Malaysia tak habis pikir dengan sikap Indonesia yang mempertikai Lagu “Rasa Sayange” yang menjadi lagu tema kampanye parawisata mereka. Mereka bersikeras “Rasa Sayang” adalah lagu rakyat Nusantara. Buat mereka, sikap Indonesia emosional karena membesar-besarkan masalah kecil. “Indonesia telah hilang rasa sayang serumpun,” kata mereka.

Perkara lagu Rasa Sayange (atau Rasa Sayang) memperkuat anggapan bahwa hubungan Indonesia dengan Malaysia saat ini bermasalah. Mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas pernah mengingatkan bahwa hubungan Indonesia dengan Malaysia memendam bom waktu.

Rakyat Malaysia pada umumnya menganggap pekerja Indonesia bodoh, takterdidik, dan akar kejahatan di negara mereka meskipun faktanya delapan puluh persen penjenayah orang Malaysia sendiri. Betapa parah stereotip orang Malaysia terhadap Indonesia bisa dilihat di Malaysia Forum atau Indonesia Froum.

Di pihak lain, orang Indonesia menganggap Malaysia “orang kaya baru yang sombong,” lantaran memperlakukan warga Indonesia dengan semena-mena, kejam, kasar, biadab. Tidak hanya terhadap buruh migran, penghinaan juga dilakukan terhadap olahragawan yang diundang resmi, wisatawan, bahkan warga yang menunjukkan paspor diplomat sekalipun. Xenofobia seolah berulang tatkala tentara, polis, dan anggota Rela berhadap-hadapan dengan orang Indonesia. Itulah akar yang membangkitkan sentimen anti-Malaysia.

“Sepanjang stereotip ini berlaku, hubungan kedua negara akan tegang,” kata Ali Alatas.

* * *

Pada saat memperingati Tahun Emas Kemerdekaan Malaysia, Bernama menurunkan tajuk berjudul “Look How Far We’ve Come”. Isinya puja-puji atas capaian ekonomi Malaysia.

“Lihatlah, betapa jauh capaian kita,” tulis kantor berita negeri seberang itu: Pendapatan per kapita kotor meningkat 26 kali semenjak merdeka pada tahun 1957, perbandingan jumlah fasilitas sosial terhadap banyak penduduk meningkat, pendidikan dan sumber daya manusia semakin berkualitas.

Dengan percaya diri Bernama menulis, pada tahun 2010 jumlah penduduk Malaysia yang berada di bawah garis kemiskinan akan tinggal 2,8 peratus, sedangkan akar kemiskinan akan lenyap pada tahun itu juga. “Kita layak menghargai capaian kita,” tulis Bernama.

* * *

Pada pertengahan tahun 1998, Indonesia mulai menghadapi segudang persoalan. Bak pesawat terbang yang menukik jatuh, sistem moneter Indonesia merosot tajam. Adegan-adegan selanjutnya berganti dengan cepat: Presiden Suharto mundur. Indonesia mengalami kekacauan politik, ekonomi, sosial, budaya. Kerusuhan rasial membakar Jakarta dan Solo akibat makar tangan-tangan jahat. Maluku. Kalimantan, Sulawesi, menghadapi benturan fisik antarpuak. Timor Timur lepas. Papua bergejolak. Pengaruh dan kekuasan gerakan pemisahan daerah Gerakan Aceh Merdeka di Serambi Mekkah menguat. Islam radikal menyebarkan teror di Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi. Indonesia diperkirakan runtuh dalam jangka taklama sebagaimana Yugoslavia. Ini masa ujian yang berat pasca Perang Kemerdekaan 1945-1949, ataupun pembangunan berencana yang damai 1969-1997.

Akan tetapi, Indonesia bangsa yang cepat belajar. Proses reformasi konstitusional dijalankan dengan baik oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan kini Susilo Bambang Yudhoyono.

Konsep “Negara Kesatuan Republik Indonesia” didefinsikan ulang. Tahanan politik dibebaskan. Undang-undang dasar yang dahulu sakral diamandemen berkali-kali. Hubungan antara pusat dengan daerah direvisi. Daerah memperoleh kemandirian yang luas. Ada penyetaraan etnis. Ada pelembagaan demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Kebebasan berbicara dan media massa bukan lagi sekadar slogan.

Menginjak tahun kesepuluh, pranata-pranata masyarakat madani bermekaran dan posisinya semakin kuat. Seluruh struktur politik, ekonomi, sosial, dan budaya melakukan swakritik dan perbaikan diri sehingga struktur saat ini menjadi terbuka, lentur, dan dewasa. Keikutsertaan rakyat dalam struktur meningkat dan meluas.

Pemilihan presiden secara langsung berlaku mulai tahun 2004. Boleh dibilang, demokrasi Indonesia pada tahun ini sudah lebih matang daripada pertengahan 1999. Demokrasi semakin diperkukuh dengan pemilihan kepala daerah secara langsung.

Memang pemulihan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan lebih lambat daripada sejumlah negara rantau di Asia Timur dan Tenggara yang juga menghadapi krisis. Namun, itulah biaya yang terpaksa dipikul, lantaran Indonesia harus memperbaiki tidak saja struktur ekonomi, tapi juga struktur politik, sosial, dan budaya.

Atas capaian ini, International Association of Political Consultant (IAPC) berencana menganugerahkan penghargaan Democracy Medal Award kepada Indonesia dalam konferensi dunia mereka di Bali 12-14 November. IPAC adalah organisasi antarbangsa yang bermaksud mempromosikan demokrasi di seluruh dunia. Ini pengakuan masyarakat internasional kepada seluruh rakyat Indonesia yang berhasil mengembangkan dan melaksanakan struktur demokrasi dengan baik.

Sebaliknya, krisis 1998 tidak menyebabkan Malaysia melakukan perubahan terhadap struktur politiknya. Gerakan reformasi di Malaysia gagal. Mengapa?

* * *

Meskipun tidak lagi dijajah Inggris, Malaysia melanjutkan dan dan mengembangkan undang-undang anti-subversi rezim kolonial yang represif dan birokrasi yang sangat kuat. Ini berkaitan dengan hasrat puak Melayu memonopoli kekuasaan untuk menghadapi minoritas etnis Tionghoa (35 persen) dan India (10 persen) (Anderson, 1998, dalam Haryanto dan Mandal: 2004: 7). Pranata-pranata sosial-politik Malaysia tersekat menurut garis etnis. Sampai hari ini, misalnya, bumiputera menjadi anak emas, kelompok kesayangan dalam menikmati peluang modernisasi.

Sebaliknya, di Indonesia pasca 1998, suku Tionghoa mendapatkan pengakuan konstitusional secara politik, sosial, dan budaya. Identitas budaya Tionghoa yang sebelumnya terlarang, umpamanya, kini boleh dipraktikkan kembali. Barongsai — boneka naga raksasa — misalnya, sudah menjadi tradisi dalam perayaan nasional dan daerah, yang ditarikan oleh pelbagai suku, tidak hanya Tionghoa.

Media cetak dan stasiun televisi berbahasa Mandarin tidak melulu berbicara tentang masalah komunitas secara eksklusif, tapi juga kebangsaan. Tidak seperti di Malaysia, puak Tionghoa di Indonesia adaptif, patriotis, dan berbicara dan berperilaku sebagaimana suku-suku lain.

“Saya takpernah melihat mahasiswa-mahasiswa Melayu berbaur dengan mahasiswa-mahasiswa Tionghoa seperti di Indonesia,” seorang kawan bertutur tentang hubungan antaretnis di perguruan tinggi di Malaysia.

Hubungan antarentnis di Malaysia jauh lebih rentan konflik lantaran pemingggiran etnis non-Melayu di Malaysia. Mereka merasa mendapat peran sebagai warga negara kelas dua. “Nasionalisme” di Malaysia bermakna nasionalisme demi kepentingan Melayu.

Melayu berarti Muslim. Di luar itu non-Muslim. Secara serta-merta politik Malaysia pun meminggirkan agama-agama lain, padahal Islam di negara itu hanya dianut 55 peratus penduduk. Politik diskriminasi ini abai terhadap fakta bahwa di Sabah dan Serawak Muslim hanyalah minoritas. Ia juga abai terhadap realitas bahwa Malaysia seharusnya menjadi negara multikultur yang adil.

Philip Bowring, jurnalis Boston Globe menulis:

Malaysia may have a lot to learn from Indonesia, where some elements of anti-immigrant bias against the Chinese minority remain but where the vague national ideology, pancasila, embraces all religions and underwrites (except in Aceh Province) a secular system.

Berlanjut ke:
Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 2/3): Indonesia Negara Bebas, Malaysia Negara yang Mengekang
Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 3/3): Indonesia Menuju Perbaikan; Malaysia, Kerusakan

Informasi Lain
Politik Malaysia

Popularity: 83% [?]

Comments

75 Responses to “Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 1/3): Indonesia Sebenar-benar Asia yang Multikultur dan Demokratis”

  1. AM Putra on Oktober 20th, 2007 12:37

    Aneh juga Malaysia. Sebagai negara Muslim, mereka menjalankan kehidupan yang menjaga jarak dan tidak berbaur dengan Non-Muslim. Meski kehidupan ke-Islam-an di Indonesia tidak sebaik di Malaysia, namun dalam bertoleransi kita masih lebih baik. Sebab, bagaimana Islam akan dilihat baik kalau ia adalah sesuatu yang menjaga jarak?

  2. Ade on Oktober 20th, 2007 13:19

    entah ini stereotip atau bukan..dan tentu saja ini penilaian yang sangat mudah dituduh subyektif..tapi sejauh observasi saya..justru teman-teman saya di Indonesia, khususnya di kota-kota besar macam Jakarta, yang sering menertawakan perilaku orang Malay di sekitar mereka (tinggal di Indon) yang rada udik..

    padahal mereka itu (si orang2 Malay) bukan pekerja2 kasar kayak TKI2 kita yang ke sana loohhh

    tapi bagaimanapun juga saya nggak percaya stereotip. Orang Indonesia harus buktikan dirinya sebagai bangsa paling plural dan toleran di muka bumi ini..

    Mumpung lebaran..Maaf buat saudara2 di negeri seberang

  3. purmana on Oktober 20th, 2007 14:26

    Di ITB pun mahasiswa International Class-nya yang rata2 dari Malaysia terlihat terlalu meng-eksklusifkan diri, mereka jarang berbaur dengan orang Indonesia yang ganteng-ganteng ini.

    Beda kalo sama mahasiswa bule, bule tuh baik2 bahkan gak malu2 kalo nanya lokasi ruangan ke mahasiswa pribumi, Ya walaupun agak susah komunikasi pake bahasa si bule tersebut :mrgreen:

  4. rozenesia on Oktober 20th, 2007 14:55

    Saya memang nggak begitu mengamati sejarah Tionghoa di Malaysia, tapi mungkin saya yakin kalau di Malaysia juga ada skenario minoritas perantara seperti yang ada di Indonesia, di mana warga keturunan Yionghoa (seperti saya) dijadikan sebagai sapi perah penguasa dan kambing hitam jika ada gejolak massa. Tapi di sini saya lihat, ada pengaplikasian yang berebda. Jika di Indonesia dulunya dijadikan sapi perah dan kambing hitam, mungkin saja tidak begitu di Malaysia. Namun tetap saja ada skenario minoritas perantara. ;)

  5. Hati Nurani on Oktober 21st, 2007 02:50

    Menurut saya, salah satu faktor penting yang membuat Cina di Indonesia berbeda dengan Cina Malaysia adalah karena budaya Jawa yang lentur. Ada seorang teman keturunan Cina yang demikian kagumnya terhadap budaya Jawa, katanya Budha masuk ke Jawa jadilah Budha Jawa, Hindu masuk jadilah Hindu Jawa, Islam masuk dan jadilah Islam Jawa, Cina masuk Jawa jadilah Cina Jawa. Coba kita perhatikan, sebagian besar orang Cina yang tinggal di Jawa Tengah dan Jawa Timur berbicara sehari-hari dalam bahasa Jawa, bahkan dengan logat yang sangat kental. Hanya karena politik devide-et-impera penjajah Belanda dan dilanjutkan oleh rezim Orde Baru, tercipta sekat antara masyarakat Cina dan pribumi yang mudah-mudahan akan semakin luntur dalam zaman demokrasi seperti ini.

    Mas Junarto, saya setuju bahwa Indonesia di masa mendatang akan lebih berjaya daripada Malaysia karena Indonesia telah memiliki fondasi sosial budaya yang lebih baik

  6. Mohd on Oktober 21st, 2007 02:51

    “What’s your yard-stick?” apa tolok ukur yang saudara pakae untuk mengatakan Indonesia lebih berjaya dari Malaysia? Bukti rakyat Indonesia terpaksa membanjiri Malaysia juga menunjukkan kegagalan pemerintah Indonesia untuk meyediakan job oppotunities di Indonesia.Kalu ramai warga Indoneseia datang ke Malaysia gayak pengemis (beggar) ramae warga Malaysia ke Indonesia sebagai Warisita, ini namanya Indonesia lebih teruk dari Malaysia.

    Guae pernah ke Indonesia, melihat sendiri “rumah kotak” di Indonesia, anak gelandangan, dan ibu yang mengusung anak di traffic light, pasca 10 tahun Reformasi Indonesia, minggu lepas. Aku katakan fenomena ini tidak ada di Malaysia. Apasih kalau itu tolok ukur, Malaysia jauh meninggalkan Indonesia dong.

    Anda bisa sahaja berkhayal, menulis, bercererita dan perasan sendiri anda maju dan lebih bagus.
    Tapi realitasnya tidak bisa dipungkiri oleh orang yang berakal…
    Nanti orang akan katakan anda ini Konyol.

    RoslanK
    Warga Malaysia, Leluhurku dari Malang.

  7. Hati Nurani on Oktober 21st, 2007 03:33

    Bung Roslan, kalau hanya diukur dari kemakmuran seperti income per capita, saat ini memang betul bahwa Malaysia lebih “makmur” dari Indonesia. Tapi yang ingin disampaikan oleh Bung Yunarto adalah lebih dalam dari sekedar kemakmuran yang Bung Roslan maksudkan.

    Indonesia telah mulai kembali ke “track” yang benar setelah lebih dari 30 tahun dibelenggu oleh rezim otoriter orde baru, dimana pada saat itu terlihat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hebat namun rupanya keropos.

    Saat ini, walau masih banyak orang miskin di Indonesia, tapi kita merasakan dampak yang sangat positif hasil dari reformasi utamanya adalah kebebasan berekspresi dan kebebasan pers. Kita lihat kalau 10 tahun lalu, musik Indonesia dikuasai oleh musik barat, sekarang musik Indonesia telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Anak-anak muda, dari kalangan bawah hingga atas sangat menyukai musik anak negeri. Lihat saja, pemusik-pemusik Indonesia seperti Kris Dayanti, Ruth Sahanaya, Titi DJ, Melly Goeslaw, Peterpan, Samsons, Dewa, Padi, Slank, Letto selalu menghiasi acara-acara musik di TV, radio dan pentas musik bahkan merambah sampai ke Malaysia, Singapore dan Brunei. Demikian pula film Indonesia mulai menggeliat walaupun masih belum sehebat musik Indonesia. Produk seni lokal seperti batik dan kuliner juga sudah terlihat kemajuan yang luar biasa. Kita bisa lihat outlet-outlet batik seperti Danarhadi, Batik Keris, Iwan Tirta sudah mulai berdiri sejajar dengan produk-produk fashion kelas dunia di mal-mal utama di kota-kota besar. Restoran-restoran bernuansa Indonesia kelas papan atas juga banyak bertaburan dan diminati kalangan atas seperti Kembang Goela, Warung Daun, Tiga Nyonya dan bersaing dengan resto kelas dunia.

    Kita juga lihat kebebasan pers yang luar biasa. Kritik kepada presiden dan pejabat pemerintah sudah menjadi makanan sehari-hari di surat kabar, radio dan TV. Pemikiran-pemikiran intelektual agama yang progresif juga bukan merupakan hal-hal yang tabu lagi untuk diperdebatkan di surat kabar, TV dan internet antara lain bisa dilihat di website nya Islam Liberal di http://www.islamlib.com.

    Pekerjaan rumah kita masih banyak, itu memang betul, pak Roslan utamanya adalah pengentasan kemiskinan dan korupsi. Juga betul bahwa para pekerja kasar dari Indonesia masih banyak yang harus bekerja di luar negeri dan sebagian diperlakukan dengan tidak manusiawi antara lain di Malaysia dan Arab Saudi. Karena korupsi dari oknum aparat Indonesia dan kolusi dengan cukong Malaysia, hutan Indonesia juga masih terus dijarah dalam skala besar-besaran.

    Namun di balik semua kekurangan itu, saya orang Indonesia yang keturunan Cina dan beragama Kristen bangga menjadi bangsa Indonesia, bangga memiliki tanah air Indonesia dan bangga memiliki bahasa nasional, Bahasa Indonesia. Air mata saya menetes setiap kali lagu kebanggsaan Indonesia Raya terdengar.

    JAYALAH INDONESIA KU !!

  8. indonesiaku on Oktober 21st, 2007 04:03

    mas junarto dan saudara “hati nurani” saya setuju dengan pendapat anda berdua, bahwa sangat banyak kemajuan yang bersifat fundamental dalam bangsa indonesia. Terutama demokrasi, kebebasan ekspresi, pers, budaya, politik dan lainnya. memang secara ekonomi 10 tahun terakhir indonesia tertinggal dari beberapa negara tetangga, tapi saya percaya bahwa dengan fundamental demokrasi yang sedang kita bangun sekarang akan menjadi landasan kuat bagi kemakmuran kedepan.
    Indonesia negara besar, dengan kekeyaan alam dan budaya yang luar biasa.

  9. anggrek on Oktober 21st, 2007 05:53

    kalo mau bangga ama diri sendiri ya boleh2 aja. tapi jangan jadikan orang lain kambing hitamnya. jangan menghina orang lain. ga etis banget!

    bagus juga indonesia lebih makmur dari malaysia. agar tiada ladi busung lapar. agar warga yang tersiksa kerna lumpur lapindo bisa terbela. ahhh banyak banget masalah yg harus diselesaikan.

    bosen ngomong ahhh.

  10. Junarto Imam Prakoso on Oktober 21st, 2007 06:25

    @ Mohd
    Terima kasih atas pertanyaan Anda. Hati Nurani dan Indonesiaku sudah sangat mewakili jawaban saya.

  11. Hati Nurani on Oktober 21st, 2007 07:06

    Saudara Anggrek, menurut saya kondisi psikologis bangsa Indonesia saat ini secara umum memang sedang jengkel dengan Malaysia karena kasus terbitnya secara sepihak peta wilayah Malaysia, claim Malaysia terhadap beberapa pulau & wilayah laut yang selama ini dianggap sebagai milik Indonesia, perasaan tidak adil terhadap kasus Ligitan/Sipadan yang dimenangkan untuk Malaysia oleh Mahkamah Internasional dengan alasan karena Malaysia de facto sudah masuk di situ dan melakukan konservasi alam, pencurian kayu dari hutan Kalimantan secara besar-besaran oleh cukong Malaysia yang berkolusi dengan oknum aparat Indonesia, klaim Malaysia terhadap perairan Ambalat yang kaya akan minyak serta perlakuan kasar terhadap TKI yang bekerja di Malaysia.

    Banyak orang Indonesia melihat bahwa perilaku Malaysia seperti di atas dilakukan secara intensif pada saat-saat Indonesia dalam kondisi susah & lemah karena krisis ekonomi yang sangat parah sejak tahun 1998 disertai dengan peralihan dari rezim otoriter orde baru ke era demokrasi.

    Dari sudut kepentingan nasional Malaysia, mungkin sah-sah saja untuk melakukan hal-hal seperti tersebut di atas apalagi itu terjadi dengan keterlibatan dan dukungan oknum aparat & orang Indonesia tapi sebagai tetangga dekat yang katanya “saudara serumpun” kebanyakan orang Indonesia berharap hal-hal tersebut tidak dilakukan oleh Malaysia pada saat Indonesia dalam keadaan susah & lemah. Banyak orang Indonesia menilai bahwa Malaysia “mengambil kesempatan dalam kesempitan”, seperti halnya John Howard, PM Australia yang mengambil kesempatan dimana Indonesia dalam kondisi lemah untuk memerdekakan Timor Timur.

    Namun akhirnya, bangsa Indonesia harus berintrospeksi diri bahwa dalam hubungan internasional antar bangsa, memang tidak ada istilah negara sahabat yang abadi bahkan dari bangsa serumpun pun, yang ada adalah kepentingan nasional masing-masing negara sehingga bangsa Indonesia harus bangkit, bersatu padu dan segera berbenah diri untuk bisa maju dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Jangan lagi kita mau diadu domba karena masalah suku, agama, etnis. Korupsi, hukum, militer, pendidikan, pengelolaan mineral, hutan dan laut harus mendapatkan prioritas utama untuk segera kita benahi.

    Fondasi bangsa ini sudah benar yaitu dasar negara kebangsaan yang menaungi segenap komponen bangsa Indonesia yang sangat majemuk yaitu PANCASILA termasuk demokrasi sebagai salah satu pilar utamanya.

    MAJULAH INDONESIA KU !!

  12. dewo on Oktober 21st, 2007 09:06

    Artikel yang membuka wawasan.

    Salam kenal.

  13. Junarto Imam Prakoso on Oktober 21st, 2007 10:04

    anggrek berkata:

    kalo mau bangga ama diri sendiri ya boleh2 aja. tapi jangan jadikan orang lain kambing hitamnya. jangan menghina orang lain. ga etis banget!

    bagus juga indonesia lebih makmur dari malaysia. agar tiada ladi busung lapar. agar warga yang tersiksa kerna lumpur lapindo bisa terbela. ahhh banyak banget masalah yg harus diselesaikan.

    bosen ngomong ahhh”

    @ Anggrek
    Yang saya permasalahkan adalah perbandingan sistem secara mendasar, bukan kasus-kasus permukaan. Pokok argumen saya adalah sistem Indonesia yang baru (setelah melewati masa transisi yang sulit) telah beradaptasi dan bergerak jauh lebih baik ketimbang Malaysia pada saat ini.

    BTW, silahkan berpendapat apapun, asalkan santun. Tunjukkan bahwa Anda mewakili negara Malaysia yang beradab.

    Terima kasih :)

  14. hmcahyo on Oktober 21st, 2007 19:38

    iya.. memang lebih baik… dalam keterbukaan… sampe-2 pada nggak bisa diatur :) Ingat kasus idul fitri barusan :(

  15. hmcahyo on Oktober 21st, 2007 19:47

    iya.. lebih baik… lebih bisa ngomong sebebasnya.. lebih susah ngaturnya :) inget kausus idul fitri kemarin :) bisa 4 versi.. oii.. :) hebatt :)

  16. Liesiana Kurniawati on Oktober 22nd, 2007 03:21

    Tuhan sedang mempersiapkan bangsa Indonesia untuk menerima berkatnya yang berlimpah, orang yang tinggi hati akan direndahkan, yang rendah hati dan terus berusaha akan ditinggikan. Bravo, aku bangga jadi bangsa Indonesia, kalaupun banyak kekurangan, ayo kita terus bahu membahu berjuang memperbaikinya. Jayalah bangsakuku, Jayalah negriku, Jayalah Indonesiaku.

  17. lisno setiawan on Oktober 22nd, 2007 09:33

    # Mohd Berkata:
    RoslanK
    Warga Malaysia, Leluhurku dari Malang.

    Oktober 21st, 2007 pada 2:51 am

    1) “What’s your yard-stick?” apa tolok ukur yang saudara pakae untuk mengatakan Indonesia lebih berjaya dari Malaysia? Bukti rakyat Indonesia terpaksa membanjiri Malaysia juga menunjukkan kegagalan pemerintah Indonesia untuk meyediakan job oppotunities di Indonesia.Kalu ramai warga Indoneseia datang ke Malaysia gayak pengemis (beggar) ramae warga Malaysia ke Indonesia sebagai Warisita, ini namanya Indonesia lebih teruk dari Malaysia.
    ………..
    comment :
    Berjaya adalah sebuah kata sejarah yang menyatakan bahwa suatu bangsa
    pernah dalam siklus teratas. Kita perlu menengok bahwa semua bangsa mempunyai periode naik turun. Begitu dengan Amerika, malaysia dan Indonesia. Kata-kata berjaya hanya bisa dianugerahkan oleh negara lain bukan oleh bangsa itu sendiri.

    2)Guae pernah ke Indonesia, melihat sendiri “rumah kotak” di Indonesia, anak gelandangan, dan ibu yang mengusung anak di traffic light, pasca 10 tahun Reformasi Indonesia, minggu lepas. Aku katakan fenomena ini tidak ada di Malaysia. Apasih kalau itu tolok ukur, Malaysia jauh meninggalkan Indonesia dong.

    Anda bisa sahaja berkhayal, menulis, bercererita dan perasan sendiri anda maju dan lebih bagus.
    Tapi realitasnya tidak bisa dipungkiri oleh orang yang berakal…
    Nanti orang akan katakan anda ini Konyol.

    ……………..
    Comment :
    Tolok ukur kemiskinan seseorang memang bisa dijadikan dasar harga diri suatui bangsa. Tetapi apakah hal itu, suatu yang bersifat statis. Perlu diingat nusantara adalah pemodal terbesar dalam perekonomian dunia pada pasca perang dunia I dan konon Bank Suizze telah menginventarisir keberadaan harta tersebut (coba cek dalam situs bank of suizze). Jadi yang lebih tepatnya Malysia dan Indonesia bersaudara dan saling mengingatkan agar tidak saling merugi. Bukankah kita serumpun dalam nusantara. Seperti kata Dewa 19 “Aku bukan orang Jawa, AKu bukan orang cina, AKu bukan orang sunda, aku bukan melayu tapi aku adalah orang indonesia saja atau bisa diganti deh aku orang malaysia saja”. Bhineka Tunggal Ika…ada kata yang lebih toleran dengan kata tersebut di dunia ini…Saya yakin JK Kennedy pun takluk dengan kata tersebut.

  18. Mihael "D.B." Ellinsworth on Oktober 22nd, 2007 13:39

    Sebenarnya, Malaysia dan Indonesia tidak bisa dipersalahkan.

    Salahkan pemimpinnya…. :-?

  19. wedulgembez on Oktober 23rd, 2007 13:31

    wah gue juga gak setuju dengan malaysia, tapi jangan bawa2 muslim dong. itu mah manusianya saja.

  20. jaysam on Oktober 23rd, 2007 20:36

    kasihan juga yah warga2 Indonesia yang disana
    tapi hidup bagaikan roda yang selalu menggelinding
    kadang di atas dan kadang di atas

    begitu juga kehidupan
    kalau sekarang ekonomi bangsa kita masih jauh di bawah perekonomian malaysia, semoga kedepan perekonomian kita semain membaik

    namun kalau kita sudah di atas, kalau boleh jangan terpeleset ke bawah
    sekarang bangsa kita disebut lebih bebas daripada malaysia yang disebut negara yang mengekang, semoga ini terus berjaya
    dan kita sebagai warga negara yang baik tidak perlu membeber-beberkan kekurangan mereka (Malaysia), nanti orang Indonesia malah disebut sebagai bangsa yang taunya cuman membeber-beberkan kekurangan negara lain

    sakit hati saya terhadap warga malaysia mungkin sama dengan sakit hati anda semua, cuman kita tidak usah membeber-beberkannya. Setinggi-tinggi tupai melompat, jatuhnya pasti ke kubangan juga

  21. Hati Nurani on Oktober 23rd, 2007 21:19

    saya pernah dengar cerita teman bahwa saat ini banyak keluarga Malaysia menggunakan pembantu asal Indonesia untuk mengasuh anak-anak mereka sementara kedua orang tua sibuk bekerja. Para pembantu berbicara bahasa Indonesia dengan anak-anak Malaysia tersebut, sama-sama gemar menonton sinetron Indonesia dan mendengarkan musik-musik Indonesia yang marak di Malaysia. Waktu mereka besar, jangan heran kalau kemudian mereka akan banyak memiliki budaya yang tidak banyak berbeda dengan orang-orang Indonesia. Mungkin Malaysia dan Indonesia kelak akan menjadi satu dalam naungan negara NUSANTARA

  22. Hati Nurani on Oktober 23rd, 2007 21:56

    19/09/07 08:27

    Protes Artis Malaysia Atas Musik Indonesia Berlanjut

    Kuala Lumpur (ANTARA News) – Protes penyanyi Malaysia terhadap seringnya radio swasta di negeri jiran itu memutar lagu Indonesia terus berlanjut, dengan disiapkannya gugatan oleh persatuan penyanyi dan pencipta lagu Malaysia (Papita).

    Presiden Papita, M Daud Wahid, kepada koran “Berita Harian”, Selasa, mengatakan sudah menunjuk pengacara untuk membuat surat gugatan atas surat bantahan para pengusaha radio swasta.

    Sebelumnya, para pengusaha membantah tuduhan para artis Malaysia yang menyebutkan bahwa mereka lebih banyak memutar lagu-lagu penyanyi atau grup musik Indonesia dibandingkan Malaysia.

    Dalam suratnya, Papita akan menyatakan kekecewaan terhadap radio swasta yang lebih sering memutar lagu Indonesia dibandingkan lagu Malaysia.

    “Apabila memorandum itu siap, Papita akan menyerahkannya kepada Kementerian Tenaga, Air, dan Komunikasi dan ahli Parlimen supaya isu penyiaran lagu dari Indonesia yang mendapat keutamaan oleh radio swasta diberikan perhatian dengan sewajarnya,” kata M Daud Wahid sebagai dikutip harian itu.

    Daud mengatakan, untuk saat ini, Papita tidak akan membuat rundingan atau perbincangan dengan organisasi musik Indonesia.

    Ia menegaskan istilah Malaysia dan Indonesia mempunyai hubungan budaya serumpun hanyalah retorik saja, karena hal itu hanya satu konsep yang menarik di atas kertas, tetapi secara praktiknya negara Malaysia yang lebih banyak mengalah dengan karyawan seni dari negara seberang.

    Sebelumnya Papita sudah membuat MOU dengan organisasi atau persatuan Indonesia supaya mereka juga memberikan dukungan kepada para penyanyi Malaysia yang hendak mencari peluang di sana. Tapi mereka tidak berbuat apa-apa.

    “Jadi Papita sekarang akan banyak bertindak dari sini saja. Kita juga akan mendesak pemerintah, agensinya dan stesen radio dan TV supaya tidak mudah membawa penyanyi dari Indonesia,” kata dia. (*)

  23. IAn on Oktober 24th, 2007 00:43

    lagu “rasa sayange” dicuri dijadiin lagu iklan pariwisata mah biasa. yang luar biasa lagu kebangsaan malaysia adalah lagu penyanyi indonesia di tahun sekitar 40-50an.
    apa gak malu tuh malaysia. bikin lagu sendiri aja gak bisa..
    lagu artis indonesia gak boleh diputer di malaysia biarin aja, dari pada dijadiin lagu “kebangsaaan” malaysia

  24. Mohd on Oktober 24th, 2007 04:34

    # IAn Berkata:
    Oktober 24th, 2007 pada 12:43 am

    lagu “rasa sayange” dicuri dijadiin lagu iklan pariwisata mah biasa. yang luar biasa lagu kebangsaan malaysia adalah lagu penyanyi indonesia di tahun sekitar 40-50an.
    apa gak malu tuh malaysia. bikin lagu sendiri aja gak bisa..
    lagu artis indonesia gak boleh diputer di malaysia biarin aja, dari pada dijadiin lagu “kebangsaaan” malaysia

    ==================
    Jawapan untuk IAN.
    Mungkin IAN ini kurang membaca, lagu Terang Bulan di Bali tidak ada kaitannya dengan lagu Negaraku Malaysia. Mungkin saudara keliru dengan pernyataan bahawa lagi negaraku diambil dari lagu TERANG BULAN. Saudara lantas menebak, ini satu lagi ciplak (bajakan) ke atas Indonesia.

    Terang Bulan yang dimaksudkan adalah lagu Terang Bulan dari negeri Perak, yang mana lagu ini lagu rakyat tentang ketaatan kepada negeri, lagu bersemangat Patriotik. Lagu TERANG BULAN diKali lagu rakyat indonesia yang dinyanyikan di Pasar malam aja.
    Judul sama tidak bermakna lagunya dan liriknya sama dong…

    Harap warga Indonesia berfikir dulu sebelum menulis, jangan menulis dulu baru berfikir, Itu namanya emotional (emosi).

    RoslanK

  25. nationalist_servant on Oktober 25th, 2007 15:57

    INDONESIA RULES MALAYSIA

    Yang saya bicarakan bukan sekedar propaganda, tetapi fakta bahwa sesungguhnya Malaysia TAKUT pada Indonesia. Lihat saja, berapa banyak pasir dan kayu illegal logging yang dicuri Malaysia, berapa banyak TKI kita yang disiksa dan mati dengan tangan kosong, berapa banyak pulau kita yang diklaim oleh mereka, dan berapa banyak hasil kebudayaan kita yang akan dijarah dan dimanfaatkan untuk kepentingan mereka.

    BERAPA BANYAK LAGI DARI KITA YANG BERDIAM DIRI ATAU YANG MAU BANGKIT MELAWAN MALAYSIA?

    Saudaraku sebangsa dan setanah air, saya katakan ini dari hati saya yang paling dalam. Jangan pernah iri terhadap Malaysia. MEREKALAH yang IRI pada kebesaran bangsa kita!! Ingat jangan pernah katakan lagi GANYANG MALAYSIA, tapi serukan ini ke seluruh dunia bahwa INDONESIA RULES MALAYSIA FOREVER!!!

    Tak pernah dalam sejarah, Malingsia itu menguasai wilayah Indonesia sekalipun. TIDAK!! Hanya Indonesia yang pernah menguasai Nusantara, dan akan terjadi lagi. Nusantara pernah menjadi sebuah eksistensi dan integritas dalam sejarah dunia oleh Majapahit. Para anak cucu dari sebuah bangsa Nusantara, ayo bangkit melawan diri kita, baru kita serang musuh kita.

    Saya memohon bagi seluruh individu atau komunitas Indonesia, ayo berubah, ubahlah diri kalian dan ubahlah saudara-saudara kalian. Jadilah diri kalian sebagai bagian dari sejarah, bukan hanya sebagai pembaca sejarah. DO IT!!!

    Maka sekian kata-kata dari saya. Tak lupa saya ucapkan pesan Bung Karno yang tertancap dalam hati setiap manusia INDONESIA.

    MERDEKA!!!

    VIVA INDONESIA

  26. daengmatajang on Oktober 27th, 2007 17:08

    kasian banget ama orang indonesia yang bukan jawa. mereka sok ngaku2 merdeka. kenyataannya mana pernah mereka merdeka. coba deh pikir pake otak!

    kalian pikir nenek moyang kalian berjuang kerna mau menjadikan tanah air kamu menjadi indonesia? cut nyak dhien, pattimura, sipitung dan banyak lagi… apa mungkin mereka mau menjadi bagian dari indonesia kalau mereka tau mereka dan keturunan mereka akan hilang kekuasaan. miriplah ama dijajah belanda ama jepang!

    apa kalian bangga kan ama sejarahnya majapahit? sejarahnya majapahit itu milik orang jawa. nenek moyang kalian kan pernah diserang dan dibunuh ama majapahit. trus sekarang kamu bangga-banggain mereka?

    wilayah nkri hanya coretan di atlas, dari sabang sampe merauke. apakah orang2 dari sabang sampe merauke tau atau rela di indonesiakan ketika itu? ga pernah ada persetujuan. ga pernah ada pungutan suara! mereka menipu, memaksa dan mengclaim sendiri. siapa menentang akan dibunuh.

    jelek2nya malaysia, mereka itu bersepakat membentuk malaysia. kalau setuju ya ikut. ga setuju ya gpp. kaya brunei kan ga jadi menyertai malaysia. ya gpp. ga diperangi kok. tetep bersahabat sampe sekarang.

    kalo bung karno pasti udah diperangi. mau mendirikan indonesia raya… untuk siapa? untuk rakyat? bukan… untuk cita2 tamak dirinya sendiri dan suku jawa! mengembalikan keagungan majapahit!

    realitinya, indonesia itu negara jajahan suku jawa! bung karno adalah ketuanya penjajah!

  27. Junarto Imam Prakoso on Oktober 27th, 2007 19:23

    @daengmatajang
    Terima kasih atas tanggapan Anda

    wilayah nkri hanya coretan di atlas, dari sabang sampe merauke. apakah orang2 dari sabang sampe merauke tau atau rela di indonesiakan ketika itu? ga pernah ada persetujuan. ga pernah ada pungutan suara! mereka menipu, memaksa dan mengclaim sendiri. siapa menentang akan dibunuh.

    Apakah Anda punya fakta historis yang memperkuat pernyataan di atas? Republik Indonesia dalam bentuk yang sekarang lahir justru setelah negara-negara bagian meleburkan diri dengan suka rela kedalam Republik Indonesia. Boleh tahu, sumber yang dipakai dari mana?

    jelek2nya malaysia, mereka itu bersepakat membentuk malaysia. kalau setuju ya ikut. ga setuju ya gpp. kaya brunei kan ga jadi menyertai malaysia. ya gpp. ga diperangi kok. tetep bersahabat sampe sekarang.

    Sebetulnya ada persepsi yang berbeda dengan sejarah pembentukan Federasi Malaysia, terutama ketika Serawak dan Sabah diklaim secara sepihak oleh Semenanjung Malaya yang menimbulkan konfrontasi pada tahun 1960-an. Selain itu, politik rasialis di Malaysia sebenarnyalah yang menindas suku lain, sehingga Singapura melepaskan diri dari federasi yang didominasi puak Melayu pada tahun 1965.

  28. daengmatajang on Oktober 27th, 2007 21:30

    anda bilang – Sebetulnya ada persepsi yang berbeda dengan sejarah pembentukan Federasi Malaysia, terutama ketika Serawak dan Sabah diklaim secara sepihak oleh Semenanjung Malaya yang menimbulkan konfrontasi pada tahun 1960-an.

    saya bilang – hehehehe… kapan malaysia mengklaim serawak ama sabah? lucu deh. malaysia ga main klaim-klaiman lho kaya situ. justru serawak ama sabah diundang join ama malaysia. sama seperti brunei yang turut diundang. tapi brunei akhirnya ga jadi menyertai malaysia. trus serawak ama sabah mengadakan pungutan suara kepada semua rakyatnya. PBB yang mengendalikan urusan pungutan suara itu. trus setelah selesai pungutan suara, didapati mayoritas mau masuk ke dalam federasi malaysia. oh iya, sebelum itu sukarno ada juga mengundang (walau sebenarnya mengklaim) serawak ama sabah mengujudkan indonesia raya, tapi ditolak ama rakyat kedua-dua negeri itu.

    kalo masalah singpaore itu lain pula. singapore melepaskan diri? hehehe. ga dong! dikeluarkan sebenarnya. kisahnya ya cari sendiri dong.

    jelek2nya orang melayu, sejak merdeka, bangsa lain seperti orang tiong hua dan india tetep jadi warganegara. coba kalo di indonesia? apa begitu? sampe sekarang aja orang tiong hua sulit mo bikin ktp!

    siapa bilang orang tiong hua aman damai di indonesia? kemaren waktu reformasi siapa yang banyak dibunuh, dijarah, dibakar? sampai2 ribuan orang tiong hua ngungsi ke malaysia dan singapore.

    belon lagi kasus tanjung priok… bla… bla… bla..

    anda bilang – Apakah Anda punya fakta historis yang memperkuat pernyataan di atas? Republik Indonesia dalam bentuk yang sekarang lahir justru setelah negara-negara bagian meleburkan diri dengan suka rela kedalam Republik Indonesia. Boleh tahu, sumber yang dipakai dari mana?

    saya bilang – bodoh banget yang mau dilebur. pakai logika aja udah bisa tau kebenarannya, mana mungkin mereka mau dihilangkan kekuasaannya jika masuk ke dalam NKRI. join indonesia, trus dilucutkan kuasa dan haknya… siapa yang mauuuu? mana bukti surat persetujuan bersama ama pemerintah asli daerah ketika itu? ga ada bukan??? lihatlah yang paling deket… ACEH… MALUKU… SULAWESI… memberontak semuanya!

    sekarang mantan GAM kan masih ada, silahkan ketemu ama mereka dan ngobrol secara jujur. mantan Kahar MUzakkar juga masih ada walau umurnya mungkin udah tua banget… sekitar 60 – 70an lah.

  29. Junarto Imam Prakoso on Oktober 27th, 2007 22:32

    jelek2nya orang melayu, sejak merdeka, bangsa lain seperti orang tiong hua dan india tetep jadi warganegara. coba kalo di indonesia? apa begitu? sampe sekarang aja orang tiong hua sulit mo bikin ktp!
    siapa bilang orang tiong hua aman damai di indonesia? kemaren waktu reformasi siapa yang banyak dibunuh, dijarah, dibakar? sampai2 ribuan orang tiong hua ngungsi ke malaysia dan singapore.

    Anda belum paham. Ada perbedaan yang sangat jelas: Malaysia menjadikan politik rasialis dengan resmi sampai sekarang, sedangkan Indonesia pascareformasi memberlakukan politik persamaan dengan resmi. Itu yang membuat Indonesia maju lebih jauh daripada Malaysia. Itikad politik itu kredit poinnya.

    saya bilang – bodoh banget yang mau dilebur. pakai logika aja udah bisa tau kebenarannya, mana mungkin mereka mau dihilangkan kekuasaannya jika masuk ke dalam NKRI. join indonesia, trus dilucutkan kuasa dan haknya… siapa yang mauuuu? mana bukti surat persetujuan bersama ama pemerintah asli daerah ketika itu? ga ada bukan??? lihatlah yang paling deket… ACEH… MALUKU… SULAWESI… memberontak semuanya!

    Tapi memang kenyataanya memang demikian. Anda semestinya membaca sejarah, bukan fiksi. Negara-negara bagian bersidang dan membubarkan diri dengan suka rela.

    Pemberontakan sebelum tahun 1970 terjadi bukan karena ingin melepaskan diri, tapi karena ketidakpuasan, kebijakan yang tidak adil. Silahkan baca lagi sejarah, bukan dugaan belaka.

    Yah lihatlah sekarang, setelah otonomi daerah diberlakukan, masyarakat di daerah yang mengatur diri mereka sendiri dan pemerintah setempat bertanggung jawab terhadap kemajuan wilayah masing-masing. Sekarang? Damai-damai saja. Butir pentingnya, Indonesia telah melewati krisis-krisis tadi.

    Sebaliknya, di Malaysia, saya khawatir, jika ekonomi merosost, akan terjadi kerusuhan etnis yang parah, sebagaimana pernah terjadi pada tahun 1969.

  30. aliman on Oktober 28th, 2007 02:18

    Bicara Pak Hamka selalu menjadi cermin diri saya.

    Jika orang itu buruk budinya, ia menjadi cermin diri agar kita tidak jadi sepertinya.

    Jangan dipandang rendah orang yang problematik moralitinya, mungkin dia jauh lebih mulia pada akhirnya.

    Jangan dipandang jelek orang yang disisi kita, boleh jadi dia lebih segera mencium bau sorga berbanding kita.

    Saya amat cenderung dengan nasihat Hamka ini. Terima kasih dan tahniah Indonesia kerana menghasilkan ulama yang begitu berkesan di hati saya.

    Siapa menang itu bukan soalnya, masing-masing bisa majukan diri tanpa perlu formula I Win You Lose. Kerana itu zaman Rasulullah pertandingan ‘Saya hebat dia Kalah’ tidak pernah diamalkan dalam sunnahnya.

    Atas dasar sunnah ini, saya kira Malaysia dan Indonesia sama-sama kita maju dengan mujahadah pembersihan hati, konstrutiviti komuniti dan pembetulan dari dalam secara konstan.

    Moga-moga jadi ibadah.

    ZAMRI MOHAMAD
    Malaysia

    http://www.zamrimohamad.com

  31. Junarto Imam Prakoso on Oktober 28th, 2007 06:39

    @ aliman
    Terima kasih atas tanggapan yang bijak ini. Kedua negara memang perlu saling belajar.

  32. man kapak on Oktober 28th, 2007 08:21

    aliman aka zamri, si junarto terima kata2 kau sebab dia sekarang dah sedar… dia sedang bermain api.

    hentikanlah tulisan sebegitu untuk mencari populariti dan statistik.

    kebebasan ga ada dalam umat beragama. kalo mau bebas ya kaya hewan!

  33. Junarto Imam Prakoso on Oktober 28th, 2007 10:28

    @mat kapak

    aliman aka zamri, si junarto terima kata2 kau sebab dia sekarang dah sedar… dia sedang bermain api. hentikanlah tulisan sebegitu untuk mencari populariti dan statistik.
    kebebasan ga ada dalam umat beragama. kalo mau bebas ya kaya hewan!

    Istilah “bermain api” berlebihan Mat. Orang Indonesia biasa menyebutnya “kebebasan berpendapat,” “kebebasan bereskpresi,” “kebebasan media.” Mohon maaf jika ini sesuatu yang asing bagi Anda di Malaysia. Tapi di Indonesia, kebebasan semacam ini dijamin undang-undang. Justru sebaliknya, orang yang terkungkung kebebasannya sebenarnya seperti kerbau yang hidungnya dicorcor penunggangnya. Kerbau takpunya kedaulatan, karena arah jalannya ditentukan oleh sang penunggang. Jika bergerak menyimpang, kerbau dipecut sang penunggang. Mudah-mudahan Anda tidak termasuk yang demikian. Jadi, jangan takut berpikir bebaslah, Mat.

    Soal Bung Zamri,
    Bung Zamri mengeluarkan pernyataan umum yang bersahabat dan dapat diterima, itu saja.

  34. Hati Nurani on Oktober 28th, 2007 23:20

    Kalau masih ada sebagian orang yang sinis dan pesimis dengan nasionalisme Indonesia, saya kira kita bisa maklumi karena selain bangsa kita masih muda, dalam beberapa dekade terakhir khususnya zaman Orde Baru, nasionalisme kita mengalami proses erosi karena lebih banyak di salah gunakan untuk kepentingan para penguasa dan segelintir elite nya sehingga tidak heran kalau menimbulkan sinisme dalam diri sebagian dari komponen bangsa kita.

    Seperti yang saya sampaikan dalam komentar sebelumnya bahwa bangsa Indonesia memiliki anugerah dari Tuhan berupa kekayaan yang luar biasa. Selain kekayaan alam, yang membuat kita lebih kaya adalah keanekaragaman kita dalam hal suku bangsa, adat istiadat/budaya dan agama.

    Kalau kita cinta dengan bangsa ini, mestinya kita perlu tuangkan ke dalam hal-hal nyata misalnya :

    - kita hindarkan diri kita sedapat mungkin dari praktek-praktek korupsi karena korupsi dengan segala manifestasinya secara langsung dan tidak langsung telah merusak bangsa ini demikian parahnya seperti hutan-hutan yang hancur, kemiskinan absolut yang masih mendera sebagian bangsa ini, pendidikan yang amburadul dll

    - bantu sedapat mungkin upaya untuk membenahi pendidikan baik formal maupun non-formal (dalam lingkungan keluarga) supaya kita bisa menjadi bangsa yang memiliki budi pekerti dan menguasai ilmu pengetahuan

    - hargailah aktivitas untuk terus mengembangkan budaya kita seperti bahasa, makanan/kuliner, tata busana, musik, tari, film, kesusteraan dll

    - jangan mau lagi diadu domba khususnya tentang masalah suku dan agama yang di masa lalu kerap terjadi dan dicurigai sebagai upaya oleh penguasa untuk memecah belah kekuatan bangsa kita supaya kekuasaan mereka tetap lestari

    Akhirnya memperingati sumpah pemuda, marilah kita mengingat lagi apa yang pernah diikrarkan oleh para pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 :

    Bertanah air satu, tanah air INDONESIA
    Berbangsa satu, bangsa INDONESIA
    Berbahasa satu, bahasa INDONESIA

    Saya adalah seorang warga keturunan Cina namun saya bangga menjadi bangsa Indonesia. Saya sangat yakin bahwa sebagian besar teman-teman bangsa Indonesia sama seperti saya. Kalau masih ada ada saudara-saudara kita yang pesimis dan sinis, mari kita sama-sama terus yakinkan dan buktikan melalui tindak dan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari kita.

    JAYALAH INDONESIA KU !

  35. bayu aji on Oktober 30th, 2007 21:05

    Sebagai orang indonesia seharusnya kita bangga kita lebih dulu berdiri sebagai sebuah bangsa yang merdeka terlebih dahulu daripada malaysia, kita merdeka dari perjuangan kita sendiri bukan seperti malaysia yang mendapat kemerdekaanya dari inggris.
    Malaysia harusnya belajar dari kita kita mempunyai wilayah yang luas terdiri dari puluhan ribu pulau, tetapi kita mempunyai rasa senasib dan sepenanggungan, yang kemudian melebur dan menjadi Indonesia.
    Hal itu kemudian ditegaskan dalam Sumpah Pemuda,
    memang meskipun saat ini banyak ketidakpuasan atas kondisi bangsa saat ini, tetapi yang paling penting kita mau berusaha bersama, belajar bersama untuk menuju masa depan yang lebih baik.

    Maka dari itu saudara sebangsa dan setanah air, yakinlah kita akan menemukan masa depan yang lebih baik, ya, lebih baik dari negara tetangga kita yang congkak dan tak tahu balas budi.
    HIDUP NKRI

  36. maximilianus on Nopember 8th, 2007 14:13

    jelek2nya orang melayu, sejak merdeka, bangsa lain seperti orang tiong hua dan india tetep jadi warganegara. coba kalo di indonesia? apa begitu? sampe sekarang aja orang tiong hua sulit mo bikin ktp!
    siapa bilang orang tiong hua aman damai di indonesia? kemaren waktu reformasi siapa yang banyak dibunuh, dijarah, dibakar? sampai2 ribuan orang tiong hua ngungsi ke malaysia dan singapore.

    komentar:
    saya rasa nggak juga, saya punya banyak sekali sahabat keturunan tiong hua yang sama sekali tidak punya masalah dengan birokrasi di daerahnya, mungkin benar, era orde baru kalangan “keturunan” terkungkung kebebasannya sebagai warga negara dalam beberapa aspek terutama dalam bidang politik, namun sejak runtuhnya orde baru perlahan semua itu berubah, reformasi dan demokrasi cukup menunjukan peran nyata dalam lingkungan masyarakat, pemerintah pun memberi kebebasan yang lebih baik lagi kepada etnis tiong hua sejak era pemerintahan mwgawati, contaoh paling sederhana adalah kebebasan etnis tionghua dalam berekspresi melalui seni dan buadayanya… dan sampai saat ini saya rasa kesenjangan yang dulu terasa begitu lebar, seiiring dengan berjalannya waktu akan terus menyempit.

  37. Pro Indonesia on Nopember 13th, 2007 21:55

    tolong,mulai saat ini teman2 jangan menyingkat INDONESIA menjadi INDON!

    karena itu merupakan bahasa hinaan yg di7kan utk warganegara INDONESIA

  38. Suyapto on Desember 20th, 2007 16:18

    saya benci orang melayu yang tingkahnya sombong/ diskriminasi. tapi tidak semua melayu di indonesia yang seperti itu. Buktiny di Universitas masih ada melayu yang nyata-nyata enak dijadikan tmen dan sahabat. Semua itu tergantung dari cara berpikir masing” orang. Tidak semua yang sama Suku itu baik. Yang berbeda suku pun bisa jadikan suku lain sbg sahabat. Untuk itu pandai-pandai lah berteman atau berkomunikasi dgn org sekitar biar bisa menjadi teman dalam segala suasana

  39. Azrul on Januari 6th, 2008 09:44

    Apa yg kornag sibuk2 ni.KAn Kita semua ni serumpun boleh tak kita just berbaikbaik each other?Apa2 Musibah pun MAlaysia juga tolong Indonesia.Jadi renung-renungkanlah wahai saudaraku.

  40. Azrul on Januari 6th, 2008 09:54

    Indonesia tidak pernah patriotik dalam kebudayaan rumpunan melayu tetapi sebaliknya bagi malaysia yang terus berjuang habis-habisan mempertahankan kebudayaan melayu nusantara,bahkan bahasa kebangsaan juga masih di kekalkan dengan nama bahasa melayu.tdk seperti Indonesia mereka menukar nama bahasa itu menjadi bahasa Indonesia jadi dimanakah identiti sesebuah bahasa itu?Dari tamadun mana?ini sama saja menghina warisan nenek moyang kita. Kita Sebagai Rumpunan Melayu Nusantara Harus Bersatu bukan bergaduh sesama sendiri supaya dihormati oleh bangsa lain.Oleh Itu Bersatulah Rumpunnan Melayu jgn jadikan perbezaan etnik menjadi satu halangan perpaduan antara kita.Bak Kata Laksmana Hang Tuah(TAKKAN HILANG MELAYU DI DUNIA)

  41. Haris Mulyana on Januari 9th, 2008 00:08

    bung azrul,

    Jangan terlalu terburu buru mengidentikkan orang asia tenggara,yang berkulit coklat sawo matang yang mengaku bukan etnis cina atau india ( khusus daerah Thailand,Indonesia,Brunei,Filipina) itu semua: orang melayu.

    Saya sangat tahu apa yang ingin anda sampaikan,begitu pula yang teman-teman saya dari Malaysia hendak katakan.Sangat mirip dengan anda.

    Di Malaysia memang begitu.Tapi lain di Indonesia,ada asal orang dari Sumatera,Jawa,Sulawesi,Borneo,Papua.Anda sebagai orang Malaysia-melayu,dan kebanyakan dari anda sangat mensakralkan ‘melayu’ dalam hal apapun.Seperti teman Malaysia saya,marah sekali ketika nama askar kerajaan ( maaf kalau salah )dihilangkan ‘melayu’nya.Bahkan mungkin anda juga orang yang menghubungkan, melayu dengan mim,lam,ya di bahasa arab,yang bila diartikan mengandung spirit dalam ajaran islam.

    sah-sah saja sih.Memang bahasa kita berasal banyak dari kosakata kerajaan melayu tua di Sumatera sana,tapi sudah semakin disempurnakan untuk bisa dipakai dari mulai ujung barat sampai timur Indonesia.Seperti kata “boleh”,”dekat” yang anda pakai sekarang,kami pakai sebagai “may” (bukan “can”),”near” ( bukan “inside” ).

    Nah,sekarang sepertinya kebanyakan orang Indonesia tak ingin lagi mendengar ada rumpun-rumpunan,yang ada hanya satu,bangsa Indonesia,yang multietnis,multiras,multikultur….jadi,rumpun melayu yang anda maksud,adalah,satu rumpun dari ratusan rumpun di Indonesia……….

    hehe..saya boleh lah bilang satu rumpun dengan anda,tapi kalo satu rumpun dengan orang trengganu ( bicara cepat ) atau kedah yang pake ‘hang..hang’ itu,alamak !!!

  42. Azrul on Januari 12th, 2008 13:03

    Pak Haris!Komuniti Kita ni sangat besar!Sebelum Kedatangan penjajah di rantau kita evolusi rumpunan melayu mula berkembang.Anda harus Ingat kita semua dari leluhur yang sama!Ini Terbukti dari Kajian sains dan tamadun dunia!Definisi rantau nusantara ini sebelumnya di kenali dengan nama Kepulauan Melayu!Bahasa Melayu juga menjadi Lingua Franca di rantau ini sebagai bahasa perhubungan&Perdagangan malah hingga sekarang masih lagi di praktikkan!Walaupun bahasa inggeris sudah menjadi bahasa antarabangsa!Malah semasa saya tinggal di luar negara komuniti nusantara kita bergabung dalam satu dengan nama org melayu!Seperti org China Yg bersatu dalam komuniti mereka!Contohi masyarakat china kenapa mereka sangat berjaya dalam semua hal!Ini Bermula apabila dinasti raja china yg terdahulu menyatukan semua etnik mereka hingga menjadi satu bangsa yg besar hingga menjangkau hampir 2bilion org hingga kini!Padahal dlm komuniti mereka juga ada banyak etnik yg berlainan seperti hakka,kantonis,tioungha dan banyak lagi,malah bahasanya pun lain2!Tp Mereka mengambil inisiatif utk bersatu dalam serumpun untuk membentu bangsa China yg besar hingga kini!kenapa kita tdk Begitu yg jelas2 serumpun?Apakah ini satu tanda kemusnahan persaudaraan sesama kita?

  43. Roes on Januari 12th, 2008 13:19

    Saya simpati dengan sebagian orang Indonesia (tentunya enggak semualah- yang enggak becusnya org kayak penulis esei ni aja). Mereka masih masih dalam pikiran lama bahwa Indonesia itu lebih hebat dari semua orang. Tetap anggap dirinya abang yang lain adik-adik saja. Tidak boleh dikritik. Kalau ada, ya dikatakanlah orang lain itu cemburu. Tidak bisa berbagi walaupun budaya itu bukan milik siapa-siapa tapi mau berbagi kemakmuran orang lain utk diri sendiri. Yang ngak tau malu bilang lagu kebangsaan Malaysia itu lagu Terang Bulan dari Indonesia. Makanya banyakkan baca buku sejarah! Ya, namanya juga abang pasti malu dong bila ngaku adiknya lebih dari dia yang udah tua tapi belum becus-becus juga. Dari artikel itu dikatakan bahwa 80% kriminal ya org Malaysia sendiri. Tapi kok ngak dibilang 20% itu siapa? Emangnya pergi ke negara orang seenaknya bisa bikin semaunya sendiri? Dibilang orang Malaysia memeras TKI, Mereka itu bukan kerna anggak dibayar gaji tapi udah duluan dijual oleh orang yang sama bangsa dengan mereka. Orang jual orang. Ngak tau tentang itu? makanya bikin riset dulu baru nulis. Balak di kalimantan itu dikatakan ulah cukung Malaysia, apa ngak tau, bahwa udah dijual oleh oknum Indonesia yang sangat korupsi? Majukan negeri dulu supaya angak ada yang ke Malaysia lagi tuk cari rejeki. Tapi, ya realitasnya Indonesia yang dikatakan lebih baik itu anggak bisa kasi rakyatnya sendiri pekerjaan yang sesuai dengan tingakat pendidikan mereka. Sepuluh tahun pasca reformasi, gelandangan makin rame di lampu merah. Kok mereka belum dibantu juga sampai sekarang? Jadi gimana? Kok cuman dibilang yang disiksa di Malaysia, tapi yg disiksa di tanah Arab ngak disebut? Jelas tu, cuma mau cari salahnya Malaysia. Mau tau ngak mengapa pembantu rumahnya bermasaalah di Malaysia? Sebagianya enggak tau guna kompor gas. Dibilang bodoh eh marah tapi ngak diajarin dulu. Jawabannya kurupsi! Yang dihantar anggak pernah diajar cara hidup di sono. Orang malaysia banyak ditipu, katanya pembantu rumah terlatih, udah ada pelatihan tapi kebanyakannya angak tahu apa-apa tentang rumah tangga. Itu belum lagi kasus lari kerna ikut cowok, mencuri dan menipu majikan. Saya kasihan sama penulis esei ini. Pernah ke Malaysia ngak, kalau udah, udah berapa kali? Di Malaysia sudah anggak ada kompor kayu atau minyak. Orang Indonesia juga aneh, dibilang Indon mereka marah tapi panggil orang Malay kok bisa ya? Tau ngak mengapa ramai warga Indonesia yang udah sukses cari rezeki ngak mau pulang ke Indonesia lagi? Kok mau mereka jadi warga Malaysia dan tinggalkan negeri mereka yang dikatakan lebih baik itu. Pembantu rumah tetangga saya pulang bawa uang beribu-ribu ringgit (hitung sendiri berapa Rpnya) untuk mulakan usaha baru di desa tapi ditipu, dirampok dan dipukul sebaik mendarat di bandara! Oleh siapa?bukan orang Malaysia yang dikatakan sombong itu tapi oleh orang Indonesia yang dikatakan lebih baik itu. Ah, kasihan sekali. Emosi jadinya. emosi sama orang Indonesia yang bisa saja mengerjain orangnya sendiri. Kepada teman-teman Indonesia yang lain, maap ya, soalnya penulis esei ini udah konyol barangkali. Enggak berpijak di bumi yang nyata. Saya sedekahkan al-fatihah kepada almarhum Buya Hamka yang sangat bijaksana itu. Sayang sekali orang Indonesia udah lupa sama pesannya buya yang sangat hebat itu. Taunya cuma lihat keburukan orang. Malaysia selalu dibilang ambil kesempatan pada waktu orang Indonesia susah. Sebenarnya kami bisa saja cari TK dari negara lain yang juga hidup susah. tapi karna serumpun dan simapti dengan Indonesia, maka orang-orangnya diambil duluan. Bilang saja bahwa Indonesia angak bakalan menghantar TK lagi ke Malaysia. Biar Malaysia bila ok, kami ambil saja dari Kampuchea, Bangladesh, Filipina dan lain-lain. Sekadar informasi, waktu tsunami bantuan Kuala Lumpur lebih duluan sampai dari Jakarta. Bukan nyombong ya, soalnya waktu itu kami sangat simpati kepada saudara-saudara kami di Acheh sehingga terpaksa minta ijin dari jakarta untuk masuk duluan.
    Semoga Indonesia benar-benar maju dan lebih baik supaya kami bisa tidur dengan nyenyak dan tenang.
    Amin.

  44. Junarto Imam Prakoso on Januari 12th, 2008 13:33

    @ Azrul
    Maksud Bung Haris, Indonesia tidak identik dengan salah satu etnis atau kelompok tertentu. Sebab Indonesia dibangun dengan tujuan membentuk satu konsep kebangsaan: bangsa Indonesia. Suku Melayu hanya satu di antara ratusan suku lain di Indonesia. Sebagaimana halnya Dayak, Tionghoa, Maluku, Flores, dan lain-lain. Belum lagi suku-suku pedalaman.

    Di Indonesia, perkawinan silang antarsuku — bahkan tidak jarang antaragama — itu terjadi. Misalnya antara Tionghoa dengan Jawa, Manado, atau Betawi. Jawa dengan Padang. Sedangkan di Malaysia mungkin hal ini bisa menjadi isu sensitif, karena satu suku mempunyai karakter yang ekslusif dan kebijakan diambil untuk menjaga dominasi etnis tertentu terhadap etnis lain.

    Berbicara Indonesia, berarti merujuk semua keragaman budaya tersebut yang tengah dan akan terus menjalani proses asimilasi sehingga menjadi sebuah bangsa dengan karakter tersendiri.

    Jadi, sesungguhnya tidak tepat jika kita mengidentikkan Indonesia dengan Melayu saja, meskipun memang pengaruh Melayu terahdap suku-suku lain sangat besar.

    Bung Azrul, jika Malaysia ingin berhubungan dengan Indonesia, konsekuensinya Malaysia juga harus membina hubungan dengan pelbagai ragam suku bangsa dan agama yang ada di Indonesia.

  45. Junarto Imam Prakoso on Januari 12th, 2008 13:57

    @ Roes
    Esei saya ditulis dari sudut pandang kebebasan sipil. Dalam hal ini sukar disangkal bahwa Indonesia lebih berjaya daripada Malaysia. Anda boleh cek di mana letak Malaysia dalam hal demokrasi dan kebebasan dibanding Indonesia. Dan dengan modal kebebasan ini, semakin besar pula kesempatan Indonesia berjaya dalam hal lain kelak karena partisipasi rakyat semakin menguat.

  46. Haris Mulyana @Indonesia on Januari 12th, 2008 22:44

    Bung Azrul,

    Bila anda ingin memunculkan idea bahwa dulu sebelum penjajah adalah kita bersatu,sebenarnya tidak bung.
    Penjajah datang di bumi nusantara,dikala ada banyak kerajaan-kerajaan lokal.Bila yang anda sebut itu Belanda & Portugis,Inggris,berarti pada abad 16 & 17,dimana ada kerajaan Demak,Banten,Ternate,Malaka,dll.

    Yang masing-masing punya tujuan untuk memperlebar daerah kekuasaannya,di Jawa saja ( Banten,Demak,Mataram) mereka ingin menjadi penguasa satu-satunya.Apalagi ketika Sunda Kelapa,salah satu port yang sangat strategis,sudah dilirik oleh penjajah untuk mengambil rempah2.

    Penjajah sengaja ‘bermain-main’ dengan penguasa lokal untuk mendapatkan rempah dan melakukan taktik pecah belah.Walaupun sebetulnya pada saat itu sudah pecah belah karena ingin saling berebut kekuasaan.So,mereka punya tujuan masing2.

    Baru,ketika 1908, pemuda di Indonesia yang memproklamirkan Kebangkitan Bangsa.Semua jong ( artinya pemuda ) berikrar untuk bersatu dalam INDONESIA.Karena sudah bosan akan tindakan penjajah di negeri nusantara.Mereka bernasib & bertujuan yang sama.

    Disini bung,bersatunya orang Indonesia dari Sabang (Aceh) sampai ke Papua.mungkin kalau saat itu ada “jong sabah”,”jong trengganu”,”jong singapura”,..akan benar kesimpulan anda bahwa dulu kita pernah bersatu.

    Artinya,Malaysia tidak mempunyai tujuan yang sama toh dengan Indonesia?

    Pendek kata,bagi saya melayu yang anda yakini sekarang adalah tidak mempunyai bagian yang sama dalam sejarah Nusantara.Mungkin bila anda tarik lagi berabad-abad ke belakang,ya benar : cuma ada Majapahit.

    Melayu anda bagi kebanyakan orang kita sekarang tak lain adalah orang-orang minangkabau,aceh,riau yang merantau,juga ada sedikit orang jawa,bugis dan batak.
    dan kemudian ‘meluas’ meliputi sabah & serawak.Yang setelah bertahun-tahun,mereka berevolusi menjadi:Malaysia.

    Dan orang kita tidak pernah meributkan hal itu.ya sudah lah.
    Saya toh tidak menafikan bahwa bahasa melayu adalah asal mula bahasa Indonesia.

    Dus,semangat persaudaraan yang anda katakan sudah semakin terpilah oleh kepentingan politik,ekonomi,sosial,budaya dan NEGARA.

  47. Azrul on Januari 13th, 2008 00:44

    Saya hormati saudara2 semua yg ada di sini!Bukan maksud saya mau mengagungkan bangsa melayu sahaja!tapi pandangan saya org melayu berevolusi di malaysia sebagai bangsa yg berjaya mempertahankan tradisi&hak milik kaum bumiputera!Malah malaysia di contohi oleh banyak negara2 lain yg berjaya mempertahankan hak kaum peribumi dari dicemari oleh bangsa lain yg enak2 aja nak take over negara kami!Jadikan Singapura sebagai pengajaran!Org melayu hilang kuasa di tanah sendiri!Hingga terpaksa melepaskan Singapura di tangan bangsa asing!Jgn label Malaysia kejam&menindas kaum bukan peribumi!Mereka masih lagi dibantu&di beri kebebasan asalkan jgn menyentuh sensitiviti masyarakat peribumi@Bumiputera.Jikalau ini terjadi jelas2 main api di kampung orang!Mampus jawapanya!Jgn Lupa Malaysia masih tersenarai Dalam 10 negara yg aman&damai di dunia malah berkembang pesat ini semua terbukti dengan kepimpinan Malaysia yg bijak memerintah dan ingat mantan bekas perdana menteri kami Tun Dr.Mahathir Mohammad adalah pemimpin yg tersenarai sebagai 50 org bijak pandai di dunia.Ingat Bung Karno dulu pernah ingin bergabung dengan malaysia utk membentuk negara IndonesiaRaya@MELAYU RAYA!Tp atas2 dasar tertentu tdk kesampaian!Malaysia merdeka juga atas kebijaksanaan org melayu buat apa perang2 kalo masalah boleh selesai hanya dengan otak sahaja itulah tanda kebijaksanaan org malaysia!Sekali runding aja terus merdeka!Kalau kita terus mengamalkan sikap kutuk mengutuk!Ingat Apa Masalah2 yg Indonesia hadapi tidak pernah Malaysia tutup mata!Tetap di tolong!Jadi tidak ada Terima Kasih langsung ke dengan kami?Di beri Madu Dibalas Tuba!Astagfirullahazim

  48. Haris Mulyana @Indonesia on Januari 16th, 2008 22:14

    Bung Azrul,

    Sudahlah,tak perlu naik darah untuk menanggapinya.Sila baca di http://article.melayuonline.com/?a=aW1xL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=

    Jangan menganggap kami ini bukan orang yang bermartabat,bila anda merasa selalu berbijaksana & memakai otak.

    lagi-lagi melayu,lagi-lagi melayu.Sudah saya tulis beberapa kali bahwa bangsa melayu hanya sebagian kecil dari bangsa Indonesia.Sungguh tidak akan bisa merepresentasikan keseluruhan Indonesia.Be realistic.

    Dan jangan merasa perlu membandingkan tentang cara kemerdekaan antara dua belah pihak,bila anda pernah merasa harga diri itu adalah segala-galanya.Ribuan bangsa pendahulu kami yang terbunuh,yang berjuang dulu hendak dikemanakan?

    Kalau anda sudah pernah merasakan tanam paksa,kerja rodi,diambil hasil bumi sebagai pajak ke bangsa penjajah,
    dibunuh,dihina & dicaci,maka bukanlah lagi hanya duduk berunding lantas kemudian mudah menjadi merdeka bung!
    lalu apa itu commonwealth country bung?

    Mula-mula posting anda,adalah hormati,
    tapi diujung kata: menyindir kami sebagai bangsa yang tak tahu terima kasih……..

    Bangkit & Maju terus Indonesiaku!

  49. Isahputra on Februari 12th, 2008 19:09

    Fondasi yang sekarang ini di Indonesia sangat penting untuk menuju ke kemakmuran. Saya merasa bangga dengan Indonesia saat ini.

    Sedangkan di Malaysia saat ini ada “bom waktu”. Bom waktu ini adalah “sistim apartheid ala malaysia”. Saat ini, suku Melayu bukan lagi 55%, malah menurun menjadi sekitar 50% dari total penduduk negeri Jiran ini. Ras India sudah mulai berani unjuk rasa walaupun unjuk rasa dilarang di Malaysia. Nanti akan tiba saatnya (the moment of truth), akan terjadi “revolusi” ala malaysia. Sistim sosial seperti ini tidak bisa bertahan lebih lama lagi di Malaysia. Malaysia akan diwajibkan menuruti sistim sosial yang menghayati nilai-nilai universal, yaitu memberlakukan seluruh rakyat secara adil, apapun ras dan agamanya.

    Jadi menurut saya, fondasi kerajaan Malaysia sangat lemah & fragile. Berbahaya sekali. Juga sangat berbahaya buat tetangga-tetangganya termasuk Indonesia. Kalau terjadi pergolakan di Malaysia, pasti negara-negara di sekitarnya yang juga mendapatkan getahnya nanti.

    Wah mengerikan sekali!

  50. Abdulloh on Februari 15th, 2008 20:25

    Saya justru melihat dari perspektif lain bahwa sebenarnya rakyat Malaysia berada dalam posisi sebagai obyek penderita dalam hubungannya dengan pemerintahan (kerajaan) mereka. Rakyat Malaysia menjadi korban penyelewengan informasi dan (bahkan) brainwashing, ini terbukti dari gejala kurangnya pemahaman mereka atas pemahaman sejarah Nusantara dan keyakinan membabi buta terhadap apa yang dinamakan “kebesaran Melayu”.

    Nampaknya penting buat mereka untuk melakukan justifikasi terhadap keyakinan thdp “kebesaran Melayu”, bahkan dalam beberapa perjumpaan di forum2 maya seringkali muncul klaim berlebihan (bahkan nonsens) dari mereka atas pencapaian Melayu. Contoh sederhana: bagaimana mereka berusaha mencitrakan pencapaian kebudayaan dari etnis lain (jawa, aceh, bugis, dsb) di Nusantara sebagai milik mereka. Saat mendapatkan respon negatif mereka segera merespon dengan berkilah bahwa etnis2 tsb masih serumpun sbg satu ras: ras Melayu…

    Sederhananya mereka sering memanipulasi konsepsi Melayu sbg etnis dan melayu sbg ras (walaupun melayu sbg ras merupakan konsep yg masih dapat diperdebatkan). Jika mereka bicara dalam konteks politik sempit seperti kebijakan NEP (kebijakan khusus pemihakan kepada bumiputera) maka konsepsi Melayu yang dikedepankan adalah Melayu sbg etnis (bumiputera yang beragama islam dan berbicara melayu) sedangkan bumiputera lain seperti dayak iban, dll tidak mendapat keistimewaan yg sama. Hal yg sama juga berlaku bagi warga cina dan india keturunan yang turun-temurun hidup disana, nasibnya bahkan lebih mengenaskan.

    Kondisi Malaysia yang menderita “grandeur delutional” meyebabkan mereka melakukan tindakan yang naif seperti upaya membeli naskah2 kuno di Indonesia dengan berbagai cara untuk disimpan agar ada pengakuan bahwa pusat Melayu ada di Malaysia dengan bukti keberadaan naskah2 kuno tsb. Sehingga kelak klaim pusat budaya Melayu yang ada di Riau kepulauan menjadi tidak relevan karena tak adanya faktaspt naskah2 kuno tsb.

    Hal naif lain adalah adanya manipulasi sejarah bahwa kejatuhan Malaka terhadap Portugis tak lepas dari penghianatan oleh askar (dari) Jawa dan dibangun persepsi bahwa kejatuhan “empayar” Malaka seolah-olah karena hal ini. Padahal faktanya justru lebih dari 3 ekspedisi militer dari Demak dan Jepara dikirim setelah kejatuhan Malaka untuk membebaskan Malaka. Akibatnya kental sekali sentimen negatif terhadap segala hal berbau Jawa, rumitnya ekspedisi militer dari Jawa dan Aceh untuk membebaskan Malaka seolah-olah lenyap dari buku teks sejarah Malaysia. Mungkin karena fakta ini bisa mencoreng “kebesaran” Melaka-Melayu.

    Fakta bahwa penggunaan Melayu pertama kali sebagai nama kerajaan ada di Jambi juga bukan sesuatu yang nyaman di telinga mereka… karena ini bisa merusak citra semenanjung sbg pusat asal-muasal melayu di dunia.. tak banyak memang warga Malaysia tahu bahwa Melayu sebagai kerajaan justru ada di Jambi Sumatera! Jadi asal-muasal peradaban Melayu sebenarnya adalah dari kerajaan Melayu di Jambi bukanlah hal yang patut diketahui oleh rakyat Malaysia…

    Itu baru mengenai sejarah… dan tak terhitung lagi manipulasi yang dilakukan oleh pihak pemerintah Malaysia untuk membodohi rakyatnya… hal ini sangat dimungkinkan karena media yang sangat ketat dikontrol oleh mereka. So… bersyukurlah bahwa kita hidup di Indonesia.

    Salam

  51. Joseph Cole on Mei 4th, 2008 19:18

    Mengapa lg kita perlu berkelahi….
    saya mengaharapkan indonesia dan malaysia bisa merencana sesuatu supaya Malaysia & indonesia Bergabung…
    susah senang di hadapi bersama

    Hiduplah Indonesia Raya!

    joseph cole
    malaysia.

  52. mena on Juli 14th, 2008 13:44

    Saya bangga menjadi warga negara Indonesia. sebuah negara besar yang kaya budaya, dan ragam etnis..dan kekayaan alam yang melimpah. Sebuah negara kepulauan yang besar..Bersatulah terus, bangun Indonesia terusku…Tanah Tumpah Darahku…

  53. wahyugusti on Juli 24th, 2008 09:31

    malaysia tiada dan kekurangan seniman yang kreatif dan pencipta lagu sehingga semua karya seniman indonesia diklaimnya, dulu anak malaysia itu belajar nya di IKJ

  54. wahyugusti on Juli 24th, 2008 09:45

    hai bangsa indonesia dimana saja kalian berada, sbentar lagi bangsa kita akan menjadi bangsa yang maju di dunia karena persoalan demokrasi indonesia sudah berjalan, sumber sumber energi meneral kita banyak, dan di simpan untuk kejayaan NKRI dan rakyatnya, sekarang kita di lecehkan oleh negara tetangga malaysia terimalah, karena itu ujian ALLAH SWT untuk memberikan kepada rakyat indonesia masa depan yang baik dan jujur dan bernegara

  55. hang gunung megang on Oktober 20th, 2008 11:14

    Kalau dibilang Malaysia sebagai bangsa melayu kelihatnnya salah juga, karena etnis disana bermacam-macam. Ada keturunan Bugis, Minang, jawa, palembang. Seperti di Indonesia juga sama, saya dari palembang, tapi kalau ditanya anda orang mana saya jawab Indonesia. Jangan disempitkan lagi Melayu & bukan melayu. Kebanyakan orang malaysia sangat benci suku jawa, sama seperti kami di palembang dahulu.Penjaga kebun, pembantu rumah tangga, penjaga sekolah, transmigran semua dari jawa, akhirnya kami jadi pemalas, sekarang saudara saya dari jawa ini yang memberi semangat untuk memajukan daerah kami. Yang jadi kuli membangun kejayaan malaysia adalah kuli-kuli dari jawa ini juga … sami mawon (Same Saje). Kalau kite nak saling benci dan caci maki habislah kite. Bangsa lain akan bersorak kegirangan karena negara Litle Sukarno nak perang dengan bangsa INDON … siape yang menang & kalah bukan persoalan yang penting Perusahaan mereka bisa mencengkeramkan kuku tajamnya untuk menguras kekayaan negeri kite. APA YANG PERLU KITE BANGGAKAN LAGI.

  56. dozan on Oktober 24th, 2008 14:04

    Wahai orang2 Malaysia,
    Bangun!!! buka mata!!! jangan tidur terus!!!
    Kalian itu terlalu terbuai dengan kestabilan ekonomi yang sebetulnya adalah kamuflase permerintahan kalian agar otak kiri kalian tumpul hingga tidak bisa lagi menciptakan kreatifitas di segaala bidang khususnya kebudayaan. kalian tidak sadar kalau kalian itu sedang diberangus pemimpin kalian!!!
    Sekali lagi bangun!!!!

  57. malindo man on Oktober 28th, 2008 03:03

    Ya fakta . Apa pun komentar, Harga BBM malaysia lebih rendah berbanding Indonesia,liat aja Harga Prima iaitu sama seperti Pertamax di Indonesia di stesen Petronas di jakarta, hanya RP8050 per liter dan lebih rendah lagi dalam Malaysia, walaupun per kapita income rakyatnya lebih tinggi berbanding Indonesia. Perubatan Rumah Sakit Malaysia di sponsor pemerintah jadi Warganya tak repot membayar untuk kesihatan, melahirkan anak di RS pemerintahan hanya RP15 ribu, Sekolah rendah hingga menengah Gratis, Gaji kepada pendatang warga indonesia lebih tinggi dari mereka berkerja di Indonesia sendiri terbukti ratusan ribu warga indonesia melakukan migrasi illegal ke Malaysia setiap tahun. Pabrik Malaysia membeli bahan baku Indonesia dengan Harga lebih tinggi dari di jual dalam negeri, Rakyat Indonesia yang menetap di Malaysia lebih kaya dari duduk di Indonesia. Negara aman ngak ada demo hari hari seperti di Indonesia, maka tidak merosakkan harta negara. Rakyat Malaysia bisa ke mana mana di dunia tanpa VISA atau hanya perlu visa on arrival kerna hubungan baik atar negara, Pesawat Nasional Malaysia MAS bisa terbang ke mana mana dunia , garuda tak bisa ke eropah, Petronas aja wujud di Indonesia dimana Pertamina di Malaysia. Malaysia tidak langka BBM, Gas Masak, Tabung Gas, Minyak Masak seperti di Indonesia,listrik tak langka juga Air untuk Rakyat. Malaysia punya investasi di Indonesia seperti Petronas, Air Asia, XL, Bank BNI, CIMB dan Lain Lain. Ini Fakta dong, Bukan hanya ngomongan. Apa pun komentar ini realisasi di Malaysia, Biar apa pun demokrasi atau tidak itu tergantung kesesuaian negara masing masing, dan itu terpulang pada rakyatnya, jadi tak perlu kasihan kan rakyat malaysia kerana apa pun itu realiti. liat diri sendiri sebelum komentar mengenai negara asing, Malaysia tidak pernah komentar atau demo mengenai indonesia kerana memahami kita adalah jiran dan Jangan gunakan Malaysia untuk kepentingan sendiri kerana kemerdekaan malaysia adalah hak milik malaysia bukan negara asing. Patut nya kamu bersahabat bersama sama kerana kita bisa belajar dari satu sama lain. kita bisa bina bangsa nusantara yang lebih positif da makmur untuk kepentingan sejagat. apa yang kita dapat dari perbandingan antar negara kita, tunding satu jari ke hadapan tiga jari lagi menunding balik. sila , untuk fakta baca berita dari malaysia di website surat khabar nya, jangan hanya menuduh. Apa hak kamu berkata kata sedangkan kamu tahu yang sebenarnya. jangan guna kan malaysia untuk menutup masalah di negara sendiri, patutnya gunakan masa untuk tuntas masalah sendiri dong. mangenai batik, rasa sayang, angklong , reok dan sebai nya, apa dengan ngomong atau demo terhadap malaysia mengurangkan kemiskinan dalam indonesia, RS indonesia gratis, sekolah bisa gratis, apa kebaikan yang di dapati dari itu, Hanya melihat kan demo ke dunia luar yang menunjukkan tidak aman di sini, pikir dong. Apa malaysia buat aja salah, menyibuk mengenai negara malaysia nya untuk apa, baik tuntas masalah sendiri. Jangan biarkan diri digunakan untuk kepentingan orang atau provokatif yang meraih untung dari membuatkan pergaduhan kedua negara. kalau mahu ngata malaysia ngak demokrasi … so what , orang malaysia tetap dapat kemakmuran di negaranya sendiri. Sila ambil lah angklong, batik, rasa sayang jika itu terlalu penting pada Indonesia, patut nya itu kepunyaan asli kaum yang berasal dari rumpun yang sama, contoh empayar melayu pertama malaysia tahun 1400 , Melaka di dirikan olh putra raja palembang, Raja dan kaum Provinsi Negeri Sembilan adalah kaum dari Padang yang datang dan menetap di situ beratu tahun dahulu, Negeri Johor di Malaysia rata rata adalah keturunan Bugis dan Jawa yang datang ratusan tahun dahulu, begitu juga kaum Aceh, deli, Pasai, dan lain lain. Mereka datang ratusan tahun dahulu sebelum Penjajahan Eropa terjadi jadi mereka bawa kebudayaan masing masing, hanya sekarang kawasan penetapan mereka namanya Malaysia dan mereka semua menamakan diri mereka Melayu. Tetapi aslinya adalah Indonesia. Jadi itu kan kebudayaan datuk nenek moyang mereka. seperti kalau perayaan kaum cina di indonesia, kan ada kebudayaan tarian naga atau singa di mainkan di indonesia tak kan Negara Cina saman Indonesia kerana rakyat Indonesia asal cina memainkan kebudayaan nenek moyang mereka. Kan tak logik. Kebudayaan adalah Hak kaum bukan Negara. Negara wujud kerana Kaum bukan wujudnya kaum kerana Negara. Pikir dong. Ya udah, heran gue. menggunakan negara jiran untuk menutup kelemahan sendiri, liat diri sendiri sebelum komen negara orang.

  58. malindo man on Oktober 28th, 2008 03:30

    Percayalah semua , Malaysia amat mengharapkan ekonomi indonesia lebih baik dari malaysia malah di doakan supaya illegal indonesia tidak bankiji malaysia. sekurang kurang negara malaysia tidak perlu bayar menghantar kembali mereka ke indonesia. Mahal buanget. baik uang itu di gunakan untuk rakyat malaysia aja. capek dehhh

  59. Junarto Imam Prakoso on Nopember 3rd, 2008 17:01

    Tesis Indonesia lebih berjaya daripada Malaysia semakin terbukti :D

    RI will be more stable than India, Malaysia and Thailand in 2009

    http://www.thejakartapost.com/news/2008/10/28/ri-will-be-more-stable-india-malaysia-and-thailand-2009.html

    The Jakarta Post , Jakarta | Tue, 10/28/2008 9:41 PM | Headlines

    With concern setting in about the declining rupiah and share prices, there is good news yet: Indonesia next year will be much more stable than regional peers India, Malaysia and Thailand, a Hong Kong-based political risk consultancy said Monday.

    “Indonesia is much more stable today than it was when the regional financial crisis hit in 1997-98. The coming election campaign is likely to see the present government return, with (President Susilo Bambang Yudhoyono) winning the presidency and keeping Jusuf Kalla as his vice president,” the Political & Economic Risk Consultancy (PERC) said in a report, whose executive summary is available on PERC’s website.

    Following a massive crackdown on alleged terrorist group Jamaah Islamiyah in recent years, coupled with improving social conditions, Indonesia seems almost guaranteed of stability. But the threat of terrorism is still a factor, PERC warned.

    “There is still a possibility of more terrorist incidents, but overall social conditions are more stable now than at any time in a decade,” it said.

    PERC assessed 16 countries in its Asian Risk Prospects — 2009 on factors such as the risk of racial and communal tensions, struggle for power, the threat posed by social activism, and vulnerability to policy changes by other governments.

    Indonesia, Southeast Asia’s biggest economy, rated as the fourth least stable country in the region, with a score of six on a scale of 10, in which zero represents the best socio-political conditions and 10 the highest risk.

    South Asian behemoth India topped the table with the highest political and social risk, scoring 6.87, mainly because of internal and external instability. PERC cited fears over Pakistan, a major player in the global war on terror.

    “India faces some of the biggest risks in 2009 because of uncertainties surrounding the coming general election, rising communal violence and terrorism incidents.

    “The biggest risk is that a deterioration in political and economic conditions in neighboring Pakistan could aggravate social unrest in India further and hurt national security,” PERC
    said.

    Thailand is pegged to be the next least stable country in Southeast Asia next year, scoring 6.28, as the current political mayhem and the separatist violence looks set to run into 2009.

    Surprisingly, Malaysia, which escaped much of the wrath of the 1997 financial crisis, will be the third least stable in the region, with the report noting the political wranglings were aggravating racial and religious tensions.

    “The status quo is changing in ways that will see a stronger political opposition than in the past and UMNO (the ruling party) forced to share more power with non-Malay groups,” the report
    said.

    But these three countries could be relatively immune to the global financial fallout.

    “India, Thailand and Malaysia are not so much vulnerable to negative fallout from the global financial crisis as they are to factors that are mainly internal,” Robert Broadfoot, PERC managing director, told Reuters on Tuesday.

    “For these countries, the coming global economic storm is only going to make a bad situation worse,” he said.

    The tightly controlled city-state of Singapore was ranked the most stable country, boasting an extremely low political risk in 2009, though its economy is expected to take a big hit from the financial crisis as it heads toward recession.

    This is expected to mirror the current situation in the United States, badly weakened economically and psychologically.

    “It is a humbling experience that, coinciding with a change in government, is likely to see the U.S. become less aggressive in pushing its views on other countries,” PERC said.

    With a score of 5.33, China will have a tough year economically in 2009 but not a disastrous one.

    PERC is a consulting firm specializing in strategic business information and analysis for companies doing business in East and Southeast Asia.

  60. ili Liyana on Maret 5th, 2009 10:28

    salam semua. saya ingin berbicara secara ringkas dan secara tidak langsung ingin mengurangkan jurang salah faham antara golongan dari malaysia and indonesia. saya bangga jadi anak malaysia begitu juga kalian anak2 indonesia yang bangga pada tanah air sendiri. cuma untungnya saya dari malaysia,punya sedikit kemewahan berbanding kalian di indonesia. dan saya rasa kemewahan ini semua bukan datang dari 100% rakyat malaysia. kAMi berkongsi dengan semua, baik dari indonesia, bangladesh, myanmar, filipine and more others people yang datang mencari rezeki di bumi Malaysia. apa yang ingin saya tekankan disini ialah tiada ‘hak milik’ kekal bagi warga indonesia mahupun juga malaysia. semua sama saja. sama2 melayu atau, bangsa, agama, adat, bahasa. malah kita dari negara asean yang sama yng perlu bersatu padu dari mengelakkan dari ditindas lagi oleh kuasa2 jahat. usah kita timbulkan sentimen2 remeh ini yang hanya menggundang perbagai impact yang tak sepatut nya. sampai bila kita perlu terus ‘menarik tali’ sesama sendiri??? adakah sampai kita ditindas lagi hingga tergadai rumah,negeri dan negara?? waktu itu, kita sudah tak punya apa2 lagi yang harus untuk dibanggakan lagi….kita sudah jadi pelarian di bumi sendiri!! elakkan prejudis sesama sendiri. untuk pengetahuan semua, saya dibesarkan bersama “bibik” dan kami anggap dia salah seorg keluarga….mungkin kes2 penderaan warga asing hanya berlaku dalam peratusan yg kecil saja. adakah adil untuk menghukum semua??? wahai warga malaysia dan indonesia yang terlalu membanggakan negara masing, tak salah kamu trus membangga diri. asalkan tak menghacurkan hati dan sentimen org lain…kita serumpun, bukan semusuh…sebagai generasi baru, saya tak mahu memikul beban pemimpin dahulu… saya tak mahu terpengaruh dgn cerita2 yang tak kesampaian.saya inginkan kedamaian, bukan kemusnahan..saya tak mahu menjadi ‘pelarian di bumi sendiri’….bantu la sesama sendiri bukan menambahkan lagi bebanan kita….demi generasi akan datang!!!!

    *hamba Allah yang inginkan kedamaian*

  61. anang redy on April 13th, 2009 20:19

    hay saudara2,,mau cina,melayu,jawa,papua,dayak dll…damai itu lebi indah dari kenyang nya perut.kalin harus sadar kita ini berada di atas bumi yang melaju sangat kencang (menjalanin rotasi nya)….dari pada ribut 2 mendingan kita berrangkula,damai, saling bantu,kan lebi enak

  62. teguh on April 18th, 2009 22:22

    Ili yang baik,
    Sungguh kita memang bangsa Nusantara. From the bottom of my heart, aku merasa sedih kalau Malaysia dan Indonesia diberitakan ada masalah. Pada kenyataannya, ketika saya diundang makan di Kedutaan Malay, di sana malah banyak yang bisa cerita bahwa dulu nenek moyangnya dari Jawa. Malah mereka bisa dengan lancar berbicara bahasa Jawa. Artinya, kita sebetulnya adalah saudara sekandung, hanya terpisahkan oleh pagar pembatas politis saja. Bahkan, satu rumah pun kadangkala ada cekcoknya. Yang penting kita adalah padi yang serumpun. Saling butuh, saling membantu, saling kasih mengasihi.

  63. Krisna on April 23rd, 2009 14:09

    Indonesia adalah negara besar, luas wilayahnya jauh melebihi luas wilayah negara Malaysia bahkan pada jaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit tidak ada yang namanya Melayu, semuanya masuk ke dalam wilayah kita. Luas kekuasaan Sriwijaya sebagai Negara Maritim meliputi Philipina dan Madagaskar. Bila Allah swt berkehendak bisa saja sejarah akan berulang, Indonesia akan kembali berjaya seperti pada masa-masa Sriwijaya dan Majapahit, Insya Allah.
    Sedangkan sikap Malaysia yang arogan, sombong, tukang siksa orang utamanya TKW kita, yang memandang hina kepada bangsa kita dengan menjuluki Indon, mencuri aset-aset kita yang berharga, yang begitu tamak dan tidak tahu malunya merebut Sipadan dan Ligitan, sampai mangaku-ngaku Reog sebagai budaya mereka, batik, Lagu Rasa Sayange, hal itu semua karena ada Amerika dan Inggris di belakang mereka. Sayang sekali negara yang katanya menerapkan syariah Islam harus hidup di bawah ketiak taghut kafir (Amerika dan Inggris). Dan Malaysia tak lebih hanyalah sebagai negara maling

  64. Fairman on April 24th, 2009 17:07

    Sdri Krisna,
    Padang la ke hadapan jika ingin maju. Bangsa Monggol,Greek, Mecodonia, Rom, Yunani adalah bangsa2 kuat dunia telah menjadi sejarah. SIAPA mereka sekaran?
    Usah tengok belakang majapahit mu, kamu hanya boleh menangis memikirkan nya. lihat lah kehadapan untuk terus maju.

    Lagu rasa sayang telah lama dalam budaya kami.setahu saya ia rentak org Portugis yang telah menetap lebih 500 tahun di Melaka. Saya juga terkejut kalau kamu di Indonesia tahu lagu ini. Jadi kalau gitu saya juga boleh tuduh kamu “maling”.

    Masalah sipadan dan ligitan bukankah diputuskan oleh makamah antarabangsa di Belanda. Hanya keputusannya tidak memihak kepada Indonesia anda sekali lagi memanggil kami “maling”. Kami tidak memanggil Singapura “maling” bila kami kalah Pulau Batu Putih dimakamah yang sama. Malah selepas diputuskan bagi kami case closed.

    Begitu juga batik dan songket adalah berbeza antara Malaysia dan Indonesia. batik kami sudah sekian lama menjadi perusahaan di Kelatan dan Terengganu. Kalau batik dari Indonesia kami panggil batik jawa.

    Saya akui Borangan Jawa memang bukan budaya kami. Saya sendiri tidak pernah lihat boranagan di Malaysia. Tapi di Malaysia ramai sekali suku jawa mungkin mereka lebih memahaminya.

    Tapi percayalah anda di Indonesia hanya membuang masa berdiskusi hal ini yang sangat dianggap kecil dan remeh oleh orang Malaysia dan tidak berbaloi dibincangkan. Kebayakan kami sibuk berkerja dan belajar. Malah kalau di Malaysia kalau kamu mahu berdiskusi soal ini akan di jawap “??????”. kerana siapa pun tak perduli.

    Saya berdoa semoga pak SBY menang pemilu supaya boleh membawa Indonesia lebih BERJAYA. Amin rabul alamin

  65. Miftah on April 27th, 2009 01:33

    Ganyang malaysia…

  66. Yurike fransiska on April 28th, 2009 08:31

    Aq benci sekali sma malaysia.
    Karena malaysia seenaknya sja mengmbil hak orang indonesia.
    Dan baru baru ini kerajaan malaysia baru menculik anak orang indo. Ketika anak indo pergi umroh..

  67. ALIN on Mei 14th, 2009 11:55

    INDONESIA bukan sebuah negara BESAR…apa hanya sebesar 6 kali dari MALAYSIA sudah dikira INDONESIA TERLALU BESAR JIKA DIBANDING MALAYSIA…??..jangan cuba menutupi kelemahan diri warga INDONESIA dengan kenyataan itu yang hanya omongan orang2 bodoh dan tidak tahu fakta…sedang masih terlalu ramai warga INDONESIA yang pandai2 tetapi suaranya ditenggelamkan oleh kata2 INDONESIA TERLALU BESAR….lihat saja pada persepsi warga MALAYSIA yang tidak pernah memandang SINGGAPURA yang 500 kali lebih kecil sebagai sebuah negara KECIL dan MALAYSIA sebagai sebuah negara BESAR ,tetapi terus berusaha mencari kemajuan setara SINGGAPURA..

  68. Indonesia is my lovely country on Juni 4th, 2009 11:57

    Flashback (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Ambalat)

    Ambalat adalah blok laut luas 15.235 kilometer persegi yang terletak di laut Sulawesi atau Selat Makassar

    Persoalan yang timbul setelah pada tahun 1967 pertama kali dilakukan pertemuan teknis hukum laut antara Indonesia dan Malaysia kedua belah pihak akhirnya sepakat (kecuali Sipadan dan Ligitan diberlakukan sebagai keadaan status quo lihat: Sengketa Sipadan dan Ligitan) kemudian pada tanggal 27 Oktober 1969 dilakukan penanda tanganan perjanjian antara Indonesia dan Malaysia disebut sebagai Perjanjian Tapal Batas Kontinental Indonesia – Malaysia, kedua negara masing-masing melakukan ratifikasi pada 7 November 1969, tak lama berselang masih pada tahun 1969 Malaysia membuat peta baru yang memasukan pulau Sipadan, Ligitan dan Batu Puteh (Pedra blanca) tentunya hal ini membingungkan Indonesia dan Singapura dan pada akhirnya Indonesia maupun Singapura tidak mengakui peta baru Malaysia tersebut. Kemudian pada tanggal 17 Maret 1970 kembali ditanda tangani Persetujuan Tapal batas Laut Indonesia dan Malaysia , akan tetapi, kembali pada tahun 1979 pihak Malaysia kembali membuat peta baru mengenai tapal batas kontinental dan maritim dengan serta merta menyatakan dirinya sebagai negara kepulauan dan secara sepihak membuat perbatasan maritimnya sendiri dengan memasukan blok maritim Ambalat kedalam wilayahnya yaitu dengan memajukan koordinat 4° 10′ arah utara melewati pulau Sebatik. Tentu peta inipun sama nasibnya dengan terbitan Malaysia pada tahun 1969 yaitu diprotes dan tidak diakui oleh pihak Indonesia dengan berkali-kali pihak Malaysia membuat sendiri peta sendiri padahal telah adanya perjanjian Perjanjian Tapal Batas Kontinental Indonesia – Malaysia tahun 1969 dan Persetujuan Tapal batas Laut Indonesia dan Malaysia tahun 1970, masyarakat Indonesia melihatnya sebagai perbuatan secara terus menerus dari pihak Malaysia seperti ingin melakukan ekspansi terhadap wilayah Indonesia.

    Kalau kita lihat fakta di atas, negara Malaysia tidak konsisten dengan apa yang telah disepakatinya. Perjanjian antar negara tentunya bukan suatu hal yang main-main dan negara Malaysia tidak bisa sekehendak hatinya secara sepihak melanggar perjanjian tersebut.

    Kalau kita tilik lebih jauh lagi, tidak bisa disalahkan mengapa sekarang jadi timbul stigma negatif dan rasa sentimen terhadap bangsa Malaysia oleh banyak masyarakat Indonesia. Sikap tersebut tumbuh karena buah dari perbuatan Malaysia sendiri. Bukan hanya dari kasus Ambalat tersebut di atas, banyak perlakuan dan tindakan bangsa Malaysia yang menyebabkan semua itu.

    Mulai dari perlakuan yang tidak manusiawi terhadap warga negara Indonesia yang bekerja atau tinggal di Malaysia, pemberitaan media Malaysia yang tidak seimbang dan proporsional lebih banyak menggembar gemborkan sisi negatif pekerja Indonesia di Malaysia dibanding sis positifnya sehingga yang ada di benak masyarakat Malaysia WNI yang ada di Malaysia tersebut hanya yang jelek-jeleknya saja, pengeroyokan pelatih karate Indonesia yang sedang mengikuti kegiatan resmi di Malaysia, klaim budaya, dan lain sebagainya. Apakah itu menunjukkan perilaku asli bangsa Malaysia atau karena euforia suatu bangsa yang baru merasakan seakan-akan lebih baik atau hebat dari bangsa lain…?

    Selama bangsa Malaysia tidak bisa konsisten dan menghargai bangsa lain, jangan harap untuk dapat di hargai oleh bangsa lain juga.

    Sebagai warga negara Indonesia dahulu saya bangga jika dikatakan bahwa Indonesia dan Malaysia adalah bangsa serumpun. Bangga ketika ada pemimpin muslim yang mau bersuara lantang membela kaum muslim dibelahan bumi lain ketika mereka diperlakukan tidak adil. Namun kebanggan akan satu rumpun tersebut perlahan-lahan lenyap dengan sikap bangsa Malaysia tersebut.

    Sekarang abad ke-21, era globalisasi. Bukan lagi jaman imperialis, bukan seperti permainan game age of empire, bangun negara sehebat-hebatnya dengan caplok sebanyak-banyaknya wilayah dan kekayaan bangsa lain. Janganlah karena dahulu bekas dijajah oleh kaum imperialis, jadi mau mencoba-coba bersikap imperialis,……Sipadan Ligitan kita tidak permasalahkan lagi, tetapi jangan pula sudah dikasih hati mau rempala, sudah di kasih hati mau kepala…….,

    Jangan karena sudah merasa lebih hebat atau kuat (?) jadi merasa angkuh, merasa lebih maju, lebih makmur, lebih kaya, bersikap meremehkan dan tidak menghargai bangsa lain. Bangsa Indonesia tidak pernah dan tidak akan pernah takut kepada bangsa manapun atau siapapun di dunia ini kecuali kepada Allah SWT. Bagi bangsa Indonesia wajib hukumnya mempertahankan rumah sendiri dari tamu yang tidak diundang yang bermaksud tidak jahat.

    Sekali lagi, cobalah untuk bersikap konsisten, saling menghargai, tidak bertindak sepihak terhadap kesepakatan yang telah disetujui dan diratifikasi bersama, tidak merasa lebih superior, lebih kuat, lebih hebat, lebih makmur yang bermuara kepada sikap menganggap remeh dan merendahkan martabat sesama manusia dan negara lain. Allah SWT tidak memandang seseorang dari kehebatannya, kekayaannya, kecantikkannya dan lain sebagainya, tetapi hanya dari ketaqwaannya.

  69. costacurta on Juni 9th, 2009 23:40

    awak tidak tahu keadaan sebenar di malaysia…awaK hanya tulis dari persepsi yang sempit….

  70. costacurta on Juni 9th, 2009 23:46

    jangan ada persepsi negetif tentang orang melayu di malaysia…..malaysia dan indonesia mempunyai sejarah berbeda….non melayu di malaysia dan non melayu di indonesia mempunyaio latar belakang kedatangan yang berbeda… malaysia meluhurkan ketuanan melayu dan raja-raja melayu. asal peribumi adalah melayu… tak hilang melayu di dunia…

  71. costacurta on Juni 10th, 2009 00:57

    sebenarnya di malaysia isu ambalat tidak sepanas di indonesia…..koran2 di indonesia sengaja memperbesarkan isu2 ambalat supaya kesan kegawatan ekonomi disana beralih kepada isu2 ambalat…. jangan ada prajudis dan irihati terhadap negara sebangsa anda….

  72. costacurta on Juni 10th, 2009 01:14

    untuk hang gunung megang…. bugis, minang, jawa, banjar, …itukan melayu dalam kelompok besarnya….????

  73. TOPNews on Juni 20th, 2009 23:10

    rupanya kang malaysia bertumpu pada kemakmurannya saja,,tp wacana lain terasa lebih emosional krn acuannya cuma kemakmuran thok

  74. dodolbanget on Juni 22nd, 2009 14:03

    “Balak di kalimantan itu dikatakan ulah cukung Malaysia, apa ngak tau, bahwa udah dijual oleh oknum Indonesia yang sangat korupsi? Majukan negeri dulu supaya angak ada yang ke Malaysia lagi tuk cari rejeki.”

    Tahukah anda bahwa malaysia masuk dalam no 17, negara di dunia yang menjadi perampok kekayaan alam negara lain. (denger dari berita di TV one).

    Tapi salah Indonesia sendiri sih yang selalu menganggap daerah perbatasan sebagai “halaman belakang rumah” seandainya saj pemerintah tidak hanya janji2 manis utk mengembangkan daerah perbatasan dan meningkatkan anggaran pertahanan untuk patroli di daerah perbatasan , pastinya Malon ga bakal berani-berani masuk dan mencuri di kekayaan alam Indonesia.

  75. yus on Juni 28th, 2009 13:06

    cakap main ikut sedap mulut jak senanag2 jak nak hina2 negara orang ….saya akui bahawa artis indon lebih maju dari malaysia tapi kalau nak di bandingakan dengan politik.kedamaian.agama dan ekonomi malaysia labih majau berbanding indon yang jauh ketinggalan……saya pernah pergi indon tapi bandar jakarta lebih maju sama seperti di kuala lumpaur….cuma klu di indon kalau orang kaya dia akan bertambah kaya klu oarg miskin akan bertambah miskin…..seperti kais pagi makan pagi kais petang makan petang…nak cakap pasal keamanan jangan cakap banyak rusuhan…siap main guna bom lagi…itu yang mahu di katakan aman…ha…ha…haa….nak di bandingkan malaysia jauh ketinggalan……walaupaun malaysia berbilang bangsa terutama di sabah dan sarawak tapi ttp bersatu dan rakyat sabah dan sarawak tetap bangga jadi rakyat malaysia ……….ekonomi di malaysia lebih setabil berbandig indonnesia kerana sampai sekarang indon masi berhutang dengan bank dunia…sebaba itu tak pandai maju2…itu yang di katan maju dari malaysia……pikir-pikir kan lah……

Leave a Reply