<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Eksperimen dengan Jurnalisme Sastrawi</title>
	<atom:link href="http://www.semestanet.com/2007/09/08/eksperimen-jurnalisme-sastrawi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.semestanet.com/2007/09/08/eksperimen-jurnalisme-sastrawi/</link>
	<description>mengangkat fenomena</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Jan 2010 08:04:44 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: miko alonso</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/09/08/eksperimen-jurnalisme-sastrawi/comment-page-1/#comment-1050</link>
		<dc:creator>miko alonso</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 06:01:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=21#comment-1050</guid>
		<description>sori chai, saya gak sepakat sama kamu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sori chai, saya gak sepakat sama kamu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: chai</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/09/08/eksperimen-jurnalisme-sastrawi/comment-page-1/#comment-984</link>
		<dc:creator>chai</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 11:02:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=21#comment-984</guid>
		<description>Saya, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman Samarinda Kalimantan Timu.Semester, gak perlu disebut. Gemar baca, pecinta alam.

Saya kira, penerapan jurnalisme sastrawi, untuk  pola berita dalam media  di Indonesia, belum waktunya.
Pantau, bukti nyata. Sementara koran, majalah lain,terikat aktualitas dan kuantitas berita. Sehingga, tak cukup waktu. Begitu pula halaman, serta ongkos riset panjang. Sementara pasar belum menjanjikan, jika menggunakan pola ini. Budaya masyarakat kita, kebanyakan masih banyak puas hanya dari baca  lead. Bahkan, masih ada yang hanya mau baca saat lihat judul menarik semata. Bukan pesimistis, tapi memang pasar masih seperti itu.
Apalagi, media cetak mau tak mau bersaing melawan televisi. 

Tunggu sampai media benar-benar kaya.

Sepakat, saat ini jurnalisme sastrawi lebih untuk penulisan buku. Itu lebih baik, daripada tak tertampung.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman Samarinda Kalimantan Timu.Semester, gak perlu disebut. Gemar baca, pecinta alam.</p>
<p>Saya kira, penerapan jurnalisme sastrawi, untuk  pola berita dalam media  di Indonesia, belum waktunya.<br />
Pantau, bukti nyata. Sementara koran, majalah lain,terikat aktualitas dan kuantitas berita. Sehingga, tak cukup waktu. Begitu pula halaman, serta ongkos riset panjang. Sementara pasar belum menjanjikan, jika menggunakan pola ini. Budaya masyarakat kita, kebanyakan masih banyak puas hanya dari baca  lead. Bahkan, masih ada yang hanya mau baca saat lihat judul menarik semata. Bukan pesimistis, tapi memang pasar masih seperti itu.<br />
Apalagi, media cetak mau tak mau bersaing melawan televisi. </p>
<p>Tunggu sampai media benar-benar kaya.</p>
<p>Sepakat, saat ini jurnalisme sastrawi lebih untuk penulisan buku. Itu lebih baik, daripada tak tertampung.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: tados marta</title>
		<link>http://www.semestanet.com/2007/09/08/eksperimen-jurnalisme-sastrawi/comment-page-1/#comment-928</link>
		<dc:creator>tados marta</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 12:47:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.semestanet.com/?p=21#comment-928</guid>
		<description>Saya mahasiswa Ilmu Komunikasi smester 8, prodi Jurnalistik. Di Uin Suska Pekanbaru, Riau.
Dari dulu saya sangat tertarik dengan Jurnalisme sastrawai. Disamping komsumsi pemberitaannya penuh dengan narasi, eksposisi, persuasi dan deskripsi. Jurnalisme sastrawi juga suatu penulisan panjang yang dapat menyajikan pemberitaan dengan pelaporan mendalam.
Saat ini saya eksis di Lembaga Pers Kampus (Gagasan). Kebetulan kami terbit 1 x 2 bulan, dalam bentuk tabloid sebanyak 24 halaman. Kami menyediakan 4 hal, untuk peliputan utama. Disaat kami mencoba mengemas pola pemberitaan dengan narasi panjang yang sesuai dengan fakta dan segala informasi. Malah masuk surat pembaca keredaksi kami, agar gagasan dapat menyajikan pemberitaannya dengan beberapa sudut pandang, dan disertai grafis.
sementara dengan 4 halaman itulah kesempatan bagi kami untuk belajar menulis pelaporan mendalam, dengan menggunakan gaya penulisan jurnalisme sastrawi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mahasiswa Ilmu Komunikasi smester 8, prodi Jurnalistik. Di Uin Suska Pekanbaru, Riau.<br />
Dari dulu saya sangat tertarik dengan Jurnalisme sastrawai. Disamping komsumsi pemberitaannya penuh dengan narasi, eksposisi, persuasi dan deskripsi. Jurnalisme sastrawi juga suatu penulisan panjang yang dapat menyajikan pemberitaan dengan pelaporan mendalam.<br />
Saat ini saya eksis di Lembaga Pers Kampus (Gagasan). Kebetulan kami terbit 1 x 2 bulan, dalam bentuk tabloid sebanyak 24 halaman. Kami menyediakan 4 hal, untuk peliputan utama. Disaat kami mencoba mengemas pola pemberitaan dengan narasi panjang yang sesuai dengan fakta dan segala informasi. Malah masuk surat pembaca keredaksi kami, agar gagasan dapat menyajikan pemberitaannya dengan beberapa sudut pandang, dan disertai grafis.<br />
sementara dengan 4 halaman itulah kesempatan bagi kami untuk belajar menulis pelaporan mendalam, dengan menggunakan gaya penulisan jurnalisme sastrawi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
