<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Ya, Ekonomi Indonesia Makin Cerah!</title>
	<atom:link href="http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/</link>
	<description>mengangkat fenomena</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Jan 2010 08:04:44 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: malik</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/comment-page-1/#comment-1041</link>
		<dc:creator>malik</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 03:07:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=28#comment-1041</guid>
		<description>M. roslan......tdk usah diberi tanggapan.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>M. roslan&#8230;&#8230;tdk usah diberi tanggapan&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: malik</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/comment-page-1/#comment-1040</link>
		<dc:creator>malik</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 02:52:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=28#comment-1040</guid>
		<description>satu yang kita butuhkan dalam segala bidang adalah militer yang kuat dan demokrasi yang terjaga dengan baik.....dimana butuh pemimpin yang tegas dan lugas dalam menjalankan tugas dan jujur serta ikhlas dalam mengemban amanah sebagai pemimpin.
indonesia cukup dalam segala hal tapi bagaimana kita dapat menumpas korupsi kita terlebih dahulu.....jika selalu ada mr.x yang selalu hadir menghalangi. jangan sampai kita maju tapi bobrok....seperti VOC yang bangkrut karena korupsi.
saya selalu cinta indonesia dalam lubuk hati.....kritikku untuk majunya indonesia.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>satu yang kita butuhkan dalam segala bidang adalah militer yang kuat dan demokrasi yang terjaga dengan baik&#8230;..dimana butuh pemimpin yang tegas dan lugas dalam menjalankan tugas dan jujur serta ikhlas dalam mengemban amanah sebagai pemimpin.<br />
indonesia cukup dalam segala hal tapi bagaimana kita dapat menumpas korupsi kita terlebih dahulu&#8230;..jika selalu ada mr.x yang selalu hadir menghalangi. jangan sampai kita maju tapi bobrok&#8230;.seperti VOC yang bangkrut karena korupsi.<br />
saya selalu cinta indonesia dalam lubuk hati&#8230;..kritikku untuk majunya indonesia.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Haris Mulyana @Indonesia</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/comment-page-1/#comment-254</link>
		<dc:creator>Haris Mulyana @Indonesia</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2007 18:30:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=28#comment-254</guid>
		<description>Perlu saya akui,hebat sekali encik Roslan kita yang satu ini.
beberapa reply yang dibuatnya sempat membuat saya panas.

Entah apa hebatnya yang hendak dia sampaikan,fenomena ayam kampung,TKI,economic growth dsb.

Sudah jamak dan menjadi kebiasaan,encik - encik dan puan - puan di Malaysia membutuhkan TKI,dan sudah terjadi hubungan saling membutuhkan,ya sudah,kenapa harus ribut TKI? Atau kalau tidak suka,pulangkan saja mereka.Ganti dengan bangla,nepal,thai,filipino.selesai.

Kalau kalau TKI itu lebih giat bekerja,tekun dan pintar,jangan salahkan mereka.

Yang penting PATInya harus rajin disweeping oleh RELA sesuai SOP/juklak yang ada,kemudian diproses melewati hukum dan dideportasi.Saya yakin itu akan cepat,karena system kependudukan di Malaysia adalah lebih baik ( mengingat ID anda telah memakai chip,dibanding dengan KTP ala Indonesia ) selesai.

Ayam kampung? bukankah anda sendiri yang berbicara itu ada semenjak romawi kuno,bisnis esek-esek inilah yang paling menguntungkan.Namanya juga fenomena,sudah pasti ada tauke tauke dan perempuan yang mau untung cepat.Kenapa harus ribut? berpulang dong ke nurani masing masing,mau  memakai &#039;service&#039; mereka atau tidak.

Negara hanya pembatas/ruler dengan membuat undang-undang,Kyai/Ustadz hanya berbicara,menyampaikan.Astaghfirullah,saya baca di posting lain anda tentang adanya kyai yang membolehkan adanya lokalisasi.Dimana anda membaca ini?

Posting lain anda berkehendak mencari ayam kampung seketika anda bertugas di Jakarta?Apa ini sudah menjadi kebiasaan anda? Apa anda tidak malu ber&quot;nama&quot; Mohammad Roslan? Apa anda fikir anda lebih mulia dari Charvye,Mihael,Emma?

Teman-teman kerja saya,orang malaysia kebanyakan bertendensi ke arah racist,mereka lebih cepat &amp; tanggap bila mengidentifikasi sebuah nama &amp; etnis.Bahkan mereka sempat heran,Muslim Indonesia bernama Toni atau Doni.Saya jawab bahwa itu jamak sekali dan tidak perlu dipertentangkan.

Rumah saya encik,punya tetangga,
etnis Tionghoa,Jawa,Sunda,Ambon,Batak,Bugis..dan semua saling menjaga kerukunan.

So what? Apa Abdullah itu lebih baik dari Toni dan kemudian masuk surga? anda pasti tidak sampai berfikir di fase ini bukan? Bagaimana nanti bila anda bertemu dengan, Bulent,Urhan,Eksioglu ( Moslem,Turkish) atau Lee,Chang,Moslem dari cina ?

Mengingat beberapa posting anda ditulis di Pakistan,Swedia,KL.Saya pikir anda bukanlah &#039;orang kampong&#039; yang duduk di rumah panggung sambil menikmati santapan nasi lemak.You are the one who will shift your paradigm,I believe.

Perlu saya garisbawahi bahwa sebenarnya anda tidak mempunyai topik lain lagi yang akan membuktikan kecerdasan intelektual anda atau membela kata - kata anda.Anda sudah sebenarnya mafhum,namun mungkin anda ingin membuktikan pepatah : sekali layar berkembang,pantang membuang sauh...

Mohon maaf penilaian saya,jayalah terus Indonesiaku!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Perlu saya akui,hebat sekali encik Roslan kita yang satu ini.<br />
beberapa reply yang dibuatnya sempat membuat saya panas.</p>
<p>Entah apa hebatnya yang hendak dia sampaikan,fenomena ayam kampung,TKI,economic growth dsb.</p>
<p>Sudah jamak dan menjadi kebiasaan,encik &#8211; encik dan puan &#8211; puan di Malaysia membutuhkan TKI,dan sudah terjadi hubungan saling membutuhkan,ya sudah,kenapa harus ribut TKI? Atau kalau tidak suka,pulangkan saja mereka.Ganti dengan bangla,nepal,thai,filipino.selesai.</p>
<p>Kalau kalau TKI itu lebih giat bekerja,tekun dan pintar,jangan salahkan mereka.</p>
<p>Yang penting PATInya harus rajin disweeping oleh RELA sesuai SOP/juklak yang ada,kemudian diproses melewati hukum dan dideportasi.Saya yakin itu akan cepat,karena system kependudukan di Malaysia adalah lebih baik ( mengingat ID anda telah memakai chip,dibanding dengan KTP ala Indonesia ) selesai.</p>
<p>Ayam kampung? bukankah anda sendiri yang berbicara itu ada semenjak romawi kuno,bisnis esek-esek inilah yang paling menguntungkan.Namanya juga fenomena,sudah pasti ada tauke tauke dan perempuan yang mau untung cepat.Kenapa harus ribut? berpulang dong ke nurani masing masing,mau  memakai &#8217;service&#8217; mereka atau tidak.</p>
<p>Negara hanya pembatas/ruler dengan membuat undang-undang,Kyai/Ustadz hanya berbicara,menyampaikan.Astaghfirullah,saya baca di posting lain anda tentang adanya kyai yang membolehkan adanya lokalisasi.Dimana anda membaca ini?</p>
<p>Posting lain anda berkehendak mencari ayam kampung seketika anda bertugas di Jakarta?Apa ini sudah menjadi kebiasaan anda? Apa anda tidak malu ber&#8221;nama&#8221; Mohammad Roslan? Apa anda fikir anda lebih mulia dari Charvye,Mihael,Emma?</p>
<p>Teman-teman kerja saya,orang malaysia kebanyakan bertendensi ke arah racist,mereka lebih cepat &amp; tanggap bila mengidentifikasi sebuah nama &amp; etnis.Bahkan mereka sempat heran,Muslim Indonesia bernama Toni atau Doni.Saya jawab bahwa itu jamak sekali dan tidak perlu dipertentangkan.</p>
<p>Rumah saya encik,punya tetangga,<br />
etnis Tionghoa,Jawa,Sunda,Ambon,Batak,Bugis..dan semua saling menjaga kerukunan.</p>
<p>So what? Apa Abdullah itu lebih baik dari Toni dan kemudian masuk surga? anda pasti tidak sampai berfikir di fase ini bukan? Bagaimana nanti bila anda bertemu dengan, Bulent,Urhan,Eksioglu ( Moslem,Turkish) atau Lee,Chang,Moslem dari cina ?</p>
<p>Mengingat beberapa posting anda ditulis di Pakistan,Swedia,KL.Saya pikir anda bukanlah &#8216;orang kampong&#8217; yang duduk di rumah panggung sambil menikmati santapan nasi lemak.You are the one who will shift your paradigm,I believe.</p>
<p>Perlu saya garisbawahi bahwa sebenarnya anda tidak mempunyai topik lain lagi yang akan membuktikan kecerdasan intelektual anda atau membela kata &#8211; kata anda.Anda sudah sebenarnya mafhum,namun mungkin anda ingin membuktikan pepatah : sekali layar berkembang,pantang membuang sauh&#8230;</p>
<p>Mohon maaf penilaian saya,jayalah terus Indonesiaku!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Junarto Imam Prakoso</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/comment-page-1/#comment-253</link>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 14:58:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=28#comment-253</guid>
		<description>Pendapat bahwa ekonomi Inodnesia makin cerah diungkapkan Syahrir. http://www.detikfinance.com/index.php?url=http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/10/time/194729/idnews/864987/idkanal/4
Dan Bank Indonesia
http://www.detikfinance.com/index.php?url=http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/12/time/130320/idnews/865856/idkanal/5</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pendapat bahwa ekonomi Inodnesia makin cerah diungkapkan Syahrir. <a href="http://www.detikfinance.com/index.php?url=http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/10/time/194729/idnews/864987/idkanal/4" rel="nofollow">http://www.detikfinance.com/index.php?url=http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/10/time/194729/idnews/864987/idkanal/4</a><br />
Dan Bank Indonesia<br />
<a href="http://www.detikfinance.com/index.php?url=http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/12/time/130320/idnews/865856/idkanal/5" rel="nofollow">http://www.detikfinance.com/index.php?url=http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/12/time/130320/idnews/865856/idkanal/5</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Junarto Imam Prakoso</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/comment-page-1/#comment-251</link>
		<dc:creator>Junarto Imam Prakoso</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Dec 2007 23:11:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=28#comment-251</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Bank Dunia: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2008 Capai 6,4 Persen&lt;/b&gt;

Jakarta (ANTARA News) - Indonesia diprediksi bakal mengalami kenaikan tajam pada konsumsi domestik dan investasi pada 2008 sehingga ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih cepat dari 6,3 persen pada 2007 menjadi 6,4 persen.

&quot;Kami perkirakan, momentum ekonomi dan laju petumbuhan ekonomi yang tinggi, disertai dengan kenaikan investasi pemerintah bakal dapat mempertahankan prospek positif ekonomi Indonesia pada tahun depan, meskipun ada perlambatan global,&quot; ungkap Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, Joachim von Amsberg, di Jakarta, Kamis, saat menyampaikan hasil tinjauan semesteran terbaru Bank Dunia tentang ekonomi Asia Timur dan Indonesia.

Joachim menambahkan, situasi makroekonomi yang kondusif akan membuka kesempatan reformasi pada sektor mikro. &quot;Reformasi untuk memperbaiki iklim investasi akan dapat menumbuhkan investasi dengan cepat sehingga membuka lapangan kerja baru, kompetisi yang lebih terbuka, dan kenaikan pendapatan untuk menekan kemiskinan,&quot; ujarnya.

Sementara itu, Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia William Wallace mengingatkan, masih ada resiko penurunan mengingat situasi global yang masih bergejolak.

&quot;Indonesia memang dikaruniai komoditas-komoditas dengan nilai jual tinggi di pasar yang kemudian diwujudkan dalam transaksi perdagangan sehingga mendorong pertumbuhan. Namun, di sisi lain, kenaikan harga produk yang tinggi itu terkompensasi oleh perlambatan ekonomi AS, yang menyebabkan perlambatan ekonomi dunia dan inflasi yang lebih tinggi,&quot; jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Bank Dunia mengungkapkan pertumbuhan ekonomi di negara-negara ekonomi baru di Asia Timur bakal mencapai 8,2 persen atau sedikit melambat dari 8,4 persen pada 2007 yang didorong oleh investasi dan konsumsi di China, meski perlambatan ekonomi AS akan mempengaruhi ekspor negara Asia Timur lainnya.

Ekonomi China sendiri diperkirakan bakal tumbuh 10,8 persen pada 2008, Jepang tumbuh 1,8 persen, Korea tumbuh 5,1 persen, Vietnam tumbuh 8,2 persen dan Thailand tumbuh 4,6 persen.

Ekonom Utama Bank Dunia, Vikram Nehru, mengatakan pertumbuhan cepat di Asia Timur menyebabkan penurunan tajam pada angka kemiskinan.

Menurut catatan Bank Dunia, jumlah penduduk miskin yang hidup di bawah 2 dolar AS per hari di kawasan itu turun menjadi 27 persen dari sebelumnya 29,5 persen.

Terkait kenaikan harga minyak dunia yang saat ini berada pada level di atas 90 dolar AS per barel, Bank Dunia juga mencatat adanya kenaikan permintaan di negara berkembang di kawasan itu 3-4 persen per tahun.

Tinjauan itu menyebutkan, harga rata-rata 90 dolar AS per tahun pada 2008 akan memangkas 1 persen PDB di Asia Timur. (*)
&lt;/blockquote&gt;

http://www.antara.co.id/arc/2007/11/15/bank-dunia-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2008-capai-6-4-persen/</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><b>Bank Dunia: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2008 Capai 6,4 Persen</b></p>
<p>Jakarta (ANTARA News) &#8211; Indonesia diprediksi bakal mengalami kenaikan tajam pada konsumsi domestik dan investasi pada 2008 sehingga ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih cepat dari 6,3 persen pada 2007 menjadi 6,4 persen.</p>
<p>&#8220;Kami perkirakan, momentum ekonomi dan laju petumbuhan ekonomi yang tinggi, disertai dengan kenaikan investasi pemerintah bakal dapat mempertahankan prospek positif ekonomi Indonesia pada tahun depan, meskipun ada perlambatan global,&#8221; ungkap Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, Joachim von Amsberg, di Jakarta, Kamis, saat menyampaikan hasil tinjauan semesteran terbaru Bank Dunia tentang ekonomi Asia Timur dan Indonesia.</p>
<p>Joachim menambahkan, situasi makroekonomi yang kondusif akan membuka kesempatan reformasi pada sektor mikro. &#8220;Reformasi untuk memperbaiki iklim investasi akan dapat menumbuhkan investasi dengan cepat sehingga membuka lapangan kerja baru, kompetisi yang lebih terbuka, dan kenaikan pendapatan untuk menekan kemiskinan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sementara itu, Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia William Wallace mengingatkan, masih ada resiko penurunan mengingat situasi global yang masih bergejolak.</p>
<p>&#8220;Indonesia memang dikaruniai komoditas-komoditas dengan nilai jual tinggi di pasar yang kemudian diwujudkan dalam transaksi perdagangan sehingga mendorong pertumbuhan. Namun, di sisi lain, kenaikan harga produk yang tinggi itu terkompensasi oleh perlambatan ekonomi AS, yang menyebabkan perlambatan ekonomi dunia dan inflasi yang lebih tinggi,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Dalam kesempatan itu, Bank Dunia mengungkapkan pertumbuhan ekonomi di negara-negara ekonomi baru di Asia Timur bakal mencapai 8,2 persen atau sedikit melambat dari 8,4 persen pada 2007 yang didorong oleh investasi dan konsumsi di China, meski perlambatan ekonomi AS akan mempengaruhi ekspor negara Asia Timur lainnya.</p>
<p>Ekonomi China sendiri diperkirakan bakal tumbuh 10,8 persen pada 2008, Jepang tumbuh 1,8 persen, Korea tumbuh 5,1 persen, Vietnam tumbuh 8,2 persen dan Thailand tumbuh 4,6 persen.</p>
<p>Ekonom Utama Bank Dunia, Vikram Nehru, mengatakan pertumbuhan cepat di Asia Timur menyebabkan penurunan tajam pada angka kemiskinan.</p>
<p>Menurut catatan Bank Dunia, jumlah penduduk miskin yang hidup di bawah 2 dolar AS per hari di kawasan itu turun menjadi 27 persen dari sebelumnya 29,5 persen.</p>
<p>Terkait kenaikan harga minyak dunia yang saat ini berada pada level di atas 90 dolar AS per barel, Bank Dunia juga mencatat adanya kenaikan permintaan di negara berkembang di kawasan itu 3-4 persen per tahun.</p>
<p>Tinjauan itu menyebutkan, harga rata-rata 90 dolar AS per tahun pada 2008 akan memangkas 1 persen PDB di Asia Timur. (*)
</p></blockquote>
<p><a href="http://www.antara.co.id/arc/2007/11/15/bank-dunia-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2008-capai-6-4-persen/" rel="nofollow">http://www.antara.co.id/arc/2007/11/15/bank-dunia-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2008-capai-6-4-persen/</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Utari</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/comment-page-1/#comment-252</link>
		<dc:creator>Utari</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Dec 2007 18:20:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=28#comment-252</guid>
		<description>Untuk Bung Roslan

Sya heran dengan postingan Anda, dari yang temanya berlindung di balik nama Barat mengapa jadi ke fenomena ayam kampung? Tidak konsisten.

Sudah dijelaskan oleh Bung (mbak?) Hati Nurani bahwa nama-nama di Indonesia tidak hanya terdiri dari nama asli daerah tetapi juga nama-nama serapan dari luar seperti Arab, India, dan Barat.

Jika menurut Anda memakai nama barat bukan tindakan nasionalis, bukankah dengan kebanggaan Bung (mbak?) Charvye dengan menyatakan dirinya bangsa Indonesia dengan etnis Tionghoa sudah cukup menunjukkan ke-nasionalisme-annya tersebut? Nama tidak menjadi persoalan karena walaupun ia bernama barat tetapi sesungguhnya ia memang seorang Indonesia yang mempunyai kebanggaan terhadap negaranya, seperti kata Shakespeare, &#039;Apalah artinya sebuah nama?&#039; yang terpenting adalah pribadi di balik nama tersebut.

Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, jadi saya tidak melihat poin Anda yang menyatakan bahwa ia maupun orang Indonesia lain yang memakai nama barat bukanlah seorang nasionalis sejati.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Bung Roslan</p>
<p>Sya heran dengan postingan Anda, dari yang temanya berlindung di balik nama Barat mengapa jadi ke fenomena ayam kampung? Tidak konsisten.</p>
<p>Sudah dijelaskan oleh Bung (mbak?) Hati Nurani bahwa nama-nama di Indonesia tidak hanya terdiri dari nama asli daerah tetapi juga nama-nama serapan dari luar seperti Arab, India, dan Barat.</p>
<p>Jika menurut Anda memakai nama barat bukan tindakan nasionalis, bukankah dengan kebanggaan Bung (mbak?) Charvye dengan menyatakan dirinya bangsa Indonesia dengan etnis Tionghoa sudah cukup menunjukkan ke-nasionalisme-annya tersebut? Nama tidak menjadi persoalan karena walaupun ia bernama barat tetapi sesungguhnya ia memang seorang Indonesia yang mempunyai kebanggaan terhadap negaranya, seperti kata Shakespeare, &#8216;Apalah artinya sebuah nama?&#8217; yang terpenting adalah pribadi di balik nama tersebut.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, jadi saya tidak melihat poin Anda yang menyatakan bahwa ia maupun orang Indonesia lain yang memakai nama barat bukanlah seorang nasionalis sejati.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Mohd</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/comment-page-1/#comment-250</link>
		<dc:creator>Mohd</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Nov 2007 16:15:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=28#comment-250</guid>
		<description>Mbak emma, hummp marah nampaknya, Roslan ini mungkin juga anak idiot dalam kacamata orang Indonesia kerana banyak mengkritis cara berfikir beberapa orang yang ada dalam blog ini.

Saya melihatkan banyak &#039;bias&#039; dalam penulisan anda semua terhadap Malaysia, banyak tenaga muda dibuang2 hanya sekadar untuk berdemostrasi di Kedutaan Malaysia di Indonesia, sedangkan tenga muda anada semua itu kalau disalur ke bidang industri mungkin boleh menghasilkan pulangan yang lumayan.

Saya akui nama saya Mohd Roslan, dan itu dikenal di Malaysia dan ini membawa imej Melayu Islam, jadi apa yang perlu saya perhitungkan? Adakah saya bersalah kerna memakai nama itu? yang saya persoalkan adalah nama yang dipakai adalah nama rekaan dan berselindung balik nama asing.
Cuba lihat nama ini,  adakah ini nama sebenar atau nama samaran kerana merasa inferior dengan nama jawa atau sebaliknya.

Condro Triono-Kusdawarjo mungkin ini nama jawa tapi nama dibawah ini bukan dong. Apakah kerana takut dengan nama Jawa makan nama English yang jadi pilihan.

Mihael “D.B.” Ellinsworth
Charvye

Kalaupun ayah saya  bukan nasionalis apa masalahnya? Tapi saya tidak malu menggunakan nama itu. Nama itu menggambarkan saya yang sebetulnya. So EMMA ini namanya apa ya- mungkin mbak marsinah, retnabugiowan.
Sih kenapa suka berselindung dibalik nama English. Mana Indonesiamu.

Mungkin anda tidak betah dgn sejarah Malaysia mungkin, yang perlu dilaungkan adalah GAYANG MALAYSIA, Malaysia tidak patriotik dan nasionalis. Itu yang anda bisa kumandangkan tapi anda tidak bisa menyelamat ABG-ABG, yang bisa diGANYANG OLEH ORANG MALAYSIA di LOKALISASI dan datang ke kamar hotel. Dengan Rupiah satu juga, lelaki Malaysia bisa mengayang ABG-ABG ini. Di hotel saya kelmarin, ada ABG genit2 yang menawarkan kehormatan dengan Rupiah 1 juta, ada beberapa Englishman mengambil khidmat mereka.

Realiti ayam kampung ini satu fenomena besar dong,kerana apa, katanya tekanan ekonomi. Jadi EMMA sebagai seorang yang bijak juga perlu selamatkan dulu ABG (ayam kampung) ini. Jangan biarkan kerana ekonomi rela diri digayang.

Mbak Emma juga kena faham, pengunjung blog ini relatifnya sedikit, jadi tidak ramai (tak sampai 100orang sehari). Mungkin ini pandangan segelintir rakyat Indonesia, bukan semacam tokoh konglomerat Indonesia yang saya temui kelmarin. Rata-ratanya berfikiran agak global tentang isu indonesia dan Malaysia, dan ada yang pernah menetap di Malaysia hampir 20 tahun. Mereka berpendapat bahawa dalam perubahan ekonomi Indonesia, untuk menghapuskana kadar kemiskinan yang membengkak, mereka perlukan transformasi sementara untuk mengurangkan kemiskin dengan mengeksport TKI, ke Sabah, Serawak, Semenanjung Malaysia, Arab, Singapura. Tapi kerana ramai TKI tidak mampu berbahasa Inggeris maka mereka lebih senang kalau &#039;absorber&#039; itu adalah Malaysia, Brunai, Sabah dan Sarawak yang mempunyai hubungan ras dan bahasa yang tidak rumit untuk difahami.

Anggaran kasar dari seorang ekonom, kalau ekonomi indonesia berterusan berkembang, dalam masa 15-20 tahun baru sektor kerja mencukupi di Indonesia. Jadi dengan kata lain Indonesia perlukan negara lain TKI ini mendapatkan kerja. Ini realiti yang perlu kita lihat dong.
Ketemu saya tidak apa saya tidak pernah kejam kepada perkerja saya, cina, melayu, india, indonesia,  Kerna saya waras.

Apa EMMa sudah ke Malaysia? kalau belum mbak boleh datang dan lihatlah sendiri, bandingkan Bandara Changkering dan Bandara KLIA. Pasti anda akan dapat rasakan apa itu erti sebuah kemajuan material.

Selamat berfikir untuk menyelamatkan Indonesia dan puterinya sekali.

RoslanK
Denmark.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mbak emma, hummp marah nampaknya, Roslan ini mungkin juga anak idiot dalam kacamata orang Indonesia kerana banyak mengkritis cara berfikir beberapa orang yang ada dalam blog ini.</p>
<p>Saya melihatkan banyak &#8216;bias&#8217; dalam penulisan anda semua terhadap Malaysia, banyak tenaga muda dibuang2 hanya sekadar untuk berdemostrasi di Kedutaan Malaysia di Indonesia, sedangkan tenga muda anada semua itu kalau disalur ke bidang industri mungkin boleh menghasilkan pulangan yang lumayan.</p>
<p>Saya akui nama saya Mohd Roslan, dan itu dikenal di Malaysia dan ini membawa imej Melayu Islam, jadi apa yang perlu saya perhitungkan? Adakah saya bersalah kerna memakai nama itu? yang saya persoalkan adalah nama yang dipakai adalah nama rekaan dan berselindung balik nama asing.<br />
Cuba lihat nama ini,  adakah ini nama sebenar atau nama samaran kerana merasa inferior dengan nama jawa atau sebaliknya.</p>
<p>Condro Triono-Kusdawarjo mungkin ini nama jawa tapi nama dibawah ini bukan dong. Apakah kerana takut dengan nama Jawa makan nama English yang jadi pilihan.</p>
<p>Mihael “D.B.” Ellinsworth<br />
Charvye</p>
<p>Kalaupun ayah saya  bukan nasionalis apa masalahnya? Tapi saya tidak malu menggunakan nama itu. Nama itu menggambarkan saya yang sebetulnya. So EMMA ini namanya apa ya- mungkin mbak marsinah, retnabugiowan.<br />
Sih kenapa suka berselindung dibalik nama English. Mana Indonesiamu.</p>
<p>Mungkin anda tidak betah dgn sejarah Malaysia mungkin, yang perlu dilaungkan adalah GAYANG MALAYSIA, Malaysia tidak patriotik dan nasionalis. Itu yang anda bisa kumandangkan tapi anda tidak bisa menyelamat ABG-ABG, yang bisa diGANYANG OLEH ORANG MALAYSIA di LOKALISASI dan datang ke kamar hotel. Dengan Rupiah satu juga, lelaki Malaysia bisa mengayang ABG-ABG ini. Di hotel saya kelmarin, ada ABG genit2 yang menawarkan kehormatan dengan Rupiah 1 juta, ada beberapa Englishman mengambil khidmat mereka.</p>
<p>Realiti ayam kampung ini satu fenomena besar dong,kerana apa, katanya tekanan ekonomi. Jadi EMMA sebagai seorang yang bijak juga perlu selamatkan dulu ABG (ayam kampung) ini. Jangan biarkan kerana ekonomi rela diri digayang.</p>
<p>Mbak Emma juga kena faham, pengunjung blog ini relatifnya sedikit, jadi tidak ramai (tak sampai 100orang sehari). Mungkin ini pandangan segelintir rakyat Indonesia, bukan semacam tokoh konglomerat Indonesia yang saya temui kelmarin. Rata-ratanya berfikiran agak global tentang isu indonesia dan Malaysia, dan ada yang pernah menetap di Malaysia hampir 20 tahun. Mereka berpendapat bahawa dalam perubahan ekonomi Indonesia, untuk menghapuskana kadar kemiskinan yang membengkak, mereka perlukan transformasi sementara untuk mengurangkan kemiskin dengan mengeksport TKI, ke Sabah, Serawak, Semenanjung Malaysia, Arab, Singapura. Tapi kerana ramai TKI tidak mampu berbahasa Inggeris maka mereka lebih senang kalau &#8216;absorber&#8217; itu adalah Malaysia, Brunai, Sabah dan Sarawak yang mempunyai hubungan ras dan bahasa yang tidak rumit untuk difahami.</p>
<p>Anggaran kasar dari seorang ekonom, kalau ekonomi indonesia berterusan berkembang, dalam masa 15-20 tahun baru sektor kerja mencukupi di Indonesia. Jadi dengan kata lain Indonesia perlukan negara lain TKI ini mendapatkan kerja. Ini realiti yang perlu kita lihat dong.<br />
Ketemu saya tidak apa saya tidak pernah kejam kepada perkerja saya, cina, melayu, india, indonesia,  Kerna saya waras.</p>
<p>Apa EMMa sudah ke Malaysia? kalau belum mbak boleh datang dan lihatlah sendiri, bandingkan Bandara Changkering dan Bandara KLIA. Pasti anda akan dapat rasakan apa itu erti sebuah kemajuan material.</p>
<p>Selamat berfikir untuk menyelamatkan Indonesia dan puterinya sekali.</p>
<p>RoslanK<br />
Denmark.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: emma</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/comment-page-1/#comment-232</link>
		<dc:creator>emma</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Nov 2007 21:03:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=28#comment-232</guid>
		<description>Bung Roslan,

Ketika anda sudah kehabisan alasan, anda memilih untuk menjatuhkan Bung Mihael dan Charvye dengan menyebut bahwa nama mereka pun berbau kebarat-baratan dan tidak nasionalis. Pemikiran anda sungguh picik, bung Roslan. Saya setuju dengan rekan saya Hati Nurani, bahwa nama bukanlah jaminan seseorang itu lebih nasionalis dari yang lain. Sebelum anda mengkritik nama orang lain, kenapa anda tidak menengok nama anda sendiri yang berbau Arab.  Kalau kami pakai logika seperti anda berlogika, pantas dong kami mempertanyakan kenapa anda sendiri tidak pakai nama yg khas Melayu, benar Melayu yah, bukan Arab. Mungkin anda akan beralasan bahwa orang tua andalah yg memberi nama itu. Nah menurut logika anda itu berarti orang tua anda itu bukan nasionalis malaysia dong?????? hehehehe lain kali kalo kasih komentar, mikir dulu bung.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bung Roslan,</p>
<p>Ketika anda sudah kehabisan alasan, anda memilih untuk menjatuhkan Bung Mihael dan Charvye dengan menyebut bahwa nama mereka pun berbau kebarat-baratan dan tidak nasionalis. Pemikiran anda sungguh picik, bung Roslan. Saya setuju dengan rekan saya Hati Nurani, bahwa nama bukanlah jaminan seseorang itu lebih nasionalis dari yang lain. Sebelum anda mengkritik nama orang lain, kenapa anda tidak menengok nama anda sendiri yang berbau Arab.  Kalau kami pakai logika seperti anda berlogika, pantas dong kami mempertanyakan kenapa anda sendiri tidak pakai nama yg khas Melayu, benar Melayu yah, bukan Arab. Mungkin anda akan beralasan bahwa orang tua andalah yg memberi nama itu. Nah menurut logika anda itu berarti orang tua anda itu bukan nasionalis malaysia dong?????? hehehehe lain kali kalo kasih komentar, mikir dulu bung.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Hati Nurani</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/comment-page-1/#comment-234</link>
		<dc:creator>Hati Nurani</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Oct 2007 17:18:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=28#comment-234</guid>
		<description>FROM WIKIPEDIA :
http://en.wikipedia.org/wiki/Malaysian_name

MALAY NAMES

Malay names are often drawn from ARABIC and follow some ARABIC naming customs, although some names have Malay, Javanese or Sanskrit origin. A Malay&#039;s name consists of a personal name, which is used to address him or her in all circumstances, followed by a patronym. Malays do not use family names. For men, the patronym consists of the word bin (from Arabic بن, meaning &#039;son of&#039;) followed by his father&#039;s personal name. Thus, if Osman has a son called Musa, Musa will be known as Musa bin Osman. For women, the patronym consists of the word binti (from Arabic بنت, meaning &#039;daughter of&#039;) followed by her father&#039;s name. Thus, if Musa has a daughter called Aisyah, Aisyah will be known as Aisyah binti Musa. Upon marriage, a woman does not change her name, as is done in some cultures.

Sometimes the first part of the patronym, bin or binti, is reduced to B. for men, or to Bt., Bte. or Bint. for women. This sometimes leads to it being taken as a middle initial in Western cultures. In general practice, however, most Malays omit the word bin or bint from their names. Thus, the two examples from the paragraph above would be known as Musa Osman and Aisyah Musa. When presented in this way, the second part of the name is often mistaken for a family name. However, when someone is referred to using only one name, the first name is always used, never the second (because you would be calling someone by his or her father&#039;s name). Thus, Musa Osman is Mr Musa (or Encik Musa in Malay), and Aisyah Musa is Mrs/Ms/Miss Aisyah (or Puan/Cik Aisyah in Malay).

Addenda to names
Often the straightforward system of naming among Malays in complicated by addenda. This is where a double name is used in place of one. The addendum is always the first part of such double names. Addenda are easily spotted as they are drawn from a restricted pool of possible names. These addenda rarely form a complete name on their own, but are almost always followed by another personal name.

The popular addenda in the Malay male names are:

Muhammad / Mohammad / Mohammed (often abbreviated to Mohd., Muhd., Md. or simply M.)
Mat (the Malay variant of Muhammad. Mat is also the casual spoken form of names ending with -mad or -mat such as Ahmad, Rahmat, Samad, etc.)
Ahmad
Abdul (as in Arabic, Abdul is not a complete name in itself, but, meaning &#039;servant of&#039;, must be followed by one of the 99 Names of God in the Qur&#039;an; for example, Abdul Haqq — &#039;servant of the Truth&#039;)
The most common addenda in the Malay female names are:

Nor / Noor / Nur / Nurul
Siti
Thus, Osman may have another son called Abdul Haqq, who is known as Abdul Haqq bin Osman, or Abdul Haqq Osman. Then he, in turn, may have a daughter called Nor Mawar, who is known as Nor Mawar binti Abdul Haqq, or Nor Mawar Abdul Haqq.

If someone has been on the Hajj, the pilgrimage to Mecca, they may be called Haji. Thus, if Musa bin Osman went on the Hajj, he could be called Haji Musa bin Osman, and his daughter Aisyah might be called Aisyah binti Haji Musa.

Some addenda are inherited Malay titles (from the paternal side of the family). These exclusively involve the aristocrats, or even the royals, and their descendants. However, some families have these addenda even though they may not be royals or aristocrats.

The examples of inherited addenda are:

Raja
Tengku
Wan
Nik
Tuan
Syed / Sharifah (for male and female, respectively)
Meor
Megat / Puteri (for male and female, respectively)
Abang / Dayang (popular in Sarawak, for male and female, respectively)

Chinese names
Traditional Chinese names are used among Malaysian Chinese. These names are usually represented as three words, for example Foo Li Leen or Tan Ai Lin. The first name is the Chinese family name, which is passed down from a father to all his children. The two other parts of the name form an indivisible Chinese given name, which almost always contains a generation name. In Western settings, the family name is sometimes shifted to the end of the name (for example, Li Leen Foo). Some Chinese also take a Western personal name (for example, David Foo).


Indian names
Officially, Malaysian Indians use a patronymic naming system combining their traditional Indian names with some Malay words. A man&#039;s name would consist of his personal name followed by the Malay phrase anak lelaki, meaning &#039;son of&#039;, and then his father&#039;s name. A woman&#039;s name would consist of her personal name followed by the Malay phrase anak perempuan, meaning &#039;daughter of&#039;, and then her father&#039;s name. The Malay patronymic phrase is often abbreviated to a/l (&#039;son of&#039;) or a/p (&#039;daughter of&#039;) and then their father&#039;s name. In many circumstances, the intervening Malay is omitted, and the father&#039;s name follows immediately after a person&#039;s given name. Following traditional practice from South India, the father&#039;s name is sometimes abbreviated to an initial and placed before the personal name. Thus, a man called Anbuselvan whose father is called Ramanan may be called Anbuselvan anak lelaki Ramanan (formal), Anbuselvan a/l Ramanan (as on his MyKad), Anbuselvan Ramanan or R. Anbuselvan. Whereas, his daughter Mathuram would be called Mathuram anak perempuan Anbuselvan (formal), Mathuram a/p Anbuselvan (as on her MyKad), Mathuram Anbuselvan or A. Mathuram. Although not recorded officially, an Indian woman may use her husband&#039;s personal name instead of her father&#039;s name after marriage.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>FROM WIKIPEDIA :<br />
<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Malaysian_name" rel="nofollow">http://en.wikipedia.org/wiki/Malaysian_name</a></p>
<p>MALAY NAMES</p>
<p>Malay names are often drawn from ARABIC and follow some ARABIC naming customs, although some names have Malay, Javanese or Sanskrit origin. A Malay&#8217;s name consists of a personal name, which is used to address him or her in all circumstances, followed by a patronym. Malays do not use family names. For men, the patronym consists of the word bin (from Arabic بن, meaning &#8217;son of&#8217;) followed by his father&#8217;s personal name. Thus, if Osman has a son called Musa, Musa will be known as Musa bin Osman. For women, the patronym consists of the word binti (from Arabic بنت, meaning &#8216;daughter of&#8217;) followed by her father&#8217;s name. Thus, if Musa has a daughter called Aisyah, Aisyah will be known as Aisyah binti Musa. Upon marriage, a woman does not change her name, as is done in some cultures.</p>
<p>Sometimes the first part of the patronym, bin or binti, is reduced to B. for men, or to Bt., Bte. or Bint. for women. This sometimes leads to it being taken as a middle initial in Western cultures. In general practice, however, most Malays omit the word bin or bint from their names. Thus, the two examples from the paragraph above would be known as Musa Osman and Aisyah Musa. When presented in this way, the second part of the name is often mistaken for a family name. However, when someone is referred to using only one name, the first name is always used, never the second (because you would be calling someone by his or her father&#8217;s name). Thus, Musa Osman is Mr Musa (or Encik Musa in Malay), and Aisyah Musa is Mrs/Ms/Miss Aisyah (or Puan/Cik Aisyah in Malay).</p>
<p>Addenda to names<br />
Often the straightforward system of naming among Malays in complicated by addenda. This is where a double name is used in place of one. The addendum is always the first part of such double names. Addenda are easily spotted as they are drawn from a restricted pool of possible names. These addenda rarely form a complete name on their own, but are almost always followed by another personal name.</p>
<p>The popular addenda in the Malay male names are:</p>
<p>Muhammad / Mohammad / Mohammed (often abbreviated to Mohd., Muhd., Md. or simply M.)<br />
Mat (the Malay variant of Muhammad. Mat is also the casual spoken form of names ending with -mad or -mat such as Ahmad, Rahmat, Samad, etc.)<br />
Ahmad<br />
Abdul (as in Arabic, Abdul is not a complete name in itself, but, meaning &#8217;servant of&#8217;, must be followed by one of the 99 Names of God in the Qur&#8217;an; for example, Abdul Haqq — &#8217;servant of the Truth&#8217;)<br />
The most common addenda in the Malay female names are:</p>
<p>Nor / Noor / Nur / Nurul<br />
Siti<br />
Thus, Osman may have another son called Abdul Haqq, who is known as Abdul Haqq bin Osman, or Abdul Haqq Osman. Then he, in turn, may have a daughter called Nor Mawar, who is known as Nor Mawar binti Abdul Haqq, or Nor Mawar Abdul Haqq.</p>
<p>If someone has been on the Hajj, the pilgrimage to Mecca, they may be called Haji. Thus, if Musa bin Osman went on the Hajj, he could be called Haji Musa bin Osman, and his daughter Aisyah might be called Aisyah binti Haji Musa.</p>
<p>Some addenda are inherited Malay titles (from the paternal side of the family). These exclusively involve the aristocrats, or even the royals, and their descendants. However, some families have these addenda even though they may not be royals or aristocrats.</p>
<p>The examples of inherited addenda are:</p>
<p>Raja<br />
Tengku<br />
Wan<br />
Nik<br />
Tuan<br />
Syed / Sharifah (for male and female, respectively)<br />
Meor<br />
Megat / Puteri (for male and female, respectively)<br />
Abang / Dayang (popular in Sarawak, for male and female, respectively)</p>
<p>Chinese names<br />
Traditional Chinese names are used among Malaysian Chinese. These names are usually represented as three words, for example Foo Li Leen or Tan Ai Lin. The first name is the Chinese family name, which is passed down from a father to all his children. The two other parts of the name form an indivisible Chinese given name, which almost always contains a generation name. In Western settings, the family name is sometimes shifted to the end of the name (for example, Li Leen Foo). Some Chinese also take a Western personal name (for example, David Foo).</p>
<p>Indian names<br />
Officially, Malaysian Indians use a patronymic naming system combining their traditional Indian names with some Malay words. A man&#8217;s name would consist of his personal name followed by the Malay phrase anak lelaki, meaning &#8217;son of&#8217;, and then his father&#8217;s name. A woman&#8217;s name would consist of her personal name followed by the Malay phrase anak perempuan, meaning &#8216;daughter of&#8217;, and then her father&#8217;s name. The Malay patronymic phrase is often abbreviated to a/l (&#8217;son of&#8217;) or a/p (&#8216;daughter of&#8217;) and then their father&#8217;s name. In many circumstances, the intervening Malay is omitted, and the father&#8217;s name follows immediately after a person&#8217;s given name. Following traditional practice from South India, the father&#8217;s name is sometimes abbreviated to an initial and placed before the personal name. Thus, a man called Anbuselvan whose father is called Ramanan may be called Anbuselvan anak lelaki Ramanan (formal), Anbuselvan a/l Ramanan (as on his MyKad), Anbuselvan Ramanan or R. Anbuselvan. Whereas, his daughter Mathuram would be called Mathuram anak perempuan Anbuselvan (formal), Mathuram a/p Anbuselvan (as on her MyKad), Mathuram Anbuselvan or A. Mathuram. Although not recorded officially, an Indian woman may use her husband&#8217;s personal name instead of her father&#8217;s name after marriage.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Hati Nurani</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/21/ya-ekonomi-indonesia-makin-cerah/comment-page-1/#comment-231</link>
		<dc:creator>Hati Nurani</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Oct 2007 15:03:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=28#comment-231</guid>
		<description>Bung Roslan, Indonesia adalah sebuah bangsa yang unik karena terbentuk dari hasil pengaruh budaya lokal dengan berbagai budaya besar seperti Hindu/Budha (India), Islam (Arab), Cina dan Barat.

Nama-nama seperti David, Michael, Robert, John kebetulan merupakan pengaruh dari barat dan nama-nama semacam ini di Indonesia tidak hanya digunakan oleh orang Indonesia keturunan Cina tapi juga oleh orang Indonesia dari suku Batak, Jawa, Maluku, Papua, Minahasa, Dayak, Nusa Tenggara dll.

Kalau orang Melayu di Malaysia kan, nama-nama mereka umumnya diambilkan dari Arab. Yang saya dengar, hampir tidak mungkin menemukan orang Melayu di Malaysia yang bukan beragama Islam sehingga kita bisa maklum kalau nama-nama orang Melayu di Malaysia umumnya hanya bernuansa Arab sehingga Bung Roslan mungkin merasa bahwa nama-nama tersebut adalah nama &quot;asli&quot; Melayu.  Apakah nama-nama yang populer di Malaysia seperti Mahathir Muhammad, Tun Abdul Rahman, Ahmad Badawi, Anwar Ibrahim, Azizah. Sitti Nurhalisa adalah nama-nama &quot;asli&quot; dari Malaysia, Bung ? Saya kira nama-nama tersebut juga &quot;diimpor&quot; dari negeri Arab.

Indonesia agak berbeda dengan Malaysia.  Walaupun Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas orang Indonesia, namun orang Indonesia bebas memilih agama yang mau kami anut dan kita bisa menemukan dengan mudah orang &quot;bumi putra&quot; Indonesia yang beragama Islam, Kristen, Budha, Hindu bahkan kepercayaan lokal.  Mereka bebas memilih agama dan kepercayaan mereka, sehingga wajarlah kalau kebetulan mereka beragama Islam, namanya bernuansa Arab, kalau mereka beragama Kristen, namanya bernuansa barat dst. Di Indonesia kami bebas memilih agama kami. Bagaimana di Malaysia, Bung Roslan ? Apakah di Malaysia juga ada kebebasan bagi orang Melayu untuk memilih agama mereka ?

Kita lihat, beberapa pahlawan Indonesia yang namanya berbau barat seperti Yosafat Sudarso (dikenal dengan nama Yos Sudarso) dan Yohannes Leimena (dikenal dengan nama Pak Yo) - mereka sungguh nasionalis dan mereka berjuang melawan penjajah Barat.

Jadi janganlah melihat dengan kaca mata sempit bahwa kalau nama kita berbau asing kemudian dianggap tidaklah nasionalis.  Nama Bung Roslan (Mohd)  sendiri saya kira berbau &quot;asing&quot; yaitu dari &quot;Arab&quot;, apakah kemudian dengan mudah saya menyimpulkan bahwa anda bukanlah seorang nasionalis Malaysia karena nama Anda yang kebetulan berbau Arab ?

Nelson Mandela, semua orang tahu bahwa beliau adalah nasionalis besar dari Afrika Selatan yang sangat gigih melawan penjajah Barat. Beliau kebetulan menggunakan nama Barat, apakah kemudian Anda menyimpulkan bahwa beliau tidak nasionalis, Bung?

Memang ada berbagai pemikiran dan kritik seperti dari tokoh seperti Gus Gur tentang &quot;pribumisasi&quot; agama.  Menurut beliau, menjadi Kristen tidaklah perlu &quot;menjadi&quot; orang barat dan menjadi Muslim tidaklah perlu &quot;menjadi&quot; orang Arab.   Beliau memberikan contoh dengan memberi nama cucu pertama beliau dengan nama &quot;Parakitri&quot; yang agak unik karena sebagai tokoh agama Islam, umumnya nama yang digunakan adalah nama-nama bernuansa Islam.

Semoga bisa menjadi bahan pencerahan, Bung !</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bung Roslan, Indonesia adalah sebuah bangsa yang unik karena terbentuk dari hasil pengaruh budaya lokal dengan berbagai budaya besar seperti Hindu/Budha (India), Islam (Arab), Cina dan Barat.</p>
<p>Nama-nama seperti David, Michael, Robert, John kebetulan merupakan pengaruh dari barat dan nama-nama semacam ini di Indonesia tidak hanya digunakan oleh orang Indonesia keturunan Cina tapi juga oleh orang Indonesia dari suku Batak, Jawa, Maluku, Papua, Minahasa, Dayak, Nusa Tenggara dll.</p>
<p>Kalau orang Melayu di Malaysia kan, nama-nama mereka umumnya diambilkan dari Arab. Yang saya dengar, hampir tidak mungkin menemukan orang Melayu di Malaysia yang bukan beragama Islam sehingga kita bisa maklum kalau nama-nama orang Melayu di Malaysia umumnya hanya bernuansa Arab sehingga Bung Roslan mungkin merasa bahwa nama-nama tersebut adalah nama &#8220;asli&#8221; Melayu.  Apakah nama-nama yang populer di Malaysia seperti Mahathir Muhammad, Tun Abdul Rahman, Ahmad Badawi, Anwar Ibrahim, Azizah. Sitti Nurhalisa adalah nama-nama &#8220;asli&#8221; dari Malaysia, Bung ? Saya kira nama-nama tersebut juga &#8220;diimpor&#8221; dari negeri Arab.</p>
<p>Indonesia agak berbeda dengan Malaysia.  Walaupun Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas orang Indonesia, namun orang Indonesia bebas memilih agama yang mau kami anut dan kita bisa menemukan dengan mudah orang &#8220;bumi putra&#8221; Indonesia yang beragama Islam, Kristen, Budha, Hindu bahkan kepercayaan lokal.  Mereka bebas memilih agama dan kepercayaan mereka, sehingga wajarlah kalau kebetulan mereka beragama Islam, namanya bernuansa Arab, kalau mereka beragama Kristen, namanya bernuansa barat dst. Di Indonesia kami bebas memilih agama kami. Bagaimana di Malaysia, Bung Roslan ? Apakah di Malaysia juga ada kebebasan bagi orang Melayu untuk memilih agama mereka ?</p>
<p>Kita lihat, beberapa pahlawan Indonesia yang namanya berbau barat seperti Yosafat Sudarso (dikenal dengan nama Yos Sudarso) dan Yohannes Leimena (dikenal dengan nama Pak Yo) &#8211; mereka sungguh nasionalis dan mereka berjuang melawan penjajah Barat.</p>
<p>Jadi janganlah melihat dengan kaca mata sempit bahwa kalau nama kita berbau asing kemudian dianggap tidaklah nasionalis.  Nama Bung Roslan (Mohd)  sendiri saya kira berbau &#8220;asing&#8221; yaitu dari &#8220;Arab&#8221;, apakah kemudian dengan mudah saya menyimpulkan bahwa anda bukanlah seorang nasionalis Malaysia karena nama Anda yang kebetulan berbau Arab ?</p>
<p>Nelson Mandela, semua orang tahu bahwa beliau adalah nasionalis besar dari Afrika Selatan yang sangat gigih melawan penjajah Barat. Beliau kebetulan menggunakan nama Barat, apakah kemudian Anda menyimpulkan bahwa beliau tidak nasionalis, Bung?</p>
<p>Memang ada berbagai pemikiran dan kritik seperti dari tokoh seperti Gus Gur tentang &#8220;pribumisasi&#8221; agama.  Menurut beliau, menjadi Kristen tidaklah perlu &#8220;menjadi&#8221; orang barat dan menjadi Muslim tidaklah perlu &#8220;menjadi&#8221; orang Arab.   Beliau memberikan contoh dengan memberi nama cucu pertama beliau dengan nama &#8220;Parakitri&#8221; yang agak unik karena sebagai tokoh agama Islam, umumnya nama yang digunakan adalah nama-nama bernuansa Islam.</p>
<p>Semoga bisa menjadi bahan pencerahan, Bung !</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
