Jan
22
Sukarno, Suharto, dan Sejarah Kita
Filed Under Politik, Sosial, Budaya, Jurnalisme dan Media, Refleksi

Sukarno, Suharto. Dua pemimpin yang menggores catatan sejarah. Mungkin mereka memang harus hadir tatkala zaman membutuhkan mereka. Jika Sukarno memandu rakyat menuju kemerdekaan, Suharto meletakkan dasar-dasar ekonomi modern.
Sukarno menjadikan Indonesia kekuatan regional yang dihormati, Suharto menjadikan Indonesia negara yang dipandang secara ekonomi. Sukarno mengajak negara-negara terjajah menggalang kekuatan perlawanan. Suharto meredakan ketegangan Asia Tenggara yang saling bertikai menjadi akur dalam ASEAN.
Ada keberhasilan, ada kegagalan. Ada perbedaan, tapi ada juga kemiripan sejarah.
Karir politik Sukarno, umpamanya, berawal dari kegerahan dirinya menyaksikan imperialisme Hindia Belanda. Sukarno berjuang secara intelektual dan akhirnya dipenjarakan. Dia semakin popular pada saat Pemerintahan Fasis Jepang memanfaatkan kepiawaiannya berpidato sebagai propagandis yang mengkampanyekan Asia Raya. Sukarno berjaya membangun konsep keindonesiaan yang pada era Hindia Belanda kedengaran absurd, dan berhasil mengejawantahkannya pada saat-saat terakhir pendudukan Jepang.
Adapun karir Suharto berawal di militer. Suharto bergabung dengan barisan laskar PETA (Pembela Tanah Air), terlibat dalam serangkaian operasi militer penting melawan agresi Belanda dan perebutan Irian Barat (sekarang Papua). Suharto menceburkan diri ke dunia politik dengan bermodalkan pengetahuan militernya. Dengan bekal itu, ia mampu menempatkan diri sebagai pemimpin yang pragmatis, tapi dengan kebijakan populis.
Sukarno kecewa dengan demokrasi liberal yang menguatkan ego partisan. Baginya, ego partisan adalah ancaman bagi revolusi. Lantas, ia membubarkan Dewan Konstitiuante dan menunjuk dirinya sebagai sang pemandu “demokrasi yang bergotong-royong,” meskipun faktanya sistem yang ia ciptakan adalah sebuah kediktakturan. Dia, misalnya, meminggirkan faksi-faksi yang menentangnya, dan menempatkan orang-orang yang meyokongnya di parlemen.
Sebaliknya, pada saat kekuasaan Sukarno melemah, giliran Suharto membersihkan parlemen dari para pendukung Sukarno. Suharto juga melenyapkan unsur-unsur perbedaan yang berpotensi menimbulkan konflik dengan garis politiknya. Dengan begitu, Suharto berjaya mengekalkan dirinya sebagai penafsir tunggal “demokrasi Pancasila” secara legal. Tidak jarang perannya bak dewa, sedangkan perkataanya adalah sabda politik yang tegas dan keras. Perbedaan berarti pembangkangan.
Sukarno — ketika membubarkan Dewan Konstituante pada tahun 1959 — beranggapan “revolusi belum usai.” Maka, Sukarno mengidentifikasi musuh-musuh yang ia sebut sebagai kelompok “kontrarevolusi,” “nekolim,” (kolonialis dan imperialis baru), “antek asing,” “subversif.” Adapun Indonesia adalah “pemimpin negara-negara baru melawan para musuh itu.”
Untuk menunjukkan supremasi Indonesia, Sukarno membangun persenjataan militer yang tangguh, memerangi Belanda di Irian Barat, dan melakukan konfrontasi dengan Malaysia. Sukarno juga memerintahkan pembangunan Simpang Susun Semanggi, Stadion Senayan, TVRI, dan Monumen Nasional. Lantas diselenggarakanlah Pesta Olahraga Negara-negara Kekuatan Baru (Games for New Emerging Forces) sebagai tandingan Olimpiade. Semua dilakukan ketika ekonomi nasional morat-marit, sedangkan infrastruktur rusak berat.
Meskipun begitu, garis politik mercusuar ini berhasil memasukkan Irian Barat dalam peta nasional dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara kuat secara militer di Asia Timur. Sampai-sampai Federasi Malaysia dan Singapura yang cemas menjalin kerja sama pertahanan dengan Selandia Baru, Australia, dan Inggris (Five Power Defense Agreement).
Sebaliknya, Suharto yang cara berpikirnya strategis-realis melihat retorika Sukarno tidak membumi, tidak seusai dengan kondisi nyata rakyat yang melarat. Suharto memilih bekerja sama dengan kaum teknokrat yang berorientasi kapitalistis. Lantas ia meminta bantuan keuangan kepada negara-negara yang dalam pandangan Sukarno “imperialis-kolonialis baru.”
Slogan-slogan pada era Suharto adalah “pembangunan” “lepas landas,” “SDM” sedangkan musuh baru yang diciptakan Suharto untuk mengidentifikasi elemen-elemen pembangkangan adalah “organisasi tanpa bentuk,” “Gerakan Pengacau Keamanan,” “subversi,” “mbalelo,” “kiri baru.” Melalui kendali terhadap media massa yang ketat, slogan-slogan ini berhasil meredam simpati massa terhadap gerakan-gerakan kritis, kedaerahan, atau sektarian.
Modal asing pun mengalir deras dengan nyaman pada era Suharto. Meskipun eksploitatif dan memberikan keuntungan luar biasa kepada segelintir kroni (kapitalisme kroni), perbaikan ekonomi berlangsung. Kelas menengah baru tumbuh dan berkembang pada awal era ini seiring dengan tampilnya konglomerasi yang dekat dengan Istana.
Sukarno ingin mengelola kemajemukan secara ideologis. Ia mecoba merangkul golongan politik dominan saat itu — Nasionalis, Agama, dan Komunis — di bawah kendalinya secara bulat. Tapi, di sisi lain, Sukarno juga membubarkan Partai Murba, Partai Sosialis Indonesia yang dianggap membahayakan arah politiknya. Alasan Sukarno “melemahkan revolusi.”
Suharto mengoreksi konsep pemerintahan Sukarno dengan model demokrasi semu dengan sedikit keleluasaan. Belajar dari pengalaman masa silam bahwa sumber kekacauan adalah pluralisme politik takterkendali, Suharto memperkenalkan asas tunggal, dan melebur puluhan partai politik menjadi dua. Partai-partai politik sengaja dilemahkan, dikerdilkan, sedangkan Golkar dibesarkan, tapi terkendali sebagai perpanjangan resmi pemerintah. Dengan begini, Suharto mampu mempraktikkan kebijakan-kebijakan ekonomi pragmatisnya secara efektif.
Kelemahan Sukarno secara politik adalah ia tidak mengendalikan militer secara penuh. Faksi militer yang menang dalam perebutan kekuasaan bukanlah kelompok yang setia kepadanya sehingga tergulinglah dia. Sebaliknya, Suharto berhasil menyingkirkan lawan-lawannya di tubuh angkatan bersenjata dan menguasai kepolisian. Dengan demikian, Suharto mampu mengendalikan aparat yang mampu mengatasi semua bentuk penolakan dan mengukuhkan kedudukannya sebagai penguasa tertinggi.
Dengan mengendalikan militer secara opresif Suharto berjaya menciptakan periode stabilitas sosial-ekonomi-politik yang panjang. Sebuah kondisi yang tidak berhasil dicapai Sukarno dalam masa tujuh tahun kekuasaannya yang singkat (1959-1966). Namun, Suharto bertanggung jawab atas kebrutalan aparat terhadap simpatisan Sukarno pada awal kekuasannya. Juga terhadap tokoh-tokoh kritis dan pembungkaman keras terhadap aksi ketidakpuasan warga di pelbagai pelosok negeri.
Sukarno akhirnya jatuh karena kemelaratan rakyat yang kurang pangan, sandang, papan. Suharto jatuh karena harga-harga kebutuhan pokok membumbung tinggi takterkendali. Sukarno terjungkal oleh orang-orang yang ia percaya. Suharto dijatuhkan oleh kelas menengah yang dibangunnya.
Sukarno wafat dalam tahanan rumah tanpa perawatan memadai. Suharto menjelang ajal dengan terkucil di rumah sendiri. Kedua-duanya dipuji, tapi juga dicaci-maki. Mereka tidak sempurna, memang. Akan tetapi, mereka sangat berjasa bagi eksistensi bangsa Indonesia sampai saat ini dan perjalanan selanjutnya. Sukarno, Suharto — suka atau tidak — adalah bagian sejarah kita.
Baca Juga
Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 1/3: Indonesia Sebenar-benar Asia yang Multikultur dan Demokratis)
Sengketa Ambalat di Mata Media
Lihat Juga
Koleksi Perangko Soekarno
Buku-buku tentang Soekarno
Popularity: 80% [?]
Comments
6 Responses to “Sukarno, Suharto, dan Sejarah Kita”
Leave a Reply
Saya rasa kita terlalu melebih-lebihkan Soekarno dan Soeharto dalam sejarah negeri ini. Saya kira ada tokoh-tokoh lain yang juga berbuat hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Soekarno dan Soeharto. Bahwa mereka berdua tidak sendirian. Ada aktor-aktor lain yang juga berjasa besar bagi negeri ini. Sejarah di republik ini memang kental dengan kultus individu. Seolah-olah seorang saja mampu membebaskan negeri ini dari penjajahan dan membangun negara. Padahal mereka tidak sendirian, khan ? Kalau kita melihat Soekarno sebagai bapak bangsa jangan lupakan peranan tokoh-tokoh lain yang tak kurang besarnya dalam proses kemerdekaan republik Indonesia. Sebut saja Bung Hatta, Tan Malaka, Syahrir, Agus Salim, Jenderal Soedirman, Sri Sultang Hamengkubuwono IX, KH Hasyim Asy’ari, Ki Bagus Hadikusumo, Jenderal Oerip Soemohardjo, M. Roem, Bung Tomo, dan masih banyak lagi. Jadi Soekarno tidak sendirian. Namun jasa-jasa mereka terkubur dalam sejarah. Buku-buku sejarah resmi versi Orde Baru memang meminggirkan tokoh-tokoh tersebut. Yang lebih banyak disebut adalah tokoh-tokoh militer. Hal ini saya curigai sebagai bagian untuk mengangkat militerisme ke panggung politik. Rakyat digiring secara tidak sadar kepada superioritas militer dan lemahnya kemampuan sipil. Ini jangan diulangi lagi. Seharus penceritaan sejarah harus adil dalam menampilkan sosok-sosok sejarah. Begitu pula dengan Soeharto. Seolah-olah karena Soeharto saja bangsa ini berhasil membangun. Kita tak bisa menafikan jasa Mafia Berkeley -sekelompok intelektual dari Fakultas Ekonomi UI yang membuat blueprint Orde Baru. Bagaimana kekejaman Orba terhadap para pengkritiknya. Bagaimana sikap dan tindak-tanduk rezim terhadap hak asasi manusia. Pembangunan diklaim murni karena tangan Pak Harto. Padahal banyak variabel lain. Sebagai intelektual kita harus jernih dalam membaca sejarah. Bagi orang Papua dan Aceh (sebelum rekonsiliasi), pemerintah pusat (Orba) itu kejam karena mengambil sumber daya alam dari tanah mereka tanpa belas kasih terhadap penduduk asli negeri ini. Pejabat pusat Orde Baru memperkaya diri mereka di atas lelehan keringat rakyat Papua dan Aceh. Hutan-hutan digunduli. Kemajuan yang tampak hanyalah kemajuan secara material namun tidak secara spiritual. Pembangunan Orba memang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi namun harus dibayar mahal dengan hilangnya kepribadian bangsa. Orba meninggalkan hutang luar negeri besar yang harus dibayar. Bagaimana kita melihat penindasan Orba terhadap kelompok Islam tertentu ? Bagaimana kita melihat P4 sebagai alat untuk menghegemoni warga negara agar taat kepada pemerintah ? Bagaimana kita melihat bagaimana korupsi yang dilakukan pejabat pusat, daerah, dan militer yang selama ini dipetieskan. Kita harus jujur dalam melihat sejara. Bahwa pertumbuhan ekonomi itu tinggi itu benar. Namun ada harga lain yang harus dibayar. Rasa kemanusiaan itulah yang hilang dari Orde Baru.
Menarik. Ulasan yang menarik.
Menurut mas, apa gerekan Soeharto yang ‘memarjinalkan’ warga keturunan Tionghoa (yang notabene mendapatkan perlakukan yang sukup setara pada zaman Soekarno) selama OrBa adalah salah satu bentuk dari ‘pembersihan’ unsur Soekarno? Atau ada apa?
Pertanyaan berat
Kalau menurut versi sejarah “standar,” Suharto menganggap PKI — yang mempunyai pengaruh kuat terhadap kebijakan politik Sukarno — bertanggung jawab terhadap Gerakan 30 September. Suharto juga melihat ada peran RRT terhadap PKI (salah satunya adalah) dalam Gerakan 30 September. Lantas, diciptakanlah gerakan anti-PKI dan anti-RRT di tengah masyarakat. Sepertinya, propaganda anti-RRT dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok anti-Tionghoa di Indonesia, sehingga gerakan-gerakan sporadis menjadi kebijakan politik resmi Suharto. Ada juga faktor lain, keterlibatan CIA - Amerika Serikat yang anti-komunis, anti-RRT, dalam naiknya Suharto ke kekuasaan. Ini pendapat saya.
Soeharto!!! walaupun kita beda pulau, saya tetap ingin sekali bertemu denganmu…. saya ingin mengenal engkau lebih dekat, agar saya bisa menjadi eperti engkau, menjadi orang hebat indonesia!!!
walaupun ratusan ribu warga indonesia menuduh engkau sebarai Koruptor, tapi saya tidak yakin engkau adalah koruptor, engkau hanya selalu menjadi sasaran bagi para koruptor agar menjatuhkan engkau..
soeharto, begitu banyak cobaan yang kau hadapi, putra-putrimu sekarang selalu memikirkan engkau.. engkau pasti bahagia di alam sana, karena engkau memiliki anak-anak yang berbakti kepada orang tuanya…
kami, bangsa indonesia, Tak kan pernah melupakan jasa-jasamu….
SELAMAT TINGGAL PAHLAWANKU, Presiden ke-2 indonesia, SOEHARTO…
soekarno adalah simbol kemerdekaan dan sosok yang mampu menjadi wajah kemerdekaan di mata dunia. tidak pernah bisa kita hindari, bahwasanya banyak orang yang mengelu-elukan beliau, bila kita lihat pada jaman sekarang, tidak ada yang memiliki kepedulian seperti beliau, kalaupun ada yang terlihat peduli pada bangsa ini, itupun karena alasan taktis belaka.
begitu pula suharto. beliau juga pemumpin bangsa yang tangguh. dan kesemuanya memiliki pertalian yang sangan kuat akan tegaknya bangsa indonesia, tak usah kita mengutuk segala kesalahan para bapak-bapak sejarah kita……….mereka adalah simbol perubahan jaman!
Saya sepakat, bagaimanapun Indonesia saat ini adalah ‘karya’ mereka berdua (tanpa mengecilkan peran tokoh2 lainnya). Uniknya menurut saya, seolah2 tuhan mmg menciptakan pemimpin kita sesuai dengan masanya. Salah satu kekaguman terbesar saya terhadap Bung Karno adalah bagaimana dia (dan rekan2-nya di masa itu) bisa mempersatukan bangsa ’sebesar’ ini dalam satu kerangka negara (sesuatu yg saya pikir sangat sulit dilakukan bahkan di era kemerdekaan saat ini), seolah dia (bung Karno) ingin mengatakan kepada dunia “inilah kami, bangsa Indonesia, kami mungkin miskin dan bodoh (saat itu), tapi kami adalah bangsa yg bermartabat, kami ingin merdeka, ingin menetukan nasib kami sendiri, biarlah kami bingung besok makan apa, bagaimana bangsa kami bertahan asalkan kami merdeka terlebih dulu” (itulah mengapa menurut saya teks Proklamasi itu sangat sederhana -meskipun maknanya sangat berarti- intinya teks itu ingin menegaskan kami ingin merdeka, urusan lain biarlah kami selesaikan sendiri di masa datang). < Majestic!
Pak Harto, seolah2 hadir di saat yg tepat pula, bangsa ini sudah merdeka, saatnya mandiri, menegaskan nilai dan identitas bangsa ini di dunia. seolah ingin mengatakan “kami ingin berperan di dunia, kami bangsa yg cinta damai, kami juga bercita-cita ingin menjadi bagian sejarah sebagai bangsa yg besar nantinya”, itulah mengapa menurut saya di era ini pembangunan sangat di utamakan, meskipun terkadang terlihat semu dan mengandalakan dana dan utang dari luar negeri asalkan bangsa ini sejahtera.
Mengenai pola dan politik kepemimipinan, saya pikir ini harus dilihat dari sudut pandang strategi kepemimpinan dan komando. Bagaimanapun suatu keputusan takkan pernah menyenangkan setiap org, namun keputusan tegas tetap diperlukan demi kpentingan bangsa. Saya bisa membayangkan bagaimana sulitnya beliau2 ini mengambil keputusan dengan tekanan rakyat yg notabene mereka sendiri adalah rakyat juga. Seorang pernah mengatakan “keputusan takkan pernah bisa menyenangkan bagi setiap org, itulah konsekuensi sebagai pemimpin, hanya ibilis/setan yg keputusannya bisa menyenangkan setiap org (dalam konteks mengajak berbuat keburukan).
Akhirnya, bagi saya, kita wajib berterima kasih terhadap beliau2 ini dan pahlawan2 kita lainnya yg telah meletakkan dasar bagi negara ini. Saya sebagai bagian generasi muda bangga dengan bangsa ini, bersyukur akan nikmatnya kemerdekaan dan segala persoalannya *sbg bangsa yg merdeka : ) (yg menjadi tugas untuk diselesaikan kita semua). Semoga Allah memberkahi negara -Indonesia- kita tercinta ini. Amin.