Sengketa Ambalat di Mata Media

Ingat Peristiwa Ambalat tahun 2005? Untuk kali pertama dalam sejarah Indonesia yang damai, seorang kepala negara turun dan memastikan persiapan pertahanan pasukan di garis depan.

Itu menunjukkan, pemerintah Indonesia telah habis kesabaran, dan secara sungguh-sungguh menganggap klaim sepihak Malaysia atas Ambalat sebagai tantangan perang. Situasi kala itu lebih panas ketimbang ketegangan sekarang.

Saat itu, lagu patriotik “Maju Tak Gentar” umpamanya, diperdengarkan di Metro TV berulang-ulang, mengiringi tayangan gambar parade kekuatan angkatan darat, laut, dan udara, mengikuti siaran berita perkembangan terkini konflik. Metro TV juga berkali-kali mempertunjukkan pembakaran bendera Malaysia di beberapa daerah serta orasi marah pengunjuk rasa di depan kedutaan besar negeri jiran itu.

Isu Ambalat menjadi sorotan media massa setelah Petronas menyerahkan konsesi pertambangan di perairan itu kepada perusahaan minyak gabungan Inggris-Belanda Shell. Nota protes Departemen Luar Negeri kepada Malaysia diabaikan, bahkan Perdana Meteri Ahmad Badawi mengklaim bahwa Ambalat adalah wilayah sah Malaysia sesuai peta nasional yang dibuat negara itu pada tahun 1979. Meskipun begitu, peta itu takpernah diakui negara-negara tetangga serantau.

Dalam pertimbangan jurnalistik, sengketa Ambalat memenuhi syarat sebagai berita bernilai tinggi: agresi, kedaulatan wilayah, harga diri bangsa. Kata-kata kunci itu mampu memanaskan kepala orang Indonesia dan menimbulkan situasi ketidakpastian politis serta ketidakseimbangan psikologis.

Maka, jadilah isu Ambalat kepala berita di media cetak dan tayangan kabar unggulan di televisi untuk beberapa hari dan terus disorot sampai dua pekan.

Media Indonesia: Perlu Garis Keras terhadap Musuh

Pada tanggal 4 Maret 2005, misalnya, Media Indonesia memampang foto pada halaman pertama tentang sebuah kapal perang Tentara Nasional Indonesia dan sebuah pesawat pengintai yang berpatroli di perairan Ambalat, Laut Sulawesi. Di bawahnya terdapat kotak yang berjudul “Presiden Perintahkan TNI Jaga Ambalat” yang diselipkan gambar berwarna peta Kalimantan, wilayah Ambalat, dan posisi kapal-kapal perang kedua negara.

Di dalam kotak itu juga terdapat informasi mengenai kronologi ketegangan dan insiden yang sempat terjadi sebelumnya. Pada rubrik Polkam halaman 9 Media Indonesia juga mengangkat berita tentang penolakan Kedutaan Besar Malaysia atas permintaan beberapa anggota Dewan Perwakiklan Rakyat beraudiensi dengan mereka.

Berita kenaikan tarif angkutan sebagai dampak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) diletakkan sebagai kepala berita pada tanggal 5, sedangkan berita foto memperlihatkan Megawati Soekarnoputri bersalaman dengan menteri reunifikasi Korea Selatan.

Akan tetapi, tajuk rencana berjudul “Perlu Garis Keras di Blok Ambalat” memperlihatkan bahwa jajaran redaksi memandang isu ini sangat penting.” Media Indonesia mengkhawatirkan sikap presiden masih terlalu lembek untuk menghadapi “negara yang sedang dirasuk kerakusan.”

Bagi Media Indoensia, Malaysia “bisa berwajah manis, tapi berkelakuan sebaliknya.” Hubungan kedua negara serumpun ini, tulis tajuk ini, “harus dilihat dan diperlakukan secara rasional dan mengubur romantisme sesama puak Melayu.” Dalam hal kedaulatan negara, tulis tajuk ini lagi, “TNI tak usah ragu-ragu menghajarnya agar Malaysia tidak bertindak semaunya di Ambalat.”

Masih pada halaman muka, Media Indonesia juga memunculkan kotak berjudul “Lima Puluh Persen Kapal Perang TNI AL Siap Dikerahkan ke Perbatasan.” Harian ini juga meberikan tabel perbandingan kekuatan angkatan laut kedua negara, seolah perang benar-benar sudah di ambang pintu.

Media Indonesia jelas memperlihatkan sikap oposisi terhadap Malaysia secara keras dan terang-terangan menempatkan Malaysia dalam konflik Ambalat ini sebagai ‘musuh.’

Pada tanggal 6, misalnya, harian ini mengangkat kepala berita “KRI Rencong Usir Kapal AL Malaysia.” Harian ini bahkan menurunkan tajuk lagi berjudul “Mari Sombong kepada Malaysia.” Perlakuan buruk Malaysia terhadap Indonesia tidak sepadan dengan kontribusi ratusan ribu tenaga kerja Indonesia terhadap perekonomian negara itu sehingga, dalam pandangan harian ini, “Seharusnya mendorong pemerintah Indonesia tidak bermuka manis dengan tetangga bernama Malaysia.”

Bahkan pada tanggal 8, harian ini memampang foto presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dengan mimik tegas menaiki tangga kapal perang di Pelabuhan Maludung, Tarakan, Kaliman Timur sambil melambaikan tangan. Foto itu memenuhi hampir sepertiga halaman dengan ambilan gambar mulai kepala sampai ke lutut dengan latar belakang kapal perang KRI Karel Satsui Tubun.

Kepala berita ‘Ambalat Siaga Tempur, Badawi Telepon SBY’ dengan huruf ukuran besar tercetak di bagian atas foto itu. Dengan analisis semiotika, bisa ditafsirkan bahwa redaksi sengaja memilih foto ini dan memasang di halaman depan untuk membangkitkan semangat patriotik dan kebanggaan nasional para pembaca bahwa “Indonesia siap menghadapi Malaysia untuk mempertahankan Ambalat.”

Begitu pula pada tanggal 9, harian ini memasang kepala berita “SBY Tinjau Kesiapan Tempur TNI” dengan foto presiden memastikan kesiapan prajurit marinir di perbatasan Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik. Salah satu subjudulnya ditulis “Ketegangan Meningkat.”

Kompas: Malaysia Melecehkan Kita, Harus Ditindak Tegas

Sikap oposisi terhadap Malaysia juga ditunjukkan oleh Kompas. Lebih lunak, lebih rasional, tapi tetap tajam. Pada tanggal 6, misalnya Kompas mengangkat kepala berita “Kapal RI-Malaysia Berhadap-hadapan” (bandingkan dengan Media Indonesia yang pada hari yang sama memuat judul “KRI Rencong Usir Kapal Malaysia”).

Begitu juga, pada tanggal 7, kepala barita harian ini berjudul “Malaysia Kembali Lakukan Provokasi.” Berbeda dengan Media Indonesia yang pada tanggal 8 melaporkan berita utama yang menggambarkan ketegangan tinggi, kepala berita Kompas pada hari yang sama diberi judul “Presiden Tinjau Perbatasan RI-Malaysia.”

Namun begitu, tajuk rencana hari itu yang berjudul “Bagaimana Mungkin Malaysia Pun Melecehkan Kita?” sesungguhnya memperlihatkan kegusaran harian ini terhadap negeri jiran itu. Menurut Kompas, banyak perilaku Malaysia yang menyakitkan hati, “tapi dengan semangat tahu diri, kita menerimanya.” Kompas menulis bahwa tanggapan atas pelanggaran wilayah Indonesia masuk akal jika “harus lebih tegas dan jelas” (bandingkan dengan tajuk Media Indonesia yang menulis “perlu garis keras di blok Ambalat”).

Pada tanggal 9 dan 10 Kompas juga menurunkan kepala berita “Ketegangan di Daerah Perbatasan Mereda” dan “RI-Malaysia Sepakati Penyelesaian Damai” dengan foto pasukan marinir berjaga-jaga di tugu perbatasan Indonesia Malaysia.di Sebatik.

Ini menunjukkan meskipun mengharapkan pemerintah “bertindak tegas,” Kompas berhaluan lebih moderat, rasional ketimbang Media Indonesia.

Kompas, misalnya mengajukan argumen kepemilikan Indonesia atas Ambalat dengan menurunkan berita opini berjudul “Ambalat Lanjutan Alamiah Kaltim” yang mengutip pandangan pakar hukum laut internasional, Hasyim Djalal.

Republika: Selesaikan dengan Semangat Sesama Muslim-Melayu

Republika juga mengangkat persengketaan perbatasan dengan Malaysia, tapi dengan hati-hati dan sama sekali tidak memperlihatkan kegusaran, atau bahkan kemarahan. Pada tanggal 3 Maret, misalnya, harian ini menurunkan berita, “RI Kirim Kapal Perang ke Perbatasan Malaysia.” Berita pengiriman kapal perang ini tidak diangkat sebagai kepala berita, tapi diletakkan di bawah, meskipun di halaman muka.

Pada tanggal 5, berita tentang konflik perbatasan ini hanya dimunculkan dalam foto kecil di halaman muka. Tiada berita sejenis pada halaman dalam.

Harian ini sempat menurunkan kepala berita “Kapal Perang RI-Malaysia ‘Adu Mulut’” pada tanggal 6 yang yang mengabarkan ketegangan di perbatasan. Tapi pada tanggal 7 harian ini menurunkan kepala berita yang mendinginkan suasana, “RI-Malaysia Siap Redakan Ketegangan,” sedangkan pada tanggal 9, Republika menurunkan kepala berita “TNI AL Kurangi Kapal di Ambalat.” Kemudian pada tanggal 10, “RI-Malaysia Sepakat Merujuk UNCLOS.”

Sikap hati-hati Republika ini terbaca pada tajuknya tanggal 7 “Tahan Emosi.” Republika mengaku ada persoalan dalam perbatasan Malaysia-Indonesia yang bermula pada kasus Sipadan-Ligitan ketika Malaysia melanggar kesepakatan status quo dengan Indonesia.

Republika menulis bahwa “kita harus mempertahankan setiap jengkal tanah kita,” tapi mengingat persaudaraan kedua negara, penyelesaian semestinya ditempuh “dengan cara-cara bijak, bukan kekuatan bersenjata-apalagi melibatkan emosi massa.” Republika berpendapat, “ada kekuatan yang ingin kedua negara berhadap-hadapan,” tapi “semangat Melayu semestinya mengikat kedua negara.”

Pada halaman muka, dalam berita yang kecil berjudul “Selesaikan Secara Bilateral” Republika mengutip pernyataan Din Syamsuddin agar persoalan ini diselesaikan secara bilateral. Berita ini mengutip pernyataan Din bahwa bila sengketa Ambalat diselesaikan dengan konflik terbuka, kedua belah pihak akan rugi, yang beruntung pihak ketiga. Selain itu, ia “akan merugikan Islam.”

Sudut pandang sejenis juga diperlihatkan dalam berita “MUI Akan Kirim Tim ke Malaysia” pada tanggal 9. Selain itu, pada tanggal 12 Republika juga menurunkan berita pada halaman muka yang mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid Albar, “Patroli di Perbatasan Tak Berarti Perang.”

* * *

Terlihat bahwa terdapat perbedaan pola, atau bingkai pemberitaan pada Media Indonesia, Kompas, dan Republika. Jika ketiga surat kabar ini diletakkan, boleh dibilang Media Indonesia berada pada garis keras: mengangkat sengketa Ambalat dengan emosional. Kompas, garis moderat, memahami jika tindakan tegas diambil pemerintah, sedangkan Republika, garis lunak, menginginkan konflik bersenjata dihindari demi persaudaraan Muslim dan serumpun. Namun, secara umum, ketiga surat kabar itu menyatakan keberpihakan kepada posisi Indonesia.

Fenomena ini menarik jika dikaitkan dengan pendapat Andreas Harsono bahwa ketika bekerja, wartawan harus melepaskan segala macam identitas primordial, misalnya kewarganegaraan.

Kewarganegaraan, kata Andreas, hanyalah untuk “keperluan praktis pribadi atau memperkaya pemahaman” dan takkan “mendikte liputan.” Akan tetapi, kenyataannya wartawan mau tidak mau berhadap-hadapan struktur komunitas yang mempengaruhi dirinya semenjak lahir dan tumbuh. Salah satunya perasaan kebangsaan ini meskipun mungkin ia tak menyadarinya.

Selain perkara itu, wartawan juga bersentuhan dengan kebijakan editorial, ataupun kredo, nilai, serta norma perusahaan tempat ia bekerja. Kepala-kepala berita surat kabar kita yang mengobarkan sentimen kebangsaan dalam sengketa Ambalat bisa jadi merupakan kebijakan perusahaan guna meraih kesempatan memperbesar tiras dan memperluas pasar. Namun, bisa juga ia dilihat dari sisi ideologis.

Media Indonesia, umpamanya, seringkali diposisikan sebagai surat kabar yang pragmatis. Akan tetapi, fakta bahwa ia dimiliki oleh Surya Paloh, seorang pengusaha asal Aceh, kader partai Golongan Karya, sekaligus seorang nasionalis, dalam banyak hal mempengaruhi kebijakan editorial. Begitu juga Jakob Oetama, seorang Jawa-Katolik-Tionghoa, membangun Kompas dengan menanamkan nilai-nilai Jawa, rasionalitas, dan kemoderatan.

Adapun Republika didirikan oleh kelompok intelektual Muslim, ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), yang merupakan kekuatan sosial-politik kelas menengah Muslim di Indonesia, yang mengidentifikasikan diri sebagai bagian kebangkitan komunitas Islam global.

Dengan kata lain, obyektivitas jurnalistik idealisme yang hendaknya dituju oleh pekerja media, tapi memang pada praktiknya ia bisa absurd lantaran banyak faktor yang melencengkannya. Atau mungkin, untuk kasus Ambalat, memang tidak perlu?

Baca Juga
Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia

Popularity: 100% [?]

Comments

56 Comments on Sengketa Ambalat di Mata Media

  1. aku orang malaysia on Sab, 10th Nop 2007 20:32
  2. Jangan dilayan orang-orang indonesia yang gila dan lapar dong ini petikan dari Temporaktif, ini kata-kata duta Indonesia.

    PPI Se- Malaysia merespons pernyataan Duta Besar Rusdihardjo yang kemudian dipetik beberapa surat kabar Malaysia dalam menyikapi aksi demonstrasi di Indonesia dan permohonan maaf Indonesia. PPI sangat menyesali pernyataan Rusdihardjo yang menyatakan, “Mereka (para demonstrans) itu Hungry Men (orang yang lapar), hungry men are angry men (orang yang lapar senantiasa marah), dan angry men are crazy men (orang yang marah tidak berfikir dengan waras). Orang yang waras tidak akan membakar bendera Negara lain.”

    kik kik kik

  3. Junarto Imam Prakoso on Sab, 10th Nop 2007 22:08
  4. @ aku orang Malaysia
    Terlalu sederhana menyimpulkan bahwa massa membakar bendera Jalur Gemilang lantaran “kelaparan.” Orang kelaparan tentu takkan sanggup berunjuk rasa atau membakar bendera.

    Dalam hal ini, pemberitaan Media Indonesia, Kompas, dan Republika tentang sengketa Ambalat sudah selurus tabung memberikan konteks mengapa Indonesia punya alasan rasional untuk bersikap tegas terhadap Malaysia.

    Kedatangan Presiden di perbatasan juga memperlihatkan bahwa Indonesia punya landasan hukum internasional yang kuat. Di Indonesia presiden adalah simbol kepemimpinan tertinggi. Jadi, aksi presiden di perbatasan merupakan pesan yang sangat terang kepada pemerintah Malaysia. Karena pesan yang tegas inilah (kesiagaan pasukan Indonesia di perbatasan), Badawi kemudian mengajak Indonesia berunding.

  5. Zoe on Ming, 11th Nop 2007 01:43
  6. Hancurkan Malingsial !!. Negara maling ga tau malu! negara pencaplok. Ga punya kebudayaan. Lu melayu gila! maunya dibilang serumpun supaya dapat menjarah lebih banyak lagi!!

    Hancurkan Malingsia!! Hancurkan!!!

  7. Abang Nas on Sen, 12th Nop 2007 07:08
  8. ku perhatikan artikel2nya junarto ini kelihatannya sedaya upaya diusahakan agar dapat mengundang emosi agar menjadi “panas” dan seterusnya melonjak statistik yang mampir ke blognya ini.

    sekarang bung, malaysia apa indonesia punya masalah masing2 lah. masyarakat kita dan kita sendiri aja punya banyak perkara yang harus diselesaikan dan diperbaiki.

    mengapa agaknya junarto tetep aja bersikap layaknya provokator. kamu sia-siakan bakat dan ilmu kamu untuk sesuatu yang tidak benar.

    sadarlah. berbaktilah kepada bangsa mu dengan sebenarnya.

  9. Junarto Imam Prakoso on Sen, 12th Nop 2007 09:02
  10. @ abang nas
    Anda boleh saja berpendapat demikian. Tapi topik artikel di blog ini tidak sebatas satu perkara. Semua mungkin saja dibahas, termasuk paradoks demokrasi di Indonesia sendiri.

  11. Arya on Rab, 14th Nop 2007 11:37
  12. Bagi saya tulisan junarto ini bukanlah untuk manas2in…tapi lebih sebagai kajian Ekonomi Politik Media Massa. Junarto lebih ingin menunjukkan bagaimana 3 buah surat kabar memberitakan sesuatu dan sudut pandang dan ideologi yg dianut oleh masing2 koran….Sebenarnya itu aja sih..gak ada maksud manas2in..

  13. Mohd on Rab, 14th Nop 2007 13:51
  14. bisa saja dijustifikasi, pada guelah yang baru balik dari Indonesia jumaat kelmarin, tulisan ini hanyalah recycle isu Ambalat. Sekadar ingin memicu isu Nasional dan perkauman Indonesia. Tak lebih dari itu. Isu Ambalat bahan yang digunakan oleh SBY untuk menutup kenaikan BBM dan mogok massa pada masa itu.

    Di kunjunginya ambalat sebagai satu misi yang penting buat rakyat Indonesia kononnya, padahal dalam masa yang sama dia berjaya menutup kasus BBM. Yang rancu rakyatnya, rugi banget BBM naik semangat anti-Malaysia naik, income juga yang macet.

    Saya baru balik dari Indonesia, keadaan ekonominya tetap tidak berubah, ‘ayam kampung’ bisa didapati dengan mudah di sini,( I’m sorry, im muslim, i takut neraka, i takut aids dll, ayat yang sering saya gunakan bila ada gangguan dari ABG yang menjadi ‘ayam kampung’ ) dan langsung ke Pakistan atas urusan imigrasi penduduk sana ke Malaysia, krisis politik di sini juga mencuat.

    Selalu krisis akan menganggu perniagaan, begitu juga ketidak stabilan politik dalam negara, bisa saja kita melaungkan kebebasan dalam masa yaang singkat kita juga berjaya menjatuhkan mata indeks di bursa saham.

    Di Malaysia sekarang ada undang2 ketat untuk TKI, sesiapa yang menyimpan PATI akan didenda sama. Waduh siapa yang rugi? Malaysia dan juga rakyat Indonesia dong, Malaysia bisa sahaja mencari alternatif ke Burma, Thailand dan Vietnam, juga Filipina….dan sekarang ada perjanjian denga Pakistan, ramai penduduk Pakisatan akan masuk Malaysia sedang menunggu. Ini bermakna Kuota Pass Kerja untuk Indonesia dikurangkan, siapa yang rugi? Malaysia atau Indonesia.

    Suasana kedhaifan rakyat Indonesia yang saya temui membuatkan saya insaf sendiri, ingin saya mengambil beberapa perkerja tapi berapa orang sahaja yang saya mampu? 5 orang. supir, orang gaji, ofis boy, tukang cuci, tukang kebun. Bagaimana yang selebihnya??? Berapa juta yang tidak bekerja? Mungkin itu yang saudar Junarto perlu fikirkan sebelum menulis ‘mitos’ kebangkitan bangsa Indonesia.

    RoslanK
    Pakistan

  15. Raoul on Rab, 14th Nop 2007 14:17
  16. Mari kita kembali pada konteks topik yang coba diangkat oleh Bung Junarto dalam tulisannya kali ini. Saya lihat Bung Junarto menulis tentang perbedaan “pembingkaian berita” dari tiga surat kabar Indonesia dalam mengangkat sebuah isu. Dalam hal ini diambil contoh isu kasus ambalat.

    Esensi ulasan Bung Junarto bukanlah pada contoh kasusnya, melainkan pada perbedaan pola/bingkai pemberitaan yang dilakukan oleh masing-masing redaksi surat kabar. Jadi kalo ingin memberi tanggapan, berilah tanggapan tentang perbedaan itu, bukan pada contoh isu/kasusnya.

    Komentar tentang contoh kasusnya hanya akan membawa kita kepada perdebatan panas relasi indonesia-malaysia yang itu justru menyimpang dari esensinya.

    Tulisan Bung Junarto manas-manasin, provokatif & mengungkapkan sesuatu yang tidak benar?…
    ahh..saya rasa tidak…

  17. Mohd on Rab, 14th Nop 2007 14:33
  18. bagus untuk kajian jurnalistik, juga pencinta alam sekitar, kerana dia mengangkat isu sudah lapuk untuk membingkai berita mengikut semangat anti-Malaysia, itu hakikat dong.

    Think out of box, berfikirlah luar kotak, kitakan dewasa, kita bisa menebak kenapa isu Ambalat ini dijadikan pembingkaian berita, carilah isu skandal BULOG ke, isu harta rakyat Indonesia dilarikan oleh ‘pemerintah’ itu bisa mengenyangkan perut yang lapar.

    Kepada peminat recycle (kitar semula) syabas, tapi pada bingkai pemikiran saya itu isu lapuk dong.

    RoslanK
    Pakistan

  19. Junarto Imam Prakoso on Rab, 14th Nop 2007 21:28
  20. @ Mohd
    Sekedar informasi, kasus Bulog sudah diadili dan pelakunya sudah ditangkap. Korupsi lama ditangani, korupsi baru bermunculan dengan pola yang baru, tapi intinya sistem Indonesia yang terbuka terus mengoreksi.

    Di Indonesia, hakim yang curang diadili. Di Malaysia, pelapor yang mengabarkan hakim tinggi yang terlibat skandal justru diancam hukuman. Ini fakta.

    Mengapa Ambalat diangkat media? Buat kebanyakan orang Indonesia, kasus Ambalat atau perbatasan sama pentingnya dengan persoalan ekonomi dan relevan diperbicarakan karena berkaitan dengan eksistensi negara.

  21. Junarto Imam Prakoso on Rab, 14th Nop 2007 21:43
  22. @ Roeslan
    Saya ingin membantu Anda memberikan gambaran. Ada 220 juta orang di Indonesia, dan 37 juta adalah orang miskin atau sekitar 17 persen jumlah penduduk. Tujuh belas persen orang miskin di Indonesia lebih banyak dengan jumlah penduduk Malaysia yang cuma 27 juta! Artinya usaha menurunkan 1 persen angka kemiskinan di Malaysia sama saja dengan 8 kali usaha menurunkan kemiskinan di Malaysia. Tantangannya jauh lebih berat, dan memang perbaikan ekonomi yang terjadi itu tidak serta merta terlihat secara kasat mata. Itulah sebab, persoalan yang dihadapi di Indonesia adalah pemerataan.

    Tentang tenaga kerja Pakistan, kerugian justru ada di pihak Malaysia, karena salah satu alasan permintaan TKI ke Malaysia pada tahun 70-an adalah keberimbangan etnis.

    Tapi, dunia itu luas. Malaysia hanyalah potongan kecil dalam bola dunia. Dengan kata lain, TKI bisa bekerja di negara-negara lain yang bertamaddun, yang menghormati hak asasi manusia.

  23. simple truth on Rab, 21st Nop 2007 23:26
  24. isu ambalat lagi? udah basi dan tiada efek positif bagi rakyat kecil yang banyak. cari isu lain yang lebih bermanfaat dong!

    hehehe, boleh jugak aku cakap indonesia sikit2.

  25. Junarto Imam Prakoso on Jum, 23rd Nop 2007 13:37
  26. @simple truth
    Tulisan ini sebenarnya tidak membahas Ambalat secara khusus. Tapi terlepas dari itu, buat orang Indonesia, perkara Ambalat — selama penyelesaiannya belum jelas — selalu relevan dalam perbincangan publik.

  27. @ld! on Ming, 23rd Des 2007 14:32
  28. informasi ini sangat menarik, terutama bagi kami yang tinggal jauh dari indonesia, dimana banya informasi yang tidak masuk dalam arti, kami disini tidak mengikuti perkembangan yang terjadi di indonesia. Apa yang ditulis mas junarto ini memberikan penjelasan dan kajian yang cukup untuk menyalakan alert alarm di otak kita-kita yang ada di rantau ini. Jelas sudah posisi sosial politik antara indonesia dengan negara itu.
    Bravo mas junarto, informasi seperti ini sangat bermanfaat bagi kita-kita

    dari middle east

  29. sky on Jum, 22nd Feb 2008 04:37
  30. saya sepakat sama arya & raoul. bagi orang yang mengerti media (massa), komunikasi, jurnalistik, justru tulisan seperti ini sangat dihargai, sebagai sebuah kajian. kok malah komentar think out of the box segala, naif sekali. salut bung junarto, terima kasih tulisannya.

  31. three galz on Sab, 3rd Mei 2008 12:54
  32. dasar malingsial..
    mau lo tu pa c…??
    creatif dunk jgn ngmbilin kbudayaan negara w mlu2…
    ngaku serumpun tp ko nikam n ngehancrin gt c…
    smoga allah membalas klakuan n memberikan hidayah nya kpada klian wahai tetangga n serumpun yang jahat …

  33. mena on Sel, 15th Jul 2008 12:42
  34. Orang Malaysia klo ngomong sombong banget!!! Cuma bisanya membangga-banggakan kekayaan, harta benda, kesuksesan ,kemakmuran dan sukanya menghina orang miskin. Kelihatan sekali dari komentar orang-orang malaysia. Sungguh menyedihkan mereka…saya kasihan sekali. Ngga mau membuka mata…takut kena kritikan…..tapi kasihan cuma jadi warga negara yang yang pemerintahannya ngga demokratis

  35. wahyugusti on Kam, 24th Jul 2008 09:26
  36. Hai orang orang indonesiaku pulanglah dan cari kerja di negrimu sendiri karena negri jiran tak suka dengan orang indonesia, hemat dan simpanlah kekyaan alam kita NKRI agar dapat di gunakan untuk masa depan anak anak cucu NKRI, tida perlu bekerja dengan negri isalm yang sombong dan kecil itu

  37. wahyugusti on Kam, 24th Jul 2008 09:27
  38. Hai orang orang indonesiaku pulanglah dan cari kerja di negrimu sendiri karena negri jiran tak suka dengan orang indonesia, hemat dan simpanlah kekayaan alam kita NKRI agar dapat di gunakan untuk masa depan anak anak cucu NKRI, tiada perlu bekerja dengan negri islam yang sombong dan kecil itu

  39. ddeu on Sel, 29th Jul 2008 08:33
  40. jangan marah sama malaysia ,
    kita semua harusnya prihatin punya tetangga kok maling .
    (ddeunasionalis)

  41. Amin You on Kam, 28th Agu 2008 14:18
  42. Gw dulu suka ma lagu2 malaysia tp stlh Gw tw klo malaysia nyolong rasa sayange,batik,wayang N p.Sipadan dan ligitan Now i hate malaysian smw kset lagu2 malaysia Gw bakar…

  43. malindo man on Sel, 28th Okt 2008 01:29
  44. Oh satu lagi, kadang kadan saya terfikir, ada yang megaku orang malaysia yang menulis ketidakbaik kan orang indonesia , apakah dia benar orang malaysia atau provokator dari bangsa lain , juga sebaliknya. berfikirlah sebentar kan.

  45. malindo man on Sel, 28th Okt 2008 01:36
  46. Malaysia dan Indonesia adalah jiran yang memerlukan satu sama lain. Rumpun Majoritas orang Malaysia asli asal nya dari kawasan sekarang yang di panggil Indonesia. Empayar Melayu Melaka tahun 1400 aja di buka oleh putera raja Empayar Palembang. Jadi keturunan ini kan yang ada sekarang di Malaysia, Di Johor aja Sultan nya pernah asal daeng dari Makassar, negeri sembilan Aja asli nya Pagar Ruyung dan Padang. Juga Kaum Aceh wujud di Utara Malaysia dan Penang. Jadi Malaysia dan Indonesia adalah serumpun. Sebelum Penjajahan Eropa , Kedua Negara ini Adalah SATUAN tanpa batas. Hanya 1824 Inggeris menjajah Malaysia dan Singapore , Belanda Menjajah Indonesia. Maka penjajah menerapkan konsep pemecah belahkan idea serta identity untuk kepentingan mereka kerana kalau kedua pihak Malaysia dan Indonesia bersatu pada waktu itu maka mereka tidak mungkin bisa menjajah.
    Maka kita masih tidak belajar dari kebodohan kita masa silam, masih bemusuh satu sama lain hingga terjajah bangsa asia ini. Kalau bersatu kita amat kuat kerna negara kita berdua mempunyai selat melaka yaitu laluan terpenting dunia. tapi kita bergaduh maka penjajahan akan datang lagi kerna diri kita sendiri tak tidak memahami maksud kemerdekaan. kemerdekaan adalah perjuangan yang tak akan selesai kerna satu jenis penjajahan yang perlu kita atasi adalah penjajahan minda yang telah di terap kan oleh penjajahan eropa yang silam terhadap kita.
    Kalau ada masalah, bawalah ke meja persidangan, konferensi, Mahkamah Dunia kan ada untuk perkara begini. Banyak cara untuk menyelesaikan kasus begini. Yang paling penting jangan kita memperbesarkan perkara itu kerana kalau terjadi peperangan yang ruginya kita sendiri bukan untung, sejarah mengajar kita berkali kali bahawa tidak pernah ada peperangan yang akan menguntungkan mana mana pihak. Ekonomi Hancur, Uang habis kerana menggantikan alat alat perang, Manusia mati dan lain lain. akhirnya kalau kita lemah kita pasti di jajah oleh pihak tertentu. Indonesia , Malaysia untuk selama nya adalah Jiran terdekat jadi pasti ada perbuatan dari salah satu pihak yang akan membuatkan pihak yang lain terasa lebih. Seperti adik dan abang atau Isteri dan Suami, Lagikan Lidah tergigit ini kan negara tetangga. Kalau bisa di koferensikan perbatasan maka itu lah yang sebaiknya. Berkenaan Batik, Rasa Sayang, Angklong sebagainya kan itu permainan serta kebudayaan keturunan orang asli nusantara, orang orang yang beratus tahun dahulu asal Indonesia yang telah menduduki malaysia, yang membudayakan juga dari rumpun yang sama dari zaman dahulu. Apalah salahnya kalau bersama sama share kerna penduduk Malaysia kan asli Indonesia juga. Fikir lah sebelum kita menuduh. Fahami kebudayaan dan keaslian sesuatu bangsa sebelum kita memberikan keputusan. setiap negara atau bangsa masing masing ada baik ada buruk nya. Hanya kita sebagai manusia perlu memahaminya dahulu sebelum menuduh atau membuat keputusan. Itu lah perbedaan orang yang berakal dan orang yang tidak berakal. Dari segi militer , ternyata Malaysia tidak mungkin sekuat Indonesia apalagi orangnya tidak seramai orang Indonesia dan negaranya lebih kecil. Malaysia dalam keadaan militernya yang kecil pula tidak pernah takut kepada peperangan kerana ianya dibawah perjanjian komanwel iaitu persatuan negara negara jajahan british di mana jika terjadi penjajahan terhadap mana mana negara komanwel maka negara negara persatuan itu akan mengantar tentera nya untuk membantu negara itu. tetapi sebaiknya biarlah di bawa ke mahkamah dunia untuk di tuntaskan permasalahan tersebut. Marilah kita bermesyuarah dahulu. Massalam. Malindo man

  47. Ajie on Kam, 20th Nop 2008 10:00
  48. Sialan gila maling..!!
    Kami dan rekan2 relawan dri sluruh penjuru NKRI udh nunggu kpn kita perang dgn malingsial.gak prl pake bedil cukup pake palu buat palu muka2 badut malingsial.ni aku udh standby d nunukan.kami siap ikhlas jiwa raga buat NKRI.ganyang malaysia!! MERDEKA!!!

  49. Ajie on Kam, 20th Nop 2008 13:31
  50. Semua bayi d lahirkan d wil NKRi adalah pejuang sejati.ini mslh harga diri bangsa indonesia.apa peduli kita serumpun jk malaysia rakus setan keparat.saudara sekandung aja dpt d binasakan jika rakus.saudaraku yg jd tki d malaysia tetap siaga,dendammu terbayarkan.kalian wira wira sejati.malaysia hentikan kerakusanmu.sblm kami beraksi.Kami yg rakyat sivil aja ga tkt mati demi sejengkal tanah yg kau rampok.Belum lg prajurit TNI yg sllu manunggal bersama rakyat.
    Jgn anggap enteng…malaysia.. Ingat satu hal.jutaan rakyat indonesia d negaramu siap beraksi.jiwa nasionalisme dan patriotisme tdk pernah luntur sampai kiamat. Maju tak gentar…

  51. akbarindonesia on Sab, 28th Mar 2009 21:37
  52. kesalahan ada di senayan,di orang2 tukang makan duit rakyat yang namanya dpr,krna merekalah yang merancang anggaran pendapatan belanja negara.termasuk jg dwnjt anggaran belanja militer.mereka jg paham negara kita negara besar yg hrusnya punya angkatan bersenjata yang kuat dah profesional.bagaimana bisa itu terwujud jika anggaran belanja militer hanya kurang dari 50 persen kebutuhan riil.ini yang membuat indonesia lemah dimata maling sialan itu.andai ada pemimpin yang bisa membuat kita kuat dan di segani,kita plih rame2.biar kita cepat2 bisa ganyang maling sialan tu

  53. pendekar pedang iblis on Ming, 26th Apr 2009 14:16
  54. keren jg analisa na bung…

  55. kill malay on Rab, 27th Mei 2009 17:08
  56. alah, malingsia mah kayak banci, ga berani memperjuangkan kemerdekaannya, cuma boneka inggris, yg kreatif dong, jangan jadi maling.
    malingnya kebudayaan , banci.
    kalo ga ada TKI, bisa apa malingsia ?
    kalo mau perang , hayoo
    bisa apa lo malingsia ? indonesia memperjuangkan kemerdekaannya dengan gagah berani, g kayak banci yg cuma bisa ngumpet di balik bayang bayang inggris.
    negara lo di kencingin sama orang indonesia aja tenggelem hahahah
    go to hell ya damn malay !

  57. syafullah on Rab, 27th Mei 2009 17:36
  58. dasar negara WAHABI?, hampir sama kaya Arab Saudi ndablek (sok paling bener), PERANNNGGGGGGGGGGGGGGGGGGG…hehehe

  59. Abdul on Rab, 27th Mei 2009 19:59
  60. Malaysia JANCUK, GATEL, GAPLEK, DAMPUT, ASU, KIRIK, KETHEK, WEDUS, JANGKRIK,PICEK,DLL.

  61. Topan on Sab, 30th Mei 2009 21:59
  62. ambalat milik indonesia bukan malaysia, enak saja mengaku-ngaku wilyah.. tau diri dikit dong jangan bicara semena-mena…

  63. yans on Ming, 31st Mei 2009 19:31
  64. MARI putra dan putri indonesia bersatu bela tanah air bagi pemerintah juga bersifat tegas jangan ngalah mulu lama2 kita ngalah diremehkan bahkan diinjak sedikit2 lama2 mati. Mari kita bela tanah tumpah darah leluhur kita bila perlu dengan tumpahan darah sekalipun… ingat Bangsa Indonesia itu besar BANGUN BANGUNLAH NEGERIKU bangunkan anak negeri pertiwi ini…. bagi para pemuda indonesia yang jago sofware atau apalah coba kita alihkan kreatifitas kita untuk bangsa kalau kamu hacker pergunakan untuk menusuk lawan… yang pura2 jadi teman. Paranormal maupun apalagi bergabunglah demi tidak kurangnya bumi pertiwi ini yang sudah lama akan dikikis sedikit demi sedikit oleh musuh yang masih doyan maen ke negeri ini.

  65. iki on Sen, 1st Jun 2009 22:21
  66. MALAYSIA kamu sudah lihat bukan bagaimana keprihatinan WARGA kami terhadap kamu!!!
    Coba kamu bayangkan, setiap orang Malaysia yg berada di Indonesia sedari dulu, pasti selalu mendapatkan service, pelayanan, keramahan dr kami. KALIAN harus ingat itu!! Artis2 Malaysia yg dtg ke Indonesia, selalu mengatakan orang2 Indonesia sgt lah ramah. Mereka merasa nyaman di Indonesia.
    Tetapi warga kami yg di MALAYSIA, kalian lihat, banyak sekali penyiksaan2 terhadap TKI kami!!! Itu menunjukkan betapa sombongnya kalian, menganggap rendah martabat kami. Contoh Manohara, kalian lihat lah. Siksaan yang dia dapatkan disana. Selain fisik, khususnya batin. Tidak ada tempat untuk mengadu. Cuma dia diharuskan bersandiwara di depan publik Malaysia supaya tetap tampil tersenyum. Dan itu semua demi Malaysia dia lakukan.
    Tetapi tentunya Warga kami tidak lah terima!!
    Cobalah kalau kamu rasakan, kalau kamu yang di posisi Manohara. Apakah kamu akan bisa tetap bertahan???

    Beberapa penduduk Malaysia yg kuliah di kampus saya dulu, kami perlakukan dgn baik & akrab. Mrk senang sekali dgn kami. Tetapi ketika mendengar TKI2 kami diperlakukan dgn kejam, apakah kami bisa terima.
    Disini kami memperlakukan warga kalian dgn baik2, tetapi warga kami kalian perlakukan dgn tdk manusiawi?!?!?
    Bagaimana kalau kalian yang berada di posisi kami, coba bayangkan pahitnya?!??!
    Tidak adil rasanya!!!
    Kalo kami berniat jahat, bisa saja kami lampiaskan dendam kami kepada mahasiswa2 Malaysia itu di kampus kami.. Tetapi kami tidak melakukan nya, krn kami masih mempunyai hati & perasaan. Tidak tega rasanya melampiaskan nafsu kami ,krn mahasiswa2 Malaysia itu datang ke Indonesia untuk mencari Ilmu.

    Itu saja untuk kalian Warga Malaysia pertimbangkan!!! Coba jgn lah serakah, hanya melihat dr satu sisi kepentingan kalian saja. Coba kalo kamu merasakan di posisi kami, rasanya SAKIT kawan!!!
    Dan sangat wajar kalau respon dr orang2 di web ini sgt lah ekstrim, krn ini adalah masalah martabat bangsa!! Sekali lagi kalau kamu yg ada di posisi kami, apa yg kamu lakukan?!?! Tentunya sama bukan.

    Satu hal yang membedakan antara Ind-Malaysia dari sisi sejarah. Kalian lebih beruntung dijajah oleh Inggris, sedangkan kami dijajah Belanda. Kami memperoleh kemerdekaan dan lepas dari Belanda, krn benar2 dr darah perjuangan kami, sampai kami bisa mengusir Belanda!! Sedangkan kalian seperti disuapin makanan oleh Inggris (dimanja seperti bayi). Coba bayangkan kalau kalian dijajah oleh Belanda dulu, saya tidak yakin negara kalian selamat saat ini. Tidak bisa dipungkiri Malaysia bisa lebih baik, karena negara kalian tidak lepas dari bayang2 Inggris & support dr Inggris!!! Sedangkan negara kami benar2 mandiri, tidak mendapatkan support dari Belanda ketika mereka lepas dari Indonesia. Belanda tidak mewariskan apa2 yg bisa membantu negara kami maju.

    Itulah kenapa saya mengatakan, dari segi Sumber Daya Manusia / individu nya, Warga Negara kami jauh lebih briliant otaknya dibandingkan kalian. Banyak org2 pintar dari Indonesia di tahan di Negara USA, krn mereka Jenius. Warga kami disana direkomendasikan oleh USA, untuk menjadi Warga Negara USA. Kalau orang Malaysia,cuma jago di kandang nya saja. Tidak mempunyai jiwa merantau ke negeri orang, seperti yg warga kami miliki !!! KEBERANIAN untuk berjuang di negeri orang lain, itulah yg membedakan kami dengan Malaysia.

    GB-us

  67. Budi Santosa on Sel, 2nd Jun 2009 10:00
  68. Serbu, Tembak, ganyang Malingsia, Maju Terus Pantang mundur, NKRI Harga mati

  69. Ganyang Malingsia on Rab, 3rd Jun 2009 18:42
  70. Contoh dari perilaku tuannya ‘nggak jauh ‘ngembat putri Indonesia dari TKW ampe Manohara, eh wilayah indonesia juga mau diembat……..yang kayak gini mending dimatiin aja pites cucakrawanya….jadiin rujak cingur atau tempe penyet

  71. Firman idle on Kam, 4th Jun 2009 08:00
  72. Sadar lah kau malay….
    Jgn lah kau rakus akan SDA Negara kami
    Buangsat lo malay

  73. Indonesia is my lovely country on Kam, 4th Jun 2009 12:12
  74. Flashback (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Ambalat)

    Ambalat adalah blok laut luas 15.235 kilometer persegi yang terletak di laut Sulawesi atau Selat Makassar

    Persoalan yang timbul setelah pada tahun 1967 pertama kali dilakukan pertemuan teknis hukum laut antara Indonesia dan Malaysia kedua belah pihak akhirnya sepakat (kecuali Sipadan dan Ligitan diberlakukan sebagai keadaan status quo lihat: Sengketa Sipadan dan Ligitan) kemudian pada tanggal 27 Oktober 1969 dilakukan penanda tanganan perjanjian antara Indonesia dan Malaysia disebut sebagai Perjanjian Tapal Batas Kontinental Indonesia – Malaysia, kedua negara masing-masing melakukan ratifikasi pada 7 November 1969, tak lama berselang masih pada tahun 1969 Malaysia membuat peta baru yang memasukan pulau Sipadan, Ligitan dan Batu Puteh (Pedra blanca) tentunya hal ini membingungkan Indonesia dan Singapura dan pada akhirnya Indonesia maupun Singapura tidak mengakui peta baru Malaysia tersebut. Kemudian pada tanggal 17 Maret 1970 kembali ditanda tangani Persetujuan Tapal batas Laut Indonesia dan Malaysia , akan tetapi, kembali pada tahun 1979 pihak Malaysia kembali membuat peta baru mengenai tapal batas kontinental dan maritim dengan serta merta menyatakan dirinya sebagai negara kepulauan dan secara sepihak membuat perbatasan maritimnya sendiri dengan memasukan blok maritim Ambalat kedalam wilayahnya yaitu dengan memajukan koordinat 4° 10′ arah utara melewati pulau Sebatik. Tentu peta inipun sama nasibnya dengan terbitan Malaysia pada tahun 1969 yaitu diprotes dan tidak diakui oleh pihak Indonesia dengan berkali-kali pihak Malaysia membuat sendiri peta sendiri padahal telah adanya perjanjian Perjanjian Tapal Batas Kontinental Indonesia – Malaysia tahun 1969 dan Persetujuan Tapal batas Laut Indonesia dan Malaysia tahun 1970, masyarakat Indonesia melihatnya sebagai perbuatan secara terus menerus dari pihak Malaysia seperti ingin melakukan ekspansi terhadap wilayah Indonesia.

    Kalau kita lihat fakta di atas, negara Malaysia tidak konsisten dengan apa yang telah disepakatinya. Perjanjian antar negara tentunya bukan suatu hal yang main-main dan negara Malaysia tidak bisa sekehendak hatinya secara sepihak melanggar perjanjian tersebut.

    Kalau kita tilik lebih jauh lagi, tidak bisa disalahkan mengapa sekarang jadi timbul stigma negatif dan rasa sentimen terhadap bangsa Malaysia oleh banyak masyarakat Indonesia. Sikap tersebut tumbuh karena buah dari perbuatan Malaysia sendiri. Bukan hanya dari kasus Ambalat tersebut di atas, banyak perlakuan dan tindakan bangsa Malaysia yang menyebabkan semua itu.

    Mulai dari perlakuan yang tidak manusiawi terhadap warga negara Indonesia yang bekerja atau tinggal di Malaysia, pemberitaan media Malaysia yang tidak seimbang dan proporsional lebih banyak menggembar gemborkan sisi negatif pekerja Indonesia di Malaysia dibanding sis positifnya sehingga yang ada di benak masyarakat Malaysia WNI yang ada di Malaysia tersebut hanya yang jelek-jeleknya saja, pengeroyokan pelatih karate Indonesia yang sedang mengikuti kegiatan resmi di Malaysia, klaim budaya, dan lain sebagainya. Apakah itu menunjukkan perilaku asli bangsa Malaysia atau karena euforia suatu bangsa yang baru merasakan seakan-akan lebih baik atau hebat dari bangsa lain…?

    Selama bangsa Malaysia tidak bisa konsisten dan menghargai bangsa lain, jangan harap untuk dapat di hargai oleh bangsa lain juga.

    Sebagai warga negara Indonesia dahulu saya bangga jika dikatakan bahwa Indonesia dan Malaysia adalah bangsa serumpun. Bangga ketika ada pemimpin muslim yang mau bersuara lantang membela kaum muslim dibelahan bumi lain ketika mereka diperlakukan tidak adil. Namun kebanggan akan satu rumpun tersebut perlahan-lahan lenyap dengan sikap bangsa Malaysia tersebut.

    Sekarang abad ke-21, era globalisasi. Bukan lagi jaman imperialis, bukan seperti permainan game age of empire, bangun negara sehebat-hebatnya dengan caplok sebanyak-banyaknya wilayah dan kekayaan bangsa lain. Janganlah karena dahulu bekas dijajah oleh kaum imperialis, jadi mau mencoba-coba bersikap imperialis,……Sipadan Ligitan kita tidak permasalahkan lagi, tetapi jangan pula sudah dikasih hati mau rempala, sudah di kasih kaki mau kepala…….,

    Jangan karena sudah merasa lebih hebat atau kuat (?) jadi merasa angkuh, merasa lebih maju, lebih makmur, lebih kaya, bersikap meremehkan dan tidak menghargai bangsa lain. Bangsa Indonesia tidak pernah dan tidak akan pernah takut kepada bangsa manapun atau siapapun di dunia ini kecuali kepada Allah SWT. Bagi bangsa Indonesia wajib hukumnya mempertahankan rumah sendiri dari tamu yang tidak diundang yang bermaksud jahat.

    Sekali lagi, cobalah untuk bersikap konsisten, saling menghargai, tidak bertindak sepihak terhadap kesepakatan yang telah disetujui dan diratifikasi bersama, tidak merasa lebih superior, lebih kuat, lebih hebat, lebih makmur yang bermuara kepada sikap menganggap remeh dan merendahkan martabat sesama manusia dan negara lain. Allah SWT tidak memandang seseorang dari kehebatannya, kekayaannya, kecantikkannya dan lain sebagainya, tetapi hanya dari ketaqwaannya.

  75. DEWA on Kam, 4th Jun 2009 18:33
  76. Banyak yg menyimpang koment dr topik dimana sang penulis menampilkan fisi dari media yg terkandung dari tajuk berita.artikel penulis cukup bagus dimana kita masyarakat dibawa untuk menilai dg baik setiap tajuk berita.tapi kalau salah satu pulau di indonesia ada yg mencoba merebut wajiblah rakyat untuk membela seperti yg terkandung dalam UUD 1945 termasuk jg wartawan yg mengobarkan semangat patriotik dg karya karya jurnalisnya .itu adalah usaha patriotik alami wartawan sbg warga indonesia.seperti tentara mengangkat senjata, bloger dg artikelnya ,dan jg masyarakat dg semangat jihatnya .pastilah semua informasi ada 2 sisi baik dan buruk

  77. yoto on Kam, 4th Jun 2009 19:47
  78. Dulu malaysia kan punya Majapahit, sekarang diganyang saja( gak usah pake nasi ).

    Saya punya pengalaman, waktu transit di KLIA mau ke UK, nada pertanyaan petugas Imigrasi malingsia memang gak enak!!MALAYSIA, MALINGSIA, YOU ARE THIEF, AREN’N YOU?GREEDY,HUNGRY FOR OIL,CULTURE,WOOD! MALAYSIA THE thrue ROBBER IN ASIA.

  79. ika^ on Kam, 4th Jun 2009 21:53
  80. menurut saya sbg org indonesia kta harus mendukung pemerintah agar jgn sampai harga diri kita diinjak-injak lagi sprti pda kasus sipadan-lingitan. namun saya pikir sengkata ini tidak seharusnya merusak hub kita dgn malaysia mengingat tidak smua org malaysia itu “rakus”, ada yang netral bahkan tidak tahu sama sekali tntang masalah ini apalagi kita masih serumpun(tidak peduli malaysia mengindahkannya atau tidak). negara bersengkat, rakyat tidak perlu ikut-ikutan kan?

  81. Satria Nusantara on Jum, 5th Jun 2009 10:05
  82. Jiwa dan Raga, darah dan air mata, siap untuk Ambalat! Hancurkan Malaysia!

  83. uyan on Ming, 7th Jun 2009 20:47
  84. bila perlu kekerasan lakukan saja ga perlu khawatir kita siap melakukan yang terbaik buat negara kita tercinta,mau serumpun ke mau apa ke,kita yang di jakarta aja udah ga saling kenal buat apa mikirin yang di luar negeri,kalo perlu sikat habis aja ga usah di sisain deh.

  85. pemuda indonesia on Sen, 8th Jun 2009 21:52
  86. ini pesan penting………..
    kita orag indonesia bukan seperti yang anda kira…….negara indonesia adalah berdasarkan asas kebineka tunggal ika……….jika nega kalian di dirikan berdasar kerajaan yang bersatu negara di dirikan atas dasar kekeluargaan dari sabang sampai merauke……jika kalian hanya menilai jakarta karena kemiskinannya anda salah……indonesia bukanlah jawa, tapi jawa adalah indonesia….anda tidak punya hak menilai sesuatu berdasar apa yang anda lihat sekejap…yang benar yang terjadi sekarang adalah negara kami siap perang dengan anda banhkan untuk membuat kekuatan militer kami kuat negara kami telah melalukan pembelian senjata senilai 1 milyar dolar pada tahun 2008 untuk meningkatkan pertahanan, baik laut,darat, dan udara…….

    anda kami terima di negara kami dengan baik sebagai sahabat tapi jika anda mau mengobrak – abrik rumah kami ( Rumah persatuan indonesia dari sabang sampai merauke) igat kami akan melawan. dan ingat sejarah mencatat negara anda merdeka karena atas persetujuan inggris tapi negara kami merdeka dengan pengorbanan nyawa dan darah….jadi kami tidak takut dan gentar kalau harus berperang dengan negara anda………

    ttd

    pemuda indonesia

  87. Idosialan on Sel, 9th Jun 2009 15:25
  88. Ha..kamu semua syok sendiri aja.
    Bila berperang kamu2 semua yg lari menyorok bawak ketiak mak kamu. dasar bangsa Indosilan brensek..

  89. costacurta on Rab, 10th Jun 2009 00:21
  90. jiwa dan raga akan ku pertahankan malaysia

  91. costacurta on Rab, 10th Jun 2009 01:02
  92. isu ambalat diperbesar disebabkan jumlah koran yang terjual akan laris dan mendapat keuntungan yang bagus bagi syarikat koran tersebut…sebenarnya isu ambalat di malaysia hanya sepi….cuma ianya memanas di indonesia…percayalah… malaysia tidak akan mencerobohi kedaulatan indonesia…cuma kawasan ambalat merupakan kawasan yang bertindih…. bellum ditetapkan sempadannya….tidak tau siapa pemilik…kalau dikira kawasan tersebut lebih dekat dengan pantai sabah berbanding pulau2 di indonesia….

  93. costacurta on Rab, 10th Jun 2009 01:47
  94. mana boleh hancurkan malaysia…malaysia juga punya senjata dan rakyat yang akan mempertahankan negara hingga ketitisan darah terakhir….kalau gitu sama-sama mati…tiada pemenang….jangan sampai pulau2 lain sama seperti timur timor yang sudah terlepas kerana rakyat indonesia asyek refomasi jalanan…. nanti pulau2 yang lain akan terlepas jugak… damai lagi baik kan…..

  95. costacurta on Rab, 10th Jun 2009 01:50
  96. manusia yang kata orang maling sebenarnya dia yang maling….ramai rakyat indon datang ke malysia baik2 dan ada ramai yang jahat…jadi perampok jugak…kan namanya maling jugak gitu…

  97. costacurta on Rab, 10th Jun 2009 01:59
  98. ramai jugak rakyat indon jadi PATI (pendatang secara tidak sah…ramai yang mati lemas sebab bot bocor… ikut bancian oleh jabatan imegresen malaysia, seramai 13000 PATI dari indonesia ke Malaysia secara tidak sah setiap bulan…itu kan dinamai menceroboh kedaulatan Malaysia… macam mana mau cakap??? ramai rakyat indonesia yang ada di malaysia secara sah adalah lebih dari 2 juta orang… dan ramai yang sudah jadi warganegara malaysia… dan ada yang berkahwin dengan rakyat malaysia… tapi seramai 8000,000 rakyat indonesia datang dan kerja secara tidak sah…datang secara menceroboh negara malaysia….itu kan dinamakan pencerobohan kedaulatan malaysia jugak??? jadi jangan pandai2 cakap malaysia menceroboh…. kawasan ambalat adalah kawasan yang kedaulatan malysia-indon yang bertindih, belum tau siapa punya wilayah ini…kalau nak diukur, ambalat lebih dekat dengan sabah…zon esklusif kedaulatan malaysia…jadi kawasan tuntutan yang bertindih siapa2 berhak masuk ke kawasan ambalat…jangan dikata malaysia menceroboh kedaulatan indonesia…

  99. costacurta on Rab, 10th Jun 2009 02:11
  100. Jangan asyek hanya membakar bendera sahaja….bakarlah..malysia ngak apa2…Malaysia tercinta walaupun kecil, namun kecil2 macam cili api….besar dan ramai tidak semestinya gagah…. sukarno dulu jugak ingin ganyang malaysia…tapi ramai army indonesia yang kena tangkap dan dibunuh oleh army malaysia…. indonesia mengalami kekalahan yang amat dasyat pada masa konfrantasi ….kalau lu hendak tahu…lu kena baca sejarah di malaysia yang sebenarnya, boleh tanya dengan vetran perang malaysia…bukan hanya dengar sejarah indonesia sahaja…yang buruk semestinya ditutupi….. Malaysia jugak satu2 negara di dunia yang dapat menewaskan komunis yang didokong negara besar cina…. tidak seperti indonesia… ancaman belanda jauh di europa…dari segi logistik pun belanda sudah kalah… tapi di malaysia… ancaman datang terus dari komunis berbangsa cina yang ingin merampas kuasa dari ketuanan melayu…. hidup malaysia…

  101. costacurta on Rab, 10th Jun 2009 02:15
  102. simpadan dan ligitan sememangnya milik malaysia zaman berzaman… malaysia mempunyai rekod2 lama yang menjelaskan bahawa simpadan dan ligitan sememangnya kepunyaan abadi malaysia… indonesia menuntut simpadan dan ligitan apabila mengetahui pulau ini kaya dengan dasar laut yang indah…tapi orang2 malaysia merupakan penduduk asal pulau2 ini….boleh rujuk sejarah kedaulatan pulau2 ini di arkib…

  103. costacurta on Rab, 10th Jun 2009 02:27
  104. bangsa yang tidak bermaruah adalah bangsa yang lemah dan miskin…ayuhlah rakyat malaysia dan indonesia…kalau mau dihormati sama-sama berkerja lebih kuat…jangan hanya ingin protes jalanan..refomasi jalanan…politik jalanan…rusuhan jalanan…buang masa di jalanan…kerja lebih kuat…jangan hanya asyek bermusuhan…bakar bendera sana dan sini..asyek melaung-laungkan dan menjerit2 kesalahan orang…tapi tidak tahu apa yang di perbuatnya….malas nak berkerja, asyek membuang masa protes sana, dan sini, refomasi sana dan sini…. buat rusuhan sana dan sini…masalah akan bertambah….negara anda akan semakin mundur kebelakang di tinggalkan jauh ke hadapan oleh bangsa2 yang kuat berkerja… jangan jadi ayam jantan…berkokok kuat tetapi ekornya penuh tahi….jadilah bangsa bermaruah…dengan kejayaan demi kejayaan bukan refomasi sana sini, rusuhan sana sini…ayuh bangun nusantara….bugis, jawa, banjar, muluku, flores, batak, iban, bidayuh,minado…dan lain2 itukan besarnya MELAYU… kalau di Malaysia…semuanya dipanggil MELAYU…jangan berpuak2 bersatu menegakkan MELAYU bukannya layu…

  105. oji on Kam, 11th Jun 2009 16:41
  106. Kalau saya membaca komentar dari orag malaysia terlihat sekali mereka itu sombong (takabbur) dan keras kepala. Gak tahu saudara serumpun seperti itu kayaknya saudara tiri yang tak bisa memahami saudar-saudara lainnya. Hai orang malaysia, cakapnya yang enak ya. jangan asal cuap-cuap-cuap…..

  107. Indonesia is my lovely country on Sel, 16th Jun 2009 16:39
  108. oiii costarika, macam mane pule awak ni bilang ayam berkokok ekornya penuh tahi, kalu macam itu awak ni juge cam ayam, berkokok saje bisenya. Dimane2 tai ayamtu kelua jatuh ke bawah, tak ade jatuh lalu memantul keekornye ayam,.. barangkali ayam2 di malaysie sane kalau move a bowl kene ekornye

  109. Hamba Allah Indonesia on Jum, 21st Agu 2009 04:22
  110. Hei… @Costacurta Pejuang Malaysia yang Pemberani…

    Malaysia bertahan pada perang Indonesia dan Malaysia I (Ganyang Malaysia I),
    karena Negara muslim munafik kalian itu di bantu oleh Bangsa Kafir Penjajah ; Inggris, Australia dan New Zeland , dengan kata lain Bangsa pejuang Indonesia Raya ini berperang melawan 4 negara secara bersamaan…,itupun kami bangsa Indonesia juga bisa mengimbanginya…
    please check; http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesia%E2%80%93Malaysia_confrontation

    Dan coba kalian bayangkan kalau pada waktu itu Malaysia dan Indonesia berperang one by one,
    bisakah kalian Pikirkan apa yang bisa terjadi..!,

    Pikirkan!!!

    Hanya saja pada saat itu Allah SWT masih menyayangi bangsa SOMBONG, LICIK dan RAKUS kalian itu…

    Berhati-hatilah dengan sikap kalian wahai… saudara JAHAT kami…!

    Dari Sabang sampai Merauke, INDONESIA RAYA telah siap sedia membela tanah air nya…

    MERDEKA NKRI ku…!!!

  111. iank on Jum, 18th Sep 2009 08:59
  112. hai maLaysia……..
    inget kitta negara serumpun……..
    jangan kau bangunkan singa yang lagi tidur….
    karna semua akan hancur……

    jangan lah engkau membuat kami menjadi layaknya seorang hitLer yang menguasai daratan eropa…..
    kaLian buat kami seprti ini…
    dan inget kami bangsa indonesia bisa buat negara maLaysia Lenyap dari dunia………

Tell me what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!