Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 3/3): Indonesia Menuju Perbaikan; Malaysia, Kerusakan
Filed under: Antarbangsa, Masalah Kita, Politik, Sosial, Budaya, Jurnalisme dan Media
Buaian rezim berkuasa di negara itu kepada rakyat mereka: Malaysia teladan bagi keberhasilan sebuah negara membangun. Negara-negara lain berada di belakang. Tak perlulah mengikuti negara lain. Media massa Malaysia menjadikan angkasawan pertama Malaysia sebagai salah satu exemplar bingkai “kejayaan Malaysia” itu, selain “prestasi bangsa Melayu sejauh ini.” Pembingkaian tersebut boleh dibilang bentuk fasisme lunak.
Perhatikan propaganda pemerintah melalui Bernama berikut.
“We mustn’t forget that some countries, which were doing even better than us when we achieved Merdeka, had fallen by the wayside because of poor governance and instability.”‘
Jika yang dimaksud “some countries“ di antaranya Indonesia, strategi othering tersebut boleh dibilang sudah kadaluarsa.
Perjuangan melawan rasuah di Indonesia dalam sembilan tahun terakhir membuahkan hasil — meskipun masih jamak pekerjaan rumah tersisa. Komisi Pemberantasan Korupsi berhasil mengungkapkan pelbagai penyelewengan. Tidak sedikit pejabat negara, mulai anggota parlemen, hakim, bupati, gubernur yang diadili dan dipenjarakan. Budaya takut menerima suap dan korup mulai muncul. Tidak mungkin fenomena ini terjadi di Malaysia saat ini karena pengawasan masyarakat sipil terhadap kekuasaan begitu lemah dan korupsi adalah bagian integral sistem negara itu.
Bernama, misalnya, takkan berani mengangkat kasus korupsi tingkat tinggi yang diungkapkan Anwar Ibrahim. Anwar berhasil mempertunjukkan kepada rakyat lewat Youtube video skandal sistem peradilan di Malaysia yang melibatkan hakim agung. Dalam video itu seorang pengacara berkata kepada sang hakim ada saudagar perjudian bersedia membayar “asalkan Anwar dan kawan-kawannya dipenjarakan.”
Media massa arus utama semacam Bernama sekadar menjadi corong penguasa untuk membantah. Namun, fakta bahwa aksi unjuk rasa dua ribu pengacara di jalan-jalan Putra Jaya mengecam skandal tersebut menunjukkan bahwa tidak semua rakyat Malaysia dapat menerima kebohongan penguasa. Dua ribu pengunjuk rasa, untuk ukuran Malaysia itu kejadian luar biasa.
Istri Anwar Ibrahim, Wan Azizah Wan Ismail, juga menungkapkan penyelewengan dana bagi korban tsunami sejumlah 9,84 juta ringgit.
Pada pokoknya, di tengah propaganda ramai dan gencar tentang kejayaan Malaysia, negara itu sesungguhnya semakin mengarah ke budaya korup. Presiden Transaparansi Internasioal Malaysia Tunku Aziz Ibrahim berkata:
“Selama bertahun-tahun saya melibatkan diri dalam perjuangan membanteras korupsi baik di Malaysia mahupun di peringkat antarabangsa, saya hanya menggunakan istilah sistem korupsi, di bahagian dunia sebelah sini, kepada jiran kita Indonesia dan Filipina. Hari ini kita (rakyat Malaysia) sudah sampai ke tahap yang sama dengan mereka, dan daripada segala petunjuk yang ada kita memang kalah kepada mereka.”
Tambahnya lagi:
“Sejak tiga tahun yang lalu, di halaman kita sendiri (Malaysia) keadaan sudah berantakan, dan pelbagai cara menunjukkan betapa amalan korupsi sudah menjadi satu cara hidup, sehingga saya selesa mengatakan bahawa selagi tidak ada kesanggupan dan kesungguhan kepimpinan yang lebih teguh dan perkasa untuk membanteras korupsi secara berani, Malaysia akan terus bergelumang dengan stigma sebuah negara yang membangunkan perilaku rakyat yang tidak beretika, ataupun secara lebih kasar lagi eloklah saya katakan, korupsi sudah menjadi satu kesenian yang halus di mana orang politik dan pegawai perkhidmatan awam saling berlumba dan beradu-domba antara satu sama lain untuk mengumpulkan kekayaan yang di luar imaginasi kita.”
Biasanya pejabat yang berkuasa berkelit dengan berkata, “Jangan membesar-besarkan,”. atau “Jangan permalukan diri sendiri.”
* * *
Semua fakta itu mempertegas dan meyakinkan bahwa dalam banyak aspek Indonesia punya potensi yang jauh lebih cerah, lebih jaya daripada Malaysia. Capaian derajat demokrasi dan hak-hak asasi manusia yang semakin matang ini telah meninggalkan Malaysia yang tidak beranjak jauh dalam sepuluh tahun terakhir.
Sejuta persoalan pasca-Deklarasi Kemerdekaan 1945 justru menjadikan pengalaman Indonesia semakin kukuh, berkualitas dan lengkap. Indonesia telah memenangi perjuangan bersenjata, mengatasi perdebatan ideologis dan pemberontakan daerah, melewati konflik sipil, isoloasi, bencana alam yang dahsyat, krisis politik, ekonomi, sosial yang parah. Indonesia juga pernah menjalani sistem diktaktor sipil, militer, maupun demokrasi liberal sekaligus dalam rentang waktu kurang dari tiga perempat abad.
Mungkin belum semua persoalan diselesaikan, tapi bertahannya Indonesia sebagai sebuah negara — yang ketika menyatakan kemerdekaan pada tahun 1945 diperkirakan takkan berusia lebih dari sepuluh tahun — merupakan berkah Tuhan selain kemampuan rakyat beradaptasi dan bekerja keras.
Pada tahun 2005, National Intelligence Council’s (NIC’s), organ Pemerintah Amerika Serikat, memaklumatkan kajian “Rising Powers: The Changing Geopolitical Landscape 2020” yang meramalkan bahwa pada tahun 2020 Indonesia bersama Tiongkok, India, Afrika Selatan dan Brazilia akan menjadi negara-negara dengan pengaruh yang semakin meningkat.
Namun, tentu saja ramalan itu bisa menjadi kenyataan dengan syarat bahwa reformasi terkawal dengan benar. Pada saatnya, jika struktur politik, ekonomi, sosial budaya telah mapan, Indonesia bakal melesat meninggalkan negara-negara rantau di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga
Ya, Ekonomi Indonesia Makin Cerah!
Baca Sebelumnya
Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 1/3): Indonesia Sebenar-benar Asia yang Multikultur dan Demokratis
Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 2/3): Indonesia Negara Bebas, Malaysia Negara yang Mengekang
Informasi Lain
Rasuah di Malaysia
Popularity: 31% [?]
Comments
35 Comments on Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 3/3): Indonesia Menuju Perbaikan; Malaysia, Kerusakan
-
Admin on
Sab, 20th Okt 2007 10:57
-
Cahya Yustia Rio on
Sab, 20th Okt 2007 14:40
-
Junarto Imam Prakoso on
Sab, 20th Okt 2007 21:25
-
Mohd on
Ming, 21st Okt 2007 03:18
-
Mohd on
Ming, 21st Okt 2007 03:22
-
Hati Nurani on
Ming, 21st Okt 2007 05:12
-
Junarto Imam Prakoso on
Ming, 21st Okt 2007 06:03
-
Hati Nurani on
Ming, 21st Okt 2007 06:26
-
Mihael "D.B." Ellinsworth on
Sen, 22nd Okt 2007 13:56
-
melayu on
Sel, 23rd Okt 2007 08:07
-
ahmad nasim sidek on
Sel, 23rd Okt 2007 12:46
-
Mohd on
Rab, 24th Okt 2007 03:33
-
Mohd on
Rab, 24th Okt 2007 03:58
-
Junarto Imam Prakoso on
Rab, 24th Okt 2007 05:56
-
Mohd on
Rab, 24th Okt 2007 11:04
-
Junarto Imam Prakoso on
Rab, 24th Okt 2007 14:48
-
charvye on
Rab, 24th Okt 2007 15:12
-
raoul on
Kam, 25th Okt 2007 14:58
-
daengmatajang on
Sab, 27th Okt 2007 20:52
-
Hati Nurani on
Ming, 28th Okt 2007 23:54
-
Zoe on
Ming, 11th Nop 2007 02:18
-
Mohd on
Rab, 14th Nop 2007 14:24
-
mena on
Sen, 14th Jul 2008 15:54
-
Asyraf on
Sab, 9th Agu 2008 17:23
-
Junarto Imam Prakoso on
Sen, 3rd Nop 2008 17:03
-
Fairman on
Sen, 2nd Mar 2009 15:46
-
zulhelmi(yang mempunyai kelembutan) on
Sen, 20th Apr 2009 23:56
-
ibad on
Kam, 14th Mei 2009 16:01
-
ballack on
Kam, 28th Mei 2009 18:58
-
toto giant on
Sen, 1st Jun 2009 10:48
-
Von on
Sab, 6th Jun 2009 17:05
-
costacurta on
Sel, 9th Jun 2009 23:59
-
rosli dobi on
Rab, 10th Jun 2009 00:08
-
costacurta on
Rab, 10th Jun 2009 22:45
-
dodolbanget on
Sen, 22nd Jun 2009 14:21
Mengapa Indonesia suka membandingkan diri ama Malaysia? Kenapa Indonesia sering menghina Malaysia? Apa ga bisa membangun kepercayaan diri tanpa menghina orang lain?
Di Malaysia kami lebih suka nyebut negara jiran atau negara asing sebagai statement kerna kami tidak suka menjelekin atau kelihatannya seperti menjelekin negara orang lain.
Bukan soal siapa lebih bagus. Tapi soal akhlak bertetangga dan bersaudara, sikap Indonesia sangat jelek. Di mana akhlak anda? Saya bertanya secara umum bukan secara individu.
Sekian.
hahaha.. Admin, kamu lucu deh..
@Admin
Terima kasih atas tanggapan Anda. Perasaan Anda sekarang sama halnya dengan perasaan kebanyakan orang Indonesia pada era Orde Baru yang gusar dengan orang asing yang mengungkapkan fakta yang bertentangan dengan propganda pemerintah. Pada saatnya Anda akan menerima pendedahan ini sebagai fakta sejarah.
Hehe, selamat menjelek-jelek sesama leluhur sendiri, pantas juga moyangku dulu hijrah ke Malaysia dulu-dulu. Kalau tidak mungkin aku sekarang datang mengemis ke Malaysia. (PATI)
Mungkin Junarto bisa ke mari mengajar orang Malaysia untuk membentuk Good Governance, atau bisa membantu Pak Anwar untuk menjayakan Reformasi. Orang-orang Malaysia mengharapkan orang yang bijak pandai macam Pak Junarto ini untuk mengubah hala tuju sosial dan politiknya.
Jangan lupa Pasporrnya dulu dong, jangan datang sini tanpa dokumen. Kartu penduduk yang bisa dibeli dijalanan, bisa dibikin dengan bayaran Rp 30.000 tidak bisa dipake lewat sini. Orang Malaysia agak konyol, kami pakai Kad Pengenalan Bermutu Tinggi, semua pakai sistem komputer canggih, sulit untuk dibikin oleh anak2 jalanan, semuanya kami buat kerana kami bangsa yang bodoh berbanding Indonesia.
Kami tak pandai OTHERING macam artikel saudara Junarto, kami tahu memajukan negara kami, kami bodoh, kami tahu, sebab itulah kami mengupah pekerja Indonesia yang jauh super-cerdik dari kami.
Kami bayar super-visor kami ditapak projek Rp8 juta, tapi dengan Rp6 juta kami bisa mengambil pekerja indonesia dekat 10 orang.
Gaji Dorsen di Malaysia RM4,000 purata (9.5 juta Rp) tapi kami tahu Dosen di Indonesia yang berkelulusan sama mungkin 1 juta Rp, sebab itu kami di Malaysia ini konyol, bayar rakyat sendiri mahal. Selamat datang ke Malaysia yang Pak Junarto, lihat sendiri nescya Pk Junarto rasan ingin mengemis kerja di sini.
Pak Junarto lepas ini boleh berkhayal jadi dosen di Malaysia yak.
Lupa satu aja, sibuk dedahkan Skandal2 negaraa Malaysia, apa sudah jadi dengaan skandal BULOG?
Terlepas dari berbagai situasi positif yang sudah kita miliki di Indonesia saat ini, menurut saya tetap saja ada aspek yang perlu kita tiru dari Malaysia atau Singapura yaitu dalam hal kedisiplinan dan kebersihan.
Bangsa kita terkenal dengan istilah bangsa yang suka dengan “jam karet” dan tidak pandai memelihara kebersihan fasilitas umum seperti toilet umum di bandara, stasiun kereta api atau terminal bis. Kita lihat di airport Changi Singapura walaupun usianya sudah cukup tua tapi masih sangat terawat dan bersih. Bangsa kita juga tidak suka dengan antri dan suka serobot seperti misalnya kalau mau naik taksi di bandara atau antri naik bis, siapa yang nekad nyerobot dialah yang dapat kesempatan terlebih dulu. Kendaraan-kendaraan umum juga berhenti seenaknya di setiap tempat, tidak di halte.
Hal-hal yang kita pandang negatif, yah tentu jangan kita tiru tapi kalau memang ada hal-hal yang positif dan berguna bagi kemajuan dan perkembangan bangsa kita, ya juga jangan segan dan malu untuk kita tiru di sini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau belajar baik dari pengalaman diri sendiri maupun dari bangsa-bangsa lain.
MAJULAH INDONESIA KU !!
@ Mohd (4)
Dengan tulisan ini saya sekadar mendedahkan, katakanlah, sudut pandang lain yang mungkin berbeda dengan bagaimana kebanyakan orang Malaysia dan orang Indonesia memandang Malaysia saat ini. Misalnya, menjadi dosen di Malaysia mungkin boleh jadi lebih sejahtera daripada di Indonesia, tapi selama tiada kebebasan akademis, apalah artinya?
(catatan redaksi buat pembaca Indonesia: PATI = Pendatang Tanpa Izin atau Pendatang Haram).
@Mohd (5)
Terima kasih atas sarannya. Jangan khawatir. Tidak pernah saya menutup kemungkinan untuk mengangkat skandal-skdandal di Indonesia, karena itu untuk menjadi pelajaran baik untuk kami di Indonesia maupun rekan-rekan di Malaysia.
Saya terkesan mendengar/membaca komentar dari Bung Donald Luther, wasit karate Indonesia yang babak belur dihajar oleh polisi Malaysia dan juga Atase Pendidikan kedubes Indonesia di Malaysia yang istrinya terkena razia dan sempat ditangkap oleh RELA karena dicurigai sebagai pendatang haram. Beliau berkata bahwa kita memang pantas marah karena perlakuan yang tidak senonoh oleh oknum aparat keamanan Malaysia dan itu mungkin hanyalah sepenggal kecil dari kasus yang berhasil diexpose karena mereka berdua kebetulan punya akses untuk membuka kasus ini kepada publik. Kasus-kasus lain-lainnya yang menimpa saudara-saudara sebangsa kemungkinan banyak yang lebih parah lagi.
Tapi di luar kemarahan kita, menurut beliau berdua, yang penting kita sebagai bangsa harus melakukan introspeksi diri kenapa kita diperlakukan seperti itu oleh bangsa tetangga untuk kemudian melakukan perbaikan yang serius dan konkrit supaya kita kembali bisa menjadi bangsa besar yang tangguh dan disegani seperti yang pernah ditunjukkan oleh nenek moyang kita di masa lalu pada zaman Majapahit dan Sriwijaya.
MAJULAH INDONESIA KU !!
@ Mohd
Tanpa dinyana, anda sudah menjelek – jelekkan bangsa sendiri dengan argumen anda.
Sekian.
wah… berapa juta orang indonesia di Malayisa, yang legal saja sudah lebih satu juta, yang illegal ? apa yang mereka buat di Malaysia? bekerja ? atau menmjadi maling ?
Salam,
look like just another Malaysia’s bashing post from another Indonesian. Oklah kalau macam inilah persepsi ‘Abang Besar’ kita, nampaknya kenalah kerajaan Malaysia buat beberapa perkara.
Pertama-tamanya, sudah sampai masanya Kerajaan Malaysia menghentikan dasar Prosper thy Neighbournya iaitu polisi memakmurkan jiran yang telah dipelopori oleh Dr Mahathir untuk memastikan kejayaan ekonomi turut dirasai oleh jiranya (dalam hal ini siapa lagi kalau bukan Indonesia). Dasar inilah asas kepada kemasukan TKI dan pelajar Indonesia ke Malaysia dari awal 90an. Pada masa itu kerajaan percaya dengan memakmurkan jiran, kemakmuran itu akan kembali pulang ke Malaysia. Satu polisi yang Indonesia tak akan rasa dari jiran-jiran beliau yang lain seperti Australia dan Singapura.
Kalau inilah sumber duri dalam daging kita maka sudah sampai masanya kita menghentikan pengambilan TKI dari Indonesia. kes juri karate seperti Donald, lagu rasa sayang dan lain-lain bukanlah satu isu yang besar jika bukan kerana isu TKI. Dengan menghentikan ‘root- cause’ masalah ini maka insya-Allah segala masalah lain akan selesai. Jangan bimbang tenaga kerja dari Vietnam dan Nepal lebih murah, kalau pembantu rumah rasanya-rasanya Orang-orang Muslim dari Selatan Filipina mampu mengisi kekosangan yang bakal ditinggalkan oleh TKI Indonesia.
Buat pengetahuan penulis laman blog ini, kalau Malaysia menggunakan asas yang sama yang dibangkitkan oleh Indonesia dalam kes Rasa Sayang ini keatas negara jiran yang lain terutamanya Singapura, we will easily definitely make billions from it….tolonglah berhenti memalukan kedua-dua negara untuk isu seremeh isu Lagu Rasa Sayang.
sekian….
P.S: pergi ke Monas dan disekitar setesen Gambir dan jemputlah datang ke Malaysia melalui stesen Sentral terus ke Dataran Merdeka..jika saudara terfikir untuk menulis satu post yang sama seperti ini di masa yang akan datang.
Mihael “D.B.” Ellinsworth Berkata:
Oktober 22nd, 2007 pada 1:56 pm
Tanpa dinyana, anda sudah menjelek – jelekkan bangsa sendiri dengan argumen anda.
Sekian.
=============
itu namanya penulisan bentuk sakarstik (Englishya Sarcastic), dalam bahasa indonesia mungkin tempelak, ianya mengeluarkan kata2 dalam bentuk perli, sebagai contoh;
“Kartu penduduk yang bisa dibeli dijalanan, bisa dibikin dengan bayaran Rp 30.000 tidak bisa dipake lewat sini. Orang Malaysia agak konyol, kami pakai Kad Pengenalan Bermutu Tinggi, semua pakai sistem komputer canggih, sulit untuk dibikin oleh anak2 jalanan, semuanya kami buat kerana kami bangsa yang bodoh berbanding Indonesia.”
Untuk menunjukkan kartu penduduk indonesia senang sekali diciplak, sama ada melalui rasuah pejabat atau pengakuan ketua RPT, tidak ada sistematika dalam proses pembikinan. Sedangkan kartu Malaysia sukar ditiru, beberapa TKI cuba menirunya, tetapi bila mereka ke Registration Office, mereka di tangkap kerana teknologi biometrik, gak ada sapa-sapa bisa lolos macam kartu penduduk indonesia.
RoslanK
# Hati Nurani Berkata:
Oktober 21st, 2007 pada 6:26 am
Saya terkesan mendengar/membaca komentar dari Bung Donald Luther, wasit karate Indonesia yang babak belur dihajar oleh polisi Malaysia dan juga Atase Pendidikan kedubes Indonesia di Malaysia yang istrinya terkena razia dan sempat ditangkap oleh RELA karena dicurigai sebagai pendatang haram. Beliau berkata bahwa kita memang pantas marah karena perlakuan yang tidak senonoh oleh oknum aparat keamanan Malaysia dan itu mungkin hanyalah sepenggal kecil dari kasus yang berhasil diexpose karena mereka berdua kebetulan punya akses untuk membuka kasus ini kepada publik. Kasus-kasus lain-lainnya yang menimpa saudara-saudara sebangsa kemungkinan banyak yang lebih parah lagi.
Tapi di luar kemarahan kita, menurut beliau berdua, yang penting kita sebagai bangsa harus melakukan introspeksi diri kenapa kita diperlakukan seperti itu oleh bangsa tetangga untuk kemudian melakukan perbaikan yang serius dan konkrit supaya kita kembali bisa menjadi bangsa besar yang tangguh dan disegani seperti yang pernah ditunjukkan oleh nenek moyang kita di masa lalu pada zaman Majapahit dan Sriwijaya.
MAJULAH INDONESIA KU !!
=======================
Cuba tanya kepada isteri pegawai pendidikan itu, adakah dia membawa passporr diplomatikanya semasa ditangkap? apa dokumen perjalanan yang di bawanya, Saya mendengar cerita sumber yang benar dari Malaysia, bahawa dia memang tidak membawa dokumen aslinya. Toh kalau gitu, jangan salahkan oknum Malaysia. Salahkan diri sendiri dong, kalau ditangkap tanpa dokumen, kalaupun ianya Gobenor di Indonesia, tidak bermakna di Malaysia dia Gabenor. Kalau ada diplomatik imuniti, bawa dokumennya jangan berfikir cara orang Indonesia semasa berada di Malaysia.
Di Malaysia kalau penduduknya sendiri tidak membawa Kartu penduduk (Identity Card) akan dikenakan compound, kalau memandu tanpa membawa lesen akan di compound. Itulah satu perkara yang warga indonesia tidak faham, kemana-mana di Malaysia kami perlukan identiti card. Anda bisa sahaja menulis panjang bercerita tentang kekejaman Oknum Malaysia, bisa saja menghantam kekejaman Oknum Malaysia lewat internet atau blog seperti ini. Satu aja yang anda tidak bisa, iaitu mengambil sumber berita dan cerita yang benar dari pihak lain, anda hanya bisa OTHERING. Selamat MengINRTOSPEKSI DIRI sebelum MENGINTROSPEKSI DIRI ORANG LAIN.
Salam RoslanK
psst Sepekan lagi aku akan ke Indonesia, siapa yang bisa aku hubungi, untuk temankan aku minum dan berborak2 bila habis tugasku.
Sudah booking di tanggal 31-7 November 2007
JW Marriot
Jl Lingkar Mega Kuningan Kav
Jakarta, ID
Anda bisa sahaja menulis panjang bercerita tentang kekejaman Oknum Malaysia, bisa saja menghantam kekejaman Oknum Malaysia lewat internet atau blog seperti ini. Satu aja yang anda tidak bisa, iaitu mengambil sumber berita dan cerita yang benar dari pihak lain, anda hanya bisa OTHERING. Selamat MengINRTOSPEKSI DIRI sebelum MENGINTROSPEKSI DIRI ORANG LAIN.
Konsep “othering” berbeda dengan komparasi. Othering (seperti yang terjadi di Malaysia) biasanya sekadar membingkai (mem-framing) kelompok (negara) sebagai unggulan yang serbasempurna, tujuannya propaganda buat mengamankan, mengekalkan keistimewaan politik-ekonomi yang berkepentingan.
Media massa Malaysia menjelang pilihanraya 1999, misalnya, takhabis-habis melakukan politik “othering” ini dengan menafikan semua kebobrokan sistem di dalam negeri. Tujuannya, mengekalkan rezim yang berkuasa UMNO-Barisan Nasional, dan mengatasi gerakan-gerakan politik yang berseberangan.
Bahkan sampai sekarang, setelah 50 tahun merdeka, media massa arus utama di Malaysia tidak berani mengungkapkan dengan jujur persoalan-persoalan di dalam negeri yang menyangkut isu-isu politik yang sensitif. Yang dibingkai media massa adalah keberhasilan-keberhasilan belaka. Peristiwa rasuah yang tercium, selalu dibantah dengan “Jangan membesar-besarkan, jangan mempermalukan diri sendiri.” Ini mirip situasi Indonesia era Orde Baru. Poinnya, “othering” meminggirkan wacana lain yang berbeda, bertentangan. Sampai-sampai seorang wartawan Malaysia berkata, “Kami iri dengan kebebasan pers di Indonesia.”
Di Indonesia, sebaliknya. Kebobrokan sistem di dalam negeri justru terungkap media massa (bahkan dengan standar normalitas yang sangat tinggi) semenjak tahun 1999. Dan, artikel saya ini sekedar komparasi, ada faktor pembanding yang bisa menjadi ukuran untuk mengambil kesimpulan. Saya juga tidak menutup-nutupi kekurangan di dalam negeri yang masih menjadi pekerjaan rumah buat rakyat. Data-data bisa diakses melalui tautan yang saya sisipkan dalam artikel (warna biru, tinggal klik saja). Kalau saya melakukan othering, maka saya akan menyeleksi komentar-komentar yang masuk, misalnya dari Anda yang tidak sependapat dengan saya.
Nah, soal Anda menerima fakta ini atau tidak, itu terserah Anda.
BTW selamat datang di Jakarta. Mudah-mudahan betah.
apa yang ingin diwacanakan kejayaan indonesia dari segi filsafat idea kebebasan? Atau ingin menengok realitas sebenar ya?
Kenapa aspek Ekonomi dan tenaga kerja mau di sembunyi terus dong. Anda cuba membuka bingkai falsafah aja. Anda sengaja mencipta medan untuk menunjukkan Indoneisa Perkasa dalam aspek filsafatnya, tetapi tidak mahu melihat realitas ekonomi. Kita beralih ke topik perbincangan, TKI yang datang ke Malaysia itu untuk apa, untuk hidup terus menerus hidup dalam negara yang penuh kebebasan Indonesia atau ingin mengelak diri dari kemiskinan? Apakah semasa mereka meninggalkan ibu pertiwi Indonesia yang kaya dengan falsafah itu, kerana Indonesia itu negara yang terkurang falsafatnya.
Faktornya jujur dong, Ekonomi, kerana falsafat tidak bisa memberikan pangan dong, yang bisa beri makan adalah kerja dong, tak ada kerja di Indonesia, datang kerja ke Malaysia. Itu falsafah mereka yang datang sini, untuk mencari rejeki yang halal.
Tiba2 bila bincang masalah Indonesia dan Malaysia, siapa lebih baik, maka saudara Bung Junarto terus ke filsafat kebebasan media, Kemudian menulis artikel kata manis dari ekonom Barat yang mulus untuk datang ke Indonesia kemudian dapat kontrak bisnesnya, untuk mendapat tenaga kerja yang murah nilainya. Parameter ekonomi yang dipakai adalah forecasting, bukannya yang real, jadi saudar Jjunarto sendiri mencipta mainframe yang disudutkan dalam memperkasa Indonesia, itukan nama OTHERING.
Kalau mahu banding mari kita tengok indeks rasuah, APBN perkapita, pemalar gini (lorenz curve), kadar pengangguran, utang luar negara, peningkatan APBN/ tahun dengan Malaysia.
RoslanK
@Mohd
Kalau mahu banding mari kita tengok indeks rasuah, APBN perkapita, pemalar gini (lorenz curve), kadar pengangguran, utang luar negara, peningkatan APBN/ tahun dengan Malaysia.
“Angka-angka itu boleh memukau, tapi takada kesan buat rakyat,” kata Anwar Ibrahim, pemimpin Anda (Kick Andy, Metro TV Kamis 18 Oktober).
Ekonomi mereduksi kemanusiaan dengan angka-angka belaka.
Kalau Anda sewaktu-waktu ditangkap rezim UMNO atas nama ISA, diaibkan, dihukum dengan sistem pengadilan yang korup, lantas dipenjarakan — karena Anda berseberangan dengan penguasa — maka kemakmuran Anda itu tiada bermakna apa-apa karena dengan demikian Anda sesungguhnya belum merdeka. Anda harus melihat secara menyeluruh, karena manusia tidak sama dengan binatang yang makan dan minum saja.
Kalau sgelintir kroni penguasa beserta keluarga diuntungkan dengan situasi ini maka rakyat Anda sesungguhnya masih terjajah, sedangkan Anda tak sadar. Jadi, sadarlah.
@ Mohd
Cuba tanya kepada isteri pegawai pendidikan itu, adakah dia membawa passporr diplomatikanya semasa ditangkap? apa dokumen perjalanan yang di bawanya, Saya mendengar cerita sumber yang benar dari Malaysia, bahawa dia memang tidak membawa dokumen aslinya. Toh kalau gitu, jangan salahkan oknum Malaysia. Salahkan diri sendiri dong, kalau ditangkap tanpa dokumen, kalaupun ianya Gobenor di Indonesia, tidak bermakna di Malaysia dia Gabenor. Kalau ada diplomatik imuniti, bawa dokumennya jangan berfikir cara orang Indonesia semasa berada di Malaysia.
================================================================
Ya, beliau membawa passport diploamt beliau.
DPR kita sudah mengajukan protes keras secara resmi ke Malaysia.
Saya pikir RELA munking merupakan jawaban atas kekhawatiran Pemerintah malaysia atas membanjirnya orang Indonesia di sana,
yang bilamama tidak dihentikan akan “menjajah” Malaysia suatu saat.
masalahnya mereka tidak bisa begitu saja menghentikan arus masuk tersebut, jadi RELA mungkin adalah solusinya.
kalo tidak bisa dihentikan dari luar ya.. diusir dari dalam.
Bung Junarto, perbicangan anda dengan Bung Mohd diperhatikan banyak orang termasuk saya. Selama ini saya memperhatikan anda masih cukup berkepala dingin (meski hati mungkin panas) dalam berbalas komentar dengan bung Mohd. Tapi rasanya saya menangkap kesan suhunya mulai memanas nih. Hati-hati bung…ibarat permainan…jangan sampai ikut irama permainan lawan..hati boleh panas tapi kepala tetap musti dingin kan…
Sampaikan saja fakta-fakta tanpa harus menyerang pribadinya..saya rasa orang-orang yang berpikir jernih akan setuju dengan komentar-komentar anda selama ini.
Saya sendiri terus terang menahan diri untuk berkomentar hanya karena saya tidak cukup kuat untuk berkepala dingin. Saya kuatir komentar saya malah akan menambah panas suhu perbicangan ini.
Jadi teruslah berdiskusi dengan sehat…
junarto bilang – Di Indonesia, sebaliknya. Kebobrokan sistem di dalam negeri justru terungkap media massa (bahkan dengan standar normalitas yang sangat tinggi) semenjak tahun 1999.
saya bilang – loe ngerti apa yang loe ngomong? kalo mengerti baguslah. kalau ngga, ya gue jelasin. itu maksudnya sistem pemerintahan semuanya udah bobrok! busuk udah tersebar kemana-mana tanpa kendali. hingga media massa dan rakyat harus bertindak!
di negara lain, kalo oknum pemerintahan berbuat bobrok, yang bertindak / ngebenarin ya masih oknum pemerintahan jugalah. ini bermaksud masih ada yang baik. kalo sampai media ama rakyat yang mengungkap kebobrokan, wah udah gawat mannn… udah bobrok semuanya itu.
tapi yang jelas, mayoritas 90% yang memegang pemerintahan sekarang ya muka2 lama juga… trus reformasinya gimana?
media jangan sok suci. rakyat kebanyakannya polos, tapi media itu kebanyakannya kiblatnya fulus!
Bung Daeng, janganlah kita terlalu pesimis. Di satu sisi harus kita akui memang masih banyak yang harus dibenahi oleh bangsa ini, utamanya adalah korupsi yang merupakan penyakit kronis bangsa ini meskipun dari pemeringkatan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga internasional menunjukkan adanya perbaikan, tapi tetap masih jauh dari kondisi yang ideal.
Demokrasi termasuk di dalamnya kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers memang juga masih rawan, terkadang masih suka dirongrong oleh oknum-oknum tertentu yang ingin kembali melakukan proses kontrol melalui perubahan undang-undang atau pihak-pihak tertentu yang kebablasan dalam berekspresi sehingga kita banyak membuang waktu untuk berdebat. Namun kita sudah mulai lihat hasil dari kebebasan berekspresi antara lain dari majunya industri musik nasional. Saat ini musik Indonesia telah menjadi tuan rumah di negaranya sendiri bahkan berhasil menembus cukup bagus ke negara-negara tetangga. Industri kreatif lainnya seperti TV dan film juga sudah mulai menggeliat walaupun belum sehebat musik.
Orang-orang “lama” memang masih banyak yang bercokol baik di pemerintahan, legislatif maupun judikatif namun walaupun belum ideal betul, saya kira perilaku mereka sudah tidak lagi bisa sewenang-wenang seperti di masa lalu.
Otonomi daerah memang dalam beberapa situasi masih menimbulkan kekrisuhan dan banyak kasus korupsi terjadi namun di sisi lain juga menelurkan beberapa cerita sukses antara lain Fadel Muhammad di Gorontalo, Fauzi Gamawan di Sumatra Barat, Rustriningsih di Kebumen. Saya yakin akan lebih banyak lagi cerita-cerita sukses semacam ini di masa mendatang.
Semoga bisa memberikan secercah pencerahan dan menumbuhkan semangat optimisme !
Kalo kebobrokannya terlihat oleh rakyat kan, rakyat jadi tau siapa/apa2 aja yg rusak, dan nanti bisa dibetulin oleh rakyat, pemerintah dan media secara bersama-sama.
Kalo yang tau cuma satu dan orang yg menempati pemerintahan masih itu2 aja, kebobrokan akan terus merajalela dan mengakibatkan negara menjadi lemah. Akibatnya rakyat yang sengsara nantinya.
Rakyat sekarang udah banyak berubah, Rakyat Indonesia kini sudah mulai sadar akan pentingnya kesejahteraan bagi sesama. Untuk itulah Indonesia dapat bangkit dari keterpurukan setelah beberapa waktu lalu dicekam.
yang penting dalam kebangkitan yang benar kita melihat diri kita dulu dong, bahasa Administrasi, analisis SWOT, iaiatu bemula dengan kekuatan yang kita ada, kemudian dikaji kelemahan, buat analisis melihat Oputuniti dan Gangguan.
Kebangkingkitan Indonesia tidak akan tercapai dengan memperbodohkan negara Malaysia, penduduk nya atau dengan mengGAYANG Malaysia, bahkan Indonesia akan terus terpuruk ke belakang jika masih lagi menganut fahaman kolot sebegini.
Etos kerja dan Ideologi untuk kinerja juga mesti betul, sekadar semangat Bangsa Indonesia tidak akan mengenyangka perut orang papa dan anak2 jalanan di kota metropolitan Jakarata,
ROslanK
Pakistan
Mohd dan RoslanK anda kekanak-kanakan sekali. Kelihatan sekali orang yang tak mau Tahu dengan kelemahan negaranya sendiri dan anda termasuk orang yang kurang terkuba fikirannya…ini terbukti anda tidak bisa menerima fakta dan kritikan atas kelemahan pemerintahan negara anda sendiri. saya kasihan sekali membaca komentar-komentar anda…cuma jawaban penolakan dan emosional saja. Tak mau menrima kritikan sedangkan Pak Junarto dan kawan-kawan mau mengakui adanya kekurangan/kebobrokan negaranya sendiri…tap anda berdua TIDAK. Kasihan sekali…..
Apa ini? tidak perlu gaduh-gaduh, kita umat Islam adalah bersaudara sepatutnya mencari jalan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi kedua-dua buah negara, bukan bertikam lidah kutuk mengutuk sesama kita, sama-samalah kita pikirkan.
*sedikit komen dari saya sebagai rakyat Malaysia ..(PEACE)..
Tesis Indonesia lebih berjaya daripada Malaysia semakin terbukti
RI will be more stable than India, Malaysia and Thailand in 2009
The Jakarta Post , Jakarta | Tue, 10/28/2008 9:41 PM | Headlines
With concern setting in about the declining rupiah and share prices, there is good news yet: Indonesia next year will be much more stable than regional peers India, Malaysia and Thailand, a Hong Kong-based political risk consultancy said Monday.
“Indonesia is much more stable today than it was when the regional financial crisis hit in 1997-98. The coming election campaign is likely to see the present government return, with (President Susilo Bambang Yudhoyono) winning the presidency and keeping Jusuf Kalla as his vice president,” the Political & Economic Risk Consultancy (PERC) said in a report, whose executive summary is available on PERC’s website.
Following a massive crackdown on alleged terrorist group Jamaah Islamiyah in recent years, coupled with improving social conditions, Indonesia seems almost guaranteed of stability. But the threat of terrorism is still a factor, PERC warned.
“There is still a possibility of more terrorist incidents, but overall social conditions are more stable now than at any time in a decade,” it said.
PERC assessed 16 countries in its Asian Risk Prospects — 2009 on factors such as the risk of racial and communal tensions, struggle for power, the threat posed by social activism, and vulnerability to policy changes by other governments.
Indonesia, Southeast Asia’s biggest economy, rated as the fourth least stable country in the region, with a score of six on a scale of 10, in which zero represents the best socio-political conditions and 10 the highest risk.
South Asian behemoth India topped the table with the highest political and social risk, scoring 6.87, mainly because of internal and external instability. PERC cited fears over Pakistan, a major player in the global war on terror.
“India faces some of the biggest risks in 2009 because of uncertainties surrounding the coming general election, rising communal violence and terrorism incidents.
“The biggest risk is that a deterioration in political and economic conditions in neighboring Pakistan could aggravate social unrest in India further and hurt national security,” PERC
said.
Thailand is pegged to be the next least stable country in Southeast Asia next year, scoring 6.28, as the current political mayhem and the separatist violence looks set to run into 2009.
Surprisingly, Malaysia, which escaped much of the wrath of the 1997 financial crisis, will be the third least stable in the region, with the report noting the political wranglings were aggravating racial and religious tensions.
“The status quo is changing in ways that will see a stronger political opposition than in the past and UMNO (the ruling party) forced to share more power with non-Malay groups,” the report
said.
But these three countries could be relatively immune to the global financial fallout.
“India, Thailand and Malaysia are not so much vulnerable to negative fallout from the global financial crisis as they are to factors that are mainly internal,” Robert Broadfoot, PERC managing director, told Reuters on Tuesday.
“For these countries, the coming global economic storm is only going to make a bad situation worse,” he said.
The tightly controlled city-state of Singapore was ranked the most stable country, boasting an extremely low political risk in 2009, though its economy is expected to take a big hit from the financial crisis as it heads toward recession.
This is expected to mirror the current situation in the United States, badly weakened economically and psychologically.
“It is a humbling experience that, coinciding with a change in government, is likely to see the U.S. become less aggressive in pushing its views on other countries,” PERC said.
With a score of 5.33, China will have a tough year economically in 2009 but not a disastrous one.
PERC is a consulting firm specializing in strategic business information and analysis for companies doing business in East and Southeast Asia.
Mungkin agak terlewat saya kemari, tapi sumbangan tulisan disini agak menarik perhatian saya.Ulasan yang kritikal dari kedua-dua pihak forumer Malaysia dan Indonesia. Pertamanya, kita perlu belajar untuk bersetuju untuk tidak bersetuju antara satu sama lain.
Saya lihat ulasan mengenai Malaysia tentang ketidakbebasan media walau ada kebenarannya tetapi kurang tepat. Ia bukanlah ketidak bebasan mutlak. Untuk makluman,walaupun TV dan media lain banyak dipengaruhi kerajaan tapi ia tidak melarang adanya akbar alternatif beroperasi.
Akbar berhaluan kiri Harakah, Keadilan, Aliran, Roket dan banyak lagi adalah akbar pelbagai bahasa yang menulis mengenai keburukan kerajaan yang dibiarkan menjadi pilihan rakyat membacanya. Akbar Sun dan Sinar melapurkan tidak berpihak, malas dapat mengupas keburukan dan isu sensitif seluasnya tanpa halangan.
Demontrasi selagi keamanan dapat dipastikan adalah dibenarkan. Anda mungkin mendengar beberapa demontrasi dan ceramah diharamkan, sebenarnya ini peratusan kecil kerana siasatan mendapati kekacauan mungkin dicetuskan.
Reformasi mungkin tidak berlaku diMalaysia seperti berlakunya di Indonesia. Tapi perlu diingat kami tidak pernah ada Orde Baru seperti di Indonesi atau dikawal dibawah pentakbiran tentera.
Kebebasan telah lama dinikmati di Malaysia sejak merdeka lebih 50 tahun lalu yang mana Indonesia merasainya hanya 10 tahun yang lalu selepas reformsi rakyat.
Syukurlah reformasi Malaysia seruan Anwar Ibrahim tidak berlaku, kalau tidak tentunya kami secara tidak langsung dibawah kekuasaan yahudi melalui proksi yang memalukan. Anwar hanya pandai memburukan Malaysia diluar negara dengan rethoriknya. Hakikatnya dia hanya ingin mengusai politik Malasia.Dia hanya pandai berbicara.jangan tertipu dengan manusia begini.
Seterusnay kami telah biasa dengan kebebasan, yang mana ada sedikit kawalan untuk kesejahteraan umum. Formula ini yang membantu kestabilan dan sedikit kejayaan secara bandingannya diperolehi Malaysia.
Secara peribadi, saya amat menyokong keperluan untuk Indonesia mengecapi kejayaan. Sebagai sebuah negara yang besar, Indonesia perlu kuat, dari segi social budaya, politik dan ekonominya. Tapi apakah perlu meGAYANG Malaysia yang kecil ini untuk mengecapi kejayaan Indonesia.
Malaysia sebaliknya sedar sebagai sebuah negara kecil selalu ingin bersahabat dengan negara lain. Rakyat Malaysia secara individu atau berkumpulan tidak ada rasa mahu MENGAYANG INDONESIA, ini tidak pernah dibincangkan oleh rakyat Malaysia.
Walaupun hakikatnya kita semua tahu Indonesia tidak akan berupaya MENGAYANG MALAYSIA dari segi apa sekali pun, perkataan ini hanya merugikan Indonesia kerana dilihat sebagai propaganda jahat dan berniat jahat sedangkan sebaliknya rakyat Malaysia menganggap Indonesia adalah saudara serumpunnya (walaupun Indonesia tidak beranggapan begitu, saya telah faham).
Saya juga terbaca mengenai kebencian terhadap bangsa melayu
Kita akui Melayu sifatnya dominan,mengusai, kuasa perlu ditangannya, ia bangsa pertakbir sejak ribuan tahun,alami turun bangun, kental jiwanya, kuat semangatnya, tegas pendiriannya. perpaduannya sifatnya.
Melayu bagaimanapun sifatnya agak umum di Malaysia dimana walaupun terasnya bangsa Melayu tetapi ia terdiri dari semua suku selagi ia beragama islam. selain bugis,minang, kerichi, aceh orang jawa pun diakui sebagai melayu, malah yang kawin campur India Pakistan, cina, Eropa selagi ia berbahasa melayu dan beragama islam ia diterima sebagai melayu. Walau bangsa melayu ini mendapat keistimewaan, bangsa lain tidak diabaikan termasuk bumiputra Sabah dan Sarawak yang bukan beragama islam menikmati keistimewaan sama. Bangsa lain telah lama diberikan hak warganegara dan bebas mencari rezeki dibumi Malaysia. Malah ramai kaum minoriti ini menjadi kaya raya.
Bebalik kepada Indonesia, sejarah membuktikan bangsa yang kuat bermula dengan pemimpin yang kuat, Presiden Indonesia sekarang Bpk Susilo Bambang Yudhono (SBY) nampaknya mempunyai sifat pemimpin yang bagus. Kumpulkan kekuatan ini untuk membangunkan bangsa Indonesia yang kuat. Saya percaya bangsa Indonesia mampu melakukannya dengan kepimpinan ini.
Saya ada diberitahu bahawa produktiviti padi beras Indonesia adalah 4 kali ganda mengatasi Indonesia, ternakan lembu dan udang lebih modern dan berhasil dari di Malaysia. Malahan Malaysia ingin belajar dari kejayaan Indonesia.
Gunakanlah kekuatan ini untuk terus bagun, dalam masa yang sama atasi kelemahan yang ada seperti korupsi. Inilah yang perlu di lakukan oleh Indonesia untuk terus kuat tanpa perlu menggunakan slogan mengayang negara lain untuk menutupi kelemahan bangsa sendiri.
Apa yang boleh saya bantu Pak ?
saya amat bersetuju..
di malaysia,kami tidak pernah ada rasa ingin meGANYANG indonesia..malah tidak pernah diajar..
mengapa kalian disana harus berbuat begitu..
kami di malaysia sedar yang kami hanya negara yang kecil,sebab itu kami merasakan kami perlu lebih banyak belajar lagi..
indonesia juga harus belajar dari negara kecil seperti malaysia dan singapura..
tak perlu bertengkar, akur-akur saja…
Saya pikir semua negara mempunya plus dan minus. Tergantung bangsa itu sendiri menyikapinya. Ayo sama-sama belajar….
masuk pekarangan rumah tanpa permisi wajib ditegur, bila ditegur terus membandel beri peringatan, bila masih ngeyel ya WAJIB di TEMBAK … yang biar kita punya sikap… bukan cuma omong-omong tentang harga diri tapi ketegasan om….biar tidak dikeleciin negara lain…. Fire….Fire….Fire…
Oh, benarkah, saya sebagai orang Jerman malah berpikir, bahwa kebebasan berpendapat di Indonesia sangat baik. Saya sudah sering ke Indonesia mulai dari 2004-sekarang, dan saya melihat bahwa menurut saya Indonesia lebih bagus dari Malaysia. Memang ekonomi dan masalah Human di sini kalah ketimbang Malaysia. Tapi itu adalah awal, karena saya melihat perkembangan di sini agak mirip dengan USA. USA saj memerlukan waktu ratusan tahun untuk menjadi Super Power. Dan si kurun waktu itu, di USA juga banyak terjadi krisis like in Indonesia. Jika Malaysia memang menghormati Indonesia, kenapa terus menggangu Indonesia? Misalnya tentang blok Ambalat yang jelas-jelas itu peninggalan Netherland? Saya setuju dengan Sipadan dan Ligitan diambil Malaysia karena itu peninggalan Britain. Tapi Ambalat? Saya tidak setuju. Kawan saya di Berlin mengatakan keprihatinannya saat berkunjung di Malaysia karena katanya Malaysia sebenarnya penuh dengan kebohongan Pemerintah Malaysia. Dia juga berkata bahwa dia ikut mendunkung Anwar Ibrahim walau dari jauh. Saya merasa aneh dengan Malaysia, kenapa pada saat Soeharto yang diktator, Malaysia tidak mengganggu Indonesia? Tapi saat Reformasi dan Demokrasi Pancasila di Indonesia, Malaysia kenapa mulai mengganggu? Saya merasa curiga bahwa Pemerintah Malaysia merasa terganggu dengan Reformasi dan Demokrasi di Indonesia. Saya juga curiga dengan comment-comment di atas yang berasal dari Malaysia adalah karena kebiasaan propaganda dari Pemerintah Malaysia yang selalu meninggikan Malayu dan juga tidak adanya kebebasan berpendapat di sana. Selain itu comment tersebut ditulis oleh yang pro pemerintah atau oleh Melayu Malaysia. Entah bagi yang seperti Chinese atau non-Melayu Malaysia. Memang di sana Chinese banyak yang kaya raya, tapi menurut saya itu wajar, karena Chinese dan Arab di Indonesia malah banyak yang kaya raya, bahkan Melayu Indonesia rata-rata kalah kaya. Menrut saya Malaysia terlalu banyak menutupi kekurangannya dan mengagungkan kelebihannya, sehingga menunjukkan keagungan tersebut dengan mengganggu Indonesia. Awalnya Indonesia, tapi mungkin Malaysia akan mengganggu Singapura, Filipina, Vietnam, dsb. Dan karena Kerajaan yang otoriter, mungkin Malaysia takut dengan adanya Reformasi, Revolusi, atau Kudeta yang mengubah Malaysia dengan Demokrasi. Maka Malaysia mengganggu negara demokrasi seperti Indonesia, dan membuat pernyataan bahwa Anwar Ibrahim dan Reformasinya itu buruk untuk Malaysia. Padahal menurut saya sesungguhnya itu baik untuk Malaysia. Dan karena negara demokrasi yang dianggap lemah dan paling dekat untuk diganggu adalah Indonesia, maka Indonesialah yang jadi korban gangguan Malaysia. Menurut saya, Malaysia mulai berubah menjadi fasisme seperti Jerman Hitler, cuma caranya berbeda.
Dan kalau bangsa dam kerajaan Malaysia mamang agung kenapa tidak langsung saja menyerang negara demokrasi kuat seperti Singapura, Australia, atau negara pelopor demokrasi, yaitu USA? Karena dari buku sejarah yang saya baca perjuangan Indonesia terinspirasi dari perjuangan rakyat USA melawan koloni Great Britain. Saya menulis ini comment bukan karena memihak Indonesia, tapi karena saya mendukung Anwar dan demokrasi di dunia. Dan kalau boleh bilang Bali lebih bagus dari KL. BTW saya sekarang suka Petis Madura.
perbicaraan ini penuh dengan rasa iri hati dan jengkel keterlaluan terhadap malaysia…. kalau indon mahu maju…gerakkanlah pemuda dan pemudi berkerja lebih kuat lagi supaya kita rakyat malaysia dan RI dapat kemamuran bersama-sama. komunisme di russia dan cina berlaku disebabkan jurang terlalu luas dari segi ekonomi antara tuan tanah dan buruh…. di malaysia yang ramainya dari kaum pendatang cina menubuhkan parti komunis malaya dan ingin merampas kuasa dari tuan tanah (orang peribumi malaysa)pada awal 60an.. ini tanah melayu dari kawasan nusantara melayu… jika terjatuh kepada komunis cina??? apa akan berlaku pada peribumi melayu di tanah sendiri… oleh itu marilah kita sama-sama berkerja keras menambah kekayaan kita bersama-sama tanpa ada rasa prajudis…. win n win stuation… anda jangan hanya menulis mengikut persepsi yang negetif terhadap melayu di malaysia…cerminlah diri dahulu sebelum menuding jari terhadap orang lain….
siapa anuar ibrahim dari kaca mata orang2 melayu di malaysia…. ???? sejarahnya hanya rakyat malaysia sahaja yang tahu….ingin menjadi no. 1 in malaysia walau dengan apa cara sekalipun…..
UNTUK VON… ANDA TIDAK PERLU MENULIS DENGAN KEADAAN DENGKAL SEJARAH DI MALAYSIA MAU PUN INDONESIA YANG ANDA SOKONG. SEBAGAI RAKYAT DI LUAR MALAYSIA…ANDA TIDAK KENAL SIAPA ANWAR… BAGAI MANA DIA NAIK DARIPADA ORANGH BIASA MENJADI TERKENAL… ANDA HANYA MELIHAT DARI TEPI SAHAJA SEDANGKAN MEJORITI RAKYAT MALAYSIA MELIHATNYA DARI DALAM… DI MALAYSIA KAUM2 PENDATANG DIBERI HAK DISEBABKAN KEMURAHAN HATI PRIBUMINYA TERUTAMANYA ORANG2 MELAYU DAN BUMIPUTRA LAIN. PADA MASA SELEPAS MERDEKA, TG. ABD RAHMAN MINESTER PERTAMA MALAYSIA BOLEH SAHAJA TIDAK MEMBUAT PILIHAN, SAMA ADA MENYURUH KAUM2 PENDATANG YANG HANYA MENUMPANG DI MALAYSIA PADA MASA ITU DAN TIADA STATUS SEBAGAI RAKYAT YANG SAH PULANG KE NEGARA ASAL MEREKA..TAPI DENGAN KEMURAHAN PRIBUMI…MNEREKA DIBERI HAK…TETAPI DENGAN SYARAT….HAK2 KEISTIMEWAAN PRIBUMI DAN DIJAMIN DI DALAM PERLEMBAGAAN TIDAK BOLEH DIGANGGUI. MAKA BOLEH BEBAS MENGAMALKAN PELBAGAI BUDAYA, AGAMA MALAH MENCARI KEKAYAAN, PELAJARAN MALAH PELBAGAI BANTUAN DIBERIKAN TANPA PRAJUDIS RAKYAT BERKETURUNAN PRIBUMI…. RIFOMASI BERLAKU DI MALAYSIA DISEBABKAN KETAMAKAN DAN HALOBA ANUAR IBRAHIM MENGAPI2 BANGSA YANG ASALNYA PENDATANG UNTUK BERSAMA2 BERSIMPATI DENGANNYA ATAS ALASAN KESAKSAMAAN…. MALAYSIA MEMPUNYAI KERAJAAN BERAJA YANG PATUT DITAAT OLEH SEMUA KAUM….KAUM PENDATANG ADALAH RAMAI DI MALAYSIA PADA MASA INI LEBIH BERJAYA BERBANDING KAUM BUMI DISEBABKAN KERAJAAN MALAYSIA TIDAK MENDISKRIMANASI MEREKA… PADA AKHIR2 INI DISEBABKAN KETERBUKAAN KERAJAAN MALAYSIA, KAUM NONBUMI LEBIH BERANA MEMINTA ITU DAN INI YANG BERLEBIHAN. MEREKA MENUBUHKAN PERSATUAN HARAM YANG ADA KAITAN DENGAN LTTE DI SRI LANKA… ADA DI ANTARA MEREKA JUGA YANG INGIN MEMBAWA KEMBALI KETUA PENGGANAS KOMUNIS CHIN PING KE MALAYSIA…. DI MALAYSIA KAUM NONBUMI IAITU KAUM CINA JUGA ADA YANG MENJADI PEMERINTAH ATAU KETUA MENTERI DI PULAU PINANG…DI INDONESIA…KALAU DEMIKIAN JADINYA MAKA AKAN GEGER SUDAH TENTU…. MAKA DI MALAYSIA…ISU MANA YANG LEBIH TERBUKA DAN DEMOKRASI SEMEMANGNYA ADALAM MALAYSIA…. MALAYSIA MEMPUNYAI 14 BUAH NEGERI,DAN SETIAP NEGERI DIO MALAYSIA MEMPUNYAI PEMERINTAHAN MEREKA SENDIRI…BERBANDING DENGAN INDON…MEREKA MENGAMALKAN PEMERINTAHAN BERPUSAT…IAITU JARKARTA YANG MENGAWAL SEGALA2NYA…BERBANDING DI MALAYSIA.. DI SETIAP NEGERI MEREKA MEMPUNYAI SULTAN DAN GABNOUR MASING2 DAN MEREKA MEMPUNYAI KERAJAAN NEGERI MASING2…SETIAP NEGERI MEMPUNYAI KETUA MENTERI DAN AHLI KERAJAANN MASING2. SETIAP NEGERI HANYA BERSEKUTU DENGAN KERAJAAN PUSAT….JADI JIKA DIKIRA…KAUM NONBUMI RAMAI YANG MENJADI PENTADBIR DI NEGERI DI MALAYSIA…BERBANDING DI INDONESIA…BERAPA??MALAYSIA TELAH MENGAMALKAN DEMOJRASI 45 TAHUN LEBIH LAMA BERBANDING INDON…JADI JANGAN PERBANDINGKAN KERAJAAN ANDA DENGAN MALAYSIA…INDON 100 PERATUS BERBEDA DENGAN MALAYSIA…. JANGAN HANYA SEMBRONO SAHA MENGHENTAM MALAYSIA….TANYA MEJORITI RAKYAT MALAYSIA….SIAPA ANWAR IBRAHIM DARI KACAMATA VON….MUNGKIN DIA JUGAK ORANG DARI SINI CUMA MENYAMAR SEBAGAI ORANG GERMANY… AKHIRNYA MALAYSIA SEMEMANGNYA JAUH LEBIH BAIK BERBANDING INDON…DAN LEBIH TERBUKA BERBANDING INDON….WASSALAM…
“SAMA ADA MENYURUH KAUM2 PENDATANG YANG HANYA MENUMPANG DI MALAYSIA PADA MASA ITU DAN TIADA STATUS SEBAGAI RAKYAT YANG SAH PULANG KE NEGARA ASAL MEREKA..TAPI DENGAN KEMURAHAN PRIBUMI…MNEREKA DIBERI HAK…TETAPI DENGAN SYARAT….HAK2 KEISTIMEWAAN PRIBUMI DAN DIJAMIN DI DALAM PERLEMBAGAAN TIDAK BOLEHDIGANGGUI”
comment:
yang dimaksud pendatang selepas kemerdekaan itu siapa? Orang cina dan india, asal anda tau pembedaan hak dan kewajiban berdasarkan ras yang ada di malaysia saat ini, karena pemerintah malaysia (setelah kemerdekaan) merasa khawatir jika kaum cina menguasai malaysia secara ekonomi, politik dan budaya , itulah mengapa dimalaysia, pribumi diperlakukan dengan istimewa terutama secara politik dan ekonomi…baca sejarah…
“MALAYSIA MEMPUNYAI KERAJAAN BERAJA YANG PATUT DITAAT OLEH SEMUA KAUM….KAUM PENDATANG ADALAH RAMAI DI MALAYSIA PADA MASA INI LEBIH BERJAYA BERBANDING KAUM BUMI DISEBABKAN KERAJAAN MALAYSIA TIDAK MENDISKRIMANASI MEREKA…”
comment:
kalau malaysia memang tidak memberlakukan undang undang yang bersifat diskriminasi, mengapa keturunan India di Malaysia berdemo di jalan – jalan, karena mereka merasa dipinggirkan di negara yang kata anda tidak menganut diskriminasi??
“DI SETIAP NEGERI MEREKA MEMPUNYAI SULTAN DAN GABNOUR MASING2 DAN MEREKA MEMPUNYAI KERAJAAN NEGERI MASING2…SETIAP NEGERI MEMPUNYAI KETUA MENTERI DAN AHLI KERAJAANN MASING2. SETIAP NEGERI HANYA BERSEKUTU DENGAN KERAJAAN PUSAT….JADI JIKA DIKIRA…KAUM NONBUMI RAMAI YANG MENJADI PENTADBIR DI NEGERI DI MALAYSIA”
Indonesia bukan negara kerajaan, tapi republik yang dibentuk dan bersatu atas keinginan bersama, di Indonesia dikenal dengan sistem OTONOMI DAERAH, dimana setiap provinsi diperkenankan dan memiliki tanggung jawab atas daerah nya masing2…. jadi kalau anda bilang bahwwa indonesia masih menganut sistem sentralisali… saya rasa itu kurang tepat…
“MALAYSIA TELAH MENGAMALKAN DEMOJRASI 45 TAHUN LEBIH LAMA BERBANDING INDON…JADI JANGAN PERBANDINGKAN KERAJAAN ANDA DENGAN MALAYSIA…INDON 100 PERATUS BERBEDADENGAN MALAYSIA”
comment:
tahukah anda bahwa Indonesia adalah negara demokrasi no 3 terbesar di dunia?! sedang malaysia? kalau memang negara anda menganut paham demokrasi… lalu mengapa hukum yang mengistimewakan pribumi di bidang politik dan ekonomi masih diberlakukan samapai saat ini?
Tell me what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

