lembar kuesioner untuk menggali data apakah responden berniat memungut suara pada hari H, atau cenderung golput. Satu butir pertanyaan, tapi jika dilupakan, fatal. Inilah yang menyebabkan distorsi antara sampel dan populasi, antara survei dan hasil penghitungan suara.

Buat pemilih golput, mungkin tidak ada bedanya memilih atau tidak memilih. Fenomena ini biasanya muncul di negara-negara yang justru demokrasinya mapan seperti di Amerika Serikat. Jumlah pemilih aktif di sana hanya sekitar separuh pemilih terdaftar. Dan Indonesia sepertinya sedang bergerak menuju apatisme politik itu.

Dalam tingkat golput yang tinggi tersebut, pemilu akan gampang dimenangi partai kader semacam PKS. Sebab, partai kader mempunyai simpatisan yang loyal serta dibangun melalui proses kaderisasi ideologis yang baik dan sistematis. Dengan begitu, ketika ada peristiwa-peristiwa politik semacam pemilu, tidaklah sukar memobilisasi massa atau menggalang dana. Bayangkan, jika seorang kader yang setia secara militan mempengaruhi tiga atau empat anggota keluarga, kerabat, atau teman mereka yang mengambang secara politik, hasilnya adalah pilkada Jawa Barat ini.

Saksikan juga pemilihan gubernur Jakarta Raya sebelumnya. Di sini PKS berhasil menggaet angka 40 persen untuk kandidat mereka meskipun harus melawan koalisi partai-partai besar. Padahal jumlah kader mereka lebih rendah dari persentase itu. Fenomena itu sukar dijelaskan kecuali dengan memahami bahwa PKS mempunyai basis pendukung yang sangat setia, militan, dan akur.

Kecenderungan ini yang harus dibaca partai massa, yaitu partai yang memiliki pendukung tidak loyal dan berubah-ubah, cenderung pragmatis. Partai-partai semacam ini mungkin hanya mampu mengandalkan nama besar, tokoh-tokoh tenar, dan tampan. Tapi kemenangan mereka harus dicapai dengan biaya politik dan sosial yang jauh lebih besar ketimbang partai kader.

Partai kader telah menginvestasikan kemenangan mereka melalui kaderisasi, pendidikan politik, ikatan komunitas yang kuat, dan agenda politik lebih terstruktur di bawah ideologi yang jelas. Singkat kata, tanpa ideologi, tanpa kaderisasi, partai massa sukar berjaya menggaet pemilih khusus, yaitu yang punya wawasan tertentu tentang bagaimana seharusnya mengelola negara.

Jadi jangan kaget bila dalam beberapa tahun ke depan, PKS bakal mempunyai posisi tawar yang terus menguat. Melalui kegiatan indoktrinasi ideologi yang disebut “Tarbiyah” PKS telah merintis proses pengkaderan semenjak dini. Para calon kader dibina secara disiplin semenjak SMA, dan dijaga ketika di perguruan tinggi.

Boleh dibilang PKS berpotensi berkembang pesat, dan dengan kader-kader yang terdidik, mereka akan menuai banyak kemenangan di masa depan. Dalam hal ini, partai-partai lain hendaknya mulai membakukan ideologi mereka untuk dapat memperoleh basis pendukung yang loyal, bukan mengutamakan kepentingan sesaat belaka. Sayangnya, kebanyakan partai politik kita cenderung pengambil untung sesaat.

Pelajaran lain: Jangan gampang percaya terhadap hasil lembaga survai tanpa memahami metodologinya. Distorsi yang besar, apapun penyebabnya, menunjukkan bahwa ada masalah dalam metodologi mereka. Istilahnya: operasionalisasi konsep tidak andal dan tidak sahih.

Fenomena lain yang perlu diperhitungkan adalah, jangan sepelekan artis karena mereka punya tabungan suara berupa para penggemar fanatik. Paling tidak Dede Yusuf, telah berhasil membuktikan bahwa dia mempunyai nilai jual politik yang tinggi. Tapi, tentu saja, untuk memimpin wilayah Jawa Barat yang luasnya berkali-kali ketimbang Jakarta, dibutuhkan lebih daripada kemampuan seorang artis.

Baca juga
Memilih Gubernur Jakarta, Bang Uki Istikarah

Popularity: 49% [?]

Comments

18 Responses to “Dede Yusuf dan Fenomena Politik Baru di Indonesia: Ketika Ketenaran dan Kaderisasi Menentukan”

  1. rudon_123 on April 17th, 2008 09:41

    ass. wb

    semoga hade membawa jawa barat menjadi lebih baik.

  2. yanti on April 17th, 2008 12:55

    Hmmm… sering kali “kemenangan” menjadi hal yang diributkan padahal siapa yang tahu… bahwa dibalik kemenangan ada kekalahan atau dibalik kekalahan ada kemenangan….

    pls… kalau gak keberatan baca ya.. postingan saya di : http://maaini.wordpress.com/2008/04/15/kemenangan-sementara-ha-de/

    Terima kasih… boleh ikut berkomentar

  3. Robert Manurung on April 17th, 2008 14:03

    Selamat deh buat pasangan Ha-De.
    Jangan lupa janjinya pada rakyat.

    Selamat berjuang (mengatasi godaan)

  4. Junarto Imam Prakoso on April 17th, 2008 19:45

    Kepemimpinan adalah amanat penderitaan rakyat.

  5. sosruko on April 17th, 2008 21:27

    first of … selamat buat pasangan Hade atas kemenangannya. semoga tabah n tetep amanah.
    buat penulis, analisa yg menarik. terus terang, saya tidak pernah menyadari efek fatamorgana survey bs begitu signifikan. well … at least di Indonesia. mengenai kaderisasi PKS, saya simpan dulu komen saya. mengenai Dede Yusuf sendiri, harusya para partai sudah bisa belajar dari pengalaman. contoh besarnya Arnold Schwarzeneger.

  6. alisyah on April 17th, 2008 21:47

    di Indonesia ini semakin banyak aja ya artis yang menggeluti dunia politik

  7. rezco on April 18th, 2008 14:32

    bagus itu

    fenomena politik baru

  8. yanti on April 18th, 2008 21:37

    Sudah pasti kah?… Benar-benar menang???
    Wah.. Selamat ya…
    Mudah-mudahan, kemenangan yang di dapat dengan penuh perjuangan ini…,akan terus dipertahankan dengan perjuangan-perjuangan nyata, hingga akhir periode.

    Memang tidak akan pernah bisa semua golongan akan disenangkan hatinya… Tapi.. rakyat kecil dengan segala keterbatasannya sangat merindukan uluran tangan pemimpin yang mau berjuang dan merasakan penderitaan mereka

    (tolong pak.., beras..,minyak goreng, minyak Tanah, elpiji, pendidikan…. diperhatikan….)

  9. PKS and PAN win the governorship of West Java « Dull Files on April 19th, 2008 00:13

    […] argued by Jun at SEMESTA, the ‘HADE’ win can be explained by the mix between PKS’s strong mobilisation at the grass […]

  10. mustakim on April 19th, 2008 09:57

    Memimpin pemerintahan banyak tlikungannya, banyak ranjaunya harus benar-benar waspada dan tegas. Kalau nggak nanti dikadalin

  11. yanti on April 26th, 2008 23:19

    Ada yang tersisa dari Pilkada Jabar…, mudah-mudahan bisa dipakai sebagai masukkan pilkada didaerah lain…

    Baca ya di…. http://maaini.wordpress.com/2008/04/26/pilkada-jabar/

    Makasi…

  12. indra1082 on April 29th, 2008 13:41

    Sebagai Warga JAWA BARAT
    emoga HADE bisa membawa JABAR lebih baik…
    AMIN………….
    kalo gak .. tinggal nyumpahin masuk neraka…hehehehe

  13. yudi on April 30th, 2008 12:45

    Partai kader? Bagus ya
    Bukan hanya sejak sma, denger2 SD IT nya PKS kalau musim kampanye PKS libur?
    Trus partai2 lain disuruh jadi partai ideologi juga? Jadi Indonesia bakalan rame nih, perang ideologi terus menerus; kapan bangun negaranya?
    Semuanya sama saja alias sami mawon,cari menangnya saja, target jangka pendek mengorbankan kepentingan jangka panjang…\
    weleh..2,dunia teknologi sedang berkembang pesat, calon2 Insiyur kita di perguruan tinggi di kader jadi politisi????
    Indonesia bingung

  14. nonblok on Mei 12th, 2008 01:46

    memang hobart PKS, sinkritisme gaya baru. riligi nina bobok

  15. dul on Mei 12th, 2008 21:22

    Setuju mas, banyak yang salah dari summary-nya LSI tentang pks. Nyatanya disaat hampir semua partai bermasalah dengan kadernya, pks tampil dengan simpatik.

    buatku sih, tidak ada yg bisa diharapkan dari parpol2 pembohong, yang kadernya suka korupsi. itu baru yang ketahuan, yang tidak ketahuan ,wah pasti banyak.

    tinggal pks yg bisa diharapkan

  16. JhonDoe on Mei 18th, 2008 01:23

    sekarang makin banyak aja artis yang ikut2 an iku pilkada contohnya syaiful jamil dan helmi yahya, mungkin terinspirasi rano karno dan dede yusuf kali ya…

  17. indra1082 on Mei 21st, 2008 13:57

    Semoga Indonesia Bangkit dan Maju!!!
    HIDUP INDONESIA!!!

  18. Robert Manurung on Mei 26th, 2008 09:42

    Dede Yusuf menang lantaran suara kubu nasionalis terpecah. kejadian yang sama di pilkada Sumut.

    btw aku nitip ya link artikelku mengenai “dua tahun bencana yang dibuat Lapindo di Sidoarjo” :

    http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/05/25/dua-tahun-bencana-lapindo-pidato-presiden/

    terima kasih

Leave a Reply