<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Salat Id, Perbedaan, dan Kasih Tuhan</title>
	<atom:link href="http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/</link>
	<description>mengangkat fenomena</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 May 2010 16:43:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: sibermedik</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/comment-page-1/#comment-107</link>
		<dc:creator>sibermedik</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2007 06:22:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=24#comment-107</guid>
		<description>hmm</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hmm</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Hati Nurani</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/comment-page-1/#comment-106</link>
		<dc:creator>Hati Nurani</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Oct 2007 23:02:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=24#comment-106</guid>
		<description>Mohon maaf, saya bukan seorang muslim sehingga mungkin tidak kompeten untuk memberikan komentar. Tapi intinya saya setuju dengan beberapa rekan yang memberikan komentar di sini bahwa KEMAJEMUKAN adalah ANUGERAH yang sangat besar dari Allah kepada bangsa Indonesia.

Di balik kemajemukan terdapat kekayaan berupa pemikiran, filosofi, seni, budaya dan adat istiadat yang luar biasa.  Contoh yang mudah saja, karena kemajemukan kita bisa menikmati aneka makanan yang sangat nikmat dari berbagai daerah &amp; etnis yang ada di Indonesia seperti empek-empek, soto betawi, gudeg, krecek, opor, lodeh, sayur asam, gado-gado, karedok, mi kocok, nasi jamblang, tahu gejrot, woku-woku, rendang, sop kikil, tahu balap, rujak cingur dll.

Kita punya kekayaan seni dan budaya berupa pakaian daerah seperti batik dengan beragam variasinya (Lasem, Pekalongan, Cirebonan, Yogya, Solo, Bali, NTT dll), kebaya, baju bodo, baju kurung dll

Kita punya segudang lagu daerah, tarian dan alat musik dari mulai yang mendayu-dayu hingga yang dinamis dari daerah Aceh, Batak, Riau, Minang, Jawa, Sunda, Bali, Dayak, Nusa Tenggara, Minahasa, Maluku, Papua dll.  Sebagian dari lagu-lagu daerah kita bahkan digemari dan dipakai untuk promosi pariwisata oleh negara tetangga. Mestinya bangga dong ya, seni dan budaya hasil karya kreativitas bangsa kita dipakai oleh bangsa lain?

Kalau sempat lihat di www.youtube.com ada rekaman video mahasiswa-mahasiswa asing dari Folkuniversiteit di Swedia yang sedang belajar menari poco-poco. Saya senang melihat mereka antusias menari poco-poco diiringi lagu nya Yopie Latul, namun sekaligus malu karena saya engga bisa menari poco-poco.

KEMAJEMUKAN seharusnya menjadi modal berharga dari bangsa ini untuk maju, bukan untuk berkelahi di antara sesama anak bangsa yang hanya akan membuang waktu dan enerji yang tidak produktif.

MAJULAH INDONESIA KU !</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mohon maaf, saya bukan seorang muslim sehingga mungkin tidak kompeten untuk memberikan komentar. Tapi intinya saya setuju dengan beberapa rekan yang memberikan komentar di sini bahwa KEMAJEMUKAN adalah ANUGERAH yang sangat besar dari Allah kepada bangsa Indonesia.</p>
<p>Di balik kemajemukan terdapat kekayaan berupa pemikiran, filosofi, seni, budaya dan adat istiadat yang luar biasa.  Contoh yang mudah saja, karena kemajemukan kita bisa menikmati aneka makanan yang sangat nikmat dari berbagai daerah &amp; etnis yang ada di Indonesia seperti empek-empek, soto betawi, gudeg, krecek, opor, lodeh, sayur asam, gado-gado, karedok, mi kocok, nasi jamblang, tahu gejrot, woku-woku, rendang, sop kikil, tahu balap, rujak cingur dll.</p>
<p>Kita punya kekayaan seni dan budaya berupa pakaian daerah seperti batik dengan beragam variasinya (Lasem, Pekalongan, Cirebonan, Yogya, Solo, Bali, NTT dll), kebaya, baju bodo, baju kurung dll</p>
<p>Kita punya segudang lagu daerah, tarian dan alat musik dari mulai yang mendayu-dayu hingga yang dinamis dari daerah Aceh, Batak, Riau, Minang, Jawa, Sunda, Bali, Dayak, Nusa Tenggara, Minahasa, Maluku, Papua dll.  Sebagian dari lagu-lagu daerah kita bahkan digemari dan dipakai untuk promosi pariwisata oleh negara tetangga. Mestinya bangga dong ya, seni dan budaya hasil karya kreativitas bangsa kita dipakai oleh bangsa lain?</p>
<p>Kalau sempat lihat di <a href="http://www.youtube.com" rel="nofollow">http://www.youtube.com</a> ada rekaman video mahasiswa-mahasiswa asing dari Folkuniversiteit di Swedia yang sedang belajar menari poco-poco. Saya senang melihat mereka antusias menari poco-poco diiringi lagu nya Yopie Latul, namun sekaligus malu karena saya engga bisa menari poco-poco.</p>
<p>KEMAJEMUKAN seharusnya menjadi modal berharga dari bangsa ini untuk maju, bukan untuk berkelahi di antara sesama anak bangsa yang hanya akan membuang waktu dan enerji yang tidak produktif.</p>
<p>MAJULAH INDONESIA KU !</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: dewilanjar</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/comment-page-1/#comment-108</link>
		<dc:creator>dewilanjar</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Oct 2007 05:42:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=24#comment-108</guid>
		<description>segala sesuatu yang ada dan telah terjadi adalah kehendak siapa ?
lha wong beda kok bingung, katanya beda itu rahmat ? tapi kalo rahmat pasti beda lho, yang satu doyan opor ayam, yang satunya suka semur jengkol, lebaran kemarin aku suka... lebaran pertama aku dikirimi ketupat opor ayam, lebaran kedua aku dikirimi tapeketan uli, lebaran ketiga.... kalo boleh sih lebaran terus....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>segala sesuatu yang ada dan telah terjadi adalah kehendak siapa ?<br />
lha wong beda kok bingung, katanya beda itu rahmat ? tapi kalo rahmat pasti beda lho, yang satu doyan opor ayam, yang satunya suka semur jengkol, lebaran kemarin aku suka&#8230; lebaran pertama aku dikirimi ketupat opor ayam, lebaran kedua aku dikirimi tapeketan uli, lebaran ketiga&#8230;. kalo boleh sih lebaran terus&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Mihael "D.B." Ellinsworth</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/comment-page-1/#comment-109</link>
		<dc:creator>Mihael "D.B." Ellinsworth</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 11:09:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=24#comment-109</guid>
		<description>Soal penetapan Jadwal Idul Fitri, silakan berbeda pendapat. Namun saya berani jamin dengan itu Islam enggak akan bisa satu.

...&lt;em&gt;Wong Hari Raya saja beda - beda...&lt;/em&gt;

--------

Hohoho, ini menyentil Ustad dan Ulama yang kerjaannya berdoa di atas sajadah. :mrgreen:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Soal penetapan Jadwal Idul Fitri, silakan berbeda pendapat. Namun saya berani jamin dengan itu Islam enggak akan bisa satu.</p>
<p>&#8230;<em>Wong Hari Raya saja beda &#8211; beda&#8230;</em></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Hohoho, ini menyentil Ustad dan Ulama yang kerjaannya berdoa di atas sajadah. <img src='http://www.semestanet.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: agorsiloku</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/comment-page-1/#comment-110</link>
		<dc:creator>agorsiloku</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 10:57:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=24#comment-110</guid>
		<description>Yang sangat saya prihatinkan : Muhammadiyah menetapkan satu Syawal tanggal sekian, dan ditujukan pada kelompok Muhammadiyah.  Syiar by group/kelompok dalam satu Islam itu amat aneh terdengar telinga.  Mengapa perbedaan dalam satu Islam diperdengarkan tak habis-habisnya dengan alasan tekstual, kontekstual, atau apapun.  Pembenaran untuk sepakat dalam ketidak sepakatan, as a result, pengalaman saya tidak nyaman karena keluarga satu dusun bahkan suami isteri bisa dipisah-pisahkan dengan alasan ini. Ini terasa begitu ego-nya.
Mudah-mudahan kelak tidak ada Adzan dan dilanjutkan dengan ucapan, ini adzan untuk ummat Muhammadiyah (hanya contoh bahwa perbedaan bisa diperbesar-sebesarnya, demi rahmat, toleransi, dan pengertian tekstual, kontekstual, literal, atau apalah namanya).
Andai dunia ini mundur 1428 tahun yang lalu, dan saya boleh memilih... saya ingin mundur ke sana.... bertemu dengan kerinduan ini.... :D

Semoga ada kearifan dari polemik yang sesungguhnya menjemukan banyak pihak.
Teriring salam dan maaf atas catatan ini.  Perbedaan adalah rahmat, maka perbesarlah rahmat ini dengan memperbesar perbedaan (logika aneh ya).  Untuk selanjutnya, keep silent. Terimakasih untuk kesediaan memberikan catatan kembali untuk komentar ini.  Nol derajat, 37 menit 31 detik,  di atas ufuk.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yang sangat saya prihatinkan : Muhammadiyah menetapkan satu Syawal tanggal sekian, dan ditujukan pada kelompok Muhammadiyah.  Syiar by group/kelompok dalam satu Islam itu amat aneh terdengar telinga.  Mengapa perbedaan dalam satu Islam diperdengarkan tak habis-habisnya dengan alasan tekstual, kontekstual, atau apapun.  Pembenaran untuk sepakat dalam ketidak sepakatan, as a result, pengalaman saya tidak nyaman karena keluarga satu dusun bahkan suami isteri bisa dipisah-pisahkan dengan alasan ini. Ini terasa begitu ego-nya.<br />
Mudah-mudahan kelak tidak ada Adzan dan dilanjutkan dengan ucapan, ini adzan untuk ummat Muhammadiyah (hanya contoh bahwa perbedaan bisa diperbesar-sebesarnya, demi rahmat, toleransi, dan pengertian tekstual, kontekstual, literal, atau apalah namanya).<br />
Andai dunia ini mundur 1428 tahun yang lalu, dan saya boleh memilih&#8230; saya ingin mundur ke sana&#8230;. bertemu dengan kerinduan ini&#8230;. <img src='http://www.semestanet.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Semoga ada kearifan dari polemik yang sesungguhnya menjemukan banyak pihak.<br />
Teriring salam dan maaf atas catatan ini.  Perbedaan adalah rahmat, maka perbesarlah rahmat ini dengan memperbesar perbedaan (logika aneh ya).  Untuk selanjutnya, keep silent. Terimakasih untuk kesediaan memberikan catatan kembali untuk komentar ini.  Nol derajat, 37 menit 31 detik,  di atas ufuk.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Inul</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/comment-page-1/#comment-114</link>
		<dc:creator>Inul</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 07:04:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=24#comment-114</guid>
		<description>saya juga stuju dengn mas danalingga, kenapa sih gunakan ego masing2. Itu mununjukkan diantara umat islam juga, udah saling pertahankan ego. Kalo tidak juga ngak mau kompromi, jangan menyalahkan pihak2 yang lain, dan merasa kelompoknya benar. Gimana mau bersatu umat islam? pantas aja mudah diadu domba. Mungkin ini jadi instropeksi dirilah...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya juga stuju dengn mas danalingga, kenapa sih gunakan ego masing2. Itu mununjukkan diantara umat islam juga, udah saling pertahankan ego. Kalo tidak juga ngak mau kompromi, jangan menyalahkan pihak2 yang lain, dan merasa kelompoknya benar. Gimana mau bersatu umat islam? pantas aja mudah diadu domba. Mungkin ini jadi instropeksi dirilah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: danalingga</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/comment-page-1/#comment-115</link>
		<dc:creator>danalingga</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 06:27:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=24#comment-115</guid>
		<description>Sampe sekarang saya tetap bingung, kenapa sih nggak berkompromi aja pihak yang berbeda itu , sehingga menghasilkan tanggal yang sama. Toh ndak bakalan berpengaruh apa apa, atau masing-masing pihak merasa berdosa jika tidak mengikuti hasil hitungannya ya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sampe sekarang saya tetap bingung, kenapa sih nggak berkompromi aja pihak yang berbeda itu , sehingga menghasilkan tanggal yang sama. Toh ndak bakalan berpengaruh apa apa, atau masing-masing pihak merasa berdosa jika tidak mengikuti hasil hitungannya ya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Dienna</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/comment-page-1/#comment-113</link>
		<dc:creator>Dienna</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 04:36:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=24#comment-113</guid>
		<description>Dulu saat sy masih anak2 (sekitar 6-8 th), sering selesai ashar, mengaji disurau. Pak guru ngaji sering cerita-cerita. salah satu cerita yang sekarang masing ingat tentang tiga orang buta menceritakan tentang gajah.
Tiga orang buta tadi berkumpul dan bercerita pengalamannya setelah tahu apa yang dinamakan binatang gajah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu saat sy masih anak2 (sekitar 6-8 th), sering selesai ashar, mengaji disurau. Pak guru ngaji sering cerita-cerita. salah satu cerita yang sekarang masing ingat tentang tiga orang buta menceritakan tentang gajah.<br />
Tiga orang buta tadi berkumpul dan bercerita pengalamannya setelah tahu apa yang dinamakan binatang gajah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: anas fauzi rakhman</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/comment-page-1/#comment-112</link>
		<dc:creator>anas fauzi rakhman</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 03:58:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=24#comment-112</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt;Konsekuensinya, tafsiran atas teks-teks Islam semakin beragam dan waktu menjadi relatif. Peradaban manusia abad ke-21 telah jauh berkembang dan tidak sama dengan peradaban manusia pada abad ke-7. Mempraktikkan Islam secara tekstual (misalnya keharusan menerapkan metode hilal) sama saja mundur ratusan tahun.&lt;/blockquote&gt;

Prinsip inilah yg membuat begitu banyak perbedaan di dlm Islam, yg membuat Islam terpecah-pecah. Memahami Islam secara tekstual dianggap sebagai kemunduran.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Konsekuensinya, tafsiran atas teks-teks Islam semakin beragam dan waktu menjadi relatif. Peradaban manusia abad ke-21 telah jauh berkembang dan tidak sama dengan peradaban manusia pada abad ke-7. Mempraktikkan Islam secara tekstual (misalnya keharusan menerapkan metode hilal) sama saja mundur ratusan tahun.</p></blockquote>
<p>Prinsip inilah yg membuat begitu banyak perbedaan di dlm Islam, yg membuat Islam terpecah-pecah. Memahami Islam secara tekstual dianggap sebagai kemunduran.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: anas fauzi rakhman</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/10/14/salat-id-perbedaan-dan-kasih-tuhan/comment-page-1/#comment-111</link>
		<dc:creator>anas fauzi rakhman</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 03:56:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=24#comment-111</guid>
		<description>&lt;blockquote cite=&quot;Konsekuensinya, tafsiran atas teks-teks Islam semakin beragam dan waktu menjadi relatif. Peradaban manusia abad ke-21 telah jauh berkembang dan tidak sama dengan peradaban manusia pada abad ke-7. Mempraktikkan Islam secara tekstual (misalnya keharusan menerapkan metode hilal) sama saja mundur ratusan tahun.&quot;&gt;

Prinsip inilah yg membuat begitu banyak perbedaan di dlm Islam, yg membuat Islam terpecah-pecah. Memahami Islam secara tekstual dianggap sebagai kemunduran.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote cite="Konsekuensinya, tafsiran atas teks-teks Islam semakin beragam dan waktu menjadi relatif. Peradaban manusia abad ke-21 telah jauh berkembang dan tidak sama dengan peradaban manusia pada abad ke-7. Mempraktikkan Islam secara tekstual (misalnya keharusan menerapkan metode hilal) sama saja mundur ratusan tahun.">
<p>Prinsip inilah yg membuat begitu banyak perbedaan di dlm Islam, yg membuat Islam terpecah-pecah. Memahami Islam secara tekstual dianggap sebagai kemunduran.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
