Malaysia rupanya belajar dari pengalaman masa lalu. Pada masa konfrontasi relawan Indonesia menyusup ke kota-kota Malaysia di perbatasan dan melakukan serangan. Kini Malaysia menugaskan warga Indonesia mengawal perbatasan negara mereka. Bahkan, ironisnya, warga Indonesia juga diminta menggeser tapal batas masuk ke wilayah sendiri.

Sudah dua brigade (sekitar dua puluh ribu) pemuda Indonesia direkrut menjadi anggota Askar Wataniah untuk menjaga perbatasan di Kalimantan. Padahal, sejauh ini, TNI hanya menempatkan 680 personel untuk menjaga perbatasan sepanjang 204 km itu.

Pemerintah Malaysia menjanjikan gaji, bonus, dan asuransi kepada anggota Askar Wataniah layaknya prajurit Tentara Diraja Malaysia. Sebagai perbandingan, jika setiap prajurit TNI setingkat Tamtama digaji Rp1,4 juta sampai Rp1,7 juta per bulan, anggota Askar Wataniah dibayar Rp2 juta sampai Rp3 juta per bulan.

Namun, tidak hanya itu, anggota Askar juga diaku sebagai warga negara Malaysia. Tentu saja, dalam situasi ini, berlakulah hukum ekonomi penawaran dan permintaan yang menafikan nasionalisme.

Portal Kementrian Pertahanan Malaysia menyebutkan Askar Wataniah adalah tentara simpanan (cadangan) Tentara Darat Malaysia. Mereka adalah lapis kedua pertahanan negara dalam konsep Hanruh (Pertahanan Menyeluruh) Malaysia. Dengan mengenakan seragam prajurit, mereka dilatih teknik bela diri, baris-berbaris dengan memanggul senjata, serta kemampuan militer. Keberadaan mereka mirip Kesatuan Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) TNI, atau Garda Nasional Amerika Serikat.

Sebenarnya perekrutan ditujukan kepada warga berusia 18 sampai 30 tahun yang memiliki KTP Malaysia. Hanya saja, warga Indonesia di perbatasan ber-KTP ganda. Dan lantaran miskin, para pemuda di perbatasan terdorong bergabung dengan Askar Wataniah. Mereka melintasi perbatasan dan ikut pelatihan. Setelah itu, mereka diterima sebagai anggota Askar. Mereka bahkan kerap diperintahkan menggeser patok perbatasan menjorok ke wilayah Indonesia.

Bayangkan saja, seandainya terjadi konflik fisik di perbatasan, yang bakal dihadapi TNI adalah warga Indonesia sendiri.

Akan tetapi, di samping persoalan kemiskinan, memang perbatasan Kalimantan Barat adalah wilayah ekonomi. Selain kayu gelondong, lahan di daerah ini berpotensi menghasilkan minyak kelapa sawit (crude palm oil) dalam jumlah besar. Harga CPO saat ini melambung lantaran dicari dunia. Sebab, CPO adalah energi alternatif bahan bakar fosil.

Tidak heran bila terjadi kasus patok bergeser, dan hutan Indonesia pun dieksploitasi oleh Malaysia. Saat ini wilayah perbatasan Indonesia yang tadinya hijau, sebagai contoh, menggersang lantaran dibalak secara liar oleh perusahaan kayu Malaysia. Menjadi semakin ironis bila pelakunya adalah warga Indonesia yang tunduk kepada oleh aparat Malaysia.

Jadi, boleh dibilang, perekrutan anggota Askar Wataniah dari kalangan warga Indonesia adalah usaha cerdik menyusupkan mata-mata, atau kaki ke dalam wilayah Indonesia. Itu juga strategi kalem tapi efektif untuk meningkatkan kekuatan dan kesiapan negara jiran itu di perbatasan mengantisipasi lawan. Tanpa ribut-ribut, tanpa konflik bersenjata, Malaysia telah mengambil sebagian wilayah Indonesia.

askar wataniah
Persoalannya, untuk kawasan perbatasan Indonesia kehabisan napas. Dibutuhkan anggaran buat beberapa departemen sekaligus seperti Departemen Dalam Negeri, Departemen Pertahanan, Markas Besar TNI, Polisi Republik Indonesia, dan Kejaksaan. Tanpa kekuatan negara yang sanggup menekan, Indonesia takkan mampu mencegah pengaruh Malaysia di perbatasan yang semakin kuat.

Anggota parlemen Happy Bone Zulkarnaen memperlihatkan kepada media massa jepretan foto-foto proses perekrutan dan pelatihan tempur dengan seragam militer. Namun, pemerintah tetap harus melaksanakan penyelidikan menyeluruh buat memastikan apakah para askar dalam foto itu benar-benar warga Indonesia. Jika terbukti, sikap resmi harus diambil: nota protes yang keras harus dinyatakan, lantaran Malaysia telah memanfaatkan warga Indonesia buat tujuan militer secara semena-mena.

Kasus ini adalah klimaks persoalan perbatasan yang terbengkalai. Kesejahteraan rakyat harus diangkat sejalan dengan peningkatan kekuatan pertahanan di kawasan ujung tombak negara ini. Oleh sebab itu, sudah saatnya, pertumbuhan ekonomi perbatasan dipercepat buat mengangkat taraf hidup mereka, sehingga tidak tergoda jebakan inflitrasi asing.

Yang perlu diatasi adalah benturan-benturan birokratis, terutama perdebatan antara batasan kewenangan antara pemerintah pusat dengan daerah. Untuk mengatasi itu, presiden sebaiknya mengeluarkan kebijakan khusus yang dilegitimasi parlemen melalui undang-undang.

Sikap tegas harus diambil segera, karena Indonesia selama ini sudah cukup lunak terhadap Malaysia. Prasangka baik kepada negara jiran perlu, tapi harus diiringi dengan sikap waspada. Jika tidak, setapak demi setapak asing melangkah, tahu-tahu hilanglah kedaulatan kita.

Baca Juga
Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 1/3): Indonesia Sebenar-benar Asia yang Multikultur dan Demokratis
Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 2/3): Indonesia Negara Bebas, Malaysia Negara yang Mengekang
Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 3/3): Indonesia Menuju Perbaikan; Malaysia, Kerusakan

Popularity: 69% [?]

Comments

8 Responses to “Strategi Cerdik Infiltrasi Perbatasan Ala Malaysia”

  1. Malaysia Goblok!!! « berbagi cerita.. on Februari 15th, 2008 01:10

    […] Pemerintah Malaysia menjanjikan gaji, bonus, dan asuransi kepada anggota Askar Wataniah layaknya pra… […]

  2. Robert Manurung on Februari 15th, 2008 07:07

    Tampaknya Malaysia sengaja memanfaatkan situasi di dalam negeri kita, dimana masing-masing orang mementingkan diri sendiri dan kelompok sendiri–kalau perlu menggadaikan negara pun dilakoni juga. Kerusakan akhlak ini diketahui Malaysia dan dieksploitir.

    Bagaimana nih sikap kita-kita yang masih waras dan masih bisa merasa tersinggung atas kelancangan Malaysia? Apa yang harus kita lakukan supaya negara tetangga yang congkak itu sadar bahwa masih ada orang Indonesia yang nggak terima dilecehkan oleh mereka?

    Apakah kita harus menunggu lahir dulu tokoh nasionalis yang jantan seperti Bung Karno, baru kemudian kita paksa Malaysia mengaca diri ? Apakah teriakan Ganyang Malaysia harus kita teriakkan di sepanjang perbatasan dengan negara yang lancang itu, supaya hati mereka gemetar dan gentar ?

    M E R D E K A !

  3. Goenawan on Februari 16th, 2008 06:51

    Ironis memang, di Kalimantan yang SDA-nya begitu melimpah masih banyak ditemukan kemiskinan. Idealisme dan prinsip bisa kalah dengan rasa lapar!

    Bukan cuma bagaimana prasangka terhadap Malaysia. Tapi juga membangun rasa nasionalisme dengan meningkatkan kesejahteraan rakyat miskin di tanah yang begitu kaya.

  4. Junarto Imam Prakoso on Februari 16th, 2008 17:59

    @ Robert Manurung
    @ Goenawan
    Memang sepertinya masih banyak PR yang harus diselesaikan…

  5. uwiuw on Maret 7th, 2008 20:15

    Bayangkan saja, seandainya terjadi konflik fisik di perbatasan, yang bakal dihadapi TNI adalah warga Indonesia sendiri.

    sorri, kayaknya ini statement yang salah….mereka itu mantan orang indonesia

    Jadi bila terjadi perang [semoga tidak pernah] perang dengan malaysia, tembak saya kepalanya. Karena dia juga akan melakukan hal yang sama apabila berhadapan dengan TNI kita… :-(

    Apalagi bila mengingat ‘penghianatan’ mereka, sekalipun demi urusan ekonomi [kasarnya urusan perut]’, sy rasa mengawasi [dengan bantuan intel] setiap anggota keluarga mereka yang ada di indonesia juga wajar..hehehe

    Nobody like war, even if we have to

  6. Andre on Maret 18th, 2008 09:56

    Hi Penulis,
    apakah berita ini benar keberadaannya?

    Bisa disertakan referensinya?

    Terima kasih.

  7. Junarto Imam Prakoso on Maret 18th, 2008 11:43

    Tulisan ini merujuk (di antaranya) situs Liputan 6, Metro TV, Media Indonesia, blog Yusron Ihza Mahendra, dan lain-lain. Silakan temukan di mesin pencari.

    Metro TV bahkan pernah menayangkan hasil investigasi mereka: Memang ADA warga Indonesia terlibat dalam askar wataniah.
    Tapi Metro TV tidak menyebutkan jumlah askarnya.

    Persoalan perbatasan memang nyata. Meksipun bisa jadi isu ini baru diembuskan sekarang agar parlemen terdorong menggolkan rancangan undang-undang tentang wajib militer.

    DPR Akan Cecar BIN Soal Askar Wataniah
    Senin, 10 Maret 2008 | 08:32 WIB

    TEMPO Interaktif, Jakarta:Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat akan mempertanyakan keseriusan Badan Intelijen Negara menangani warga Indonesia yang direkrut sebagai Askar Wataniah.

    “Kami akan minta pertanggungjawaban BIN, apakah mereka melakukan pendalaman atau tidak,” kata Wakil Ketua Komisi I Yusron Ihza Mahendra melalui telepon, Senin (10/3).

    Yusron mengatakan pertanyaan itu akan menjadi fokus dalam rapat dengar pendapat Komisi I dengan Kepala BIN Syamsir Siregar yang akan dilakukan pukul 09.00 WIB hari ini. Menurutnya banyak fakta yang menunjukkan perekrutan itu memang ada, namun BIN malah menyatakan sebaliknya.

    “Kalau soal tidak, semua juga bisa bilang tidak, tapi sudah didalami atau belum?” katanya.

    Sebelumnya dikabarkan warga negara RI di wilayah perbatasan RI, Kalimantan, dan Serawak direkrut dalam askar wataniah sebagai milisi Malaysia. Penyelidikan TNI maupun BIN sama sekali tak ada bukti yang menunjukkan adanya WNI yang bergabung dalam Askar Wataniah.

    Selain itu, Komisi I juga akan menanyakan soal kasus pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir yang diduga melibatkan badan intelijen.

    “Pasti akan ada yang mencecar soal itu,” kata dia.

    Desy Pakpahan-TNR

  8. datyo on Mei 14th, 2008 12:22

    Pak kalo kita lihat perbatasan malaysia di Google Earth, terlihat kalau mereka banyak merusak hutan, mengganti dengan kelapa sawit. Saya curiga mereka sengaja mendekat supaya bisa merubah patok. Maaf kalo berpikir negatif. Karena mereka tahu bahwa kita nggak mungkin bakal memeriksa patok patok tsb krn gak punya pesawat yang patrol ke daerah perbatasan. Hal ini sedikit saya ulas di blog saya.

Leave a Reply